Namaku Ani

Anni / Namaku Ani / tidak ada / tenaga kerja asing Namaku Ana Oleh: Anna Musim dingin kembali menyelimuti bumi Formosa. Angin di siang hari pun bagaikan serpihan salju yang turun dan memeluk tubuhku. Apalagi berada di kebun ubi yang sepi seperti ini. Januari adalah musim dingin yang sangat aku benci. Bukan aku tidak bersyukur, namun inilah jeritan … Continue reading “Namaku Ani”

Anni / Namaku Ani / tidak ada / tenaga kerja asing

Namaku Ana
Oleh: Anna
Musim dingin kembali menyelimuti bumi Formosa. Angin di siang hari pun bagaikan serpihan salju yang turun dan memeluk tubuhku. Apalagi berada di kebun ubi yang sepi seperti ini. Januari adalah musim dingin yang sangat aku benci. Bukan aku tidak bersyukur, namun inilah jeritan hatiku. Aku ingin bercerita melalui pena, tentang aku dan ratusan bebek peliharaan majikanku. Karena jika aku bersuara pun tidak akan ada yang mendengar, kecuali gunung dan sayuran serta bebek yang mungkin telah bosan mendengar jeritanku. Dan tidak akan ada yang paham dengan semua rintihan dan kesakitan batinku.
Namaku Ana, aku adalah janda berusia 40 tahun. Kedua anakku, Sekar dan Arum. Mereka lah semangatku untuk bertahan berada di di Taiwan. Aku bekerja di Canghwa tepatnya di Puyan. Puyan adalah daerah terpencil dengan suasana pedesaan yang jauh dari hiruk pikuknya udara kota. Sudah hampir tiga tahun aku di sini. Merawat nenek yang lumpuh total, dan membantu kakek ternak bebek, menanam sayur, terkadang juga mencangkul di kebun.
Mungkin bagi yang tidak tahu Taiwan, mereka akan selalu berfikir jika bekerja di Taiwan selalu bergelimang kemewahan, seperti di foto-foto yang terpampang di sosmed. Tapi apa kalian tahu penderitaanku?
Jam 5 pagi aku harus bangun, memasak bubur dan membersihkan rumah, merawat nenek dan menyuapi makan. Jam 8 pagi, aku dan kakek harus memberi makan bebek lalu pergi ke kebun, mencangkul. Sampai siang, pulang makan dan merawat nenek, lalu ke kebun lagi sampai jam 5 sore. Malam setelah nenek tidur, aku pun harus merebus puluhan kilo gram jagung untuk makanan bebekku keesok paginya. Baru jam 1 dini hari, pekerjaanku usai. Itu adalah pekerjaan rutin yang tidak boleh aku tinggalkan. Jangankan untuk berlibur? Masuk toko Indonesia pun aku tidak pernah. Sebulan sekali agency datang, menawarkan diri membantu mengirimkan uang untuk anak-anakku dan membeli kebutuhanku. Jangan bertanya tentang di mana itu Taipei, megahnya Gedung 101 atau indahnya Chiang Kai Shek Memorial Hall. Sungguh, aku mengetahui nama-nama itu cuma lewat majalah usang di lemari nenek dan di dalam TV.
Bukan aku wanita yang bodoh, yang menerima begitu saja pekerjaan ini, kawan. Sama sekali bukan. Tapi, karena aku berfikir kembali tentang niatku pergi ke Taiwan. Aku ke Taiwan untuk mencari uang, bukan untuk tamasya. Walaupun dalam hati aku ingin jalan-jalan seperti kalian. Namun, mungkin ini jalanku. Jalan yang Tuhan berikan padaku. Apalagi semua demi anakku ….
“Bu, apakah Gedung 101 itu indah? Kenapa ibu gak pernah foto-foto seperti Mbak Lina?” Tanya si Bungsu, Arum.
Lina adalah tetanggaku yang juga di Taiwan, yang selalu jalan-jalan di mall dan tempat wisata Taiwan. Apakah aku iri dengan Lina?
Itu pasti.
“Ibu gak sempat, Nak.” Jawabku singkat.
Aku tidak pernah bercerita kepada Sekar dan Arum tentang keadaanku. Karena aku tak mau mereka sedih memikirkan ibunya. Aku selalu bilang jika rumah majikanku di apartemen di daerah Taipei. Keduanya pun percaya. Padahal … setiap hari hanya cangkul dan topi penahan panas yang menemaniku, dilengkapi HP Nokia jaman dulu, bukan android seperti yang kalian punya. Karena bagiku, selama bisa SMS dan telfon anakku di Indonesia, itu sudah cukup.
Jangan tanyakan padaku kenapa aku tidak lapor 1955 atau KDEI tentang pekerjaanku yang bercocok tanam dan merawat bebek-bebek yang berjumlah ratusan. Jangan bertanya, kawan. Karena bagiku, selama majikanku baik, itu sudah cukup. Ya, cukup.
Pernah suatu ketika aku sedang mengantar nenek ke rumah sakit yang lumayan jauh, aku bertemu dengan TKI juga, namanya Dek Ratna. Kami pun mengobrol lama dan dia pun bertanya tentang pekerjaanku.
“Kok Mbak Ana mau dipekerjakan seperti itu? Kalau aku mah ogah, Mbak. Kita ini jauh-jauh dari Indonesia ke Taiwan, masa sih cuma mencangkul, rawat bebek. Gak jijik apa,” celotehnya.
Dek Ratna memang masih muda, masih gadis. Dan aku pun tersenyum menanggapinya.
“Aku ini udah tua, Dek. Gak mikir jijik atau berfikir mau lapor. Karena apapun itu pekerjaanku asal halal. Dan intinya harus bersyukur, itu saja. Dan kamu juga harus bersyukur, tempatmu di kota tidak mencangkul sepertiku,” kataku dengan tenang.
“Aduh, Mbak Ana kayak gak tahu aja. Majikanku rewel, makan aja apa-apa beli sendiri, setiap hari makan bubur aja, aku bosen. Kadang ingin kabur aja rasanya,” tambahnya lagi.
“Ya Allah, Dek. Jangan seperti itu. Kebanyakan manusia itu kurang bersyukur dan selalu melihat ke atas. Mungkin Dek Ratna selalu membandingkan dengan teman adek yang bernasib lebih baik. Tapi pernahkah adek membandingkan dengan yang bernasib sepertiku? Mencangkul, memelihara ratusan bebek, menanam ubi dan sayur. Tak peduli musim panas, hujan bahkan musim dingin sekali pun, kebun dan bebek adalah duniaku. Jadi jangan pernah punya pikiran ingin kabur karena masalah sepele,” kataku panjang kali lebar, menasehati Dek Ratna.
Aku lihat dia terdiam, menduduk dan mungkin memikirkan sesuatu. Tiga puluh menit kami terdiam, berperang melawan pemikiran masing-masing. Dan akhirnya dia berpamitan.
“Mbak Ana, terima kasih ya nasehatnya. Aku akan berusaha mencoba bersyukur. Oh ya, ini nomer HP ku. Kalau Mbak Ana ingin beli sesuatu, SMS aku saja. Nanti aku paketin ke Mbak. Mbak Ana kerja hati-hati, ya.” Ucapnya seraya merangkulku dan pergi.
Mungkin kisahku dan Dek Ratna pernah terjadi pada kalian. Di mana sebenarnya kasus TKI kabur itu karena kurang adanya rasa bersyukur dan terima apa yang Tuhan gariskan pada kita. Mereka selalu membandingkan dengan orang lain yang bernasib lebih baik dari pada dirinya sendiri. Lalu timbul rasa ingin dan iri. Kemudian merasa dirinyalah satu-satunya TKI yang menderita, dan kabur jalan yang ia tempuh. Sebelum kabur mestinya kalian berfikir. Tujuan kalian ke Taiwan itu mencari kebebasan, bertamasya, kuliner atau mencari uang. Memang, ada yang bilang, “menyelam sambil minum air,” yang bisa jadi diartikan, selama jadi TKI boleh lah bertamasya. Boleh, memang boleh. Tapi lihat kondisi dulu. Kalau memang Tuhan memberi kita jalan hidup yang sulit untuk bertamasya, jalan-jalan, apakah iya kita protes pada Tuhan? Tidak kan.
Mungkin dengan apa yang Tuhan berikan, itu yang terbaik untuk kita. Walaupun terkadang sedih, dan seperti tidak sanggup lagi menjalani. Tapi percayalah, hanya dengan bersyukur, semua akan baik-baik saja.
Kurang lima bulan lagi, aku finish kontrak. Dan aku akan DH(Direct Hiring). Mungkin di antara kalian akan bilang aku bodoh, kenapa gak ganti majikan saja, bukan?
Tidak, kawan. Karena yang aku cari adalah uang, kecocokan dan kenyamanan. Dan aku? Nyaman sekali di sini. Aku anggap seperti rumahku sendiri. Jadi seberat apa pun pekerjaan itu, jika kita menjalani penuh ikhlas dan bahagia. Hasilnya pun kita nyaman. Jangan pernah punya keinginan kabur karena masalah sepele. Lihat kembali, di luar sana masih banyak yang bernasib buruk dari kalian, tapi mereka bertahan. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka paham, mereka ke Taiwan untuk mencari uang, bukan berfoya-foya yang justru akan menghambat jalan pulang ke kampung halaman.
Taipei, 25 Mei 2016

Tetesan kasih di formosa

Nawang wulan / Tetesan kasih di formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing Tetesan kasih di formosa Karya : Nawang Wulan Demi kebahagian keluarga, kuharus menepiskan segala kebutuhan pribadiku. Aku tak ingin melihat keluarga terus terusan berada dibawah garis kemiskinan. Aku bertekat pergi merantau, walaupun aku harus rela meninggalkan mereka di kampung halaman. Namun perjalan hidupku tak … Continue reading “Tetesan kasih di formosa”

Nawang wulan / Tetesan kasih di formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing
Tetesan kasih di formosa
Karya : Nawang Wulan

Demi kebahagian keluarga, kuharus menepiskan segala kebutuhan pribadiku. Aku tak ingin melihat keluarga terus terusan berada dibawah garis kemiskinan. Aku bertekat pergi merantau, walaupun aku harus rela meninggalkan mereka di kampung halaman. Namun perjalan hidupku tak seindah yang ku bayangkan.
Kutelusuri hidupku setapak demi setapak. Letih raga tiada aku rasa, demi mewujudkan cita-cita keluarga bahagia. Liku liku kehidupan yang aku lalui tak membuatku surutkan langkah kaki. Maju dan terus maju, walau rintangan selalu menghadang didepanku. Ku bularkan tekatku dalam mengarungi gelombang kehidupan yang menyimpan berjuta misteri.
Singkat kata, dinegeri formosa kulangkahkan kaki mencari rejeki. Harapan ku tanamkan tanpa ada keraguan. Aku berusaha semaksimal mungkin bekerja sesuai dengan kemampuanku. Berdoa dan berusaha, bekerja keras demi cita cita. Akan tetapi sebagai manusia biasa yang bisa yang hanya bisa berencana, Tuhan jugalah yang menentukan.
Siang berganti malam, minggu berganti bulan. Setahunpun telah berlalu tanpa terasa, semua berjalan biasa saja, tak ada pengaruh yang berati bagiku. Namun menginjak tahun ke dua, aku mulaj merasakan perubahan pada diriku. Dku yang dulunga lugu dan culun, kini aku mulai suka berubah. Aku suka membeli alat-alat kecantikan. Yang dulunya pakaianku panjanv dan sederhana, kini aku suka pakai pakaian yang serba minim. Dulu yang rambutku selalu ku ikat ekor kuda, kini ku gerai dan ku semir pirang. Dan lagi yang dulu aku masa bodoh dengan tubuhku yang bongsor, kini aku mulai diet untuk mendapatkan tubuh yang sexi dan idial. Tubuhku yang tinggi membuatku yakin dan percaya diri aku bisa berpenampilan aduhai. Aku telah melupakan segala cita citaku. Aku melupakan tujuanku untuk apa aku sampai di negeri ini.
Begitulah aku yang sekarang bukan aku yang dulu lagi. Setiap liburan aku aku habiskan waktuku untuk hura hura bersama teman-teman yang berpandangan sama denganku. Tak ketinggalan kamipun mulai bisa mengkonsumsi rokok. Tak malu malu lagi kami merokok, walau didepan umum. Cuek dan masa bodoh apakata orang. Semua itu kulakukan dengan enjoy tanpa beban. Begitulah hari-hariku selama ini.
Hingga pada suatu hari aku mendapat kabar temanku jatuh dari lantai atas. Aku tertegun tak percaya. Satu temanku telah meninggalkanku, namun perasaan kehilangan cuma berlangsung beberapa minggu saja, kami masih terus menjalani hura-hura. Nasehat dan saran dari teman-teman tidak kami hiraukan.
Waktu terus berlalu, dan akupun belum ada tanda-tanda untuk menyadari bahwa apa yang kami lakukan salah. Gelak tawa canda, dandan sexy masih terus menjadi kebiasaan ku. Aku nyaman nyaman saja. Bahkan aku mulai ikut-ikutan berdugem ria. Aku tidak mau dibilang kurang gaul. Aku tidak ingin orang mengatai aku cewek kuper. Baju-bajuku kini separoh badan semua. Bahkan lebih terkesan hanya yang bagian penting saja yang tertutup. Tidak, aku suka menonjolkankan buah dadaku agar aku dibilang cewek yang gaul dan sexy. Aku sangat bangga dengan tubukku yang sexy, tinggi semampai, pastilah idaman setiap wanita. Dan aku selalu menyerang orang-orang yang berusaha menasehati aku. Selalu aku katakan karena mereka iri padaku. Begitulah aku dengan segudang perubahanku selama dinegeri formosa ini.
Pada suatu hari kami mengadakan acara ulang tahun salah satu temanku disebuah taman kota di Taipei. Taman 228, itulah tempat tujuan kami mengadakan acara. Bernyanyi, bergembira, dan tidak lupa berjoget ria dengan iringan musik yang ada di hp kami. Ditengah- tengah acara aku disuruh temanku untuk membeli makanan ringan ke seven eleven yang tidak jauh dari taman. Akupun segera berangkat dengan hati berbunga bunga. Pada saat itulah, karena kurang hati- hati, aku tidak memperhatikan jalanan. Aku berlari lari kecil, namun ” brusskk”, aku terjatuh. Itu yang ku ingat. Selainnya aku tidak ingat lagi. Aku tidur pulas, pulas sekali, bahkan aku tak tahu aku dimana dan kenapa.
Disuatu saat aku menelusuri sebuah lorong yang panjang, perlahan lahan kulangkahkan kaki panjangku yang berbalut celana jiens street warna biru muda, warna faforitku. Tas kulit usang bergantung dipundakku. Suasana sepi dan dingin menyayat membuat bulu kudukku merinding. Aku terus berjalan menelusuri lorong itu. Lorong inj menuju kemana, pikirku dalam hati. Namhn akhirnya aku tahu diujung lorong ada persimpangan lorong lagi, aku bingung, pilih yang arah mana. Hati kecilku menyuruhku ambil langkah kekanan, disisi hatiku yang lain menyuruhku membelok kekiri. Aku berdiri sejenak, dan aku teringat kata- guru agama sewaktu aku disekolah dulu. Bila kita lupa atau dalam kebingungan, pijitlah leher belakang pangkal kepala sambil menyebut nama Allah dan bersholawat. Mendadak aku terkesiap. Seketika itu juga aku lakukan apa yang ku ingat, rifleks ku langkahkan kakiku kearah kanan. Ya aku terus melangkah, hingga aku sampai ke station taipei. Lagi-lagi suasana sepi dan lenggang. Tam seorangpun aku lihat disana. Aku duduk dikursi ruang tunggu.
Kriiiyyyt, kriiiyyt, kriiyyyt, thok thok thok, bunyi langkah kaki membuat jantungku berdebar- debar. Kupalingkan kepalaku menengok kanan kiri mencari datangnya arah suara, namun belum kutemukan adanya orang yang sedang berjalan. Suara langkah kaki semakin jelas, dan dekat sekali, tetapi aku tak bisa melihatnya. Badanku menggigil, keringat dingin bercucuran. Siapa yang datang? Aku berdiri untuk memastikan apakah ada orang apa tidak. Di samping kanan yang agak terhalang oleh dinding tangga, mataku menangkap sebuah bayangan yang bergerak seperti menenteng sesuatu, aku tak berani menyapa, karena suasana dilorong itu sepi sekali, apakah laki-laki atau perempuan, aku tak bisa memastikan.
Dengan masih diliputi rasa ketakutan, aku berjalan keujung lorong yang kelihatan ada lampu bersinar terang. Bukan lampu, tetapi terangnya alam disiang hari, kata hatiku memastikan. Kepercepat langkah kakiku untuk menggapai ujung lorong. Dan ternyata benar. Ujung lorong yang menghubungkan dengan jalan raya. Namun belum sampai keluar lorong, tiba tiba ada mobil putih datang diparkir di ujung lorong, yang seakan menghalangi jalanku. Aku menghindari, namun tiba tiba pintu mobil dibuka dari dalam,
” Oh my god” pekik ku lirih kagum akan ketampanan sang pengemudi yang membuka pintu. Aku terpana dibuatnya. Aku berdiri diam, namun sang tampan menyuruhku naik ke mobil. Aku riang sekali lagi aneh, kenapa aku harus naik mobil mu? Kataku sengit, aku menolak, tetapi dia memaksa naik. Aku menolaknya, dan akupun hendak berlalu meninggalkannya. Namun dengan gesit dia hadang jalanku dan menarik tanganku memaksaku masuk kemobil. Aku sangat tidak suka dengan kekasaranya. Diikat tangan ku, dipasangnya sabuk pengaman, dan di kuncinya pintu mobil itu, “hai, hai, buka pintu, aku gak mau iku kamu,” teriakku keras. Dia tak pedulikan aku. Dia acuhkan diriku yang memandangnya garang. Gejolak brutal yang mempengaruhiku masih tersimpan didada. Dia cuek dan tersenyum senyum simpul menyimpan misteri yang tak ku tahu.
Sampailah disuatu tempat, dia hentikan laju mobilnya. Dibukanya ikatan tanganku, dilepaskannya sabuk pengaman dibadanku, dibukanya kunci pintu mobil putihnya seraya menunjuk kesebelah arah. “keluarlah, jalanlah kamu kesana, ingat jangan belok belok lagi, jalan lurus dan terus,” katanya kepadaku sambil tersenyum. Alamaaaak, hatiku dibuatnya bergetar juga melihat senyumannya. Aseem, pekikku dalam hati sambil membalikan badan, takut kelihatan mukaku ketahuan berubah. Aku rasakan mukaku merah bukan marah, tetapi jengah. Aku ikuti petunjuknya. Aku kembali menyusuri lorong panjang, namun kali ini ada aroma semerbak harum. Selalu ku ingat pesannya, lurus dan lurus, berjalan. Sampai di satu tempat, kulihat ada seorang wanita tua sedang menyuapi dua anak kecil yang lucu lucu. Mereka bertiga serentak memandangku. Aku terkejut seakan kenal dengan mereka. Yeach aku kenal baik dan bahkan akrab dalam keseharianku. Tetapi kenapa mereka sampai disini, diTaiwan ini? Mamak ku sayang, kenapa berada disini, dan dua anak kecil itu, dua buah hatiku. Kutatap mereka dengan pandangan nanar dan berkaca kaca. Ada aliran hangat yang meleleh di sudut mataku. Kupercepat langkah kakiku ingin segera memeluk mereka. Namun kenapa aku tak bisa memeluknya, mereka berjalan terus, dan aku terus mengejarnya, sampai nafasku tersengal sengal.
“Maaak, maaaak,” aku memanggil mamak yang menhilang bersama dua buah hatiku yang selama ini ku tinggalkan. Aku terus berlari mengejarnya. “Maaak pean dimana maaak, aku sendirian kii loo maak,” aku memanggil sambil mulai terisak isak. Samar samar aku mendengar ada suara berbicara didekat telingaku. Berbisik lembut dan merdu seakan melantunkan sebuah lagu yang merdu. Eh bukan syair lagu. Kutajamkan pendengaran ku. Ya Arhamarohimiin. Ya Arhamaarohimiin. Hatiku tiba tiba begejolak dan bergetar hebat sekali. Lantunan itu semakin jelas. Lantunan itigoshah, yaa, orang melantunkan istigoshah. Tiba tiba aku menjerit keras, Yaa Allah, Yaa Allah Yaa Allah. Air mataku mengalir deras. Belaian lembut dan hangat kurasakan mengusap pipiku. Ku dengar seseorang mengucap syukur Alhamdulillah, dia sadar, katanya. Siapa yang sadar yaa, siapa yang pingsan pikirku terus. Tapi hatiku masih terpaku dengan lantunan istighoshah.
Perlahan lahan aku melihat suasana yang serba putih dan bersih. Semerbak bau obat obatan menghampiri hidung kecilku, ku. Kubuka mataku perlahan, kulihat seseorang memegang mataku dan membukanya, serta menyorotkan lampu senter kebola mataku. Aouw, silau man, pekikku. Namun aku tak bisa membuka mulut, karena sesuatu ada yang menyumlal mulutku.
Perlahan dan pasti kesadaranku pulih, alat-alat yang menempel ditubuhku sudah dilepasi semua. Tinggal satu jarum selang infus yang menempel. Aku masih tertidur saat kudengar sesorang yang disebut ustadz mengucapkan tahmid. Subhannallah alhamdulillah, Allah masih menyayanginya, dan masih memberi kesempatan. Semoga bila sudah sehat nanti, mbak ini bisa kembali kejalan yang benar, Amiin,, suara serempak kudengar mengaminkan. Dadaku kembali bergemuruh. Aku menangis haru, kulihat ada sekitar 9oeng mengerubungi aku sambil memberiku semangat. Cia yao,, cia yao, kami menunggumu bergabung dengan kami. Aku masih menangis, ternyata aku bermimpi tetapi bukan bermimpi sembarang mimpi. Kini aku sadar selama ini aku salah jalan. Astaghfirullohal’adziim, Yaa Allah, ampunilah hambamu ini Ya Allah…
Kini aku sudah pulih seperti sediakala, Allah telah menunjukan kasihnya dengan cara di masukannya kaki ku kedalam selokan, agarku terjatuh, dan kepalaku membentur beton, karena ketidak hati hatianku. Mungkin karen kondisi tubuhku yang saat itu tidak fit, dan atau apa, namun apapun kondisi tubuhku, Allah dengan kasih sayangnya menegurku agar aku mendekat kepadanya. Tetesan kasih Allah kurasakan begitu nyaman dan tenangnya hati sekarang ini. Allah tidak pernah meninggalkan kita, kitalah yang selalu melupakannya,,,
Formosa, 25 mei 2016.

Jangan Pandang Sebelah Status Kami

Zikriani Putri / Jangan Pandang Sebelah Status Kami / FLP Taiwan & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing Jangan Pandang Sebelah Status Kami Karya: Zikriani Putri PRAKKK …!!! Suara kursi melayak ke lantai. Aku hanya terdiam dan menatap ngeri di sudut ruang tamu. Perempuan yang setiap hari selasa, kamis dan sabtu sering aku temui di ruang ini. Sosok … Continue reading “Jangan Pandang Sebelah Status Kami”

Zikriani Putri / Jangan Pandang Sebelah Status Kami / FLP Taiwan & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing
Jangan Pandang Sebelah Status Kami
Karya: Zikriani Putri

PRAKKK …!!! Suara kursi melayak ke lantai. Aku hanya terdiam dan menatap ngeri di sudut ruang tamu.

Perempuan yang setiap hari selasa, kamis dan sabtu sering aku temui di ruang ini. Sosok perempuan tegar, menurutku! Aku dengar, saat umurnya 27 tahun dengan tiga anak. Ia harus kehilangan suaminya. Sehingga memaksanya harus berjuang sendiri.

Pranggg …!!! Perempuan itu kembali membating gelas yang ada di atas meja, setelah keluar dari kamar mandi. Dengan nafas tersengal-sengal.

Ia menghampiriku dengan wajah kacau dan kusut. Aku tertunduk dan bingung harus melakukan apa.

***
Kubuka tirai jendela berwarna hijau, angin membelai lembut rambutku yang masih berantakan. Kuhirup dalam-dalam angin segar. Musim dingin telah berlalu, waktu yang bagus untuk membawa Kakek jalan-jalan.

Di Sini aku seperti bagian dari keluarga mereka, semua kepercayaan sepenuhnya diberikan kepadaku. Aku hanya tinggal satu rumah dengan Kakek, sementara majikanku tinggal di apartemen sebelah. Kakek berumur 90 tahun, meski badannya masih sehat tetapi karena faktor umur menderita Demensia. Ia biasa berjalan sendiri sementara segala kebutuhan aku yang menyiapkan.

Meski umurnya sudah banyak. Namun, giginya masih bagus. Untuk menyiapkan makan setiap hari tidak perlu dibedakan. Kata anaknya Kakek orang rajin gosok gigi, setiap hari kadang 5 kali gosok gigi. Pagi ini aku siapkan Cung Yu Ping, dengan telur mata sapi lengkap dengan minumannya yaitu segelas susu ditambah sedikit kopi.

Setelah selesai melahap makanan yang ada di meja, aku siapkan keperluan Kakek untuk jalan-jalan. Setiap pagi dan sore hari rutin olahraga kecuali kalau cuaca tidak bagus. Kakek yang masih bisa berjalan namun ada kalanya ketika kelelahan ingin istirahat, untuk itu setiap kali keluar rumah aku bawakan kursi roda untuk jaga-jaga.

Aku kagum dengan keluarga ini, mereka saling menghargai satu sama lain, begitu pula denganku. Apabila memaggilku atau menyuruhku dengan ucapan yang sopan. Majikanku seorang pengusaha sukses. Menurut dari cerita Nenek sewaktu hidup itu tak lain karena usaha Nenek yang disiplin mendidik anak-anaknya.

Empat tahun di keluarga ini, aku cukup mengenal karekter mereka. Dua tahun yang lalu Nenek yang tegas dan baik itu meninggal karena tumor paru-paru. Menyisakan luka yang amat dalam bagi Kakek, hingga Demensia makin bertambah. Meski dia sudah merelakan kepergian Nenek tetapi aku tahu betul bagiamana rasanya kehilangan istri yang ia cintai itu. Bagaimana tidak! Meski umur mereka yang sudah tua tetapi adakalanya mereka bersendau gurau dan aku melihat bagaimana kasih sayang diantara keduanya.

“Kakek, jalan kesana, yuk? Itu di sana banyak anak-anak kecil bermain?” tanyaku ke Kakek.

Kakek yang hanya memiliki 3 anak lelaki dan lima cucu, sangat senang bila melihat anak-anak. Kalau melihat anak kecil ia sambil senyum-senyum mengajak anak itu bermain dengan tangannya. Memutar-mutar ujung tangannya.

Kakek tidak menolak ajakannku, Di bawah sinar matahari pagi serta angin lembut, kami berjemur.

“Fa, Kakek kamu penurut, ya? Baik lagi,” ucap Laela baru datang dengan Neneknya.

“Alhamdulilah,” balasku kemudian.

Banyak teman-temanku suka bercanda dan kadang merayu Kakek yang murah senyum. Namun, ada kalanya Kakek kalau kambuh, berubah begitu saja. Yang biasa memanggilku dengan sebutan Fa berubah jadi panggil Siou Jie, bahkan memukulku.

Pagi hari tempat ini cukup ramai, banyak pekerja asing dengan pasien mereka masing-masing maupun juga para warga penduduk asli yang membawa anak-anaknya bermain.

Waktu menunjukan 10.30 waktunya kami pulang menyiapkan makan siang untuk pasien kami.

“Laela, aku pulang dulu ya?” ucapku berpamitan dan Kakek melambaikan tangan ke teman-temanku.

Sore hari persediaan sayur yang ada di dalam lemari es mulai menipis, khawatir malam tidak cukup untuk dimasak, aku bawa Kakek di rumah majikanku dan aku titipkan Kakek pada menantunya, Nyonya.

Di tengah perjalanan pulang, aku merasa batinku tidak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal. Setelah memarkirkan sepeda dan ke rumah majikanku.

“Fa, Kekek hilang!” Spontan aku gugup dan mencari Kakek.

Kakek ditemukan di lantai 13 tergeletak disisi pojok tangga. Segera Majikanku menelepon 119.

Tak lama suara sirine mobil ambulance datang dan membawa Kakek ke rumah sakit. Di ruang Emergency Kakek langsung mendapatkan perawatan khusus, tidak ada memar di tubuh Kakek. Namun setelah aku raba, ada bencolan di bagian bawah kepala Kakek. Dokter segera melakukan pemeriksaan.

Aku dan Nyonya menunggu dengan gugup. Menurut keterangan dokter Kakek mengalami cereda bagian kepala yang cukup serius.

“Kakek harus secepatnya mendapatkan pertolongan!” ucap dokter, ”Siapa yang bertangungjawab bila segera ditangani? Kalau dibiarkan saja hanya menunggu waktu! Apakah setuju bila dipasang selang oksegien melalui mulutnya?” lanjutnya.

Nyonya panik karena majikanku Tuan Ke masih dalam perjalanan, Dokter membutuhkan tanda tangan darinya.

“Anak-anak Kakek bersedia Dok, Apapun caranya agar Kakek bisa bertahan!” ucap Nyonya setelah mematikan telepon dari Tuan.
Dokter kembali ke ruangan Kakek, kami masih menunggu dengan panik.

Setelah menunggu beberapa saat, Kami diperbolehkan masuk ke sebuah rungan. Ada sedikit sisa darah yang keluar dari mulut Kakek, sepertinya bekas memasukkan selang besar ke mulut Kekek untuk membantu pernafasaan. Disisi ranjang banyak alat-alat dan kebel.

“Bagaimana keadaan Kekek?” tanya Tuan Ke.

Melihat aku tertunduk sepertinya Tuan tahu benar apa yang aku rasakan,”Fa, kami tidak menyalahkanmu,” ucapnya bijak, “Kami tahu Setiap manusia punya waktunya masing-masing, mungkin ini cara Tuhan,” lanjutnya.

Aku tertunduk, mengusap embun yang hampir jatuh di kelopakku.
Tiba-tiba alat yang berada di samping ranjang Kakek berbunyi.

“Niiiiiiiiiitttttt …!”(Suara mesin elektro Kardiogram)

Mesin yang berada disisi ranjang Kekek menunjukan garis lurus. Suara nada panjang terdengar dari alat itu, secara medis Kakek mengalami Cardiac Arrest.

Aku panik dan mencari dokter untuk segera melihat kondisi Kakek. Tak lama suster dan dokter datang.

Dokter menyuruh suster untuk mengambil alat kejut jantung. Beberapa kali alat itu di letakkan di dada Kakek, seketika itu tubuh Kakek melayang beberapa senti. Namun, nampaknya tidak ada hasil.

“Niiiiiiiiittttt…!” (Mesin Kardiogram kembali berbunyi).

***

Aku lihat langit-langit rumah sakit yang bercat putih, duduk di kursi sambil menunggu pasienku memberikan susu. Sebulan semenjak kepergian Kakek, sekarang mendapatkan majikan baru menjaga Kakek lumpuh.

Seminggu sekali aku dikasih uang makan untuk membeli makanan di luar. Di situ aku bertemu beberapa teman TKI yang letak kamar pasien mereka berdekatan dengan kamar Kakekku.

“Ati, kamu tidak keluar beli makan?” tanyaku pada perempuan berambut kriting sebahu. Saat kutemui dia mengambil cucian dari mesin cuci yang letaknya bersebelahan ruang Kakek.

Dia menggelangkan kepala, Aku lihat kusut matanya sepertinya ada yang dia sembunyikan.

“Kamu sudah makan?” tanyaku memberanikan diri.

“Aku tidak makan kalau … tidak ada sisa makanan dari Nenek.”

Mendengar jawaban barusan membuatku menelan ludah.” Begitu nelansa nasibnya?” batinku berbisik.

“Aku ada makanan nanti aku kasihkan ke kamu, ya?”

“Tidak usah, aku takut nanti dimarahi Nenek. Apalagi nanti kalau Nenek lapor anaknya bisa kena masalah.”

“Tapi, An. Kamu tidak boleh diam begitu saja, kamu punya hak. Disini kita punya hak baik makan maupun tempat tinggal kita harus layak,” ucapku.

“Aku takut, Mbak.”

Ani yang baru satu bulan itu rasanya benar-benar ketakutan. Aku hanya menatapnya pergi jauh meninggalkanku.

Selesai memberikan susu pada Kakek, aku bawa ke luar ruangan. Sambil sesekali aku melatihnya untuk berjalan.

“Tut … Tut …Tut,” Pangilan masuk dari layar Sony milikku. Aku geser layarnya.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam. Dek, aku sekarang sudah berlabuh,” ucapnya.

“Alhamdulilah, kalau begitu nanti kalau waktu istirahat telepon lagi ya, Mas. Ini aku lagi bawa Kakek berjemur.”

“Siapa?” tiba-tiba Ririn teman sebelah kamar menepuk punggungku.

“Kakakku, ia kerja di pelayaran,” ucapku.

“Kamu tega! Membiarkan dia kerja di laut. Apa tidak takut?”

“Maksud kamu?” tanyaku penasaran.

“Bekerja di pelayaran itu sangat sengsara. Selain merasakan ganasnya ombak di lautan juga banyak diantara mereka yang merasakan kerasnya kehidupan di daratan, gaji di bawah standar. Saya pernah melihat di palabuhan Pintung saat diajak Nenek ke rumah anaknya, disitu aku melihat bagimana kehidupan mereka. Bahkan tempat tidur mereka tidak begitu layak, apalagi saat mereka berlayar istirahat mereka kurang cukup, sedangkan tenaga mereka diperas habis-habisan,” tutur Ririn sambil meraih botol minuman di belakang kursi roda yang disediakan seperti kantong Doraemon, karena berisi berbagai peralatan Neneknya.

“Awalnya, aku tidak tahu Rin. Kalau Kakakku menyusul kesini. Tiba-tiba saja dia meneleponku setelah seminggu sampai di Taiwan. Sebenarnya aku tak tega, tahu dia mau ke sini aku suruh bekerja di pabrik. Mungkin, lebih minim resikonya. Kalau sudah habis potogan pindah di pabrik,” ucapku mengenang ucapannya beberapa bulan yang lalu.

“Iya, Fa. Kamu masih ingat kasus TKI sebagai nelayan yang membunuh kaptennya?”

“Ingat!”

“Kasihan! Aku rasa tidak ada api kalau tidak ada asap. Menurutku tidak banyak yang tahu dengan kasus ini, mereka menganggap kesalahan sepenuhnya pada TKI. Meski aku tahu, mereka tetap salah karena menghilangkan nyawa seseorang,” Tatapan Ririn menerawang seolah mengulang kejadian yang terjadi beberapa tahun silam.” Aku kasihan, bagaimana dengan keluarga para nelayan itu? Bagaimana menjengukknya? sementara mereka ditahan di sini,” imbuhnya.

“Aku kurang paham, Rin. Kayaknya mereka sekarang ditahan seumur hidup. Atau mungkin menunggu hukuman mati!” ucapku.

“Itulah, Fa. Seakan keadilan itu tidak berpihak pada kita BMI. Masih banyak kasus lainnya yang tidak tercium ke publik. Kamu dengar kasus Indayani yang membunuh mantan majikannya pada 18 April 2015 silam, karena gajinya selama 9 bulan tidak dibayar, bahkan sempat tercium kabar kalau selain tidak dibayar gajinya juga diperlakukan secara tidak senonoh,” ucap gadis lulusan UNS yang lebih memilih jadi TKI untuk pengobatan ayahnya.

“Tidak ada habisnya, Rin. Membahas kasus TKI, Minimnya perlindungan membuat sebagian mengambil jalan pintas, Terkadang dari pihak ejensi yang seharusnya melindungi TKI malah berpihak pada majikan. Semoga saja mereka yang disini menunggu hukuman mati, mendapatkan perlindungan hukum yang lebih baik.” Kulirik jam tangan di pergelangan tanganku, matahari mulai meninggi.

“Rin, aku kembali ke kamar dulu, ya? Ini aku mau ganti selang kencing.”

“Ya, Fa. Aku juga mau sedak dahak.”

Kami berpamitan setelah masuk kamar masing-masing. Tak lama saat aku mengganti selang kencing Kakek, Dokter datang. Memberi kabar kalau Kakek hari ini sudah boleh pulang.

***
Aku membawa rancel warna hitam di punggungku, kenang-kenagan dari almarhum Kakek. Aku memapah Kakek turun dari mobil. Semenjak aku menjaga Kakek ini, baru pertama kali ke rumah. Sebuah rumah bangunan tua, Saat Nyonya masuk Lif, menekan nomer 4.

Di dalam rumah itu, masih ada Nenek. Aku lihat dari sorot matanya begitu teduh.

“Selamat siang, Nek!” sapaku.

Nenek pun melontarkan senyum padaku, dari perbincangan diantara kami, aku ketahui kalau Nenek tidak bisa melihat dengan jelas. Umurnya yang sudah 85 tahun itu, masih kelihatan cantik. Tubuhnya yang mungil dan kulitnya yang bersih, mungkin banyak mengira umurnya belum ada 70-an.

***

Semburat sinar matahari yang bersiap masuk ke perut bumi, ditelan jajaran pegunungan, menampankan pemandangan begitu indah. Aku lihat dari kaca, sesekali berbicara pada Kekek saat ganti perban.

“Kakek, nama kamu siapa?” godaku, meski tanganku memegang kapas untuk membersihkan lukanya setelah mandi.

“Kuo … Zhang … Wei,” ucapnya, karena hanya nama dia yang masih diingatnya, itupun ia terkadang lupa.

Terdengar suara daun pintu terbuka, tak lama Ta Ayi datang membawa sekantung plastik berisi sayur dan daging.

“Fa, ini sayur untuk seminggu. Sayap ayam ini untuk Nenek dan daging babi giling ini untuk Kakek, untuk daging kamu makan sama Kakek, gading babi ini.”

Aku menelan nafas panjang sebelum mengutarakan apa yang mengganjal dihatiku,” Maaf, Ayi. Aku tidak boleh makan danging babi. Di agamaku dilarang,” ucapku memberanikan diri.

“Dulu Ati juga mau makan daging babi, awalnya tidak mau tapi lama-lama mau.”

“Saya bisa makan apa saja, jangan paksa saya untuk makan daging babi.”

“Ya, sudah. Besuk aku carikan ayam untukmu.”

“Sebenarnya tidak daging juga tidak apa, di dalam lemari ada telur, tahu ataupun apa aku bisa memakannya. Maaf, Ayi. Aku lanjutkan dulu kerjaan saya, memapah Kakek ke ruang tamu,” pamitku.

“Ok.” Ayi menaruh barang yang ia bawa ke meja makan, setelah itu ia duduk di kursi ruang tamu sambil mengeluarkan beberapa botol minuman.

“Tut … tut … tut,” suara masangger masuk dalam HP-ku.

Sebuah pesan yang menyatakan bahwa puisiku diterima sepuluh besar dan diharapkan untuk membacakannya bulan depan pada sebuah cara di Taipei City.

Bahagia, itu yang aku rasakan. Seketika itu juga aku bicara sama Ayi untuk meminta izin libur.

“Tidak, kamu tidak boleh libur,” ucapnya membuat aku sedikit kecewa.

“Bukankah dalam kontrak kerja kita diwajibkan libur sebulan sekali?” gumamku dalam hati.

“Please, Ayi. Ini acara penting!” rengekku.

“Ok, kamu aku kasih libur tetapi cuma setengah hari. Berangkat jam 12.00 pulang jam 18.00.”

Aku terima tawaran itu, meski rasanya agak susah, Bagaimana aku bisa menghabiskan perjalananan yang begitu singkat itu, padahal untuk sampai ke Taipei butuh waktu hampir dua jam.

“Hati-hati, Ma, dengan pembantu. Itu lihat di TV seorang TKI dari Indonesia memukuli pasiennya, untung ada rekaman CCTV. Kalau aku tidak datang ke sini. Mungkin, nasib kamu sama dengan nenek itu,” ucap majikanku dengan meneguk segelas bir.

“Tidak semua TKI itu seperti itu, Ayi. Mungkin hanya segelintir orang saja.”

“Kamu tidak tahu, Fa. Diam saja kamu!”

Ku tutup mulutku rapat-rapat meski jujur aku tidak terima kalau semua TKI disamaratakan. Apalagi yang disorot hanya sisi negatifnya saja.

***
Ranting pohon luruh tertiup angin malam, diiringi gesekan dedaunan yang dipermainkan angin. Hewan malam meningkahi dengan jerit paraunya kemudian suaranya perlahan menghilang. Aku duduk diatas kasur sambil mijiti Nenek, selama satu jam lamanya harus memijit telapak kakinya. Setelah itu memberikan obat tidur dan lelahku terbayar seharian dengan pundi–pundi NT yang setiap bulan aku terima.

“Fa, Maukah kamu mambantuku?” ucapnya sebelum lelap tertidur.

“Besuk beli ikan di pasar. Kalau kurang pinjam uang sama kamu, ya?”

“Iya, Nek. Kalau tidak lebih NT 5000 aku ada.”

Pagi yang sama dengan segala aktivitasku tidak ada yang berubah karena semua telah tertulis dalam kertas putih jadwal harianku dari pagi jam 06.00-22.00 malam.

Aku dengar suara segukan dari kamar, lihat Nenek memegang gagang telepon. Sepertinya habis menelepon anaknya, entah anak yang mana? Setahuku Nenek punya 6 anak. Namun, yang sering melihat Nenek setiap harinya hanya El Ayi dan Ta Ayi. Kalau yang lain sebulan sekali baru datang.

“Fa, Nanti kalau Ta Ayi datang. Bila ditanya, aku pinjam uang kamu.”

“Tapi … Nek. Kan, tadi tidak jadi pinjam. Bukankah uangnya untuk membayar ikan cukup?” tanyaku.

“Pokoknya, kamu nurut saja.”

Aku masih bimbang, haruskan aku katakan yang sebenarnya bahwa memang, nenek tidak meminjam uang kepadaku.

Sore hari, sepulang dari bawa Kakek jalan-jalan terdengar keributan.

“Fa, aku beli ikan NT 5000?”

“NT 3000, Nek.”

“Tadi aku beri NT 5000?”

“Nek, Bukannya pas diberikan sama penjualnya dihitung 3 lembar ribuan, Nenek juga lihat sendiri!”

Aku sudah merasa tidak nyaman, saat terdengar lontaran kata kalau aku tidak memperhatikan Nenek sampai salah menghitung. Namun, aku tetap pada pendirian. Disaat aku benar, aku harus bicara tentang kejujuran.

Aku tidak tahu menahu tentang uang itu, tetapi pada dasarnya kesalahan disudutkan padaku. Pertengakaran antara keduanya semakin menjadi, aku merasa terpojok. Apalagi kembali terdengar dari Ta Ayi kalau tas dan perhiasan Nenek dulu sering hilang oleh pembantu yang dulu.

Pada akhirnya, aku meberanikan diri.” Ayi, aku tidak pernah mengambil barang milik orang lain, kecuali barang itu dikasihkan padaku.” Kemudian keributan itu mereda.

Keesokan harinya El Ayi datang dan menanyakkan kejadian kemarin.

“Ayi. Kalau masalah pekerjaan saya diprotes tidak apa. Tetapi kalau menyangkut uang jujur saya merasa tidak nyaman,” terangku,”Maaf, bila ada kataku mungkin tidak berkenan,” lanjutku.

“Aku tahu, Fa. Kamu jujur dan bahkan Nenek juga bercerita kalau kamu sering menemukan uang Nenek yang jatuh ke lantai, kamu kembalikan. Kami tidak menyalahkanmu, Nenek akhir-akhir ini mulai pelupa, Fa. Kamu tahu, kan?”

“Iya, terima kasih, Ayi.”

Akhirnya, seolah memberikan angin segar ketika kepercayaan itu datang dari seseorang. Gerumbul awan putih seolah mewakili tentang rasaku, uang Nenek NT 2000 ternyata diberikan pada cucunya dua hari yang lalu.

“Fa, Hati-hati di jalan. Taruh dompet yang aman!” pesan Nenek sembari memberikan kunci rumah padaku. Semejak melihat berita di televisi tentang pembunuhan yang menimpa bocah kecil tak berdosa dan beberapa pekan dalam waktu yang berdeketan juga banyak kasus yang hampir sama, membuat Nenek khawatir bila aku keluar rumah.

Terukir bahagia lewat wajahku, meski harus berkejaran dengan kereta dan waktu. Bisa melepaskan penat dalam berkerja selama sebulan hilang dengan kegiatan posifif yang aku lakukan.

Dengan membawa kunci rumah aku masuk begitu saja. Disana anak-anak Nenek berkumpul didampingi alkhohol dan makanan di atas meja, tadi pagi aku sajikan.

“Fa, kamu terlambat pulang. Telat 10 menit.”

“Maaf, Ayi. Tadi macet,” terangku.

“Lain kali kalau libur tidak boleh pulang lebih dari jam 18.00 .”

“Siap.” Aku menuju kamar dan menaruh tasku.

Terdengar suara gaduh dari luar setelah sebelumnya aku dengar percekcokan antara mereka. Nenek mencoba menengahi. Sementara, Kakek aku bawa ke kamar. Tidak begitu jelas yang mereka perbincangkan.

Pada akhirnya, Nenek yang mencoba menghalangi Ta Ayi menampar menantunya, tiba-tiba gemetaran dan kejang-kejang. Mereka masih beradu argumen pada pendirian masing-masing.

Aku masuk dalam kerumuan itu dan membawa Nenek duduk di kursi, ia terus gemetar.

“Apa kalian tidak lihat, Ibu kalian sekarat!” teriakku dengan air mata yang meleleh.

“Kamu siapa?” tanya Ta Ayi.

Aku bopong Nenek ke kamar, sementara anak-anaknya mematung. Bagaimana caranya menyelamatkan Nenek? akhirnya Nenek bisa membuka matanya, namun tangan dan sekujur tubuhnya masih dingin dan gemetaran.
***
Kursi yang terbuat dari papan kayu berserakan di lantai, Ayi mendekatiku. “Sepertinya, aku harus meninggalkan tempat ini,” gumamku.

“Kamu itu pembantu tidak punya hak mencampuri urusan kami! Pergi kamu … pergi ” pekiknya dengan menuding-nuding telunjuknya ke wajahku.

“Bagaimana aku membiarkan Nenek begitu saja?” gumamku lirih.

“Fa, jangan kamu hiraukan kata-kata Ta Ayi, dia lagi mabuk berat,” ucap anak bungsu Nenek.

Akhirnya mereka pergi meningglkan tempat Nenek dengan meja berantakan. Kembali ke rumah mereka masing-masing.

***
Langit tak selamanya biru begitu sebaliknya tak selamanya hujan menyisakan pelangi. Kulihat kembali gambar yang tertera dalam Album yang ada di Handpone, wajah Nenek yang masih kuingat setelah hampir satu bulan aku meningalkannya. Bukan karena kasus itu tetapi kontrakku telah usai.

Seperti pesannya yang begitu bijak,”Lakukan kebaikan, seandainya suatu saat kamu jadi orang punya jangan lupa memberikan sedikit rezekimu pada orang lain,” ucapnya sambil menyelipkan beberapa lembar ke tanganku sebagai tanda terima kasih telah menjaganya.

“Nek, seperti pesanmu. Lewat ilmu yang aku berikan pada anak-anak didikku, berbagi. Tumpukan buku bekas yang aku jajar dilemari toko milik ibukku telah dipijam beberapa orang, karena pada dasarnya berbagi bukan dari materi saja, bukan?” ucapku sambil menutup telepon dari Nenek. Rinduku merdu memanggil, tersandung langit kelabu. Menepikan pilu pada desau bayu, membisu.

Selesai

Catatan:
Demensia: Suatu ganguan otak atau pikun menahun
Mas: panggilan untuk saudara tua laki-laki.
Cung Yu Ping: Makanan yang berbahan tepung dan daun bawang.
Kardiogram: Alat pencatat denyut jantung
Cardiac Arres: Penghentian normal sirkulasi darah akibat kegagalan jantung.
Ta Ayi: Tante tertua
El Ayi: Tante kedua
Taiwan, 25 Mei 2016

HARU YANG MENUNGGU

ADI ANTO / HARU YANG MENUNGGU / KOMUNITAS PENULIS KREATIF TAIWAN / tenaga kerja asing HARU YANG MENUNGGU Oleh: Adi Anto Mata itu begitu sayu dan tanpa binar, seakan terpancar sejuta ratap dan putus asa. Bulir bening pun menggenang dalam. Haru yang kental dan begitu syahdu seiring rinai yang menetes ke bumi, waktuku untuk berlari pergi meninggalkannya dalam … Continue reading “HARU YANG MENUNGGU”

ADI ANTO / HARU YANG MENUNGGU / KOMUNITAS PENULIS KREATIF TAIWAN / tenaga kerja asing

HARU YANG MENUNGGU
Oleh: Adi Anto

Mata itu begitu sayu dan tanpa binar, seakan terpancar sejuta ratap dan putus asa. Bulir bening pun menggenang dalam. Haru yang kental dan begitu syahdu seiring rinai yang menetes ke bumi, waktuku untuk berlari pergi meninggalkannya dalam diam yang meradang.
Esok paginya dia pun masih sama, menatap nanar jauh entah di titik mana. Pandangan yang basah oleh titik-titik air mata dan ada alur di bawah mata sayunya tanda tangisnya pecah semalam. Ingin sekali aku bernasihat, memberinya semua kata bijak para pakar, menyemangatinya untuk menghentikan tangisnya. Hidup itu indah dan dia harus belajar menikmatinya. Tetapi sayu masih menggelayut dan dia kian larut. Apa yang bisa kuperbuat?
Sebelum mengayuh sepedaku pulang kulirik dia yang masih diam di tempatnya. Mungkin sudah beberapa hari ini dia tidak beranjak pergi, matanya yang sayu masih nanar menatap langit yang sudah berkelir hitam. Lara itu masih kentara dan tak kuasa rasanya seorang sepertiku mengusir jauh sang lara itu. Aku berlalu dengan kayuhan pelan sepeda tuaku, menjauh pergi membawa lelah dan iba yang berdesakkan.
“Sudah tahu kabar Mr. Yu?” tanya Anton sambil menyantap pientangnya dengan rakus.
“Masih koma ya?” jawabku balik bertanya.
“Iya … katanya tak ada harapan. Luka di kepalanya terlampau parah.”
Kucerna omongan Anton sambil menelan sesuap nasi yang belum hancur terkunyah dan sekilas sorot mata sayu itu terlintas.
Esok paginya kusempatkan duduk sebentar untuk menyapanya, mungkin perhatianku akan mengalihkan dunianya yang sedang biru.
“Cau an … kau baik-baik saja kan?”
Dia tak menjawab, menoleh kepadaku pun tidak. Tatapannya masih jauh menerawang tak bertujuan. Sepuluh menit kami saling diam aku berlalu saat bel panjang tanda jam kerjaku dimulai berdentang-dentang memekakkan.
Entah perasaan apa yang kumiliki rasanya ada keterikatan antara aku dan dirinya. Sungguh ada iba yang menyeruak menyaksikan bening yang menggantung di mata sayunya. Aku tak tega, sungguh andai aku ini adalah pujangga yang pintar membuat rangkaian kata akan kujelaskan bagaimana sorot mata itu memenjarakanku dalam iba yang tanpa pintu. Tak tega tapi sekali lagi aku bisa apa?
Siang harinya kami ada melakukan acara sembahyang selintas terdengar itu adalah asupan doa untuk kesembuhan Mr. Yu yang terbaring koma. Kulirik dia sepintas … masih sama dalam diam abadinya.
Entah hari itu hari apa yang kuingat hanya dua hari setelah doa bersama untuk Mr. Yu, dari corong speaker terdengar pengumuman dalam bahasa mandarin yang simpang siur kutangkap apa maknanya. Tak lama semua membicarakan Mr. Yu yang telah berpulang, pendarahan di otaknya tak mampu diredam. Setengah berlari aku mendatanginya, aku ingin menyampaikan kabar itu padanya. Ingin memeluk dan menghiburnya.
Dia kudapati lunglai sekarang, jika beberapa hari lalu kepalanya masih tertopang kini semua merebah setara tanah. Bening itu tak lagi menggenang tapi sudah bercucuran, dia menangis dalam.
“Kau tahu Mr. Yu meninggal? Dia sudah berpulang … sabar ya?” Entah kenapa justru kata-kata itu yang terlontar padahal ingin kukatakan hal indah yang bisa membuatnya sedikit bahagia.
Aku tetap tak dihiraukan.
“Mas … ayo pulang ngapain ngurusin anjing itu!” teriak sebuah suara di belakangku.
Entah siapa yang mengajakku pulang, fokusku hanya tertuju pada Haru yang telah beberapa hari ini menunggu. Haru yang hanya seekor Rottweiler mempunyai nurani untuk menanti sang tuan yang koma akibat kecelakaan. Haru yang tidak punya perikemanusiaan tapi menunjukkan padaku arti sebuah setia.
Kuusap tubuh gemetar dan mata yang membanjir air mata itu. Dia berduka begitu dalam lebih dalam dari duka para manusia-manusia.
“Bertahanlah Haru ….!” Itu ucap terakhirku sebelum kukayuh sepeda tuaku pulang. Esok paginya Haru juga tiada ….

Tainan, 25 Mei 2016

Lebaran,kampung halaman dan tanah rantau

Ebie gobel / Lebaran,kampung halaman dan tanah rantau / Oktavia eka / tenaga kerja asing Allahu akbar,allahu akbar,allahu akbar walillahilham.
kumandang takbir menggema,bergemuruh di dalam dada.air mata jatuh gugur mengingat kebesaranmu. Aku tetap mengumandangkan takbir,meski lirih di dalam hati.maklum saja,aku tinggal di negara yang penduduknya mayoritas bukan muslim,jadi tak ada perayan di sini,tak ada kue,tak ada rendang kambing,tak ada … Continue reading “Lebaran,kampung halaman dan tanah rantau”

Ebie gobel / Lebaran,kampung halaman dan tanah rantau / Oktavia eka / tenaga kerja asing
Allahu akbar,allahu akbar,allahu akbar walillahilham.
kumandang takbir menggema,bergemuruh di dalam dada.air mata jatuh gugur mengingat kebesaranmu.
Aku tetap mengumandangkan takbir,meski lirih di dalam hati.maklum saja,aku tinggal di negara yang penduduknya mayoritas bukan muslim,jadi tak ada perayan di sini,tak ada kue,tak ada rendang kambing,tak ada opor ayam,tak ada ketupat dan yang pasti tak ada gelak tawa keluarga,sanak-saudara dan teman-teman yang kehangatannya selalu membuatku rindu.
Dua kali puasa,dua kali lebaran,anakmu tak kunjung pulang mak,dan mungkin ia bakal jadi pengganti bang toyib,sebab ia tak akan pulang sampai lebaran ketiga.
Untuk lebaran yang kesekian kalinya,aku tak pulang ke kampung halaman.entah sudah berapa kali aku melewatkan hari bahagia itu tanpa kalian semua,melewatkan masa di negeri orang,sampai lupa bahwa usiaku sudah mulai senja.sudah hampir kepala tiga,sampai sampai ada yang pernah berkata,
“merantau terus,kapan nikahnya??”
Terus aku kudu piyee jal??…
Makjleeeeeb…
Rasanya,teriris-iris seluruh hati kalau sudah dapat pertanyaan seperti itu.ya memang tak ada yang salah sih dengan pertanyaan itu,mengingat usiaku memang sudah memasuki masa di mana seharusnya sudah berkeluarga.apalagi teman teman di kampung sudah pada menikah semua bahkan sudah ada yang punya momongan.tapi ya apa mau di buat,mungkin tuhan sedang memilihkan jodoh yang tepat buat saya.sabar saja,sebab saya yakin semua akan indah pada waktunya.
halaaaaah kok malah curhat…
Balik lagi ke masalah lebaran tadi,bagi saya anak perantau,yang terpisah jarak ribuan kilometer dari kampung halaman,satu satunya yang selalu bisa membuat saya merasa dekat dan bisa merasakan lebaran bersama keluarga ya cuma njobrol via telepon.meskipun kadang suaranya kurang jelas dan sering terputus putus.maklumlah,rumah saya memang di kampung jauh dari kota jadi agak sedikit susah signal.nah kalau sudah telepon bisa menghabiskan waktu berjam-jam dan hal yang paling menyedihkan adalah ketika harus menyudahi pembicaraan padahal rindu di hati masih ingin terus bercengkrama.apalagi kalau sedang berbicara dengan ibu,halaaah rasanya tak ingin berhenti,ingin rasanya menumpahkan semua beban yang ada di hati ini.ya entah kenapa,kalau sedang berbicara dengan ibu,ada rasa nyaman yang tak pernah kurasakan dari wanita manapun selain ibu.ada rasa tenang di dalamnya.semua kata yang mengalir darinya seperti air yang menyejukkan.semua nasehatnya seperti mentari yang memberi terang pada gelapnya jiwaku redup.bagiku,ibu adalah telaga kasih tanpa pamrih.bidadari syurga menjelma manusia.itulah kenapa aku selalu ingin melihatnya tersenyum dan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia.
Dan itulah hal yang selalu membuatku ingin segera pulang ke kampung halaman.merasakan lagi hangat pelukannya,menikmati lagi setiap helai lembut jemarimu.menikmati setiap aroma masakannya,oh sungguh aku benar benar rindu itu semua.
Sudah sudah jangan sedih,sebab air mata hanya akan menambah perih dan rindu di kalbu.hanya akan menambah sesak di dada.sebab apa yang disisakan airmata selain kenangan dan kesedihan.
Haaaaahaaa sok puitis banget ya saya.,
Balik lagi ke persoalan tadi.
Lebaran tanpa keluarga,sanak saudara dan teman mungkin bagiku sudah menjadi hal yang biasa dan itu adalah konsekuensi yang harus diterima dalam hidup.Hidup adalah pilihan dan ini adalah pilihan hidup saya.saya memilih meninggalkan kampung halaman dan pergi menuju tanah rantau.tapi tak pernah ada penyesalan dalam hidup sebab manapun jalan hidup yang kita pilih itulah yang harus kita jalani.akan selalu ada yang baik dan akan selalu ada buruknya,sebab begitulah hidup akan terus berputar tanpa kita tahu pasti kemana roda nasib akan membawa kita,yang pasti seperti apapun jalan yang engkau pilih,susah senang tetap ingat kepada Tuhan sang pencipta alam.jangan pernah takut untuk merevolusi hidup sebab Tuhan takkan pernah merubah nasib seseorang jika bukan orang itu sendiri yang merubahnya.
Allahu akbar,allahu akbar,allahu akbar walillahilham.
Selamat hari raya idul fitri.

Pingtung,25 mei 2016.

Cerita dari ruang ICU

Zaa / Cerita dari ruang ICU / Sima / tenaga kerja asing Cerita dari ruang ICU “Bukankah ganjaran kebaikan itu tidak lain melainkan kebaikan ?”(Q.S. Arrahman:60). ” Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit, sekarang! Bahkan kita juga harus minta dokter untuk merawat inap Ama!” Nada suaraku kali ini agak meninggi dan terkesan memerintah. Meskipun aku tahu tidak … Continue reading “Cerita dari ruang ICU”

Zaa / Cerita dari ruang ICU / Sima / tenaga kerja asing

Cerita dari ruang ICU

“Bukankah ganjaran kebaikan itu tidak lain melainkan kebaikan ?”(Q.S. Arrahman:60).
” Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit, sekarang! Bahkan kita juga harus minta dokter untuk merawat inap Ama!” Nada suaraku kali ini agak meninggi dan terkesan memerintah. Meskipun aku tahu tidak pantas bersikap seperti itu pada laki-laki yang berpotongan rambut lebih panjang dari potongan rambutku ini, karena bagaimanapun dia adalah anak Ama, Bosku.
“Memangnya rumah sakit itu punya kamu? kalau kata kamu opname’, Ama boleh opname?!” Suaranya juga tak kalah tinggi dan itu sudah biasa dia lakukan padaku, kami adu mulut.
Dia terus mondar-mandir di hadapanku, kepulan asap menyebar kemana-kemana dari mulutnya yang tidak berhenti menghisap sebatang kretek, bertanda bahwa sebenarnya dia juga panik.
Ya, walaupun tampangnya urakan dan bertempramen tinggi, tapi sebenarnya dia baik, terbukti selama ini memperlakukanku juga seperti keluarganya sendiri dan dia pun sangat sayang pada ibunya. Hanya terkadang kebiasaannya bermain komputer tidak bisa diganggu, sehingga terkesan kurang perhatian pada ibunya.
“Iya, kali ini saya sendiri yang akan bilang sama dokternya, Ama harus opname!”
“Semalaman saya lihat Ama susah bernafas karena dahak. Makanya kalau Ama nggak sakit jangn minta opname, sekarang giliran Ama sakit beneran, kamu bingungkan?! Huuft..!” kali ini aku menjawabnya dengan sedikit mendengus, kemarahanku menjadi.
Pikirku biar saja sesekali aku memarahinya, walaupun dia adalah bosku. Karena bagaimanapun Ama adalah pasien yang aku jaga dan itu sudah menjadi kewajiban serta tanggung jawabku segala kondisi tentang Ama. Walaupun sejak aku baru datang merawatnya, Ama sudah tidak berdaya dan hanya berbaring di ranjang saja, tetapi setidaknya tidak semakin parah.
Itu sebab kenapa aku begitu marah, sudah beberapa hari ini aku perhatikan Ama sering terlihat gelisah dan merintih kesakitan. Namun, kondisi Ama yang sudah tidak bisa berbicara, membuatku bingung apa yang dia rasakan. Aku sudah beberapa kali meminta Bosku membawanya ke dokter, tapi tiap kali juga dia beralasan, dia sibuk.
Hari ini puncaknya, kulihat kondisi ama sangat lemas, badanya panas, nafasnya terlihat tersendat, matanya tak terbuka sama sekali. Kuraba denyut nadinya, lemah. Cepat-cepat aku merapihkan pakaiannya dan bergegas membawanya ke rumah sakit.
****
” Anamnesis’: fever’ 39,8. Glukosa’800, atrofi muskular’, hypotension’, MAP less’, pielonefritis’, septic shock’…,” Dan beberapa kalimat istilah kedokteran yang lain, yang tidak aku pahami maknanya, seorang asisten dokter melaporkan hasil chek-up kondisi Ama pada dokter.Terlihat juga ada beberapa perawat lain saling sibuk, ada yang sigap memasang selang oksigen dan infus, dan ada juga lainnya, terus mencoba mencari tekanan jantung dan darah Ama.
Aku menarik diriku lebih ke tepi sisi tembok, memberikan tempat pada nona-nona berseragam putih itu agar tak terhalang olehku dan leluasa bergerak. Ruangan begitu gaduh. Kini nampak Dokter dan asistennya sedang berunding sesuatu denga Bosku, mungkin mereka meminta persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan pada tubuh Ama. Sehingga, jika nanti ada resiko yang tak diinginkan, mereka sebagai pihak medis bisa mempertanggung jawabkannya pada pihak keluarga Ama, bahwa sudah ada persetujuan dari salah satu anggota keluarga.
Kulihat kini Bosku di depan meja perawat, menandatangani sebuah kertas. Sedang aku sendiri masih terdiam di sudut ruangan,dan kebingunganku tersentak ketika seorang perawat menghampiriku,
“Maaf Nona, sekarang anggota keluarga mohon menunggu di luar ruangan dulu, ya?!” mempersilahkan diriku meninggalkan ruangan.
Aku hanya mengangguk, diam tak ada sepatah katapun yang aku ucapkan. Diantara deretan kursi lorong aku menunggu, dan bunyi detak jam dinding yang terletak menggantung diatas tembok tepat dihadapanku, seolah ingin menyembunyikan segala perasaanku.
***
Terhitung 5 hari sudah, Ama berada di kamar ICU’, masa kritisnya sudah lewat. Tapi pernafasannya masih dibantu dengan ventilator’, serta beberapa kabel yang tersambung pada sebuah monitor pendeteksi jantung juga masih menempel di dadanya. Rutin aku menjenguknya tiga kali dalam sehari.
Dan di ruang tunggu, di lorong yang berjejer beberapa kursi ini, aku kerap melihatnya.
Aku melihat perempuan baya itu tiga kali sehari, dia sudah datang sebelum pembesuk yang lain datang.
Usianya 65 tahun, dia memberi tahuku saat kami berkenalan beberapa waktu lalu. Mungkin pasien yang dia jenguk sudah lebih lama berada di dalam, dibanding Ama.
Aku memanggilnya dengan sebutan Ayi, yang berarti Bibi dalam bahasa Mandarin.
Wajahnya terlihat begitu tirus, sudah banyak memperlihatkan kerutan- kerutan, suaranya sedikit parau seperti tertahan dan potongan pendek rambutnya pun mulai berbaur warna putih, pakaiannya juga sangat sederhana membalut tubuhnya yang kurus. Namun selalu ada senyum yang senantiasa dia perlihatkan, itu yang membuatku tidak segan untuk memberanikan diri sedikit berbincang dengannya, di sela-sela waktu kami menunggu.
Pernah suatu kali aku coba bertanya, alasan dia begitu bersemangat datang menjenguk si pasien. Padahal menurut ceritanya, jarak tempuh antara rumahnya dan rumah sakit lumayan agak jauh, sekitar 30 menit jika mengayuh sepeda. Aku membayangkan untuk seusianya yang terbilang sudah senja itu tidaklah mudah, belum lagi jika malam hari dan hujan, itu semua butuh tenaga dan tentu saja sebuah alasan. Ya, alasan yang kuat kenapa beliau mau melakukannya. Karena pengorbanan seperti itu secara pribadi jarang aku temui.
Kembali menurut ceritanya, yang didalam ruangan itu adalah kakak laki-laki Ayi yang pertama, umurnya hampir 92 tahun.
Kulihat mata Ayi sedikit berkaca-kaca dengan pandangan menerawang, kini dari bibirnya mengalirlah sebuah cerita,
“Bapak saya, dulu punya enam anak, saya anak ke lima, perempuan satu- satunya. Dan dulu, mempunyai anak perempuan berarti sial, itu juga anggapan Bapak saya…,”
Benar dugaanku, dengan suara paraunya yang sedikit tersendat, beliau mulai mengingat masa kecilnya,
” Tapi saya beruntung mempunyai kakak yang ini, meskipun orang tua saya menyia- nyiakan saya dan memperlakukan tidak adil, dia selalu ada melindungi dan membela saya. Dari makanan, tempat tidur semuanya dia rela berbagi. Walaupun saat dia sudah berumah tangga, begitupun saya. Bahkan hingga masing-masing dari kami sudah memiliki anak, dia tetap melindungi dan menjaga saya. Dia sudah menggantikan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan oleh Bapak saya…, dia sangat baik.” Sejenak dia menghentikan ceritanya, sepertinya dia enggan kembali mengingat kenangan pahit masa lalunya,
“Sekarang dia tergeletak lemah, hanya ini yang bisa saya lakukan untuknya. Toh, mau membawa makananpun dia sudah tidak bisa makan apa-apa. Membelikannya sesuatu? dia sudah tidak butuh apa-apa lagi. Saat ini kakak saya hanya butuh do’a dan penyemangat saja…,” Beliau menyambung ceritanya setelah sesaat menghela nafas panjang, dan aku hanya manggut-manggut menunjukan rasa empatiku. Namun sekarang matanya tidak hanya berkaca-kaca, buliran bening mulai menetes perlahan dari matanya dan pandangannya semakin menerawang. Aku mengenggam tangannya dan mengusap-usapnya, ada ketulusan yang aku rasakan di sana.
Kini aku tahu alasan kuat itu, alasan kenapa dia tidak mau melewatkan waktu jam besuk setiap harinya. Padahal menurutku, kalau dia hanya ingin tahu kondisi kakaknya, bisa saja dia menghubungi saudaranya yang lain tanpa harus setiap hari datang membesuk, tapi dia bilang tidak bisa melakukannya. Karena dia takut saudaranya berbohong, mengatakan kakaknya baik- baik saja. Tanpa melihat dengan matanya sendiri, justru akan membuat dia tidak bisa tidur karena memikirkannya.
Kini aku tahu, kenapa beliau begitu bersemangat mengayuh sepeda selama 30 menit, meskipun nafasnya sendiri sudah tersendat- sendat.
Dan alasan kenapa dia tidak perduli cuaca serta keadaan gelap bisa membahayakan dirinya sendiri.
Alasan itu adalah sebuah ketulusan. Kasih sayang yang tulus yang pernah tertanam di hatinya bertahun- tahun, sehingga kini dia mampu melakukan pengorbanan itu.
Benar sekali hukum tabur tuai itu, siapa yang menanam kebaikan dia juga yang akan menuainya.
Cerita Ayi terhenti ketika pintu ICU terbuka, kini waktunya kami memakai baju khusus dan masuk menjenguk pasien kami masing-masing.
Di dalam kulihat kondisi Ama mulai membaik, suster bilang hari ini Ama sudah bisa makan meskipun hanya susu yang diasupkan melalui selang yang terpasang lewat hidungnya dan panjang selang itu mencapai lambungnya atau dalam istilah medis benda tersebut biasa disebut NGT (Nasco Gastic Tube), dengan begitu nutrisi di tubuh Ama tetap tercukupi, dan itu membantu Ama memiliki energi sehingga bisa mempercepat kepulihannya.
Di sebelah ranjang Ama, terlihat seorang lansia perempuan juga, kondisinya tak jauh beda dengan keadaan Ama, hanya saja beliau sudah sadarkan diri. Usianya 90 tahun, itu yang tertulis di papan identitas pasien yang terpasang di atas ranjangnya. Dari arah pintu, seorang Kakek tambun dengan langkah kaki pincang dan nafas yang terengah- engah, melangkah mengarah ranjangnya. Meski sudah dibantu sebuah tongkat yang tak lepas dari sebelah tangannya sebagai penuntun dia berjalan, namun dia masih terlihat susah saat melangkah, mungkin faktor usia dan riwayat penyakit yang dia miliki. Sepertinya dia pernah terkena stroke, itu terlihat dari caranya berjalan dan berbicara yang tidak sempurna, setiap kali akan melangkah dia berusaha keras menyeret kakinya, mengingatkanku pada almarhum Bapakku dulu. Dan jika diperkirakan usianya juga tak jauh dari si nenek itu.
Sambil terus memijit-memijit tubuh Ama , aku sesekali mencuri pandang kearah mereka.Tanpa ada sepatah katapun yang terucap, Kakek itu duduk di sebuah kursi yang sengaja diletakkan di sebelah ranjang nenek itu dan menggenggam tangan yang tak berdaya di ranjang pesakitannya. Merasakan kehangatan tangan seseorang, si Nenek membuka matanya. Namun sama tak mengucap sepatah katapun, hanya mata mereka saja yang saling menatap.
Pemandangan itu berlangsung beberapa menit, hingga laki-laki tua itu tersentak oleh bunyi sebuah mesin disebelahnya, nampak layar monitor menunjukan garis lurus dan memunculkan sebuah tulisan ‘pulse search’. Dia tergopoh, memanggil suster penjaga. Kecemasan nampak dari raut mukanya, dan si suster langsung memahami apa yang terjadi.
” Tidak apa-apa, Kek. Kakek hanya menyenggol ini.” Suster itu menjelaskan, sebab ada bunyi dari sebuah mesin dan layar monitor, dengan menunjuk sebuah benda yang mirip jepitan baju berinfra merah, rupanya alat pendeteksi denyut nadi terlepas dari jari Nenek.
Ada senyum tipis tergaris dari wajah si Nenek, dan si Kakek itupun ikut tersenyum. Mungkin jika aku mengartikan senyuman itu, si Nenek itu ingin berkata, ‘Ah…, Kakek, kamu jangan terlalu gugup! Saya baik-baik saja’, begitupun dari arti senyuman si Kakek mungkin ingin berucap, ‘Iya Nek, saya takut terjadi sesuatu padamu’ atau aih.. Entahlah!Jadi seperti sutradara sinetron saja aku mengartikan senyuman mereka. Entah apapun arti sebenarnya dari senyuman itu, yang terjadi justru aku malah ikut senyum-senyum sendiri melihatnya.
Tiga puluh menit waktu berkunjung habis. Laki- laki tua itu besusah payah mengangkat badannya berdiri, melepas genggamannya pada perempuan tak berdaya itu. Mereka samar-samar masih saling melempar senyum, mungkin kali ini arti senyum itu salam perpisahan sementara diantara keduanya. Hingga akhirnya Si Kakek menghampiri suster penjaga, berulang kali membungkukan badannya tanda berterima kasih,
“Tolong titip istri saya, saya mau dia cepat sembuh,” terbata- bata Kakek itu menitipkan perempuan belahan jiwanya, pada si suster. Terlihat ada kecemasan, sedih, cinta serta ketulusan yang dalam,di sana. Aku saja sampai terbawa suasana haru melihatnya, mungkin si Nenek juga begitu, sehingga begitu terlihat kesedihan diantara keduanya saat harus berpisah.
Melihat itu semua, tak terasa hati ini diam-diam berdo’a. Kelak menemukan seseorang yang akan terus menemani dan menggenggam tangan ini, sampai ragaku menua dan tak berdaya lagi.
**
‘Derrtt..’ telepon genggam di kantong celanaku bergetar, bertepatan jam membesuk habis. Aku melangkah keluar setelah berpamitan pada Ama, meskipun tak ada jawaban darinya tapi tetap aku melakukannya, karena aku tahu Ama masih bisa mendengar. Dokter bilang itu bagus untuk merangsang respon sel-sel syarafnya kembali stabil. Karena menurut Dokter saat ini kesadaran Ama belum sampai tingkat composmentis’, Ama baru mampu merespon dengan membuka matanya saja.
Setelah melepas baju khusus pembesuk yang kukenakan, aku segera melihat siapa yang menghubungiku tadi. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang beberapa waktu lalu diperkenalkan Budeku di kampung, katanya biar kami berta’aruf’an.
“Gimana… Suka modelnya?” Sebuah gambar sepasang cincin, dia kirim.
“Besok insyaallah, saya dan orang tua datang menemui anak dan ibumu. Bismillah do’akan lancar ya..?” Isi pesan lanjutannya.
“Aamin, insyaallah..” beserta sebuah smile emotion, aku membalas pesannya.
Pintu lift terbuka, aku langkahkan kakiku keluar gedung rumah sakit. Angin sepoi-sepoi mengiringi langkahku. Hari ini aku belajar sesuatu, yaitu dari kebaikan dan ketulusan.
Ya, Tuhan tidak akan tidur, Dia Maha melihat setiap dan sekecil apapun yang dilakukan makhluknya. Jika kita berbuat baik maka kebaikanlah yang akan kita dapatkan, dan jika kita juga memberikan ketulusan maka ketulusan akan terbalas. Meski mungkin bukan dari orang yang sama kita akan mendapatkan balasannya, atau entah kapan waktunya.
Itu janji Allah, sebagaimana dalam firmannya,
“Bukankah ganjaran kebaikan itu tidak lain melainkan kebaikan ?”di surat Arrahman ayat 60. Maka terus berusaha berbuat dan berprasangka baiklah pada sesama, lirih batinku pada diri sendiri.

Taiwan, 24 mei 2016.

Note:
Opname: rawat inap
ICU : Intensive care Unit
Anamnesis: data riwayat penyakit pasien
fever : demam
Glukosa : kadar gula
atrofi muskular: berkurangnya ukuran dan jumlah serat otot akibat proses penuaan, penurunan aliran darah
Hypotension: tekanan darah rendah
MAP (Mean Arterial Pressure) less: tak terdeksinya hitungan rata-rata tekanan darah arteri yang dibutuhkan agar sirkulasi sampai ke otak
Pielonefritis:infeksi ginjal yg menyebabkan infeksi kandung kemih(air kencing berwarna putih keruh)
Septic shock: keadaan dimana pasien sudah tidak mampu merespon apapun sekelilingnya akibat komplikasi infeksi yg menyerang sistem immun pada tubuhnya.
Pulse search: pencarian denyut nadi
Composmentis:kondisi pasca koma yang sudah sadar seutuhnya dan sudah mampu merespon serta menggerakan anggota badannya.
Ta’aruf: masa pengenalan antara laki-laki dan perempuan ketika berniat ingin ke jenjang pernikahan dalam agama Islam

Aku, Bosku, dan Hijabku

Ryan Ferdian Darsudi / Aku, Bosku, dan Hijabku / Flp Taiwan / tenaga kerja asing Aku, Bosku, dan Hijabku “Cindy, kami mengizinkanmu memakai hijab seperti yang kamu pakai sekarang atau dengan pakaian perempuan muslimah yang jilbabnya lebar dan bajunya longgar. Tapi kami minta kamu tidak memakai cadar. Patuhi dan hormati peratutan Negara kami, demi kenyamanan kita bersama.” Pinta … Continue reading “Aku, Bosku, dan Hijabku”

Ryan Ferdian Darsudi / Aku, Bosku, dan Hijabku / Flp Taiwan / tenaga kerja asing

Aku, Bosku, dan Hijabku

“Cindy, kami mengizinkanmu memakai hijab seperti yang kamu pakai sekarang atau dengan pakaian perempuan muslimah yang jilbabnya lebar dan bajunya longgar. Tapi kami minta kamu tidak memakai cadar. Patuhi dan hormati peratutan Negara kami, demi kenyamanan kita bersama.” Pinta Nyonya di suatu pagi sebelum berangkat ke kampus tempatnya mengajar.
***
Tak pernah sedikitpun aku memiliki nama panggilan sebagus ini, ‘Cindy’. Sebuah nama yang hanya aku tahu dari televisi. Nama-nama para artis. Kini nama itu menjadi nama panggilanku semenjak aku menginjakkan kaki di Taiwan.
“Cindy, ini kamarmu. Kamu tidur bareng Ama biar gampang kalau Ama memanggilmu kalau Ama ada apa-apa.” Kata majikan perempuanku kala pertama kali aku memasuki rumah majikanku ini. Rumah berlantai dua di daerah yang jauh dari ibu kota. Hualien. Kota di mana aku harus bekerja. Majikanku yang lelaki adalah seorang dokter, sementara istrinya adalah seorang dosen di sebuah universitas ternama di Hualien, mereka memiliki 2 orang anak lelaki yang sedang kuliah di Tainan. Jarang sekali kedua anaknya pulang kecuali liburan kuliah.
“Baik, Nyonya.” jawabku. Kata Mandarin pertama yang aku ucapkan di Taiwan setelah tiga bulan lama aku belajar bahasa di penampungan (PJTKI) di Jakarta. Meski sudah sering mendengar bahasa Mandarin saat “sekolah” tapi rasanya di telingaku pengucapan kata-kata majikanku yang bermarga Liu ini sedikit asing. Terasa lebih halus dari pengucapan guru pengajar di penampungan yang memang asli orang Indonesia. Mereka adalah purna TKW yang dianggap bahasanya sudah memenuhi standart pekerja di Taiwan. Kebanyakan mereka berasal dari Jawa Tengah atau Jawa Timur yang tentu saja aksen bahasa mereka masih kental daerah asalnya.
“Cindy, aku dan Tuan setiap hari pergi bekerja, hanya hari sabtu dan minggu kami libur, kamu tolong jaga Ama yang baik, ya. Aku akan mengajarimu cara memandikan Ama, dan yang lainnya. Kamu juga tidak perlu sungkan. Kalau Ama sudah tidur, kamu bisa masak untuk makan siangmu. Di kulkas sudah aku sediakan sayur-mayur juga daging ayam. Kamu bisa masak, kan?” jelas nyonyaku. Aku hanya menganggukkan kepala tanda aku mengerti.
***

Setahun telah berlalu. Aku mulai terbiasa dengan nama baruku. Nama asliku Siti Munawaroh tak lagi pernah menjadi panggilanku selama di Taiwan, kecuali saat aku menelpon keluarga. Bahkan teman-temanku sesama orang Indonesia yang aku kenal di sini bila aku sedang membawa Ama jalan-jalan sore tak mau memanggil nama asliku, “Biarin aja namamu jadi Cindy, kan malah keren. Ini kan Taiwan, Cin. Sudah biasa. Di pabrik tempat suamiku bekerja malah lebih lucu. Bayangin aja, nama Sutris jadi Ali, nama Anggi jadi Ati, nama Andi jadi Anti, Ibrahim jadi Mante, Rano jadi Sani. Kan nggak nyambung, to?” celetuk Shanti. Gadis asal Indramayu yang suka ceplas-ceplos kalau bicara. “Kita ini hidup di negeri orang, kita harus menghormati kebiasaan, budaya dan peraturan setiap Negara yang kita tinggali saat ini untuk mencari rezeki. Bukankah kita sejak sekolah SD sudah diajarkan ‘Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung’? kalimat itu kan bukan cuma slogan belaka tapi harus kita maknai dan kita praktekkan dalam kehidupan nyata.” Lanjut mantan guru honorer SD kampungnya dulu.
Aku dan teman-temanku hanya diam dan saling lirik sambil tersenyum membayangkan nama-nama teman suaminya yang menjadi nama-nama untuk perempuan kalau di Indonesia.
***

Hari minggu adalah saat yang paling menyenangkan bagiku, karena pada hari minggu-lah Tuan dan Nyonyaku berada di rumah. Mereka sering mengajakku jalan-jalan ke tempat wisata di sekitar Hualien. Ada pantai Ci Sin Tan, pantai yang sangat indah dan bersih. Di pantai ini kita tak bisa menyaksikan tenggelamnya matahari di laut atau sunset tapi di pantai ini kita hanya bisa menyaksikan matahari mulai menyenari dunia atau sunrise, karena pantai ini menghadap ke timur. Tapi saat sunset kita tetap dapat menyaksikan keindahan panorama pergantian siang hari ke malam. Gunung-gunung di sekitar pantai ini tak kalah indah dengan pantainya. Selain pantai, majikanku sering mengajakku ke tempat wisata pegunungan yang terkenal dengan tebing-tebingnya; Taroko.
“Cindy, kamu harus bersyukur dapat tempat kerja di Hualien. Banyak tempat-tempat indah yang bisa kamu kunjungi di sini. Lihatlah mereka ke sini dengan ongkos yang mahal dan waktu yang tidak sebentar.” Kata Nyonya sambil menunjuk kerumunan wisatawan lokal dan asing yang di sana terdapat beberapa orang Indonesia.
“Cindy, kamu nanti boleh menyeberang ke bukit sana. Kamu lihat pagoda di atas bukit itu. Dari pagoda itu kamu dapat menikmati keindahan alam di sekitar sini. Kamu boleh menaiki pagoda itu, kalau mau ke pagoda itu kamu harus menyeberangi sungai lewat jembatan merah di sebelah kiri itu. Biar Ama dengan kami di sini.” Jelas Tuanku menjelaskan.
Memang benar keindahan tempat wisata ini tak diragukan lagi. Sejak perjalanan memasuki Taroko mataku sudah disuguhi pemandangan yang membuat kita takjub pada ala mini dan takjub pada Sang Pencipta alam ini. Sungai-sungai kecil di antara gunung yang mangapitnya tampak begitu dalam. Jalan-jalan yang kita lewati adalah sisi gundung yang dibuat semacam terowongan yang sengaja dibuat di pinggir gunung itu sendiri agar kita dapat menikmati keindahannya. Bagi takut ketinggian melihat ke bawah tentu akan membuat aliran darahnya mengalir semakin deras.
Aku memberanikan diri menuju bukit yang terdapat bangunan pagoda di atas sana. Ama, Tuan dan Nyonya tetap di tempat semacam pasar kecil di puncak Taroko ini. Mereka menyebutnya ‘Kota’ meski hanya beberapa rumah lumayan mewah dan hotel tapi terdapat kantor pos di sana. Di tempat itu bila malam wisatawan boleh mambuat tenda untuk bermalam bagi yang tidak mau menginap di hotel yang tarifnya permalam 5000 NT$ hingga 6000 NT$ untuk kelas biasa. Tak hanya di ‘Kota’ saja tetapi di spot-spot yang banyak dikunjungi juga diizinkan membuat tenda untuk tidur dengan syarat setelah pukul 6 sore dan pagi sebelum pukul 8 waktu setempat.
Berjalan ke kiri menyeberangi jembatan panjang, kulihat jembatan merah yang dimaksud oleh Tuan. “Itu dia jembatannya!” batinku. Aku lihat rombongan orang Indonesia, mereka semua membawa kamera besar dikalungkan di leher. “Wuih keren!” kataku takjub.
Melihat aku yang berjalan sendirian salah seorang menyapaku, “Mba, orang Indonesia, ya?”
“Iya, Mas,” balasku.
“Kok sendirian?”
“Aku sama majikanku kok, mereka nunggu aku di sana. Soalnya Ama yang aku rawat kan nggak bisa ke sini,” jawabku.
“Ya, sudah kita bareng aja yuk. Tuh teman-temanku sudah pada sibuk jeprat-jepret. Oh iya, namaku Anto, aku kerja di Taipei. Sebenarnya aku ke sini sudah sering. Kali ini aku ngantar teman-teman yang penasaran dengan Taroko. Dari Hualien kami menyewa taksi. Berhubung kami berdelapan kami menyewe dua taksi.” Terang lelaki hitam manis bernama Anto ini.
“Mahal ya, Mas kalau nyewa taksi?” tanyaku penasaran.
“Lumayanlah, Mba. Satu taksi 5000 NT$ sekali jalan. Tapi kita diantar ke spot-spot pilihan yang banyak dikunjungi wisatawan. Seharusnya pagoda ini spot terakhir, tapi kami minta ke sini dulu sebelum ke spot yang satu lagi. Kuil di atas bukit yang yang ada air terjunnya itu, Mba,” lanjut Anto menerangkan.
Aku sedikit terkejut dengan tarif yang harus dibayar untuk mereka sampai ke tempat wisata ini. aku bersyukur bekerja di kota yang dekat dengan tempat indah ini.
“Oh iya, Mas, namaku Siti. Panjangnya Siti Munawaroh, tapi majikanku memanggilku Cindy,” kataku yang hampir lupa memperkenalkan diri.
“Ya sudah aku panggil kamu Cindy aja, ya biar keren. He he he …” goda Mas Anto sambil terkekeh.
“Terserah sampean sajalah.” Jawabku pasrah.
“Kamu sering ke sini, Cin?”
“Sering. Tapi Cuma sampai ‘Kota’, baru kali ini majikanku menyuruhku jalan sendiri ke pagoda di atas sana, katanya biar tahu keindahan alam sekitar sini dari dalam pagoda,”
“ooo….” Sahut Mas Anto.
Kami berjalan melewati jembatan merah menaiki anak tangga menuju pagoda, setelah pagoda kami ke kuil di atas sana. Kuil yang memiliki halaman cukup luas. Ada patung bertubuh manusia, berhidung berbelalai gajah, dan memliki tangan banyak seperti di India.
“Cin, kamu jadi model kami, ya! Kami butuh model nih. Pemandangan seindah ini tanpa model rasanya kurang lengkap.”pinta salah seorang komunitas fotografi ini. Mimpi apa aku diminta menjadi model? Setelah namaku berganti menjadi Cindy, ini adalah hal yang kurasa aneh tapi nyata dalam hidupku.
***

Januari 2016
Hari itu minggu sore, ketika kami berkumpul di ruang tamu menonton tv bersama setelah pulang dari jalan-jalan ke pantai Ci Sin Tan. Tuan menyetel chanel berita lokal yang sedang menyiarkan berita. Tiba-tiba ada berita tentang acara pekerja migrant dari Indonesia.
“Cindy, lihatlah! Tadi ada acara orang Indonesia di stasiun Taipei. Ramai sekali, ya?”
Aku yang sedang berada di dapur untuk membuatkan the hangat untuk mereka langsung berlari kecil menuju ruang tengah.
“Oh … ada pengajian rupanya,” batinku sambil melihat lekat ke layar tv flat di ruang tamu.
“Mengapa mereka memakai pakaian seperti orang Arab, Cin? Apa nggak gerah di musim panas begini?” tanya Tuan padaku.
Deg!
Tiba-tiba jantungku seakan berhenti berdetak untuk beberapa detik. Kemudian berdetak lebih kencang dari sebelumnya, “ini kesempatanku untuk menjelaskan pada Tuan dan Nyonya untuk menjelaskan sekaligus aku meminta izin untuk berhijab. Bismillah.” Bisik hatiku.
“Begini, Tuan, sebenarnya bagi kami yang beragama Islam wajib bagi seorang perempuan wajib menganakan hijab dan menutup seluruh anggota badan kecuali ini dan ini,” jelasku sambil menunjuk telapak tangan dan wajahku. Perlahan aku menjelaskan dengan bahasa sebisaku. Karena saat belajar di penampungan PJTKI tidak ada pelajaran bahasa Mandarin mengenai agama.
Tuan dan Nyonya tampak serius menyimak penjelasaku yang tampak kesulitan menjelaskan dalam bahasa Mandarin tentang hijab. Aku pun masih gemetar berdiri di samping kursi roda Ama yang mulai terkantuk.
“Baiklah, Cindy. Kamu tidak usah menjelaskan lebih detail lagi tentang hijab. Biar nanti kami cari informasi lebih detail tentang hijab di google.” Kata Tuan. Nyonya yang duduk di sampingnya mengangguk sambil tersenyum.
“Tuan, Nyonya, bolehkah saya memakai hijab?” tanyaku memberanikan diri. Tuan dan Nyonya saling pandang.
“Apa kamu yakin?” jawab mereka serempak balik bertanya.
“Yakin, Tuan, Nyonya.” Jawabku mantab.
“Tapi dengan syarat tidak menganggu gerakmu dalam bekerja, ya!” jawab Nyonya sedikit tegas.
“Baik, Nyonya, Tuan. Saya berjanji akan tetap bekerja seperti biasanya walau dengan memakai hijab.”
Ada rasa lega dan bahagia mendengar jawaban Nyonya yang di-amini oleh Tuan saat izin mengenakan hijab kudapatkan. “Terima kasih atas kemudahan ini ya Allah,” ucapku dalam hati.
***
Sejak hari itu aku mulai mengenakan hijab meski awalnya hanya kerudung biasa yang aku pakai. Kaos-kaos dan celana-celana pendek mulai kukemasi. Aku hanya memakai kaos lengan panjang serta celana panjang. Aku mulai membeli celana-celana berbahan katun agak longgar, begitu juga dengan baju. Tidak lagi kaos yang aku beli. Aku membeli pakaian-pakaian itu di pasar malam sekitar rumah. Sebenarnya ingin membeli baju muslimah syar’i secara on-line tapi harganya sangat mahal menurut ukuranku yang orang desa ini. Bukan. Bukan sayang uang untuk menyempurnakan ibadahku menutup aurat, tetapi kebutuhan ekonomi di kampungku yang masih banyak membuatku memilih membeli pakaian di pasar malam dengan hanya beberapa ratus NT dollar saja. Yang penting menutup aurat dan tidak ketat. Begitu prinsipku.
“Semoga Allah mengampuni dosaku. Semoga suatu hari nanti aku bisa mengenakan pakaian muslimah secara sempurna sesuai syariat Islam.”
***

“Cindy … cepat kemari!” panggil Nyonya dengan suara keras tidak seperti biasanya. Aku yang sedang memijit-mijit kaki Ama di kamar segera menghambur ke ruang tamu.
“Lihat berita di tv. Ada orang Indonesia memakai baju serba hitam dan cadar sambil menghunus pedang masuk berita.”
Mataku langsung tertuju pada layar yang terdapat foto seorang TKW bercadar sambil menghunus pedang dan mengacungkan jari telunjuknya ke atas dan satu foto lagi tangan kanan memegang gagang pedang dan tangan kiri menyentuh ujung pedang. Di atas fotonya terdapat tulisan “Nggoleti Pistol Ra Ketemu Adane Pedang”.
Aku merinding. “Belum genap aku diizinkan mengenakan hijab, mengapa harus ada berita seperti ini?” gumamku. Aku hanya bisa diam. Biarlah waktu yang akan menjawab berita ini.
Selang beberapa hari pemberitaan TKW bercadar yang menjadi Headline terjawab sudah. Rupanya ini berhubungan dengan dugaan ISIS yang disinyalir sebagai teroris dunia telah memasuki Taiwan, karena itu di Taiwan diberlakukan aturan larangan mengenakan cadar di tempat umum tetapi masih diperbolehkan mengganti cadar dengan masker.
“Cindy, kami mengizinkanmu memakai hijab seperti yang kamu pakai sekarang atau dengan pakaian perempuan muslimah yang jilbabnya lebar dan bajunya longgar. Tapi kami minta kamu tidak memakai cadar. Patuhi dan hormati peratutan Negara kami, demi kenyamanan kita bersama.” Pinta Nyonya di suatu pagi sebelum berangkat ke kampus tempatnya mengajar.
“Baik, Nyonya.” Sahutku sambil mengangguk.
***
Selepas Nyonya pergi aku kembali ke rutinitasku merawat Ama. Perempuan tua yang sudah kuanggap seperti nenekku sendiri ini begitu sayang padaku. Meski tak banyak bicara tapi dapat kulihat dari senyum dan sorot matanya. Jauh berbeda dengan pertama kali aku datang ke rumah ini. Ia begitu judes, kasar, dan tidak percayaan. Hal ini berlangsung sekitar 3 bulan lamanya. Setelah aku merawatnya dengan sabar dan penuh kasih sayang berlahan sikapnya berubah. Kami yang lebih sering menghabiskan hari-hari hanya berdua membuat kami semakin akrab, Ama pun sering bercerita tentang apa saja yang diingatnya. Kami sering tertawa bersama. Bahkan aku tidak sungkan mencium pipi keriputnya bila melihatnya tersenyum. Lucu dan menggemaskan. Tuan dan Nyonya pun sekarang sudah tahu bahwa Ama begitu sayang padaku, pun tidak mempermasalahkan aku mencium penuh gemas pipi Ama kalau melihatku menyayangi Ama.
“Cindy, kamu nggak geli apa nyiumin Ama?” Tanya Nyonya suatu ketika.
“Nggak, Nyonya. ‘kan nyonya bersih. Habisnya Ama lucu dan bikin saya gemas, Nyonya. Apa lagi kalau tertawa.” Jawabku sambil tersenyum.

Taoyuan, 23 Mei 2016

 

36 Purnama di Taiwan

Dwi Setyawaningsih / 36 Purnama di Taiwan / Tidak ada / Purna BMI 36 Purnama di Taiwan “Rangkaian mimpi terpahat dalam setiap do’a. Taiwan, negeri yang 36 purnama kedepan akan menjadi pijakan kaki melangkah. Negeri yang entah akan mendayungkan ribuan mimpi ke seberang atau menenggelamkannya sebelum sampai ke tujuan.” *** Alam beringsut menuju pagi, detak jarum jam seolah … Continue reading “36 Purnama di Taiwan”

Dwi Setyawaningsih / 36 Purnama di Taiwan / Tidak ada / Purna BMI

36 Purnama di Taiwan
“Rangkaian mimpi terpahat dalam setiap do’a. Taiwan, negeri yang 36 purnama kedepan akan menjadi pijakan kaki melangkah. Negeri yang entah akan mendayungkan ribuan mimpi ke seberang atau menenggelamkannya sebelum sampai ke tujuan.”
***
Alam beringsut menuju pagi, detak jarum jam seolah menjadi musik yang setia mengiringi pergantian hari. Cuaca masih dingin pagi itu, cahaya fajar dan kabut putih mulai merambahi pematang sawah. Seperti hari-hari sebelumnya, saat pagi menjelang Arin pun sudah siap memulai hari. Memasak, menyiapkan sarapan untuk bapak dan adiknya serta pekerjaan rumah lainnya. Seiring waktu berjalan tanpa kehadiran seorang ibu, keadaan tersebut mampu mendidiknya menjadi sosok gadis mandiri.
Jarum jam tepat menunjuk angka 9, Arin pun bersiap melangkahkan kaki dari rumah ke rumah untuk mengais rezeki. Berharap di antara deretan rumah tersebut ada yang membutuhkan jasanya untuk mencuci pakaian, menyetrika atau pekerjaan lainnya. Ia ingin membantu meringankan beban ekonomi keluarga yang selama ini hanya bertumpu pada pekerjaan bapaknya sebagai kuli panggul di pasar.
Empat tahun berlalu sejak kepergian ibunya. Kala itu ibunya mengatakan akan merantau ke Taiwan, dengan harapan negeri itu akan menjadi pelabuhan mimpinya mewujudkan kehidupan lebih baik saat kembali ke tanah air kelak. Sejak tahun pertama kepergian ibunya, Arin tak pernah mengetahui kabar keberadaannya. Meski dari angin yang berhembus atau dari kicauan burung yang hinggap di dahan pohon sebelah rumahnya. Hanya do’a yang mampu terucap agar dimanapun ibunya berada Tuhan selalu bersamanya. Sejak itu pula Arin memutuskan berhenti sekolah, supaya adiknya tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Bulan bulat penuh menggantung di langit malam, pendar cahayanya seolah hendak mengganti malam menjadi siang. Arin tertegun menatap cahayanya. Ingatan tentang ibunya berkecamuk dalam jiwa. Terbersit keinginan mencari keberadaannya di negeri seberang. Sayup berbisik dalam benak bahwa Ia harus pergi, meski berat hati meninggalkan bapak dan adiknya. Fikiran itu terus berkelindan hingga membuatnya gelisah. Perlahan bibirnya melafadzkan dzikir, berharap hatinya menuai ketenangan.
Arin17 tahun kala itu, usia dimana seharusnya Ia bisa menikmati masa remaja dan menuntut ilmu tanpa beban. Garis kemiskinan yang karib bersahabat, memaksanya melewatkan masa-masa itu. Berbekal tekad dan do’a yang tiada terputus, serta restu bapak dan adiknya, Arin mendaftarkan diri menjadi buruh migran di Taiwan.
Bagi Arin, hidup adalah sebuah pilihan. Begitupun ketika Ia memutuskan menjadi buruh migran, berarti Ia harus siap dengan segala resiko yang akan dihadapi. Kerap kali nyalinya ciut, mengingat dirinya hanya lulusan sekolah dasar dan baru pertama akan menginjakkan kaki di negara asing yang tentu saja berbeda adat budayanya. Ditambah ketika mendengar kisah tragis para buruh migran yang teraniaya oleh agensi dan majikan, cacat akibat kecelakaan kerja, bahkan tak sedikit yang pulang sebelum kontrak berakhir sebagai jasad. Tapi tekad untuk menemukan ibunya, keinginan memperbaiki kehidupan keluarganya, keinginan melanjutkan sekolah kembali, merontokkan segala kekhawatiran itu. Ia yakin Tuhanlah pelindung terbaiknya.
***
Dimanapun kaki berpijak disitulah langit dijunjung, dan hukum tetap akan berlanjut. Hidup dibalik jeruji besi sudah tentu tidak mengenakkan, segala akses kehidupan dibatasi, cita-cita mengais rezeki pun pupus sudah. Ia tak pernah menyangka bahwa mimpinya akan berakhir di ruangan berlangit-langit rendah, berbau lembab dengan tatapan sendu para penghuninya. Jerat hukum telah dijalani, dalam lorong waktu yang meski bergerak tapi baginya tetap saja diam.
Yana seakan terisolasi dalam lembaran kenangan peristiwa silam. Peristiwa yang membawanya berdiri dibalik barisan jeruji besi. Berjuang untuk menghapusnya, berharap agar sepekat gelap didalam lorong itu berganti dengan segurat sinar yang mampu memendarkan kembali cahaya mimpinya. Mimpi yang disulamnya bersama keluarga di tanah air silam. Yana tahu itu hanya angan-angan kosong, tapi Ia ingin ketegaran itu tetap kokoh bercokol di hati, supaya lapang dadanya menghadapi semua.
Masa hukuman 20 tahun menjadi keputusan mutlak baginya. Baginya yang sebenarnya sedang membela diri yang terancam kala itu. Masih tergambar jelas dibenaknya, peristiwa yang benar-benar memutus garis kehidupannya. Sejak vonis itu ditetapkan, dirinya sendiri telah menganggap bahwa jiwanya pun telah mati. Dan seseorang yang tiba-tiba hadir mampu menyalakan kembali binar-binar kehidupannya.
Taiwan, negeri yang padanya dititipkan rangkaian cita untuk kedua putri juga suaminya, negeri yang menjanjikan kebaikan mimpi seperti para kerabat yang telah menuai keberhasilan. Awal musim dingin menyambut kedatangannya, di negeri dimana angin topan berhembus setiap tahunnya. Tiga bulan untuk pekerjaan pertamanya, menjaga seorang nenek berumur 90 tahun, yang hidupnya bergantung pada peralatan medis. Keluarga majikan yang baik dan pengertian adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Tapi semua tidak berlangsung lama, nenek yang dijaganya meninggal dunia. Sesuai prosedur perjanjian kerja, jika pasien yang dirawat meninggal maka otomatis kontrak kerja pun terputus. Dan mau tidak mau Yana harus berganti dengan pekerjaan baru. Sisa potongan biaya agensi yang masih harus diangsur, memaksanya untuk menerima pekerjaan apapun yang diberikan tanpa punya pilihan untuk berkata tidak setuju. Tak bisa dipungkiri bahwa buruh migran ibarat pemain dalam pertunjukan yang digerakkan agensi, seringkali tak punya kesempatan untuk membela diri karena dililit aturan agensi yang terkadang tidak jelas, seperti ancaman dipulangkan. Hanya sebagian kecil agensi yang ada sebagai pengayom, dan sisanya sekedar meraup untung dari pekerja tanpa memperjuangkan hak-haknya.
Pekerjaan keduanya di sebuah peternakan sapi perah. Awal mimpi buruk dalam drama kehidupannya. Tak pernah terfikir bahwa pekerjaannya kali ini Ia harus mengurus 150 ekor sapi. Pukul 3 dini hari, ketika hitam malam masih pekat menyelimuti, ketika kebanyakan orang semakin lelap dalam buaian, Yana sudah harus menyongsong harinya. Memerah susu, memberi makan sapi, membersihkan kandang. Kemudian beristirahat sebentar di tengah hari, dan melanjutkan pekerjaannya hingga langit benar-benar gelap. Tepat pukul 9 malam Yana telah menyelesaikan semua pekerjaan. Beristirahat di sebuah ruangan kecil di samping kandang. Ruangan yang lebih layak disebut gudang karena bercampur dengan peralatan peternakan. Ia rebahkan tubuhnya pada sehelai tikar yang menghampar dilantai, melepas segala penat, berharap esok mampu bangkit menyongsong hari kembali.
Tiga bulan Yana bertahan di peternakan dan tiga bulan juga pengaduannya tak mendapat jawaban. Bahkan ketika bertanya tentang pekerjaan baru yang dijanjikan agensi, hanya sumpah serapah yang didapat. Yana tak mampu bertahan lagi, eksploitasi waktu, beratnya pekerjaan, majikan yang tak segan memukul saat dirinya melakukan kesalahan, janji agensi dan perlindungan yang tak kunjung didapat. Semua itu membuat kondisi tubuh dan kejiwaannya semakin melemah, hingga memaksanya untuk meninggalkan peternakan.
Langit sore seakan dikurung mendung, sesekali angin berpusar menanggalkan daun-daun dari dahannya. Senada dengan dirinya yang terpaksa memupuskan segala cita. Menjadi seorang tenaga kerja kaburan, tentu bukan potongan kisah yang diinginkan siapapun, termasuk Yana. Yana sudah paham resiko apa yang akan dihadapi saat Ia memutuskan menjadi tenaga kerja kaburan, kehilangan hak asuransi kesehatan, kehilangan ijin tinggal, kehilangan hak perlindungan, jika tertangkap harus membayar denda 30.000 sampai 150.000 NT, dipenjara dan akan dideportasi serta tidak boleh bekerja lagi di Taiwan. Hal itulah yang selalu diperingatkan berulang-ulang oleh agensi di Indonesia dulu. Tapi sekali lagi Yana tidak punya pilihan, segala akses komunikasi yang terampas membuatnya tidak tahu kemana lagi tempat berlindung.
Yana pasrah dengan keadaannya, mengikuti kemana kakinya melangkah. Berjalan dari satu taman ke taman lain berharap mendapat informasi dari sesama tenaga kerja Indonesia yang biasa berkumpul di taman kota. Hingga akhirnya Ia bertemu dengan Tina, wanita Indonesia yang bersedia menolongnya. Tina membawanya ke sebuah kantor agensi resmi yang secara sembunyi ternyata merangkap sebagai agensi ilegal, menawarkan pekerjaan dengan syarat bahwa Yana harus membayar uang muka senilai 6000 NT sebelum memulai bekerja. Dan saat bekerja nanti Yana harus membagi hasil gajinya setiap bulan kepada agensi ilegal yang jumlahnya diluar batas kewajaran. Sudah jatuh tertimpa tangga, begitupun keadaan Yana. Tiada pilihan lain selain menerima, karena hidupnya harus tetap berlanjut.
Hari-hari dilaluinya dengan berganti-ganti pekerjaan. Jika keberuntungan berpihak Yana bisa bertemu dengan majikan yang baik, dan bukan sekali dua kali Yana pun mendapat majikan yang kasar dan memperlakukannya dengan tidak manusiawi, disiksa, dipukul, bahkan pernah disekap tanpa diberi makan. Hingga akhirnya harus lari dan lari dari satu tempat ke tempat lain. Terkadang lelah menyelimuti, memaksanya memutar potongan kisah hidupnya di bumi pertiwi. Seketika airmatanya pun tumpah tak terbendung.
“Diri juga ingin pulang,” lirihnya.
Pekerjaan terakhir yang membawanya berada di balik jeruji pesakitan. Yana tinggal di sebuah apartemen sederhana di pinggiran kota Taipei, menjaga seorang nenek yang terkena stroke. Majikan Yana, Tuan Huang hanya sesekali datang berkunjung. Yana bertekad setelah uangnya terkumpul untuk membayar denda dan tiket pesawat, Ia ingin menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengurus kepulanganya ke tanah air.
Tak satupun dari kita bisa memilih keadaan. Di hari naas itu, tiba-tiba seorang lelaki masuk ke kamar Yana, mencengkeram tubuhnya dan menyeretnya ke ranjang. Yana yang kaget tak bisa sedikitpun bergerak karena cengkeraman lelaki itu teramat kuat, nenek yang duduk di kursi roda hanya bisa berteriak “Uhh..uh.” Lelaki itu bahkan tak memperdulikan teriakan nenek yang jika diterjemahkan mungkin akan berarti jangan lakukan. Yana berteriak, memohon pada lelaki itu untuk menghentikan perbuatannya. Lelaki itu mengatakan bahwa Tuan Huang telah menjual Yana padanya, dan dirinya bebas melakukan apapun pada Yana. Sontak Yana tersadar bahwa dirinya telah menjadi korban trafficking, resiko terbesar yang pasti dihadapi tenaga kerja kaburan sebagai pintu utama perdagangan manusia.
Nenek semakin keras berteriak, tapi lelaki itu pun tetap tak mengindahkan. Yana berhasil melepaskan diri setelah menendang diantara kedua paha lelaki itu. Ia terus berteriak berharap ada yang mendengarnya, berlari mengitari ruangan mencari tombol darurat agar bisa terhubung dengan petugas apartemen untuk meminta pertolongan. Lelaki itu terus mengejarnya, Yana berlari menuju belakang kursi roda nenek. Nenek masih terus berteriak di sisa kekuatan suaranya. Lelaki itu semakin beringas, memukul dan mendorong nenek hingga terjatuh dan berdarah. Yana semakin terdesak, nenek sudah tak sadarkan diri. Ia pun tak tahu apa nenek masih hidup atau tidak. Pengaruh alkohol begitu jahat menerkam kesadaran lelaki itu. Ia menendang Yana dan menyeretnya. Darah terlihat mengalir dari hidung Yana, Ia menjerit kesakitan, berusaha berontak dalam ketidakberdayaan. Diraihnya tongkat nenek disamping kursi roda dan memukulkannya tepat mengenai kepala lelaki itu. Seketika lelaki itu melepaskan tangannya. Yana berlari menuju pintu berusaha membukanya, tapi pintu pun telah terkunci. Lelaki biadab itu sudah semakin mendekat dengan tatapan mata penuh dendam. Yana yang panik, tak sadar bahwa lelaki itu siap mengayunkan tongkat di kepalanya, seketika darah pun mengalir dari sela-sela rambutnya. Yana yang sudah benar-benar terancam nyawanya, sigap merampas tongkat yang dipegang lelaki itu dan memukulkan berkali-kali tepat dikepala bagian depan. Seketika lelaki itu limbung, jatuh tersungkur di lantai. Darah semakin deras menganak sungai dari kepalanya. Yana tak bisa berkata apapun tentang kengerian itu, Ia bersumpah pada Tuhan bahwa tak ada niat dalam hatinya untuk membuat orang lain celaka. Tapi sekali lagi tak seorang pun bisa memilih keadaan. Dan Lelaki itu telah mati.
Langkahnya terasa lemas, airmata semakin deras tak terbendung. Ia tersadar dari kepekatan hatinya, berusaha membuang kilatan keputusasaan dan perih akibat luka yang menganga. Tiba-tiba Ia melihat ruang kosong antara dirinya dan orang-orang yang berdiri di depannya, Ia pasrah saat polisi itu memborgolnya.
***
Tak terasa waktu melesat begitu cepat. Rentang masa itu pula Tuhan telah mendayungkan serangkaian mimpinya ke seberang. Arin bahagia dengan pekerjaannya di Taiwan. Bersyukur di tengah keberagaman, perbedaan adat juga kepercayaan, majikannya benar-benar memperlakukannya dengan baik. Bahkan Arin diijinkan untuk melanjutkan pendidikannya di tingkat kesetaraan yang diselenggarakan oleh perwakilan pemerintah Indonesia setiap hari Minggu. Arin juga memanfaatkan liburnya untuk bergabung dengan berbagai organisasi orang Indonesia di Taiwan, mengikuti kursus bahasa Mandarin, bahasa Inggris, juga pelatihan kewirausahaan. Arin kagum dengan kawan-kawan sesama buruh migran, disela kesibukannya bekerja masih bersemangat melanjutkan pendidikannya di tingkat kesetaraan maupun universitas, sukses berwirausaha dengan berjualan online, membuka usaha katering, menyebarkan pesan-pesan kebaikan melalui organisasi keagamaan, mengejar prestasi dalam dunia seni, olahraga dan sastra. Semua seolah membuktikan bahwa buruh migran bukan hanya cukup disebut pahlawan devisa, namun mereka adalah pahlawan yang tak kenal kata menyerah, mampu berprestasi dalam berbagai bidang meski terbatas ruang dan waktu.
Lie Hua putri Nyonya Chen, gadis 15 tahun penderita retardasi mental. Sepintas Lie Hua seperti kebanyakan remaja pada umumnya, tumbuh besar dan cantik. Tapi jika dicermati seksama, Lie Hua tetaplah gadis kecil dan usianya seakan terkunci disitu. Keterbatasan yang membuat Nyonya Chen menyekolahkan Lie Hua di sekolah kaum difabel, agar Ia tidak merasa sendiri dan bisa berkomunikasi dengan orang disekitarnya.
Setiap sore tiba, Arin akan membawa Lie Hua berjalan-jalan di sekitar apartemen, mengajaknya bercerita tentang banyak hal. Tentang ibunya, kehidupannya di kampung dulu, tentang cita-citanya, tentang rasa sayangnya pada Lie Hua. Dan Lie Hua akan menimpalinya dengan ceracauan yang tak jelas. Saat Arin tertawa maka Lie Hua pun akan ikut tertawa. Arin ingin membiasakan Lie Hua berinteraksi dengan dunia luar. Tubuh Lie Hua yang rentan sakit jika terlalu lelah berjalan, mengharuskan Arin menggunakan kursi roda di setiap aktivitasnya. Lie Hua juga tak bisa mengeluarkan kata-kata dengan baik dari pita suaranya. Awalnya Arin sulit mengerti, tapi dengan mengikuti aktivitas tubuh Lie Hua, Arin berusaha memahami maksud dari setiap gerakannya. Setiap hari semua berjalan seperti itu, lama-kelamaan Arin pun terbiasa. Bagi Arin, Lie Hua begitu manis dan dianggapnya seperti adik sendiri. Meski emosi Lie Hua sering tidak stabil tapi Arin tetap sabar dan lembut memperlakukannya. Dan Lie Hua pun begitu sayang kepada Arin.
Nyonya Chen sudah menganggap Arin sebagai bagian dari keluarga kecilnya. Sejak kedatangan Arin, Lie Hua mengalami banyak hal luar biasa. Ia sudah mau tersenyum kepada orang-orang dan membalas sapaan meski dengan mengeja, Ia bisa makan sendiri meski berserakan, dan Ia juga sudah mandiri dengan aktivitas pribadinya di toilet. Arin hanya cukup mengantar dan menunggunya di depan pintu. Saat malam Arin akan membacakan dongeng dan memutarkan lagu pengantar tidur. Dengan begitu Lie Hua akan cepat terlelap. Nyonya Chen menaruh harapan besar pada Arin, karena tiada kebahagiaan berarti selain melihat putrinya berkembang.
Hari libur adalah hari berharga baginya, menuntut ilmu, melakukan serangkaian kegiatan dan mengunjungi ibunya adalah satu hal yang sangat dinanti. Setelah menyiapkan sarapan dan obat untuk Lie Hua, kemudian Arin akan berpamitan padanya dan mengatakan akan pulang sebelum jam makan malam tiba. Dengan senyum lebarnya Lie Hua akan memeluk Arin dan melambaikan tangannya.
Dua pekan sekali di hari Minggu, Arin akan berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan di kawasan Tucheng. Pukul 9:30 Arin telah tiba di pelataran gerbangnya, membeli 2 porsi makanan untuk ibunya. Kemudian masuk menuju ruang tunggu mengantri di loket pendaftaran. Menyerahkan kartu identitas, nomer telepon dan nomer narapidana yang akan dikunjungi. Setelah itu makanan yang dibawa akan diambil petugas dan Arin akan menerima secarik kertas yang berisi gelombang kunjungan dan nomer loket kaca.
Setelah beberapa kali datang, Arin faham dengan satu dua peraturan pengunjung yang diterapkan. Seperti jenis dan berat makanan yang dibawa, tidak boleh melebihi 2 kg. Juga sesuatu yang ingin diberikan kepada narapidana tidak semua bisa diijinkan, seperti majalah, karena dikategorikan sarat informasi dan seorang narapidana dilarang mendapat informasi keadaan diluar lapas. Bahkan buku bacaan pun tidak boleh ada bekas coretan, karena dikhawatirkan coretan tersebut adalah kode petunjuk rahasia bagi narapidana.
Ketika libur Arin akan menuju tempat-tempat utama yang banyak dikunjungi pekerja Indonesia, seperti main station, masjid atau taman kota. Disitu Arin akan meneliti wajah-wajah yang lewat dihadapannya dan menunjukkan foto ibunya. Arin juga mencari informasi melalui kawan-kawan di organisasi dan memposting foto ibunya di komunitas media sosial. Waktu melaju merambat hari, berbilang pekan dan bulan. Kabar keberadaan ibunya pun mulai tersemat. Tiba-tiba telaga menggenang di kedua bola matanya, perlahan meneteskan gerimis. Saat itu Ia pun merasakan kepedihan yang sama dengan kisah hidup wanita yang dicintainya. Pertemuan itu akan menjadi hal yang berharga. Mendekap kembali sosok yang paling dirindukannya setelah hampir 7 tahun Ia belajar tegar dalam cekik kehilangan.
Wanita berwajah teduh itu terlihat takjub saat melihat Arin. Pastinya Ia tak bisa menyangka sama sekali bahwa putrinya yang ditinggalkan beberapa tahun silam mampu menemukannya. Arin faham, kejutan ini pastilah membuat hati wanita itu diliputi keharuan yang tak bisa diungkapkan. Sebungkus airmata yang disembunyikan dalam senyumnya pun tumpah. “Ibu,” suara Arin mengambang ringan di bawah lanskap langit-langit ruangan itu, didekapnya tubuh ibunya. Ia tak menyangka bahwa wanita yang dicarinya itu tengah pasrah menjalani sisa hidupnya di balik jeruji besi.
Arin terbuyar dari lamunan saat nomer antriannya disebut oleh alat pemanggil otomatis. Segera diusap airmatanya karena Ia tak ingin menunjukkan wajah sedih saat bertemu dengan ibunya. Arin beranjak menuju ruang pertemuan, ruangan dengan sebaris kamar kaca seperti warung telepon di tanah air. Terlihat Yana ibunya telah duduk di sisi lain di balik kamar kaca nomer 20. Arin pun masuk menuju kamar kaca tersebut. Tak ada yang berubah dalam diri ibunya, meski harapannya telah terputus tapi Ia tetap berikan senyum sumringahnya. Saat semua pengunjung sudah siap dalam ruangan kaca masing-masing, petugas pun meneriakkan aba-aba untuk memulai percakapan melalui gagang telepon. Sepuluh menit, waktu untuk menumpahkan segala kerinduan, menatap wajahnya dari balik kaca, mendengar setiap penggalan kalimatnya. Arin tahu ibunya adalah wanita yang tegar, dan ada sebuah alasan kuat yang mendasari setiap kata yang meluncur dari bibirnya.
“Saat engkau kembali ke tanah air nanti, biarkan kisah ini menjadi rahasia. Biarkan bapak dan adikmu menganggap bahwa Ibu telah mati.” Yana terdiam sesaat, airmata terlihat menetes di wajahnya. “Tak seorang pun dari kita tahu dimana bisa ditemukan batas antara kehidupan dan kematian. Meski melambungnya keinginan ini, Ibu tetap harus memilih satu kenyataan getir yang tak sanggup Ibu elakkan. Ibu pun tak ingin dikubur di daratan yang jauh ini, Ibu ingin mati di tanah air dimana kaki ini pernah berlindung di bawah atap langitnya, tapi…”
Sepuluh menit pun seolah terlibas pedang tak tersisa. Airmata merinai di wajahnya yang ayu, perpisahan dengan ibunya. Bisikan-bisikan di balik gagang telepon itupun terputus saat petugas meneriakkan aba-aba berhenti.
***
Udara dingin membalut kelamnya malam. Para penumpang pesawat itu pun telah hanyut dalam kantuk. Percakapan dengan ibunya mendengung dalam relung telinga, saat sepi hatinya menghujam, fragmen itu seolah berputar kembali. “Ibu, apapun alasan yang engkau simpan, aku tahu engkau adalah wanita yang sanggup berkorban bahagia untuk siapapun meski engkau tertikam pedih di ulu hatimu. Dan aku akan mengatakan apa yang engkau minta.”
Malam semakin meninggi, sedikit saja jarum jam yang panjang tergelincir maka hari berganti baru. 36 purnama telah terlampaui, wajah-wajah itu kembali berkelebat dalam bayang. Lie Hua, Nyonya Chen, bapak, adiknya, ibunya. Semua sama, mengharap kehadirannya.
36 purnama sudah Yana menjalani hukumannya, terpisah bermil-mil dari sanak saudara di tanah air yang mungkin sudah menganggapnya tiada. Dan di 36 purnama selanjutnya, Arin akan tetap melangkahkan kakinya di bumi Taiwan. Masih tetap menjaga Lie Hua, menemani ibunya di hari Minggu ke dua, mewujudkan cita-cita adiknya meraih masa depan gemilang dan untuk dirinya sendiri, Ia ingin bermanfaat bagi siapapun. Burung besi itu masih terus melaju membelah angkasa, melintasi samudera. Arin pun terlelap dalam kantuk, saat matahari bersinar esok pagi Ia akan menemukan senyum di wajah bapak dan adiknya.