KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI

Hatin Sam / KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI / FLP & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing KARENA GENGSI DIA MEMBENCI Oleh : Hatin Sam Cuaca panas dilangit formosa tidak menghalangi segala aktivitas kerjaku. Setiap pagi sebelum berangkat, kupersiapkan barang dan segala keperluan yang akan dibawa pergi ke tempat clinic terapi serta memeriksa terlebih dahulu keadaan kursi roda. … Continue reading “KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI”

Hatin Sam / KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI / FLP & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing

KARENA GENGSI DIA MEMBENCI
Oleh : Hatin Sam

Cuaca panas dilangit formosa tidak menghalangi segala aktivitas kerjaku. Setiap pagi sebelum berangkat, kupersiapkan barang dan segala keperluan yang akan dibawa pergi ke tempat clinic terapi serta memeriksa terlebih dahulu keadaan kursi roda. Setelah semua siap saya berpamitan pada majikan dan meluncur menuju tempat clinic terapi. Setiap hari saya berjalan kaki dan mendorong kursi roda yang diduduki Ama berjalan menelusuri jalan raya yang padat lalu lintas kurang lebih memakan waktu 30 menit sekali jalan dengan kecepatan jalan diatas rata-rata. Demi tugas dan tanggung jawab pekerjaan ini saya kerjakan dengan iklhas sepenuh hati serta perasaan riang dan gembira. Tanpa terasa waktu bergulir cepat dan tahun ini memasuki tahun ke 4 saya berada di Taiwan.Mungkin karena kesibukan aktivitas kerja yang terlalu padat, kalau pagi rutinitasku mengantar Ama ke clinic terapi, siang pulang ke rumah beristirahat sebentar dan sore membawa Ama jalan-jalan ke taman, begitu setiap hari terus berputar.

Oh ya, sebelumnya perkenalkan nama saya Prihatin berasal dari desa Pangkal Sawoo sebuah desa yang terpencil di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur lndonesia, dimana tempat itu telah banyak mengajarkan saya tentang makna sebuah ketegaran serta perjuangan dan pelajaran dalam kehidupan. Empat tahun yang silam saya datang ke Taiwan sebagai buruh tenaga kerja asing dan mengabdi pada keluarga Huang, didalam keluarga tersebut majikan saya memanggil namaku dengan sebutan Tina, karena menurut mereka nama saya terlalu sulit untuk diucapkan dalam logat bahasa cina, tugas utama dan tanggung jawabku adalah menjaga Ama. Tugas rutin harian dari hari senin sampai sabtu pagi harus mengantarkan serta menemani Ama ketempat Clinic Rehabilation yang beralamat di Yhonghe City, New Taipei City, Taiwan untuk mengikuti terapi rutin penyembuhan dan pemulihan kondisi fisik Ama. Ama yang kujaga harus rutin melakukan terapi penyembuhan karena habis operasi akibat patah tulang. Peristiwa saat menjalani operasi tulang pinggul kanan kiri, Ama harus menjalani rawat inap di rumah sakit kurang lebih satu bulan. Pada awalnya setelah masa perawatan di rumah sakit Ama menjalani proses terapi penyembuhan dan pemulihan juga di rumah sakit yang sama yaitu Suangho Hospital Taipei Medical Univercity yang beralamat di Jhonghe City New Taipei City Taiwan. Karena lokasi rumah sakit lumayan jauh dan kurang efisien dalam sektor transportasi majikan saya mencari tempat rehabilisation yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

Hari itu seperti biasa setiap tiba dilokasi clinic para pasien yang menjalani terapi harus terlebih dahulu antri untuk mendaftarkan nama pasien sesuai nomer yang tertera pada kartu asuransi kesehatan. Setelah itu para pasien bisa menuju tempat tujuan sesuai yang tertulis dilembaran kertas data nama pasien. Dikertas tersebut tercantum nama, nomer askes dan keluhan serta solusi penanganannya ditempat terapi. Clinic Rehabilisation tersebut berdiri disebuah areal ruko apartement yang terdiri dari lantai 1 hingga lantai 7, yang masing-masing untuk lantai 1 dan 2 untuk terapi yang menggunakan alat bantu mesin komputer, lantai 3 untuk terapi yang berhubungan dengan olahraga para pasien, lantai 5 dan 6 untuk anak2 autis, lantai 7 untuk terapi pengembalian dan latihan vokal / suara bagi pasien yang terkena stroke atau bagi pasien yang mengalami gangguan dalam hal berbicara. Di ruangan lantai 3 Ama menjalani terapi jenis olahraga diantara bersepeda santai, berjalan / berlari kecil disebuah alat khusus berlari dengan timer waktu dan setingan yang sudah ditentukan serta disesuaikan bagi masing2 pasien.
“Selamat pagi, Tuan”, kataku, menyapa kepada para petugas klinik terapi.
“Pagi”, jawaban singkat dari petugas jaga klinik terapi.

Mungkin karena terlalu banyak pengunjung yang datang setiap harinya, dalam menggunakan peralatan fasilitas terapi olahraga, setiap pasien harus antri secara bergiliran. Ama yang ku jaga orangnya punya karakter keras dan paling tidak suka jika harus menunggu lama, saat antri menunggu giliran ada salah seorang care taker Taiwan / perawat orangtua/ pasien asli warga Taiwan tanpa sengaja menjatuhkan kursi kayu yang biasa dipergunakan tempat duduk pasien. Saat itu saya dan teman2 sesama perawat orangtua yang berasal dari lndonesia yang mempunyai jiwa solidaritas dan sosial berusaha membantu mengangkat dan membetulkan kembali kursi kayu yang terjatuh. Kursi kayu tersebut terbuat dari bahan kayu-kayu ringan dan mudah reyot. Berhubung banyaknya jumlah pasien duduk serta bergantian, membuat kursi-kursi itu mudah reyot dan bila digunakan duduk bagi pasien yang badannya gemuk dan besar seperti Amaku terasa oleng dan goyang-goyang sehingga menimbulkan rasa was-was dan kuatir. Sambil menunggu antrian saya memeriksa serta menyiapkan kursi tempat duduk untuk Ama, agar bisa mendapatkan tempat yang aman dan nyaman. Di tengah kesibukanku memilih kursi untuk duduk Ama, tiba-tiba suara teriakan keras dari petugas terapi menyebut nyebut namaku, Tina, Tina, Tina, pembantu bodoh, tidak sopan, kamu telah merusakan kursi kayu ini, teriak petugas yang semakin memicu kegaduhan diruangan terapi. Mendengar kegaduhan dilantai 3, petugas jaga di lantai lain berhamburan datang. Saya terperanjat dan kaget dituduh serta diteriaki seperti maling atau penjahat kakap . Nasib malang dan keberuntungan tidak berpihak pada saya, pihak petugas terapian tetap bersikeras menuduh saya telah merusakkan kursi kayu dan menuduh berbuat onar serta mempunyai kelakuan tidak baik dan sopan ditempat terapian.

Kejadian kursi jatuh menjadi sebuah masalah besar ditempat terapian ( clinic rehabilasation ). Petugas jaga yang berdinas di lantai 3 yang biasa disebut dengan panggilan Tuan Ge, dia seperti orang kesurupan, tak puas dengan aksinya dia memanggilku dan memarahi lagi dengan umpatan kata-kata keras dan kurang bijaksana, dituduh seperti itu saya mencoba membela diri dan mengelak bahwa semua tuduhan itu tidak benar, karena saya tidak merusakan kursi kayu itu.
“Tina, dasar pembantu bodoh, kamu berbuat tidak sopan dan berkelakuan tidak baik serta telah merusakan kursi kayu tempat duduk, saya akan laporkan kamu pada majikanmu” teriak petugas jaga di lantai 3, sambil menunjuk wajahku.
“Mohon maaf Tuan, saya tidak merusakan kursi duduk itu, jika tidak percaya di rekaman camera cctv pasti terlihat jelas siapa dan bagaimana kejadian jatuhnyanya kursi tersebut” jawabku dengan jujur untuk membela diri.
“Tidak, saya tahu kelakuanmu disini setiap hari, kamu punya kelakuan tidak baik dan tidak sopan” jawab Tuan Ge guru /petugas itu dengan ketus.

Seketika itu raut wajahku memerah menahan rasa malu karena harga diriku diinjak-injak serta dipermalukan dihadapan banyak orang. Walaupun kami berstatus pembantu kami masih punya harga diri dan hati nurani, tetapi mengapa petugas itu memperlakukan kami semena-mena tanpa meneliti dengan cermat kronologi kejadian yang sebenarnya. Ini semua rasanya tidak adil dan terlalu karena sudah seharusnya kita bisa saling menghargai sesama manusia walaupun banyak perbedaan propesi, suku, bangsa dan negara. Karena kita sama-sama bekerja dan bertanggung jawab penuh pada tugas dan pekerjaan masing-masing.
Tuan Ge, tidak bisa menerima penjelasan saya, karena gengsi dia terus membenciku, kasus tersebut terus meruncing hingga dilaporkan pada dokter serta pimpinan clinik rehabilisation maupun pada majikan saya. Jam 12.00 siang, sebelum saya dan Ama meninggalkan lokasi terapian, guru / petugas terapi itu kembali memanggilku masuk ke ruangannya.
“Tina, kamu serahkan surat ini pada majikanmu” kata guru petugas dengan nada ketus bercampur amarah.
” lya Tuan, akan saya sampaikan pada majikanku, terima kasih, saya pamit dan selamat siang” ujarku dengan sopan, kemudian saya pamit keluar ruangan terus membawa Ama pulang ke rumah.

Setelah sampai dirumah saya menyiapkan makan siang dulu buat Ama dan majikanku. Sesudah selesai makan siang bersama, kemudian saya melaporkan segala kejadian yang terjadi di klinik terapi dan menyerahkan surat titipan dari guru petugas terapian pada majikanku.
“Maaf Tuan, saya ingin melaporkan kejadian hari ini di tempat terapi, petugas menuduh saya telah merusakan kursi kayu di sana dan ini ada titipan surat dari guru petugas terapi untuk Tuan” ujarku pada majikanku yang laki-laki.
“Tina, kamu tenang saja, tidak usah panik atau takut, jika kamu berada diposisi benar, saya akan lindungi kamu dan bicara pada petugas terapi itu, kamu jangan kuatir, tenang ya !” jawab majikanku dengan tenang dan bijaksana.
“Terima kasih, Tuan ! Sungguh saya tidak merusak kursi tersebut Tuan, di tempat terapi disetiap ruangan terpasang kamera cctv, segala kejadian bisa dilihat ulang dalam rekam Tuan, tolong sampaikan pada petugas, saya tidak bersalah. Petugas memarahi saya dan menjelekan saya berkelakuan buruk dan tidak sopan, tolong jelaskan pada mereka, karena Tuan tahu tentang sikap dan kelakuanku selama bekerja disini, karena saya bekerja dan mengabdi pada keluarga Tuan sudah hampir 4 tahun, saya benar-benar minta tolong pada Tuan untuk menjelaskan semua pembelaan saya pada petugas klinik terapi” kataku panjang lebar memohon bantuan majikanku.

Dalam waktu seminggu, setiap hari Tuan Ge, menitipkan surat untuk majikan saya yang mungkin isi surat tersebut adalah laporan tentang segala kelakuan dan sikapku selama berada diterapian yang bergaris besar menjelekan pribadi saya. Tetapi karena majikanku setiap hari juga sibuk urusan pekerjaannya tentang urusan surat titipan dari petugas terapi belum ditanggapi. Mungkin merasa belum mendapat tanggapan dari pihak majikanku petugas terapi semakin hari semakin membenciku dan kurang memperhatikan Ama yang butuh terapi penyembuhan di clinic itu.

Setelah kejadian tersebut majikan saya diundang datang ke clinic agar menghadap pimpinan clinik untuk membahas kelakuan saya dan memaksa saya untuk meminta maaf secara terbuka dihadapan pemimpin dan para petugas clinic. Saat itu hari Sabtu pagi Nyonya Huang majikanku yang perempuan ikut keterapian bersama-sama. Kemudian kami menghadap Dokter Huang Direktur Klinik untuk menjelaskan dan meminta bersama-sama melihat tayangan ulang rekaman kamera cctv.
“Tok … tok … tok, permisi Dok, izinkan kami masuk” kata Tina bersama majikannya mengetuk pintu ruangan dinas Dokter Huang.
“lya, silakan masuk” jawab Dokter Huang.
“Dok, ada perlu apa Dokter dan pihak petugas clinic memanggil saya datang?” tanya majikanku.
“Begini Nyonya Huang, menurut laporan petugas di lantai 3, Tina pembantu nyonya telah berbuat onar dan merusakan kursi kayu yang berada disana” jawab Dokter Huang menjelaskan.
“Dok, jika Tina pembantu saya benar berbuat salah, tak segan-segan saya menegurnya dan memarahi dia, tetapi kalau boleh saya minta pada Dokter, agar kita bersama-sama melihat tayangan ulang rekaman kamera cctv yang terpasang disetiap sudut ruangan” sambung Nyonya Huang majikanku.
“Baiklah nyonya, saya akan panggil Tuan Ge dan Tuan Chen, kemudian kita lihat bersama-sama hasil rekaman kamera cctv” jawab Dokter Huang.

Sementara saya hanya berdiri dan terdiam, hatinya bergemuruh dan jantungnya bergetar lebih cepat, ada rasa kalut namun berusaha tetap tenang, disamping majikannya dia hanya terpaku serta mendengarkan dialog antara Dokter dan majikannya yang akan membahas kebenaran tragedi kursi jatuh, dalam hatiku tak henti berdoa semoga kebenaran dan kejujuran menyelematkan dari tuduhan prasangka. Aku yakin dan percaya Tuhan maha mendengar dan pasti menolong hambaNya yang teraniaya. Alhasil dari rekaman camera cctv yang terekam kejadian kursi jatuh terbukti bukan Tina yang menjatuhkan hingga rusak, melainkan oranglain seorang perawat yang juga berkewarganegaraan Taiwan.
Menilik kasus tersebut Tuan Ge kalah banding dan terpojok, karena bukti dari rekaman camera itu murni bukan kesalahan Tina . Sebuah bukti nyata sudah jelas namun sikap dan perlakuan Tuan Ge terhadapku tidak pernah berubah bahkan malah semakin membenci serta tetap mengirimkan surat pada majikannya yang intinya tetap mengharuskan Tina untuk meminta maaf secara langsung dan terbuka.

Hari senin memasuki minggu kedua setelah kejadian tragedi kursi rusak, Tuan Ge menitipkan surat lagi untuk majikan Tina, selepas pulang dari tempat terapi surat titipan dari Tuan Ge langsung diserahkan pada majikannya yang laki-laki. Tuan Huang majikan Tina kebetulan berada dirumah kemudian langsung menelepon Tuan Ge, menjawab isi surat titipan darinya dan untungnya majikan laki-laki orangnya sangat bijaksana dan bertanggung jawab penuh serta bersikap melindungi terhadap pegawainya, pembantu ataupun perawat yang menjaga orangtuanya. Lewat media telepon majikanku berkata pada Tuan Ge, petugas clinic yang amat sangat membenci entah apa alasanya, mungkin karena terlalu gengsi dia semakin membenci.
“Hallo Tuan Ge, saya Tuan Huang majikan dari Tina yang menjaga dan merawat orangtua saya, saya tegaskan Tina sudah hampir 4 tahun bekerja ikut keluarga saya, jadi saya paham dan tahu betul sifat dan sikap serta kelakuan Tina, Tuan Ge tak perlu mengusik dan menjelekan Tina, tugas Tina diterapian adalah mengantar dan menjaga orangtua saya, satu hal yang terpenting adalah Tina tidak merusakan kursi terapian dan yang terpenting Tina bisa menjaga orang tua saya dengan baik, saya dan keluarga percaya penuh pada Tina, jadi sekarang Tuan Ge, sebagai petugas lakukan tugas anda dengan baik, tak perlu mengurus apapun tentang kelakuan Tina, mengerti, terima kasih”, ujar Tuan Huang majikanku menjelaskan panjang lebar pada petugas clinic.

Sejak kejadian tersebut sikap dan perlakuan petugas klinik pada Tina semakin menimbulkan kebencian yang mendalam. Setiap hari bila Tina mengantar dan menemani Ama untuk menjalani terapi, sikap petugas tersebut berubah semakin cuek dan tiada peduli serta kurang memperhatikan Ama yang dijaga Tina. Namun hal tersebut tidak membuat surut semangat serta tanggung jawab Tina yang setiap hari harus menemani Ama-nya rutin terapi walaupun dilokasi clinic selalu dipandang sebelah mata dan tidak dipedulikan, demi sebuah kejujuran dan kebenaran Tina berusaha keras untuk tetap menegakkan dengan mengungkapkan dan menjelaskan realita kejadian yang sebenarnya, walaupun harus menghadapi kenyataan pahit dibenci dan diabaikan oleh orang-orang yang merasa mempunyai kedudukan derajat dan pangkat yang lebih tinggi.

Tina sangat beruntung mempunyai majikan yang baik, tegas, tanggung jawab dan bijaksana serta mempunyai pengertian terhadap pembantunya yang sudah dianggap bagian anggota keluarganya, sehingga Tina benar-benar bersyukur dan tetap jalankan tugas dan tanggung jawabnya menjaga dan merawat Ama dengan penuh kasih sayang seperti merawat neneknya sendiri, hingga suatu hari Ama yang dijaganya mengalami sakit panas tinggi dan masuk rumah sakit dan ternyata penyakit Ama sudah komplikasi dan tidak tertolong lagi hingga akhirnya Ama menghembuskan napas terakhir pergi menghadap yang Maha Kuasa.

Setelah kepergian Ama kegiatan Tina yang dulu setiap hari harus mengantar ke klinik terapi secara otomatis ikut berhenti dan Tina tidak akan bertemu lagi dengan wajah -wajah sangar penuh kebencian dari petugas klinik yang membencinya. Tina harus pindah majikan dan memulai kehidupan baru dan beradaptasi lagi dengan lingkungan baru. Semoga ditempat yang baru Tina mendapatkan majikan dan lingkungan yang baik dan bersahabat. Dari setiap kejadian yang terjadi bisa dipetik hikmah dan hidayahNya, dimanapun bumi dipijak, disitupun langit dijunjung, dimana kaki kita berpijak dan beradaptasi serta bersosialisasi dengan siapapun pasti kita temui berbagai macam karakter seseorang. Terkadang kita dipertemukan dan berkumpul serta berada di tengan-tengah orang yang menyayangi kita bahkan juga sebaliknya kita bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang tidak menyukai serta membenci kita. Apapun keadaan yang kita hadapi sebagai buruh migrant yang sedang mengadu nasib dan bekerja pada majikan, sebisa mungkin kita harus tanamkan jiwa yang bertanggung jawab dan bekerja dengan baik serta menjaga hubungan baik dengan keluarga majikan. Karena di perantauan majikan adalah keluarga kedua kita selama kita berada jauh dari keluarga yang di lndonesia, majikan adalah bagian keluarga kita dan kita pun juga bagian kecil ditengah keluarga mereka.
Saling menghargai dan mengerti serta bertanggung jawab pada tugas dan pekerjaan kita, disitu majikan pasti mengerti dan menghargai kita. Di keluarga Huang, Tina bekerja merawat Ama dari pertama masuk hingga finish kontrak yang pertama kemudian cuti pulang kampung dan kembali lagi ke rumah majikan terhitung selama empat tahun lebih dan hubungannya dengan keluarga majikanya seperti keluarga sendiri. Karena Ama yang dijaganya sudah meninggal Tina harus bersiap-siap pindah majikan baru. Sekelumit kisah pilu tragedi kursi rusak di clinic rehabilisation akan menjadi bagian sejarah dalam kehidupan Tina yang akan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bahwa dalam kehidupan ini keras, dimanapun kaki kita berpijak harus tetap memegang teguh kejujuran dan berlandaskan saling menghargai dan menghormati antar sesama manusia, walaupun banyak perbedaan.

Selamat jalan Ama, tenang dan damailah dialam sana, maafkanlah saya bila dalam menjagamu banyak khilaf dan kekurangan.
. Terima kasih, Tuan / Nyonya, atas segala kehangatan dan kasih sayang serta perhatian yang sudah Tuan / Nyonya berikan untuk saya serta menjadikan saya bagian keluarga Tuan dan Nyonya, saya mohon maaf atas kesalahan dan khilafku selama mengabdi disini, saya mencintai kalian, jaga diri baik-baik dan izikankan saya pergi ke tempat majikan baru, percayalah saya akan selalu merindukankan kalian. Tiba-tiba Nyonya mendekapku dengan erat, sorot mata kami bertatapan dan bekaca-kaca seakan tak mau saling melepaskan, namun petugas agency sudah datang menjemput, dengan perlahan ku lepasksn pelukan Nyonya, kulambaikan tangan sebagai salam perpisahan, ku melangkah pergi mengikuti agency yang akan membawaku ketempat majikan baru.
●Selesai●
Xindian Distric New Taipei City, 23 Mei 2016

KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA

Imelda Primantika / KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA / Forum Lingkar Pena (FLP) Taiwan / tenaga kerja asing KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA Menapaki anak tangga kehidupan memang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Kerikil-kerikil tajam dan jalanan yang berliku penuh rintangan harus kita hadapi. Memerlukan perjuangan keras, ketekunan dan juga do’a supaya semua bisa berjalan secara harmoni, … Continue reading “KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA”

Imelda Primantika / KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA / Forum Lingkar Pena (FLP) Taiwan / tenaga kerja asing

KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA

Menapaki anak tangga kehidupan memang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Kerikil-kerikil tajam dan jalanan yang berliku penuh rintangan harus kita hadapi. Memerlukan perjuangan keras, ketekunan dan juga do’a supaya semua bisa berjalan secara harmoni, bagaikan ritme dalam sebuah melodi. Karena mustahil tanpa campur tangan-Nya kita menjadi seperti ini. Bukankah hidup adalah perjuangan, hidup adalah pengorbanan dan hidup itu indah bila kita hayati dan syukuri.

Aku sangat memahami bahwa perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut. Begitu juga kehidupan yang sangat extrim kurasakan. Namun dengan segumpal iman serta sebongkah hati yang menyatu dan terpatri dalam atma, aku mampu bertahan hingga detik ini.

Namaku Imelda, anak ke-2 dari empat bersaudara. Aku terlahir dari keluarga sederhana yang tidak begitu jauh dari kota Semarang. Sejak usiaku sepuluh tahun, ayahku sudah kembali kepada Sang Kholik. Jadi ibu adalah orang tua tunggal bagi kami. Dengan susah payah beliau memeras keringat, mencari nafkah bagi kami anaknya. Satu prinsip beliau yang membuat aku bangga adalah hidup boleh susah tetapi pendidikan harus tetap berjalan. Ilmu adalah modal dan aset berharga untuk merubah taraf hidup yang lebih baik.

Dengan suport yang begitu besar dari keluarga, membuat aku sangat bergairah dalam meraih cita-cita. Bagaimana tidak…..? Dengan sosokku yang agresif, aktif layaknya manusia yang haus akan ilmu, membuatku selalu menjadi bintang kelas. Mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai pada bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Bahkan beberapa piagam olah raga dan apresiasi seni dapat aku bawa pulang dari event-event perlombaan yang aku ikuti buat mengharumkan nama almamaterku.

Beberapa kampus ternama di Jakarta memberikan iming-iming beasiswa penerimaan mahasiswa baru padaku. Dengan segala pertimbangan yang matang dan proses seleksi yang tidak mudah akhirnya aku bisa masuk ke Universitas Pelita Harapan (UPH) Lippo Karawaci, Tangerang dengan mendapatkan beasiswa full.

*****

Masa depan adalah misteri. Tetapi kalau kita mau mempersiapkan hari ini, maka 50 persen dari masa depan itu sudah bisa diprediksi. Sungguh hidup ini bagaikan mimpi. Aku yang terlahir serba pas-pasan dapat diterima di kampus termahal di Indonesia, yang notabene mahasiswanya dari kalangan borjuis, serta mayoritas para pengajarnya dari belahan dunia. Bahasa Inggris adalah menjadi bahasa pengantarnya.

*****

“Bu…maafkan anakmu ini, sepertinya aku masuk ke lingkungan yang salah.” Nadaku penuh gemetar sambil kucium takzim tangan beliau sehabis menunaikan sholat magrib.

“Apa yang terjadi nak? Bicaralah baik-baik tidak usah sambil menangis.” Suara lembutnya kudengar, sambil mengusap butiran hangat yang membasahi pipiku.

“Maaf……M-A-A-F bu, tadi aku dipanggil ke kantor, katanya aku di Drop Out (DO). Karena nilaiku tidak memenuhi standart untuk semester ini.” Jawabku terbata-bata karena merasa bersalah tidak bisa membahagiakan hati ibuku.

“Ya sudahlah kalau memang ini rencana Alloh yang terbaik untukmu nak.” Terdengar lirih suara beliau. Aku tahu sebenarnya beliau kecewa terhadapku. Namun dengan senyumnya beliau mampu menutupi kepedihannya.

Dengan keadaan yang sangat mencolok membuatku minder, serta bagaikan terasing di negeri sendiri. Yang berimbas dengan merosotnya nilai-nilai akademikku. Pada akhirnya aku harus menerima segala konsekuensi itu. Walau Dewi Fortuna belum berpihak kepadaku tetapi aku ikhlas dan berbesar hati. Hidup ini terlalu indah jika harus kusesali. Kujadikan pengalaman ini sebagai cambuk kehidupan untuk terus meraih mimpi.

*****

Kuputar haluan 180 derajat, dengan terinspirasi oleh tetanggaku yang sudah menjadi saudagar kaya di kampungku, dengan uang hasil keringatnya bertahun-tahun merantau ke Taiwan akhirnya kuberanikan niatku untuk meminta ijin kepada Malaikat tanpa sayap yaitu ibuku.

“Bu…ijinkan aku untuk bekerja ke Taiwan.” Sambil bergelayut manja di bahunya, kuminta do’a restu dari ibuku.

“Kalau ini sudah menjadi tekadmu, ibu tidak bisa berbuat banyak. Apabila kamu menemukan kesulitan nak, berdo’alah pada Alloh, sebaik-baik penolongmu. Hitung-hitung jihad buat keluarga.” Dengan terharu kupeluk dan kukecup kening yang sudah mengeriput. Kulihat kristal-kristal bening mengalir dari sudut matanya.

*****

30 Juli 2015 Burung besi itu telah mengantarkanku untuk menapakan kaki ini pertama kalinya di Bumi Formosa, Taiwan. “Bismillah…….” Bibirku berucap, dan kupandangi sekelilingku petugas imigrasi sedang mengecek dokumenku dengan teliti.

*****

Ms. Lee selaku agensiku mengantarkan ke kediaman majikanku yang bermarga Chan. Dengan perasaan yang takut serta grogi aku diperkenalkan dengan keluarga majikanku yang semuanya ada empat orang. Majikanku yang seorang janda dan kedua anaknya serta nenek yang harus aku rawat. Dengan penjelasan yang panjang lebar agensikupun berpamitan kepada kami.

Merawat nenek yang menderita penyakit Diabets yang harus disuntik insulin dan makan obat setiap waktu bagiku tidak terlalu sulit. Karena nenekku dulu juga punya riwayat penyakit yang sama. Aku harus mengatur pola makan nenek sedemikian rupa sehingga membuat nenek tanpak lebih sehat dibandingkan sebelum aku datang. Ini membuat majikanku merasa senang dan adaptasi yang kulakukan tidak menjadi beban buatku.

Berbekal skill dan etos kerja yang maksimal, membuat aku diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Ms. Chan. Dengan segala toleransi, perhatian serta kasih sayang yang diberikan padaku membuat aku nyaman, layaknya keluarga ke-2 bagiku.

Perlahan namun pasti Pelangi kehidupan mulai terlihat. Walaupun tidak mudah dan instan, semua membutuhkan proses yang menguji kesabaran serta keyakinan diri. Terkadang kesulitan harus kita rasakan terlebih dahulu sebelum kehidupan yang sempurna datang kepada kita. Bukankah Pelangi akan turun setelah hujan membasahi bumi….?

Aku jadikan saat-saat yang berat, saat-saat yang penat, saat-saat berkeringat dengan rasa syukur yang mendalam. Inilah masa yang akan menguatkanku menjadi manusia yang lebih matang dalam berproses. Hanya satu angan yang terselip dalam atma, untuk menjemput asa di Bumi Formosa ini.

Semua kujadikan kunci untuk membuka mimpi-mimpiku. Meski harus kulalui dengan proses panjang dan melelahkan. Apresiasi yang begitu besar buat Taiwan yang telah memelukku dengan bentangan tangan hangatmu. Sehingga mimpi-mimpiku yang kugantungkan tinggi, setinggi menara gedung 101 mulai terlihat jelas. Badai kehidupan walau perlahan telah mampu kutepiskan. Kini kumampu meretas mimpi menjadi sebuah prestasi.

TAIWAN yg Mngubah Kluarga Ku

Tutik kasiati / TAIWAN yg Mngubah Kluarga Ku / tidak ada / tenaga kerja asing Aku anak prtama dr 3 br saodara. Aku dah punya suwami dan 2 anak laki laki asal ku dr kampung pedesaan. Ibu kandung ku tr jerumus dng utang rentenir semua harta benda nya ludes untuk sang rentenir. meliat ke adaan ibuk aku amat … Continue reading “TAIWAN yg Mngubah Kluarga Ku”

Tutik kasiati / TAIWAN yg Mngubah Kluarga Ku / tidak ada / tenaga kerja asing

Aku anak prtama dr 3 br saodara. Aku dah punya suwami dan 2 anak laki laki asal ku dr kampung pedesaan. Ibu kandung ku tr jerumus dng utang rentenir semua harta benda nya ludes untuk sang rentenir. meliat ke adaan ibuk aku amat prihatin. Saat ibuk di himpit kesusahan tiba tiba ibuk hamil lg di usia nya yg sudah 50 th an ibuk panik bingung br usaha mgugur kan kehamilannya…. tapi Alhandulilah kandungan ibuk selamat. Lair bayi prempuan. Menginjak umur 2 th ibuk ingin mjadi TKW ke malesia. Anak ibuk aku yg mengasuh nya untuk mbelikan susu dan juga mhidupi bapak juga adik ku dan kluarga ku sendiri.semua dr hasil toko kecil ku 8 bln br lalu ibuk blum juga tr bang ke malesia. Akir nya aku di tlp pihak PT untuk menebus ibuk ibuk gk bisa tr bang ke malesia krn faktor usia. Akir nya aku nebus ibuk 3 jt juwal almari ibuk satu satu nya. Ibuk pulang dan mjalani kehidupannya.. toko kecilku pun br anjak surut dan aku tr jebak utang yg banyak aku tutup toko br alih usaha produksi criping pisang hasil nya lumayan krn banyak nya utang yg sudah numpuk akir nya aku nekat menjadi TKW ke arap saudi untuk mbatar utang itu. setelahkrja gaji di kirim rutin sama bos 2 th br lalu aku hrs pulang sampai rumah utang ku masih numpuk. Aku br juwang di rumah  utang tak kunjung selasai akir nya aku mlangkah lg jadi TKW ke taiwan aku dpt jop jaga nenek lumpuh total majikan ku suka mukul krn aku blum tau bahasa aku tlp 1955 krn aku blum br untung 1stengah bulan aku di pulang kan. Di rumah satu th an ke adaan rumah tidak jg br ubah ku langkah kan kaki lg masuk ke. Taiwan lg jop ku jaga kakek alhamdulilah kakek nenek baik majikan jg sangat baik namun Alloh msih juga mberiku cobaan tiba tiba aku dpt surat dr pngadilan takut setengah mati.. dan tr yata ada orang yg buka sim kat pakai biodata ku waktu br lalu dr gaji ku di sini aku bisa melunasi hutang ku juga bisa mbantu ibukku juga adik adikku tr masuk aku bisa meyekolah kan anak anak ku…. TAIWAN suka duka ku tr toreh di sini TAIWAN di sinilah aku bisa membayar utang ku utang ibukku juga utang adikku TAIWAN di sini lah aku bisa meyekolahkan anakku dan dengan ke baikkan Majikanku be serta kluarganya Aku bisa MENGULIAH KAN ANAK ku yg semula mimpi pun gak pernah. TAIWAN sebuah negara yg tak kan aku lupa kan… Majikanku beserta kluarganya trimakasih dr kalian kluarga ku br ubah aku tidak bisa mngungkap kan untuk majikan ku aku hanya bisa br doa untuk mreka.

My Journey in Formosa

Nyofitri nova / My Journey in Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing MyJourney in Formosa Formosa,kata ini sangat lekat denganku selama enam tahun terakhir banyak hal yang kulalui dari pertama aku menjejaki bumimu hingga sekarang,yah…lebih tepatnya kaulah yang mengajariku segala hal dari hal yang putih sampai hitam, kau termasuk penyumbang terbesar dari kedewasaanku sekarang.Tapi aku rasa … Continue reading “My Journey in Formosa”

Nyofitri nova / My Journey in Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing

MyJourney in Formosa

Formosa,kata ini sangat lekat denganku selama enam tahun terakhir banyak hal yang kulalui dari pertama aku menjejaki bumimu hingga sekarang,yah…lebih tepatnya kaulah yang mengajariku segala hal dari hal yang putih sampai hitam, kau termasuk penyumbang terbesar dari kedewasaanku sekarang.Tapi aku rasa kata tersebut masih terisi setengah dalam Tubuhku dan aku pasti berusaha menjadi lebih baik.

Kenalkan namaku “Nyofitri Nova Dian Bayu Rezeza”wiuhhh panjang banget panggil saja aku”Nyoo” anak ketiga dari enam bersaudara dari umur dua bulan aku diasuh oleh kakek nenekku,mereka mendidiku dengan cara main pukul tapi aku tidak pernah menyesal di didik oleh beliau bahkan aku sangat berterima kasih atas semua pengorbanan beliau yang berjuang keras menyekolahkan kami bersaudara hingga tamat SMA,hingga harta mereka habis,sebenarnya waktu beliau dikejar-kejar penagih hutang bank hatiku sangat sakit, dalam diam,ku hanya bisa menangis tapi apa daya waktu itu aku masih sekolah,perjuangan mereka memang benar-benar membuatku makin sayang pada beliau.2009 lulus SMA aku sudah terpikir untuk kerja ke taiwan,karna aku tidak punya uang sama sekali maka aku berkerja selama dua bulan dibali setelah itu berangkat kejakarta untuk proses kerja di taiwan,tiga bulan lamanya akhirnya ku pijakkan kaki ku di bumi taiwan tepatnya tanggal 28 January 2010, di daerah chiayi bekerja menjaga ama 80 tahun,di tempat itulah cikal bakal aku mahir bahasa thai karna mayoritas orang disana berbahasa thai,well…aku yang selama dipenampungan belajar bahasa mandarin tidak begitu kepakek karna ama tidak bisa bahasa mandarin,untung saja ada akong yang bisa bahasa mandarin dengan logat thai nya hehe, dari beliau lah jika ada kata ama yang tidak mengerti,aku minta untuk di translate ke mandarin,meski mandarinku waktu itu masih terbatas tapi ya….emmm bisa lah untuk percakapan sehari hari,kerja di keluarga ini selam tiga tahun aku tidak pernah libur sama sekali.Jenuh,bosan,kesepian,adalah hal yang selalu kulahap setiap hari,untung saja mereka membebaskanku menonton tv dari sini aku mulai bisa belajar bahasa thai dan bisa sedikit membaca aksara cina ,karna akong selalu nonton sinetron berbahasa thai lama kelamaan aku mengerti apa yang ama,akong,dan orang sekitar bicarakan. Meski merasa sangat bosan,flat,terpenjara dengan kerjaanku tapi akong begitu baik padaku beliau selalu membagi makannanya denganku,tiba akhirnya aku pulang keindonesia hal yang tak terduga adalah akong menangis saat aku berpamitan dengannya dan kata yang membuatku menangis “我把你當我的家人了”ohh akong atas segala kemurahan hatimu semoga beliau panjang umur sehat selalu.
Setelah pulang,selang setengah tahun aku kerja ketaiwan lagi,kali ini aku menjaga ama berumur 70 tahun beliau kelihatannya masih sehat ternyata setelah beberapa bulan tinggal dengannya aku baru tau kalau beliau mengidap penyakit kanker,bekerja dengannya aku sungguh mendapatkan perlakuan yang tidak baik,ama seorang yang terlalu hemat (super pelit),perfectionist,dari ujung rambut sampai kaki selalu menjadi omelanya,cara berjalan,berpakian,produk sehari-hari yang aku pakai pun diurusnya tidak jarang aku selalu perang mulut dengannya sungguh benar-benar tidak kuat,disaat itu aku mengutarakan untuk pindah majikan dan anak ama bilang”kamu harus kuat ama emang begitu orangnya kami pun tidak kuat olehnya”katanya menenangkanku,aku selalu di buatnya menangis, aku tidak di perbolehkan libur,selalu banyak alasan saat aku minta izin libur,senang sekali membicarakan hal-hal yang jelek tentangku seolah-olah aku adalah orang yang benar buruk adanya.
“TUHAN AKU SUDAH TIDAK KUAT”
Menginjak tahun kedua penyakit ama semakin hari semakin parah hingga akhirnya beliau meninggal disaat Itu aku kaget,menangis,tidak karuan tapi dalam hati kecil aku bahagia tuhan ternyata merencanakan hal yang lebih indah dari yang direncanakan mahluknya kenapa aku bilang begitu,setalah 25hari mencari majikan,aku memperoleh pekerjaan yang 180 derajat kebalikan dari yang selama ini aku bekerja,menjaga AI yang baru saja terkena stroke beliau bernama “謝瑞竹” beliau sangat baik padaku mereka sekeluarga memanggapku seperti keluarga sendiri, aku baru merasakan yang namanya kehangatan keluarga,disini aku diperbolehkan libur1 -2 kali dalam sebulan,bebas melakukan hal apapun yang aku mau asal pekerjaan ku terselesaikan,kerja ku disini tidak berat,mengatar Ai fu chien,masak bersih-bersih pun tidak tiap hari,aku sangat bahagia
Dari keluarga inilah aku mengerti indahnya negeri formosa,karna disaat aku libur pasti aku sempatkan untuk berwisata, dan kalau tidak aku pasti ikut les belajar nulis mandarin,ikut komunitas belajar bersama ditaiwan sungguh hari liburku penuh warna dan kegiatan positive.
Sampai sekarang aku masih bekerja menjaga Ai terimakasih Tuhan Engkau adalah sebaik baiknya tempatku meminta

Buah Ketulusan

Asih Aspalia / Buah Ketulusan / tidak ada / tenaga kerja asing Brak … ember berwarna hijau yang berisi air hangat itu jatuh bebas ke lantai. Tumpahan airpun sebagaian membasahi seprei. ” Huh … aku bisa mati kedinginan jika dimandikan perawat Indonesia yang kerjanya lamban ini!” Omel pepe dengan suara lantang membahana. Nyonya Pin Pin istrinya, segera mendekatinya … Continue reading “Buah Ketulusan”

Asih Aspalia / Buah Ketulusan / tidak ada / tenaga kerja asing

Brak … ember berwarna hijau yang berisi air hangat itu jatuh bebas ke lantai. Tumpahan airpun sebagaian membasahi seprei.
” Huh … aku bisa mati kedinginan jika dimandikan perawat Indonesia yang kerjanya lamban ini!” Omel pepe dengan suara lantang membahana. Nyonya Pin Pin istrinya, segera mendekatinya dan berusaha menghentikan omelanya. Sementara Achen Siaoce wanita asal China daratan , yang selama ini merawatnya, segera mengambil handuk besar untuk menutupi tubuh pepe yang tidak pakai baju.
Saat itu hari kedua aku kerja. Kemarin pagi aku dibawa agency ke rumah sakit terbesar di kota Taipei, dengan tugas merawat laki – laki berusia 60 taun yang minta aku panggil pepe. Pepe lumpuh total akibat sakit kanker prostatnya. Menurut cerita nyonya, pepe lumpuh setelah menjalani oprasi pemindahan pelir kencingnya ke pinggang sebelah kirinya. Dan kepalanya botak akibat kemoterapi dan radioterapi yang dilakukan pasca oprasi.
Achen Siaoce sejak aku datang, mengajariku cara merawat pepe. Dan di hari kedua, aku harus memraktikkannya. Namun rupanya pepe tak menyukaiku.
Walaupun aku telah berusaha maksimal untuk melaksanakan tugas sesuai yang diajarkan Achen Siaoce, nyatanya selalu menuai caci maki.
Seperti yang baru saja terjadi. Aku memraktikkan mengelap tubuh pepe. Walaupun aku telah berusaha mengerjakan secepat mungkn, nyatanya tetap dinilai lamban.
Aku masih berusaha sabar dan tabah. Mungkin karena masih awal, kuanggap pepe mengujiku saja. Namun kesabaranku rasanya semakin menipis, kala sepekan telah berlalu, sifat pepe semakin tidak bersahabat padaku.
Bahkan berulang kali kudengar, dia meminta pada istrinya untuk mengembalikan aku ke agency. Sedih memang kurasakan, namun suara Emy agencyku yang selalu memecut semangatku, tiap kali kutelpon, seakan suplemen yang menyegarkan kembali semangatku yang hampir layu.
Ditambah rasa takutku harus pulang tanpa kesuksesan, yang akan melahirkan masalah berat ketika berada di kampung kelahiran sana.
Aku hanyalah seorang janda miskin yang butuh uang untuk biaya sekolah kedua putriku yang ditelantarkan ayahnya ya mantan suamiku.
Dan keberangkatanku ke negeri Formosa ini tidaklah gratis. Dengan sangat terpaksa aku pinjam tiga ekor kambing bibiku yang punya penyakit syaraf yang akut. Jika aku tidak bisa secepatnya mengembalikan, kemungkinan akan memperparah penyakit bibiku yang hidupnya tergantung obat- obatan itu.
*****
Dua pekan telah berlalu. Sikap pepe masih tiada berubah. Tiap saat, tiap hari, caci makinya menggaung di telingaku. Ember berisi air masih sering jatuh kena sambaran tangannya.
Bahkan ketika kupotong kukunya, dia teriak lantang bilang aku telah memotong jemarinya. Belum lagi teriakkanya tiap malam, yang katanya merasa kesakitan tiap tiga jam sekali kukasih balik badan.
Meski jantungku berdebar penuh ketakutan tiap kali hendak memulai melakukan tugasku, Achen Siouce tetap memenuhi pesan Nyonya Pin Pin, agar aku tetap mengerjakan tugasku dalam pengawasan Achen Siaoce. Kuhibur diriku, dengan teriakan hati,” Wo iting cuo te tau, aku pasti bisa!” setiap kali putus asa merayuku.
Tepat dua puluh hari aku kerja, hari raya imlek tiba. Achen Siaoce harus cuti untuk merayakan imlek bersama keluarganya. Karena dia bersuamikan orang Taiwan. Dan kesempatan itulah ingin kugunakan sebaik-baiknya, untuk merealisasikan kalimat yang bergema di hatiku, yaitu,” Aku pasti bisa!” Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menunaikan kerjaanku.
Malam pertama aku sendirian menjaga pepe dikamar nomer 9 itu, ujian berat telah datang. Pepe yang sudah tiga hari tidak buang air besar, malam itu pukul 20.00, tepat satu jam setelah kepergian Achen Siauce, pepe buang air besar bercampur darah kental dalam jumlah yang banyak.
Berulang kali bel kupencet untuk memanggil perawat. Tapi tak satupun perawat muncul. Mungkin mereka sibuk mengurus pasien lain. Apalagi malam hari, jumlah perawat lebih sedikit, dan harus mengurus puluhan pasien yang semuanya menderita kanker ganas. Sementara luka membusuk di pantat pepe, akibat dari kurangnya balik badan, di kala dijaga orang China sebelum Achen, harus cepat diganti perban dan obatnya.
Dalam keadaan setengah bingung, aku memutar otakku sendiri. Sementara menunggu suster datang, aku lepas perban yang membalut pantat pepe yang dipenuhi luka bernanah. Karena aku takut perban yang berlepotan kotoran dan darah itu, akan memperparah lukanya. Namun, baru saja kulepas perbannya, darah kental kembali keluar lebih banyak, dan mengotori luka di pantat pepe. Kucoba lagi memencet bel. Kali ini, ada suster yang datang.
Dia menyuruhku membersihkan darah itu. Berdasarkan pengalaman dari merawat pasien yang dulu, ku sengaja menampung darah itu di plastik, dan aku taruh di tong sampah yang ada di dalam kamar. Waktu suster mengganti obat, kuberanikan diri menyatakan keinginanku.
“Siaoce, sudikah anda mengajariku cara mengganti obat dan perban, agar bila suster repot, aku bisa menggantikan sendiri.”
” Boleh sekali, sekarang juga aku ajari kamu.” Ucapnya sambil langsung mengajariku. Dimulai memperkenalkan alat alatnya, dengan kalimat pelan, dia dengan senang hati mengajariku. Aku catat semua di memori otakku.
Belum sampai lima belas menit suster berlalu, pepe kembali berak darah. Berlandasan pelajaran yang aku dapatkan dari suster tadi, aku praktikkan cara mengganti perban dan obat. Aku sempat terheran heran, pepe tidak lagi teriak mencaci makiku meskipun aku bolak -balik badannya. Bahkan dengan kata kata lembut dia bertanya padaku.
” Apa aku berak, Asih? Gimana beraknya, baik baik saja kan?” tanyanya.
Dia memang telah mati rasa di area pinggang ke bawah. Makanya tidak merasakan sakit dipantatnya, meski dipenuhi luka bernanah dan berdarah.
“Ya benar pepe, pepe berak banyak sekali, mungkin karena sudah tiga hari pepe tidak berak. Tenang saja, beraknya bagus kok, tidak ada masalah.” Aku sengaja tidak memberitahu tentang berak darahnya, agar dia tidak ketakutan, yang akan memperburuk kesehatanya.
Setelah, aku bersihkan semua , Dan pepe tertidur, aku pergi ke kantor suster, memberitahukan tentang pepe yang berak darah terus menerus. Ketika kembali ke kamar, pepe ternyata berak lagi, kuganti lagi obatnya, begitu seterusnya, sampai pukul 24. 00. Bahkan aku sampai belum sempat makan malam. Tepat pukul 24.15, dokter jaga datang memeriksa.
Untung aku tampung berak darahnya diplastik, dan belum aku buang di tempat sampah yang ada diluar kamar. Karena benar dugaanku, dokter ingin lihat darah itu. Yang pasti, meski berat kerjaanku, aku merasa lega, bisa mencairkan hati pepe yang selama ini keras padaku.
Pagi itu, tidak seperti pagi pagi sebelumnya, yang selalu pasang muka masam dan penuh kebencian padaku. Kulihat pepe tersenyum padaku, dan ini senyum pertama untukku. Bahkan ketika aku terapi kakinya, dia mulai bertanya tentang aku, dan dengan senang hati aku bercerita tentang keluargaku, tentang Indonesiaku, juga tentang pengalamanku kerja di Taiwan. Bahkan pepe bisa tertawa terbahak – bahak ketika aku bercerita tentang pengalamanku yang lucu.
Nyonya Pin pin, istri pepe yang baru saja datang, langsung bertanya pada pepe, sebagai bentuk rasa ragu, aku mampu menjaga pepe tanpa Achien Siaoce apa tidak? Suster yang sedang memeriksa tekanan darah pepe, langsung memberi jawaban atas keraguan Nyonya Pin Pin. “Jangan khawatir Nyonya, tadi malam aku lihat sendiri, Asih begitu baik menjaga tuan.” Meski masih memendam ragu, Nyonya Pin Pin, mengucapkan terima kasih padaku.
******
Hari berganti hari, kulewati dengan suasana yang berbeda dibanding saat baru datang atau tepatnya saat ada Achen Siaoce. Pepe semakin baik padaku, yang membuat semangat kerjaku semakin meningkat pula. Adik dan kakak- kakak pepe, menilai aku lebih baik menjaga pepe dibanding Achen. Karena melihat raut muka pepe yang lebih bahagia dan juga luka dipantatnya yang mulai kering, karena ketlatenanku mengganti obat dan balik badan. Setiap malam menjelang tidur, pepe bercerita sambil berselancar di dunia maya menggunakan laptop toshibanya.
Tiada terasa, dua pekan berlalu. Achen Siaoce telah mengakhiri masa cutinya. Pagi itu, dia kembali. Namun malamnya, dia berkemas, dan bilang padaku, esuk dia sudah tidak merawat pepe lagi. “Apa, siaoce tidak suka kerja merawat pepe lagi?” tanyaku, sambil melihat Achen Siauce yang mengemasi barangnya yang ada di lemari. “Aku suka menjaga pepe. Tapi aku juga tak kuasa menolak, ketika Nyonya Pin pin, memintaku berhenti. Kamu sudah mampu menjaga pepe, jadi rugi kan, jika harus mempekerjakan aku juga?” Achen Siaoce memberitahu aku alasan dia berhenti bekerja. Kulihat raut mukanya bermendung kekecewaan.
Dengan berhentinya Achen Siaoce, maka sejak saat itu, aku resmi merawat pepe sendirian. Meski kerjaanku merawat pepe yang penyakitnya sudah parah, bukanlah pekerjaan yang ringan, namun karena kebaikan pepe dan keluarganya, aku merasa tidaklah berat. Setiap kerjaan yang kulakukan, bukan saja karena uang semata. Tapi juga terdorong rasa ingin membantu juga mencari pengalaman baru yang bermanfaat.
*****
“Selamat pagi Dokter,” sapaku pada Dokter Lee. Laki-laki setengah baya berbadan tinggi tegap dan berkaca mata tebal itu tersenyum manis padaku. Dialah yang selama ini menangani pepe. .
“Selamat pagi Asih, ” jawabnya ramah sekali. Pelan- pelan aku bangunkan pepe yang tidur pulas setelah aku suapi sarapan pagi tadi.
‘’Pepe bangun! Dokter datang melihatmu,’’ bisikku di telinga pepe yang bersih, karena tiap hari aku bersihkan dengan cotton bud, sambil menggoyangkan tubuhnya dengan halus. Perlahan mata pepe terbuka, bibirnya langsung mengulas senyum begitu melihat Dokter Lee.
“Selamat pagi Ddokter Lee,’’ ujar pepe pelan nyaris tak berbunyi.
“Selamat pagi Tuan Chen, gimana keadaan hari ini, ada perkembangan tidak?” Dokter spesialis kanker itu membuka selimut yang menutupi tubuh pepe, dan memeriksa tubuh pepe, dari ujung kaki hingga kepala.
Pepe diam. Mulutnya bergerak untuk bicara, tapi tak terdengar suaranya.
“Asih, nyonya belum datang ya?” tanya dokter menanyakan Nyonya Pin Pin. “Belum dokter, mungkin sebentar lagi datang,’’ jawabku, sambil mengambil buku laporan yang akan kupergunakan sebagai referensi jawaban atas pertanyaan dokter yang setiap hari pasti dipertanyakan. Dalam buku itu, sudah kucatat dengan rapi, apaun aktifitas pepe, termasuk kencing, berak, makan, dan muntah . Aku harus menimbang makanan, kotoran, muntahan, dan menghitung volume kencingnya, setiap hari . Semua itu perlu dicatat sebagai parameter untuk mengetahui perkembangan kesehatan pepe.
“Hari ini pepe buang air besar tidak Asih?” tanya Dokter Lee.
“Belum dokter, kemarin malam dia buang air bercampur darah kental lagi,’’ jawabku berbisik agar tidak terdengar pepe, yang kemudian dicatat suster asisten Dokter Lee. Aku bacakan semua yang aku catat, dengan mengucapkannya dengan bahasa mandarin campur baur dengan bahasa inggrisku yang pas-pasan. Mungkin karena sudah terbiasa, suster itu bisa menangkap dengan baik apapun yang kuucapkan.
Sebelum meninggalkan kamar, Dokter Lee berpesan, bila Nyonya Pin Pin datang, di suruh menghadap dokter di kantornya.
Tak berapa lama setelah kepergian Dokter Lee, Nyonya Pin Pin wanita tinggi semampai dengan potongan rambut cepak ala lelaki itu datang. Seperti biasa dia mengucapkan salam pada pepe dengan panggilan sayangnya.
“Dady … aku datang. Wo ai ni,’’ ucapnya sambil mengecup pipi kiri dan kanan pepe. Kala melihat betapa manisnya sikap Nyonya Pin Pin pagi itu, mungkin orang akan mempredeksi bahwa Nyonya Pin Pin adalah sosok yang penyayang. Padahal pada hakekatnya, aku sering dibuat menebah dada oleh sikapnya yang pemarah. Pepe hanya memandang istrinya dengan tatapan sendu. Sekali lagi kulihat bibirnya bergerak ingin bicara, tapi yang terdengar hanya seperti orang berkumur saja.
‘Nyonya, tadi Dokter Lee pesan, nyonya disuruh menghadap beliau,’’ kataku menyampaikan pesan Dokter Lee dengan pelan dan sedikit gemetar.
Aku memang agak takut dengan nyonya yang semakin lama aku ketahui watak aslinya yang seperti orang terkena hipertensi akut. Salah sedikit dalam berucap saja, dia akan tersinggung dan umpatan pedaspun tak segan dilontarkan.
Jangankan dengan aku yang notabene orang suruhan, dan dia mengeluarkan uang untukku. Sudah demikian seringnya aku dengar dan tatap sendiri Nyonya Pin Pin mengajak pepe yang tiada berdaya bertengkar dengan pokok permasalahan yang tidak aku mengerti. Bertengkar dengan para perawat, atau tukang timbang badanpun tidak terhitung berapa kali.

“Oke, aku sekarang mau menghadap dokter, jaga pepe baik- baik ya! Jangan lupa kupas apel untuk pepe, lalu kasih pepe minum obat herbal, kemudian kasih terapi. Eh … satu lagi jangan biarkan pepe tidur terus! Harus kau ajak ngobrol biar tidak ngantuk. ” Wanita cantik dengan bibirnya yang tipis itu, mengucapkan kalimatnya dengan cepat, beruntun tanpa tanda koma. Seolah aku ini orang sebangsa dan sebahasa dengannnya. Untung saja bahasa mandarinku lumayan, sehingga aku cepat menangkap bicaranya. Andai saja dia punya pembantu yang baru pertama kali datang ke Taiwan, dengan bahasa yang masih minim, tentu dia akan marah- marah tiap hari. Karena dia pantang mengulang kedua kali perkataannya.
Hatiku ikut tak tenang dengan panggilan dokter tadi. Sebab biasanya jika dokter memanggil keluarga pasien untuk menghadap ke kantornya, pasti ada yang tidak beres mengenai perkembangan penyakit pasien. Dan biasanya pula malah perkembangan yang mengalir ke arah negatif. Jika ada perkembangan positif, dengan gembira dokter akan menyampaikan langsung pada pasien.
Tiga bulan aku merawat pepe, perkembangan penyakitnya pasang surut tidak karuan. Dan semenjak dibawa pulang selama satu pekan, kulihat kondisinya semakin mengenaskan. Rona merah dipipinya yang putih bersih yang sering diasosiasikan sebagai tanda pepe segar bugar, kini tak pernah kulihat. Juga sudah tidak bisa lagi bermain internet dengan laptop toshibanya.
Aku telah berusaha menyenangkan hatinya dengan cara menuruti apapun keinginannya, termasuk makan ice cream kesukaannya. Dalam sehari bisa menghabiskan empat sampai lima batang ice cream rasa coklat kesukaanya, meskipun harus sembunyi- sembunyi dari nyonya. Jika nyonya tahu ada ice cream di kulkas, dan langsung menyemburkan lava panas emosinya, aku terpaksa mengakui jika ice itu punyaku. Bukan sebuah kecerobohan jika aku berani memberikan ice cream pada pepe. Waktu masih lancar bicara pepe selalu bertanya pada dokter tentang makanan apa saja yang boleh dikonsumsinya. Dan dokter menyatakan pepe boleh makan Ice cream itu, asalkan dibeli di toko Ice cream yang ada di kantin rumah sakit yang terjamin kebersihan dan keheygenisanya.
Aku menunggu nyonya sambil memberi fisioterapi kaki dan tangan pepe. Limabelas menit kemudian datanglah anak perempuan pepe yang biasa kupanggil Magie Siaoce, bersama kakak dan adik perempuan pepe.
“Asih, mama apakah sudah datang?” tanya Magie siaoce sambil menepuk halus pundakku. Sikap Magie Siaoce amat kontras jika dibandingkan dengan mamanya. Gadis cantik ini pembawaanya kalem dan sopan pada siapaun termasuk denganku.
“Sudah datang siauce. Sekarang lagi ke kantor Dokter Lee,’’ mendengar ucapanku Magie Siaouce tampak berubah roman mukanya. Demikian pula Ta Kuku(kakak perempuan Pepe) dan xiao kuku(adik perempuan pepe), aku membaca rona cemas di wajah mereka.
Beberapa menit kemudian kulihat nyonya terpaku di depan pintu. Dia lambaikan tangan memanggil Magie Siaoce. Magie Siaoce keluar dan diikuti dua kukunya. Pintu kamar ditutup dari luar. Aku semakin penasaran. Sekilas tadi kulihat ada duka di wajah nyonya.
Tak seperti biasanya, dimana mereka tidak akan berlama- lama meninggalkan pepe. Tapi kali ini kuhitung sudah lebih dari setengah jam mereka ada di luar kamar, tapi tidak kembali masuk juga. Aku semakin penasaran. Kebetulan air panas di tremos habis. Dengan alasan mengambil air panas di ruang pantri, aku punya kesempatan keluar sebentar untuk memastikan mereka masih ada di luar kamar.
Pintu kamar aku buka, dan alangkah terkejutnya aku, merelihat mereka menangis tersedu- sedu. Melihatku nyonya memanggilku mendekat.
“Asih, mulai sekarang kamu harus menjaga pepe dengan lebih baik dan penuh kasih sayang, agar di saat- saat terakhirnya, dia dalam keadaan senang dan bahagia.”
Tak perlu dijelaskan dengan kalimat yang mendetail, aku sudah faham dengan apa yang terjadi pada diri pepe. Karena bukan sekali ini saja aku merawat pasien yang menderita penyakit kanker ganas.
“Baiklah nyonya, saya faham dan mengerti, selama inipun saya sudah menjaganya seperti aku menjaga bapakku sendiri.’’
“Terima kasih Asih,’’ ucap Magie Siaoce sambil memelukku. Kutatap matanya masih merah, tentu sudah begitu lama dia menangis tadi.
……….
Kucuri dengar pembicaraan dokter dan nyonya pagi itu. Ternyata sel kanker yang bersarang di tubuh pepe sudah menjalar ke paru- paru, yang berarti sudah tiada harapan hidup lebih lama lagi.
Tubuh pepe semakin lemah, dan sudah tidak bisa mengaduh kesakitan seperti kemarin. Morfin yang dimasukkan kedalam tubuhnya melalui infus, rasanya sudah tidak dibutuhkan lagi.
Dari pagi semua anggota keluarga termasuk semua saudara pepe yang berjumlah delapan orang berkumpul berdesakan di kamar yang tidak begitu besar itu. Pukul delapan malam pepe menjalani kemoterapi. Obat kemoterapi yang digunakan untuk membunuh sel-sel kanker yang menggerogoti tubuh pepe itu, tergolong cukup keras. Mungkin karena pengaruh obat itu, pepe tidur pulas seperti orang pingsan.
Karena capek semua anggota keluarga pamit pulang termasuk kedua anak pepe yang mau kerja dan kuliah esuk harinya. Nyonya juga pamit pulang sebentar untuk mengambil baju dinginnya yang tadi lupa dibawanya. Otomatis tinggal aku sendiri yang menjaga pepe. Dalam keadaan tidak separah ini, aku biasa menjaga pepe sendiri di malam hari. Tapi sejak dokter menyatakan hidup pepe tak lama lagi. Nyonya menemaniku siang dan malam.
Baru limabelas menit mereka meninggalkan tempat. Terpaksa aku telpon untuk kembali ke rumah sakit lagi. Karena pepe tidak respek samasekali ketika kubangunkan untuk minum obat. Pagi tadi dia masih bisa merespon ketika aku bangunkan. Aku segera memanggil dokter. Meski sudah jelas nyawa pepe tinggal di mesin. Namun dokter belum berani melakukan tindakan apapun sebelum anggota keluarga datang.
Tak berapa lama nyonya datang lebih dahulu. Kemudian disusul anak laki- laki dan Magie Siaoce. Dan atas persetujuan keluarga semua selang yang dihubungkan ke tubuh pepe dicabut . Tigapuluh menit kemudian pepe menghembuskan nafasnya yang terakhir kalinya. Tangis kehilangan memecah keheningan malam itu.
Meskipun aku berusaha menjaga pepe dengan baik, namun tak kuasa melawan takdir Tuhan juga melawan penyakit pepe. Hari itu, tepat empat bulan aku merawatnya, pepe harus pergi untuk selama-lamanya, diiringi tangis kehilangan keluarganya. Meski duka menyelimuti hati keluarganya, namun ada terselip rasa syukur di hati mereka. Karena luka dipantat pepe sudah bersih total. Aku terharu, ketika adik dan kakak pepe, mengucap terima kasih, karena telah berusaha membuat luka pepe sembuh. Aku tidak menyangka kesembuhan luka itu amat berarti bagi mereka.*

memanfaatkan waktu sebaik mungkin

nurhasanah / memanfaatkan waktu sebaik mungkin / tidak ada / tenaga kerja asing Memanfaatkan waktu sebaik mungkin Iyah gagal pertama wajar, karna seseorang itu harus salah terlebih dulu sebelum benar namanya juga hidup harus banyak belajar. Semuanya bisa dijadikan pengalaman, dan pengalaman ku itu di awali dengan kesalahan-kesalahan sebelum akhirnya aku merasa bener, meski bener tapi tetap saja … Continue reading “memanfaatkan waktu sebaik mungkin”

nurhasanah / memanfaatkan waktu sebaik mungkin / tidak ada / tenaga kerja asing

Memanfaatkan waktu sebaik mungkin
Iyah gagal pertama wajar, karna seseorang itu harus salah terlebih dulu sebelum benar namanya juga hidup harus banyak belajar.
Semuanya bisa dijadikan pengalaman, dan pengalaman ku itu di awali dengan kesalahan-kesalahan sebelum akhirnya aku merasa bener, meski bener tapi tetap saja ada orang di belakang yang menuntun ku dengan sabar.
Hari ini malu sih tapi PD aja pas balik lg alhamdulilah bisa, dan lancar tanpa minta tolong sama pegawai seven eleven disitu, karna sudah di kasih penjelasan sama mba karina ,yg baik hati pintar dan tidak sombong.
Buat banyak orang yg sudah terbiasa kirim uang lewat seven, akan terlihat mudah dan gk banyak orang yg mau ngajarin sesabar mba karina,karna dari pengalaman2n sebelumnya ada beberapa gk banyak sih tp ada saja temen yg di tanya kalau cara mengirim uang di seven bagaimana? Dan mereka jawab gampang saja, lalu aku bilang bantuin aku daftar dan pasti jawabannya iyah nanti aku bantu pada akhirnya gk tahu kapan mau bantu daftarin.
Setelah berteman di facebook dengan mba karina ,dari awal mendaftar dengan mudah dan gratis sama dia, sampai cara mengirim untuk kali pertama nya saja aku gk mengerti dia yg aku tanya, dengan sabar dia menjelaskan nya, sampai akhirnya aku bisa. Dengan bisanya aku mengirim uang lewat seven eleven itu sangat membantu dan memudahkan aku untuk kapan saja mengirim uang ke indonesia , karna selama ini aku sangat bergantung dengan majikan ku menunggu ada nya waktu senggang untuk bisa mengantarkan aku ke toko indonesia untuk mengirim uang, dan itu pun kadang aku tidak enak karna takut majikanku sibuk dan mengganggu waktu nya. pertama kalinya aku mengirim uang lewat wastern union aku harus salah sampai 2 x,
Memang mudah untuk yg sudah terbiasa tetapi untuk aku yg baru pertama kali merasakan gugup dan takut. karna nya aku melakukan kesalahan sampai 2x dan membayar 6nt setiap aku salah, itu yg membuat aku tertawa malu, hehe…
Mba karina itu bisa di bilang sudah lama disini, tp siapa yg tahu meski sudah lama di taiwan dia tidak menunjukan kesombongan sedikitpun, dia sangat memanfaatkan waktu disini untuk belajar apa saja, yg dilihatnya bermanfaat dia anggap itu ilmu.
Kegemarannya membaca membuat dia berwawasan luas, ntah tamatan apa dia tp buat aku dia adalah sumber inspirasi, tekun bekerja meski dia sudah lama bekerja di rumah tuannya dia tidak mengabaikan kewajiban nya, selalu berusaha untuk membuat keluarga majikannya itu semakin baik padanya. Dengan cara membuat makanan2 khas orang taiwan yg dia bisa, mungkin semua makanan bisa dia buat untuk majikannya,dan bisa jadi adalah salah satu trik untuk mendapatkan kebaikan dari keluarga majikan.karna jika majikan baik maka pekerja pun nyaman.
Aku tidak tahu berapa umur dia, tp mungkin bisa di kira kurang lebih seumuran dengan ibuku, tp dia sangat cerdas.
Arti cerdas nya dia menurut aku dia mampu berkomentar, jika yg di lihat salah maka dia akan berkomentar salah dan jika benar dia pun akan membenarkannya.
Hidupnya simple dan tidak foya2 itu lah mba karina .
Aku saja sempat iri kepada dia, umurku dengan dia mungkin jauh karna aku sangat muda di bandingkan dengan dirinya tp yg aku tahu terbatas dari apa yg dia ketahui,iyah kalau di lihat dari pengalaman hidup jelas poin tinggi untuk dia karna dia sudah dewasa dan sudah banyak menelan asam garam kehidupan. Yg membuat aku iri padanya yaitu pengetahuan,bahwa kita hidup di negara yg sama status yg sama pekerjaan yg sama hanya yg membedakan waktu saja, bisa di bilang jika waktu dia untuk bekerja mungkin aku disini sudah beristirahat karna kerjaan aku disini gk banyak, hanya menjaga akong yg berumur 84 tahun dan tidak begitu repot. Tp waktu ku banyak yg terbuang sia2 tidak ada yg berguna dari panjang nya waktu istirahat dari pada kerja ku.
1 novel yg aku punya dengan 274 halaman itu aku baca sekitar 4-5 bulan selesai, tp dengan melihat dia bertumpuk-tumpuk novel yg dia punya dengan kegemarannya membaca bisa jadi 1 novel bisa terselesaikan dalam waktu kurang lebih 1 bulan,mungkin salah satunya itu perbedaan cara memanfaatkan waktu aku dengan mba karina.
Dan intinya tidak banyak orang yg mempunyai ilmu dia gunakan untuk berbagi kepada sesama, padahal ilmu yg berguna adalah ilmu yg bermanfaat untuk sesama, karna sebaik- baiknya ilmu ialah yg di amalkan.
Kesombongan adalah pilihan, karna sikap rendah hati jauh lebih membuat orang di hormati dan di sayang banyak orang.
Dan belajar itu tidak ada batas usia, belajar itu untuk siapa saja yg niat untuk pintar.
Jangan melihat tampilannya karna belum tentu orang yg sudah tua dia sungkan untuk pintar karna yg muda enggan untuk pintar jauh lebih banyak.

Arogansi Kehidupan

Ike Lindiyani / Arogansi Kehidupan / Tidak ada / tenaga kerja asing AROGANSI KEHIDUPAN Oleh : Ike Lindiyani Seperti biasa, mentari terbenam diufuk barat. Cahayanya menghilang diujung mata, entah kemana perginya. Perlahan, kegelapan mulai menyelimuti malam. Menjadi sangat menyenangkan bagi para kelelawar mencari makan setelah 12 jam tertidur dengan lelapnya. Dibalik tirai jendela apartemen pandanganku tertuju pada … Continue reading “Arogansi Kehidupan”

Ike Lindiyani / Arogansi Kehidupan / Tidak ada / tenaga kerja asing

AROGANSI KEHIDUPAN
Oleh : Ike Lindiyani
Seperti biasa, mentari terbenam diufuk barat. Cahayanya menghilang diujung mata, entah kemana perginya. Perlahan, kegelapan mulai menyelimuti malam. Menjadi sangat menyenangkan bagi para kelelawar mencari makan setelah 12 jam tertidur dengan lelapnya. Dibalik tirai jendela apartemen pandanganku tertuju pada laju kendaraan yang lalu lalang dijalan. Diluar bunyi klakson kendaraan sangat jelas terdengar. Benar-benar memekikkan telinga. Gemerlap lampu trotoar memanjakan mata. Tak terasa, ini sudah tahun ketiga ku berada di Taiwan atau juga di kenal dengan nama Negeri Formosa yang artinya Pulau yang Indah. Negeri yang menjadi tujuan kaum menengah ke bawah untuk mengais pundi-pundi rupiah. Negeri yang mayoritas penghuninya adalah non-muslim. Negeri yang terkenal dengan kemajuan IPTEK dan SDM-nya. Negeri yang terkenal akan kedisiplinan waktunya. Ya, paling tidak itu yang kurasakan jika dibandingkan dengan Indonesiaku tercinta, Negeri ini berkembang lebih pesat.

Ah! Rasanya hatiku perih manakala teringat akan hiruk pikuknya kampung halaman. Jiwaku mendadak tak bergairah, senyum diwajahku pun membisu. Ini tentang rintih gemercik pilu yang tertatih lintasi Samudra dan lautan nan biru. Ada jengah disitu tapi bukan pertanda lelah. Dalam remah renungan senja, aku berangan akan hening dan damainya sebuah dunia. Anganku melayang. Aku bermimpi bisa bersembunyi diantara ilalang kering dan ideologi penghamba dunia. Kisah Indonesiaku hampir membuatku pingsan bahkan kehilangan sisi warasku. Oh, Indonesiaku sayang, kau membuatku semakin bangga padamu. Gelandangan berceceran naikan prestasi dunia, perut kosong kian nyaring terdengar dijembatan rapuh tepi sungai kumuh. Makanan empuk hewan pengerat yang tak tahu malu. Mereka adalah saksi bisu ulah para petinggi yang acuh dan tak mau tahu. Lewat pengemis renta aku berkaca, “Inikah drama uji kehidupan? Dimana letak keadilan? Yang kaya makin kaya, yang miskin semakin melarat dan diinjak-injak”. Sayang, kemana perginya nilai-nilai Pancasila yang kau punya? Kemana perginya semboyan Bhineka Tunggal Ika yang dengan gagah berbunyi berbeda-beda tapi satu? Liatlah, orang-orang itu rela mati demi uang, karena uang manusia menjadi kanibal. Makan kawan, makan lawan. Sebenarnya aku ingin reaksikan tragedi dalam tabung kaca atau melelehkan larutan ketidakadilan dalam setiap eksperimen kehidupan. Tapi aku bisa apa? Aku sadar aku bukan siapa-siapa. Aku hanya sebutir bawang dalam kerupuk. Aku bukan seonggok polimer yang mampu sisihkan monomer untuk menembus sebuah cerita. Ah, sudahlah! Seandainya aku mampu tentu aku tak berada disini sekarang. Kerasnya dunia mengharuskanku untuk mengabaikan impian-impian untuk mengenyam pendidkan yang lebih tinggi. Persepsi masyarakat desa yang terbilang masih kolot yang beranggapan;“Bocah wadon kudu miang luar negeri bari sugih lan ngerubah nasib, kerja ning kene mah laka olihe” (baca: “Anak perempuan harus pergi keluar negeri agar bisa kaya dan merubah nasib, kerja disini tidak bisa diharapkan.”) ternyata berdampak juga kepadaku. Akupun terkena imbasnya. Aku harus rela meninggalkan keluarga, kampung halaman dan orang-orang tercinta. Banting tulang menguras keringat demi memperbaiki keadaan ekonomi keluarga agar mendapat pengakuan. Ya, sebuah pengakuan. Miris memang, tapi itulah yang terjadi di kehidupan sosial. Pengakuan dan reputasi merupakan hal sangat penting dalam kehidupan seseorang pada satu tahap tertentu.

Aku ingat betul saat pertama kali aku mendaratkan kakiku di tanah Formosa ini, 28 Juni 2012. Usaiku masih sangat muda kala itu. Dengan bermodal doa restu orang tua, akhirnya aku sampai di negeri ini. Dadaku sesak, tubuhku gemetar, nafasku seakan tersedat dan aku merasakan jiwaku ingin melarikan diri dari ragaku. Ingin rasanya aku menumpahkan genangan bening yang ada dipelupuk mataku tapi apa daya aku tak mampu. Alih-alih menumpahkannya aku malah membiarkannya terbujur kaku dipelupuk mataku. Aku teringat wejangan ibuku, Ibuku bilang; “Orang dewasa tidak pantas menangis. Karena ia telah dewasa, ia seharusnya mampu menyimpan sedih dan amarahnya dengan bijaksana, lalu dikeluarkan untuk hal-hal yang perlu saja.” Berkat kalimat inilah aku tumbuh menjadi perempuan mandiri yang kuat didunia yang serba patriarkal. Didikan kerasnya mengkondisikanku untuk yakin bahwa semua hal yang aku inginkan didunia ini datang dengan harga yang harus dibayar, yaitu peluh dan determinasi. Bukan dengan rengekan atau rayuan paras tak bercela. Akupun membulatkan tekad. Melangkah kakiku perlahan. Walau masih dalam mendung yang menggelayut. Meneguk semua keparauan dunia. Sadar bahwa hidup ini pun soal tanggung jawab. Bukan hanya soal sekedar hidup saja. Bukankah tidak ada kalimat yang sempurna, seperti tidak ada keputusan yang sempurna?

Aku harus memulai semuanya dari awal. Mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru, orang-orang baru, keluarga baru dan bahasa yang asing ditelingaku. Ya, inilah dunia baruku di Taiwan. Tugasku adalah merawat 小姐 (baca:Xiǎojiě) dengan sebaik-baiknya. Usianya tidak muda, 45 tahun. Dia cacat sedari lahir. Keluarga majikan memperlakukanku dengan amat baik. Bahkan menganggapku sebagai anaknya sendiri. Aku bersyukur. Aku mulai menikmati ranah jalan hidupku disini. Walaupun tentu saja ada hari dimana aku merengek tatkala jemu menjerang rindu. Ketika aku tengah sendirian. Sendiri dalam arti hanya ada aku dan udara di sekelilingku. Hanya ada aku dan kenangan-kenangan yang berlari-lari kecil di taman atau hanya ada aku dan ruang yang lapang di kepalaku. Dan boom! Maka ingatan masa lalu memelukku begitu saja, begitu erat hingga aku bahkan dapat mendengar detak jantungku sendiri. Rasanya menyebalkan ketika aku harus berusaha melawan jutaan ingatan tentang masa lalu yang mulai mengepul di otakku, seperti asap rokok yang menggantung di udara. Impian untuk mengenyam pendidikan tinggi mencuat kembali kepermukaan. Awalnya aku mengabaikannya dengan dalih impian ini akan memudar dan padam dengan sendirinya. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Impian itu semakin menggerogoti pikiranku. Aku gamang. Aku seperti berdiri di puing titik kata. Tak dapat memilih dan mencari arah pada layar perahu yang ku hempas.

Hingga pada suatu siang, mataku terbelalak menatap layar handphoneku. Aku menemukan sebuah selebaran yang berisi tentang pendaftaran mahasiswa baru Indonesia Open University di Taiwan. Aku girang tiada kepayang. Impianku untuk sekolahpun menemukan titik terang. Awalnya aku sempat ragu untuk menyampaikan niatku kepada bos. Tapi karena tekadku sudah bulat dan dengan mengucap Bissmillah. Aku memberanikan diri menghadap bos, apapun resikonya akan aku terima. Aku bahkan bertekad tidak akan melanjutkan kontrak kerjaku jika tidak diberikan ijin. Karena dari kabar burung yang beredar, mayoritas orang Taiwan sangat perhitungan dalam hal apapun dan sebagian tidak suka jika pekerjanya sekolah apalagi sampai mengambil libur. Bosku mematahkan penilaian tersebut. Dia sangat mendukung impianku. Dia memberikanku ijin libur ketika aku harus ke Taipei untuk belajar. Aku merasa berdosa karena sudah berburuk sangka terhadapnya. Negeri ini pada akhirnya merupakan rumah kedua tempatku melabuhkan segudang harapan dan impianku. Tanah ini bukan hanya sekedar tempatku mengais pundi-pundi rupiah tetapi juga tempatku menuntut ilmu dengan harapan kelak aku bisa membawa pulang ilmu dan gelar baru yang akan ku bagikan kepada adik-adik kurang beruntung dikampung halamanku. Dirumah ini banyak petualangan yang kualami. Banyak kesadaran baru yang mulai aku mengerti. Benang merah antara peristiwa demi peristiwa kini tampak secara perlahan. Seperti peribahasa lama; “Kalau ada asap pasti ada api.” Hanya saja aku masih sering latah. Aku sering memperumit sesuatu yang seharusnya sederhana. Apa mungkin ini pengaruh dari keinginan yang seringkali melenceng dengan kenyataan? Atau ini apologiku untuk membela diri karena ketidaksabaran untuk mencapai semuanya dengan proses? Ya, proses. Penerjemahan dari usaha beriring dengan waktu. Mungkin mindsetku yang ingin semuanya serba instan. Aku ingin hasil yang cepat. Walaupun aku yakin Allah pasti punya rencana yang indah untukku. Untuk mengurai semua kamuflase yang kulakukan. Ataupun memecahkan cangkang yang mengungkungku. Entahlah. Sekarang aku hanya bisa berjalan menyusuri setiap sudut peristiwa. Menjawab pertanyaan yg muncul disela-sela waktuku menghitung arti diriku di dunia. Di sela-sela senyum dan kepedulian palsu yg datang dan pergi, aku kembali menyulam satu per satu mimpi demi mimpi meski dalam keramaian arogansi kehidupan yang sedang terjadi.

Marah Marah Marah

Oktavia Eka / Marah Marah Marah / tidak ada / tenaga kerja asing MARAH MARAH MARAH ” Kamu kerjanya ngapain aja ? Hah ? ” Jadi yang selama ini mengepel lantai pada pukul 5 pagi, memberi makan anjing setengah jam setelahnya. Mengurus MCK pasien yang 3 kali lamanya dibanding manusia normal. Memastikan semua baju kering tlah diangkat. Mencuci … Continue reading “Marah Marah Marah”

Oktavia Eka / Marah Marah Marah / tidak ada / tenaga kerja asing

MARAH MARAH MARAH

” Kamu kerjanya ngapain aja ? Hah ? ”

Jadi yang selama ini mengepel lantai pada pukul 5 pagi, memberi makan anjing setengah jam setelahnya. Mengurus MCK pasien yang 3 kali lamanya dibanding manusia normal. Memastikan semua baju kering tlah diangkat. Mencuci kamar mandi dan lalu mengelapnya lagi sampai kering. Menyiram 17 pot bunga yang ada di balkon. Menyiapkan sarapan tepat pukul setengah 8 pagi. Membersihkan puntung dan abu rokok di sekitar tempat sampah yang berceceran karna dibuang sekenanya. Dan pekerjaan pateng printil lainnya yang harus sudah selesai pukul 8 tepat itu siapa ? Lalu kemudian yang jam 8 baru bangun dan keluar dari dalam kamar langsung melempar pertanyaan; lebih tepatnya hardikan, kamu kerjanya ngapain aja hah hanya karna melihat sehelai rambut di atas keset kamar mandi yang memang tidak sengaja terlewatkan.
Kalau sepagi dan sesejuk ini saja sudah bisa segarang itu, bagaimana nanti siang ? Saat matahari berada di tengah-tengah tegak lurus dengan kepala.

” Lho kok bisa semahal ini ? ”

Pertanyaan yang selalu membuat saya malas pergi belanja saat cuaca buruk tiba. Sudah pasti otomatis harga sayuran, buah-buahan, dan lauk pauk akan naik drastis. Menepikan saya disini yang harus putar otak beberapa kali untuk menyiasati uang belanja yang masih tetap jumlahnya, jumlah keluarga yang harus diberi makan yang juga masih sama jumlahnya, sedangkan harga barang di pasar melambung dengan hebatnya. Dan nanti setelah sampai rumah masih disodori pertanyaan dan pernyataan tentang kenapa kok harga bahan makanan bisa semahal itu. Kalimat-kalimat berbau kecurigaan yang meluncur mulus. Padahal tanda bukti pembelian juga sudah dilampirkan.

” Nenek sekarang kurusan ya ! ”

Aaarrgghh mengapa ada rangkaian kalimat seperti ini pada lisan mereka ? Tidak adakah susunan kata lain yang lebih enak didengar ? Atau setidaknya tidak usahlah melontarkan kalimat semacam itu. Nenek sudah sejak 4 tahun yang lalu sakit. Tentu saja metabolismenya sudah tidak sama dengan manusia sehat. Sehari semalam juga tak kurang dari 4 kali waktu makan yang saya berikan. Pagi : 3 macam buah, 500 cc susu, sekerat roti gandum. Siang : nasi, sayur, kuah, lauk. Sore : 500 cc susu, sebungkus biskuit. Malam : kembali nasi, sayur, kuah, lauk. Porsinya pun kadang saya lebihkan agar benar-benar kenyang. Meski kata dokter porsi makan nenek tidak perlu terlalu banyak karna nenek tidak melakukan rutinitas yang berarti. Jika terjadi kegemukan juga tidak baik untuk kondisi kesehatannya. Tapi mengapa selalu saja kalimat yang sama diucapkan berulang kali. Seakan saya tidak menjaga dan merawat pasien dengan baik. Seakan saya hanya memikirkan perut sendiri dan tidak memperhatikan kesejahteraan pasien.

Memang, saya masih bergantung pada Anda untuk urusan uang. Saya masih membutuhkan gaji untuk mewujudkan semua mimpi. Saya masih harus patuh pada semua perintah Anda. Mengesampingkan hak-hak yang sudah dihapuskan secara sepihak. Menerima setiap ketidak adilan yang terpaksa harus dianggap sudah adil sajalah.

Tapi, saya juga punya nurani. Saya punya perasaan yang bisa saja sakit. Saya punya kemampuan yang berbatas. Saya punya daya ingat yang standar. Tolonglah sedikit saja menganggap saya manusia normal pada umumnya; yang juga butuh istirahat yang cukup, suasana kerja yang nyaman, pengakuan dan penghargaan atas hasil kerja, juga penghargaan atas perasaan yang saya punya.

Tanpa Anda hardik sekalipun, saya akan tetap mengerjakan semua sesuai prosedur. Menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban dan tanggungan saya bekerja pada Anda. Memastikan semuanya selesai dengan baik dan tepat waktu. Menjaga penuh kepercayaan yang sudah diamanatkan. Memperlakukan seluruh anggota keluarga dengan sebaik-baiknya.

Saya hanya meminta hak untuk tenang. Yang tanpa perlu was-was dan takut salah setiap kali melakukan pekerjaan. Kondisi kerja yang nyaman tanpa dirusuhi oleh kecurigaan-kecurigaan yang memang sampai sekarang belum terbukti kebenarannya. Kepercayaan yang selama ini masih seperti mimpi saya untuk memperolehnya dari Anda. Penghargaan atas setiap apa yang saya kerjakan untuk Anda.

Mohon maaf jika memang saya tak sesempurna apa yang Anda harapkan.

Satu hal yang pasti, saya tlah melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Untuk Anda dan keluarga Anda.

Taoyuan, 22 Mei 2016
*bukan kisah nyata. Hanya terinspirasi dari cerita salah satu sahabat, lalu didramatisir di beberapa bagian. Hehehe

Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan

Sesilia / Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan / Tidak ada / tenaga kerja asing Waktu itu aku berusia 15 tahun, aku di landa sebuah dilema akan sebuah pilihan antara impian ku atau keselamatan adik ku. Sebagai seorang kakak yang ingin meneruskan sekolah ke tingkat SMK, tapi harus dihadapkan dengan kondisi adik ku yang sangat memprihatinkan, butuh … Continue reading “Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan”

Sesilia / Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan / Tidak ada / tenaga kerja asing

Waktu itu aku berusia 15 tahun, aku di landa sebuah dilema akan sebuah pilihan antara impian ku atau keselamatan adik ku. Sebagai seorang kakak yang ingin meneruskan sekolah ke tingkat SMK, tapi harus dihadapkan dengan kondisi adik ku yang sangat memprihatinkan, butuh tindakan cepat untuk menolongnya. Aku hanya bisa pasrah melepaskan impian ku untuk adik ku tercinta. Hanya itu yang dapat ku lakukan untuknya saat itu. Karena saat itu bapak mengalami krisis, hingga akhirnya kuserahkan biaya sekolah ku untuk pengobatan adik ku, yang harus secara rutin satu bulan sekali selama dua tahun menjalani pengobatan rutin. Walau sesak rasa dada ini karena harus melepaskan impianku, tapi aku merasa bahagia karena adik ku dapat tertolong. Itulah pengorbanan ku untuk mu adik ku.
Pada suatu malam aku utarakan keinginan hati ku kapada orang tua ku, bahwa aku ingin bekerja ke Jakarta mencari uang untuk biaya sekolah dan aku mencoba meyakinkan mereka.
” Bapak, ibu, aku pasti bisa, aku ingin tetap melanjutkan sekolah,aku akan jaga diri baik – baik, tolong izinkan dan doakan aku.” Pinta ku kepada orang tua ku.
Suasana saat itu menjadi sunyi, orang tua ku terdiam dan terlihat buliran air mata menetes tak hentinya dari sudut mata mereka.
” Ndok, kalau itu memang sudah menjadi keputusan mu, bapak dan ibu akan mengizinkan mu dan akan mendoakan mu untuk menggapai impian mu.” Seru bapak yang langsung memeluk ku di iringi oleh ibu.
Akhirnya izin orang tua ku aku dapat kan dan segeralah aku mempersialkan perlengkapan untuk ke Jakarta.
Sore itu di Terminal bus aku di antarkan oleh bapak dan ibu. Aku selalu mencoba tersenyum ketika menatap wajah mereka agar mereka tak terlalu khawatir ke pada ku. Walau ku lihat raut wajah yang amat cemas yang tampak di wajah mereka.
” Pak, buk, jaga diri baik – baik, jaga kesehatan, aku pergi dulu.” Pamit ku seraya memeluk ke dua orang tua ku.
” Jaga diri baik – baik ndok, restu dan doa kami bersamamu. Jangan lupa kasih kabar ke kami kalau sudah tiba di Jakarta.” Tutur bapak yang di iringi isak tangis ibu yang dari tadi hanya terdiam di samping ku dan memeluk ku tanpa berkata apa pun.
Bus itu dan lambaian kedua tangan orang tua ku telah menjadi bukti sebuah perpisahan yang berbekal niat, keinginan, dan doa saat itu.
Ketika tiba di Jakarta aku selalu memberi kabar kepada orang tua ku agar mereka tidak terlalu mencemaskan ku, dan dapat memberikan pengobatan yang maksimal kepada adik ku.
Aku di Jakarta tinggal bersama kakak ku perempuan, dia sudah menikah dan mempunyai 4 orang anak. Dialah orang yang selalu membantu ku, dia juga yang memberikan pekerjaan kepada ku. Karena aku tidak ingin merepotkan siapa pun selama aku mampu mengatasinya sendiri. Aku menyuruhnya memperlakukan aku sebagai seorang karyawan agar aku dapat hidup mandiri.
Setelah satu tahun lamanya aku bekerja dan uang ku telH terkumpul serta cukup untuk biaya sekolah, aku mendaftarkan diri di SMK Jakarta dan aku di terima.
Di sanalah aku menuntut ilmu dan di sanalah aku mendapatkan seragam ku sebuah seragam yang aku perjuang kan ” putih abu – abu.”
Aku sangat bahagia karena mendapatkan sahabat yang amat baik, para guru yang selalu memberi ku motivasi.
” Uwie, kamu mau ikut kami setelah pulang sekolah nanti, kami mau nonton di bioskop.” Terdengar ajakan dari salah satu sahabat kepada ku.”
” Maaf aku tidak bisa karena aku ada pekerjaan.” Tolak ku.
Ya, karena aku tidak bisa seperti teman – teman yang dapat bermain sesuka hati mereka setelah jam pulang sekolah karena aku harus bekerja di toko kakak ku. Setelah pulang sekolah aku bekerja hingga pukul 21.00 malam, setelah itu aku masih harus mengerjakan tugas sekolah ku. Bahkan hari minggu pun aku tetap bekerja karena di hari minggu aku mendapat gaji penuh, sayang jika di tinggalkan. Sebenarnya kakak ku tidak tega dan ingin membantu ku tapi aku menolak karena aku sudah berkomitmen kepada diri ku, bahwa aku tidak akan pernah nerepotkan orang lain selama aku masih mampu.
Di sekolah aku mendapatkan jabatan sebagai Ketua Osis dan mendapatkan gelar murid tauladan dari para guru dan teman – teman. Sungguh bahagia sekali rasanya, aku dapat melalui hari – hari ku dengan sangat baik, walau rasa lelah menghinggapi tubuh ku tapi semua itu tidak membuat ku rapuh.
” Uwie,…Uwie…” Terdengar teriakan dari seseorang tapi hanya sekilas setelah itu semua gelap.”
Dan ketika aku membuka mata aku sudah berada di rumah sakit .Aku positif terjangkit tifes dan harus di rawat di rumah sakit, karena sebelumnya aku mengalami panas yang sangat tinggi selama satu minggu.
” Uwie, bulan depan kita akan mengikuti ujian, bagaimana dengan mu,” Ujar salah satu sahabat yang menjenguk ku sore itu.”
” Aku tetap akan mengikutinya, aku pasti bisa,” Jawab ku yang penuh semangat tapi bertolak belakang dengan keadaan fisik ku saat itu.”
” Ok, cepat sembuh wie, aku akan bawakan catatan untuk mu,” Sahut salah satu sahabat lain.”
Aku sangat beruntung mempunyai sahabat yang amat peduli kepada ku tanpa membedakan status. Mereka juga salah satu semangat ku dalam menuntut ilmu, karena mereka tahu aku sangat menghargai waktu. Karena setiap sedetik waktu yang hilang berarti kita telah melepaskan sedetik ilmu yang akan kita dapatkan.
Waktu ujian pun di mulai, akhirnya aku bisa mengikutinya. Walau masih dalam keadaan lemas tapi aku optimis dan semangat ku yang menggebu telah melenyapkan rasa lesu yang bersarang di tubuh ku. Puji syukur ku terhadap Tuhan karena aku dapat mengikuti ujian ku dengan baik dan lancar.
Dan hari yang ku tunggu – tunggu telah tiba, hari di mana perjuangan ku selama 3 tahun lamanya akan terlihat hasilnya. Wali kelas pun membacakan hasil dari ujian, dan nama ku terletak di posisi ke dua. Walau rasa sedikit kecewa menghinggap di hati ku karena selama 3 tahun aku selalu berada di posisi teratas. Tapi saat ini aku harus merelakan untuk orang lain. Karena sebuah penyakit yang menyerang ku waktu itu. Tapi tak mengapa, aku tetap bangga, aku dapat menyelesaikan sekolah ku dengan baik dengan kerja keras ku selama ini.
” Pak, buk aku lulus, Alhamdulilah dapat peringkat ke dua.” Jelas ku kepada ibu menggunakan telepon seluler waktu itu.”
” Alhamdulilah, bapak bangga kepada mu ndok.” Sahut bapak dan ibu yang terdengar sedang menangis karena bahagia.”
” Terima kasih pak, buk ini semua berkat doa kalian.” Tutup ku dalam pembicaraan tak lupa ku ucapkan salam.
Kebahagiaan yang ku dapatkan adalah sebuah bukti perjuangan yang telah aku lakukan untuk mendapatkan seragam putih abu – abu ku dan kini aku telah mendapatkannya. Aku percaya setiap kemauan pasti ada jalan jika kita mau berusaha dan berdoa. Dan sebuah kekurangan jangan lah jadi alasan untuk menyerah dan menggagalkannya. Sebuab pengorbanan ku untuk adik ku juga berbuah manis, dia sudah membaik sekarang walau belum sembuh total. Inilah kisah ku, Uwie seorang gadis yang telah berhasil memperjuangkan seragamnya.