Fang Nai Nai (方奶奶)

A Shi / Fang Nai Nai (方奶奶) / tidak ada / tenaga kerja asing FANG NAI NAI (方奶奶) Oleh: A Shi Jika membicarakan tentang cinta, aku rasa memang tidak akan pernah tiada habisnya. Bahkan milyaran kata pun tak mampu mewakili cerita tentang cinta. Terkadang cinta mampu membuat kita bahagia dan menderita. Namun ada pula yang mampu bertahan hidup … Continue reading “Fang Nai Nai (方奶奶)”

A Shi / Fang Nai Nai (方奶奶) / tidak ada / tenaga kerja asing

FANG NAI NAI (方奶奶)
Oleh: A Shi
Jika membicarakan tentang cinta, aku rasa memang tidak akan pernah tiada habisnya. Bahkan milyaran kata pun tak mampu mewakili cerita tentang cinta. Terkadang cinta mampu membuat kita bahagia dan menderita. Namun ada pula yang mampu bertahan hidup karena cinta. Seperti Fang Nai nai ….
Taiwan adalah salah satu negara Asia yang dijuluki Formosa, yang konon katanya mempunyai arti Pulau yang Indah (bahasa portugis).

Sebut saja namaku A Shi, hanya sebuah nama panggilan Yeye dan Nai nai padaku. Aku orang Indonesia asli yang menjadi TKI di Taiwan sejak lima tahun silam, tepatnya di tahun 2011. Tempatku bekerja berada di wilayah Taipei, tepatnya di Kota Shipai. Kawasan apartemen yang menurutku biasa saja, tidak terlalu mewah dan tidak terlalu kumuh. Rumah majikanku tidak jauh dari rumah sakit Shipai, atau lebih dikenal dengan sebutan Taipei Veterans General Hospital. Tugasku hanya menjaga Yeye, sebutan untuk kakek yang sekarang ada di sampingku. Aku memanggilnya Fang Yeye. Beliau adalah lelaki tua berumur 95 tahun, menderita stroke, tapi masih mampu bicara walaupun terkadang tidak jelas. Fang Yeye masih mempunyai istri yang sangat setia, dan aku memanggilnya Fang Nai nai. Di rumah ini kami cuma bertiga. Namun, mereka mempunyai 1 anak perempuan di China atau lebih dikenal dengan sebutan Talu. Anak mereka lah yang menggajiku. Fang Nai nai setiap hari cuma sibuk dengan sampah-sampahnya. Beliau setiap hari mengumpulkan botol-botol minuman atau sampah apa pun yang bisa didaur ulang, lalu dijual, walaupun mendapatkan uang yang tidak seberapa. Dan aku, cuma di rumah menjaga Fang Yeye. Jujur, untuk makan sehari-hari, kurasa memang tidak layak. Dengan sayur 1 ikat dan telur dadar. Terkadang telur dadar dan sosis. Itu pun jarang. Aku tidak pernah mengeluh soal makan, karena melihat Fang Nai nai dan Fang Yeye tertawa pun aku sudah bahagia. Maklum, karena dari bayi, aku tidak mempunyai kakek dan nenek. Terkadang aku heran, kenapa anaknya tidak membawa orang tuanya ke Talu saja dan hidup bersama. Entahlah.
Suatu hari, kucoba memberanikan diri bertanya pada Fang Nai nai.

“Nai nai, kenapa Siaoce (panggilanku kepada anak perempuan Fang Na nai) tidak mengajak nai nai dan yeye ke Talu saja? Dari pada di sini, kalian pasti ingin berkumpul dengan anak cucu, kan?” Tanyaku setengah lancang.

Aku tidak pernah menduga jika pertanyaanku membuat Fang Nai nai menangis. Beliau menangis walaupun tidak bersuara, tapi kumelihat dengan jelas, air mata itu mengalir deras.

“Nai nai, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih, ya sudah. Lupakan pertanyaanku, ya,” kataku gugup.

Wanita tua berusia 90 tahun itu angkat bicara walaupun dengan suara parau.

“A Shi, kamu tidak bersalah. Kalau kamu mau, aku akan bercerita padamu tentang keluargaku,” kata Fang Nai nai.

“Baiklah,” ujarku mantap.
Fang Nai nai mulai bercerita.

Jika dulu sewaktu Fang Yeye berusia 30 an, beliau adalah seorang jenderal di China/Talu. Ketua para pejuang di masa penjajahan. Waktu itu Fang Nai nai sedang hamil, sedangkan Fang Yeye harus pergi bertugas entah di mana dan entah pulang dalam keadaan hidup atau mati. Dengan berat hati, Fang Nai nai melepaskan suami tercinta untuk tugas negara. Satu bulan berlalu, 1 tahun dilalui, dan 40 tahun terlewati. Kabar apa pun tak kunjung datang. Fang Nai nai merawat dan membesarkan anak perempuan satu-satunya seorang diri. Sampai anak itu menikah dan lahirlah kedua cucunya. Namun, lagi-lagi kabar tentang keberadaan Fang Yeye pun tidak ada. Fang Yeye seperti debu yang ditiup angin begitu saja, lenyap. Tidak mudah bagi Fang Nai nai untuk bertahan sendirian. Antara menjadi janda atau masih berstatus isteri jenderal. Dulu tidak sedikit pemuda yang datang ingin menikahi, namun Fang Nai nai tetap percaya jika suaminya masih hidup. Dan beliau bertahan seperti itu, karena cinta. Ya, cinta ….

Fang Nai nai menangis ….

“Nai nai, tidak usah diteruskan tidak apa-apa. Kalau nai nai capek, istirahat saja dulu,” kataku sambil menepuk pelan bahunya.

“Tidak, A Shi. Kamu harus mendengarkan ceritaku sampai habis,” ucapnya sambil menyeka sudut matanya yang basah.

Empat puluh tahun, Fang Nai nai bertahan demi cinta. Bertahan demi suaminya dan bertahan atas dasar percaya dengan isi hati. Dan itu terlalu sukar aku cerna dengan logika.
Entah suatu hari, melalui media radio dan koran. Dua puluh tahun lalu, pemerintahan Taiwan mengumumkan para pejuang dari China/Talu yang masih hidup dan menetap di Taiwan. Dan dari situlah Fang Nai nai yakin jika nama Fang Cheng Ci adalah suaminya yang empat puluh tahun ditunggu-tunggu. Akhirnya, bersama anak perempuan dan menantunya, Fang Nai nai pergi ke Taiwan. Dengan melalui berbagai cara, akhirnya ditemukan alamat Fang Cheng Ci, yang tak lain adalah Fang yeye. Fang yeye bekerja sebagai pemulung sampah daur ulang untuk melanjutkan hidup dan mendapat uang santunan dari pemerintah setiap bulannya.

Dan pertemuan dua sejoli, satu cinta yang sudah menua itu terjadi …. Saat bertemu, Fang Nai nai sudah 65 tahun. Dan Fang Yeye 70 tahun.
Sungguh, dari sini air mataku tak mampu aku bendung lagi. Aku pun ikut menangis. Fang Nai nai bertemu dengan Fang Yeye dua puluh tahun yang lalu, di usia yang tak lagi muda tapi cinta mereka tetap suci dan tidak berubah. Empat puluh tahun tidak mudah untuk bertahan pada cinta yang hilang, sungguh kesetiaan yang luar biasa. Sejak saat itu, Fang Nai nai dapat ijin tinggal di Taiwan karena memang masih mempunyai surat nikah syah sebagai isteri Fang Yeye. Anak mereka memilih ikut suami yang berada di Talu. Dan mengunjungi Taiwan setahun sekali.
Seiring berjalannya waktu, Fang yeye sakit-sakitan dan positif menderita stroke. Sebelum ada aku, Fang Nai nai lah lebih dulu merawat Fang yeye yang terkena stroke ini selama sepuluh tahun.
Fang Nai nai kembali menangis. Tanpa aku sadar, Fang Yeye yang dari tadi duduk tertidur di sofa pun ikut mendengar. Keduanya meneteskan airmata. Dan aku? Seperti melihat dongeng di hadapanku sendiri. Kupeluk mereka berdua dengan setulus-tulusnya. Aku menyayangi mereka, seperti kakek nenekku sendiri.

Pagi itu, Januari 2014 ….
Fang Nai nai pamit mau ke pasar beli ikan. Hujan lumayan deras, aku menyuruhnya di rumah dan biar aku saja yang pergi. Tapi beliau bersikeras mau pergi. Seperti biasa kalau pergi, aku selalu menaruh HP nya di saku jaket samping kanan. Dia pun bilang, mau belikan bakso ikan kesukaanku. Aku pun meng iyakan. Satu jam berlalu, dua jam telah berjalan. Fang Nai nai tak kunjung datang. Aku berfikir mungkin di pasar memunguti botol sampah seperti biasanya. Tiga jam berlalu. Aku mencoba menghubungi, namun … yang mengangkat orang lain, polisi. Entah aku harus bercerita apa di sini. Yang jelas, Fang nai nai ditabrak bus umum waktu mau nyebrang dan dia dilarikan di rumah sakit. Aku segera menghubungi Siaoce di Talu. Dan dengan gugup dan berlinangan air mata, aku dudukkan Fang Yeye di kursi roda lalu kubawa ke Rumah Sakit Veterans General Hospital, 10 menit kudorong kursi roda itu, diiringi gerimis dan hawa dingin yang amat sangat di Bulan Januari. Fang Yeye meremas tanganku, mungkin beliau ingin bertanya ‘ada apa’ tapi lidahnya kaku untuk bicara. Aku cuma bisa berkata, kalau Fang Nai nai tidak enak badan dan sekarang di rumah sakit. Walaupun beliau susah bicara dan stroke, aku yakin hatinya masih hidup dan memahami apa yang telah terjadi. Setibanya di rumah sakit, semua terlambat ….
Fang Nai nai pergi untuk selamanya ….
Bakso ikan itu, selalu mengingatkanku padanya. Kisah cinta mereka, selalu menjadi inspirasiku jika cinta suci itu ada. Perjuangan mereka membuatku paham akan arti kebersamaan. Dan kesetiaan Fang Nai nai mengajariku arti harga diri dan kehormatan.
Selamat tinggal Fang Nai nai. Aku akan menjaga Fang Yeye sampai kisah kalian usai.
Sepeninggal Fang Nai nai, rumah ini sepi. Hanya aku dan Fang Yeye. Terkadang aku melihat Fang Yeye meneteskan airmata. Aku tahu, beliau paham apa yang terjadi, dan hatinya peka. Hari-hari kami lalui dengan bercanda, walaupun susah bagiku untuk menyembunyikan kesedihan ini, tapi aku harus selalu ceria di hadapan Fang Yeye. Siaoce 1 minggu 1 kali terkadang menelpon, menanyakan kabar. Cuma itu.

Juni, 2014 ….
Aku sangat menyayangkan bekerja di Taiwan itu harus terikat kontrak. Yang di mana aku harus pulang ketika keadaan tak memungkinkan. Juni 2014, aku harus pulang ke Indonesia, setelah kurang lebih enam bulan hidup berdua bersama Fang Yeye. Sungguh aku tidak tega, tidak sanggup dan berat meninggalkan beliau. Jujur, aku tidak mau pulang. Tapi apa dayaku? Taiwan tetaplah negara asing dan aku harus taat pada peraturan. Siaoce datang merawat Fang Yeye, selama penggantiku belum datang. Andai Taiwan adalah Indonesia? Kan kubawa Fang Yeye ke rumahku, dan kurawat. Tuhan, aku tidak mau pulang ….

Tanggal 15 Juni 2014, aku pulang.
Membawa seribu duka yang mendalam, membunuh setiap rinduku pada Fang Yeye. Berusaha tertawa saat berpamitan pada Fang Yeye, walaupun hatiku bagaikan diiris-iris, dan menangis terisak dalam-dalam. Kupeluk beliau, dan beliau pun meneteskan airmata.

“Taiwan, aku mohon beri aku waktu untuk bertemu Fang Yeye lagi,” bisikku dalam hati.

Dan aku pun pulang ….
Selama aku di Indonesia, Siaoce selalu menelponku menanyakan ini dan itu, cara merawat Fang Yeye. Dua bulan berlalu, dan HP-ku berdering lagi.

“A Shi, kapan kamu datang ke Taiwan. Yeye menanyakan kamu terus, tadi malam dia jatuh dari ranjang, hidungnya berdarah dan ….”

Suara Siaoce di seberang sana menggantung, menggema dalam telepon genggamku.

“A Shi, Yeye meninggal ….”

Sambungan terputus. Bumi yang kupijak seakan membeku. Detik jam dinding pun berhenti. Waktu pun ikut mati. Fang Yeye telah tiada, tanpa ada aku di sampingnya. Dan cerita tentang cinta sejati itu telah usai …. walaupun bukan aku yang menjadi endingnya.

“Fang Yeye, Fang Nai nai … terima kasih, perjalanan hidup kalian adalah sepenggal nasihat dalam hidupku. Maafkan aku tidak bisa menyelesaikan tugas terakhir menjaga Fang Yeye ….”

Taipei, 18 April 2016