Ade Junita / Cerita-cerita Yang Menelan Ayah dan Ibu / Tari Sasha / tenaga kerja asing
Minggu kemarin dia bilang ingin membicarakan sesuatu mengenai Ibu. Entah apa yang sebenarnya dia inginkan. Seingatku sudah sekian tahun –aku malas untuk menghitungnya berapa- dia menjauhkan diri dari Ibu dan kami. Menjauhkan diri dengan bekerja ke luar negeri menjadi apalagi kalau bukan PRT. Aku tahu bukan itu alasan sebenarnya. Begitupun pada Ibu, aku yakin Ibu juga tahu kepergian dia ke luar negeri sebenarnya hanyalah alasan untuk bisa menjauhkan diri dari Ibu dan kami. Tapi aku tidak ingin tahu separah apa Ibu menahan perasaan tertekannya pada salah satu anak kandungnya yang berubah.
Hari ini hari kerja sehingga kedai makan yang dipilih untuk pertemuan kami cukup hening. Aku sendiri memang meminta ijin libur di hari biasa. Baru delapan bulan aku bekerja di Taiwan. Bukan maksudku hendak mengikuti jejaknya. Aku pun tidak memilih menjadi PRT seperti apa yang dia putuskan untuk ke 2 kalinya ke sini. Meskipun aku perempuan, aku memilih bekerja sebagai buruh pabrik di Taiwan, kendati prosesnya memang lama tapi toh aku bisa juga.
Kupilih sebuah meja dengan empat bangku agak ke dalam. Di bagian depan masih agak bising dengan suara kendaraan dan penjaga kedai warung Indonesia yang suka bicara dengan lantang saat memberitahukan menu masakan yang dipesan pada koki di dapur.
Dua lagu kuputar melalui earphone sembari menunggu. Secangkir lemon tea melepaskan panasnya dengan menguap. Kuteguk sedikit untuk menghangatkan tubuh. Dan sesaat setelahnya dia datang dengan senyum khasnya yang ringan. Senyum yang lepas begitu saja namun tanpa makna yang dalam.
Dia menyapa kemudian mengambil duduk di bangku yang berhadapan denganku. Menaruh tas mungilnya lalu berdiri kembali dan berjalan ke depan untuk memesan minuman dan cemilan. Dia tidak suka makan di luar, itu yang aku tahu. Hal yang juga tidak kusuka karena selalu mengingat pesan Ibu untuk jaga kesehatan.
“Kau tahu kan saat ibu dan ayah menikah, sebelumnya status mereka bukanlah janda dan duda?” tanyanya setelah berbasa-basi menanyakan kabar dan pekerjaanku sekarang.
Aku tahu itu tapi kubiarkan dia menganggapku tidak mengetahuinya. Dia diam sebentar. Nampak menimbang-nimbang sesuatu entah apa. Sekilas dia lirik jam tangan yang melingkar manis di tangan kirinya.
“Aku masih punya waktu lama kok,” kataku mengagetkannya.
“Aku tidak tahu ini baik untuk kamu atau tidak. Aku sendiri sangat shock ketika mengetahuinya.”
Dari siapa? Sayangnya pertanyaan itu hanya keluar dalam benakku. Aku ingin dia yang mengatakannya sendiri bukan karena aku.
Pesanannya datang. Ini sedikit mengganggu. Kenyamanan seseorang selalu akan terganggu ketika ada momen kecil yang tiba-tiba menyela. Tapi aku lihat tidak. Cepat dia membuka kunci hape dan mengubah modus hape dari umum menjadi diam. Jelas, dia tidak ingin ada hal lain yang mencoba mengganggunya lagi.
“Ibu memang wanita yang paling baik. Setidaknya selama ini seperti itulah peran yang ibu mainkan di depan mata kita. Ibu selalu sabar menghadapi kenakalanku waktu kecil. Aku banting radio, piring bahkan pernah memecahkan kaca lemari. Tapi ibu tidak marah. Dia biarkan aku melampiaskan marahku pada benda apapun di rumah.”
Barangkali dia selalu mengingat semua kebaikan Ibu dan tidak pernah mencoba untuk melupakannya. Aku juga ingat kendati dia anak nakal namun ibu sangat menyayanginya. Di sisi lain memang dia anak paling nakal saat dia marah, namun dia juga anak paling penurut pada ibu dan ayah. Dia adalah pribadi yang total dalam mencintai dan membenci sesuatu.
“Ibu selalu membereskan pecahan-pecahan kaca lemari dan piring akibat ulahku sebelum ayah pulang. Sehingga ayah tidak pernah tahu ulahku. Ibu selalu menyembunyikan kenakalanku di depan ayah.”
“Kita di sini bukan untuk membicarakan itu kan?” tukasku. Kuambil cangkir lemon tea di depanku dan kuteguk beberapa kali. Sisa sedikit. Aku ingin memesan lagi tapi urung.
“Aku tidak tega jika bilang ibu adalah wanita yang merebut ayah dari wanita lain. Tapi kenyataannya begitu. Ibu perusak rumah tangga orang lain. Kau mungkin baru mendengarnya dan tidak percaya.”
Aku tahu itu. Aku tahu, bahkan mungkin lama sebelum dia tahu. Aku tahu sejak umurku 8 tahun. Saat itu aku tidak mengerti kenapa Bira mengatakan kalau ibu pernah menyiksanya bahkan mencambuknya hingga luka-luka. Aku hanya mengangguk saat Bira menceritakan itu. Sedangkan ibu mengatakan kalau Bira adalah saudara jauhku, meski sampai aku berumur 13 tahun aku masih tidak tahu Bira saudara dari Ibu atau ayah. Nyatanya sampai dua tahun kemudian aku baru menyimpulkan kalau Bira adalah anak ayah dengan bekas istrinya. Bira memang saudaraku, hanya beda Ibu. Bira menjadi anak tiri dari ayahnya sekarang karena Ibu.
Dia diam sejenak dan melihatku dengan seksama. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa di depannya. Apa yang dia katakan sebenarnya aku tahu tapi dia belum tahu itu. Sebisa mungkin aku pasang muka seperti orang yang penasaran dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya.
“Kamu sudah tahu hal itu, Dian?” tanyanya melihat lagatku yang biasa saja.
“Tidak. Aku hanya belum mengerti kenapa kau sampai bisa beranggapan seperti itu,” kilahku kemudian.
Dia hanya diam. Masih menimbang-nimbang apa yang harus dia jelaskan selanjutnya.
“Aku baru tahu itu sewaktu pertama kali pulang dari Taiwan.”
“Siapa yang memberitahumu?” tanyaku kemudian. Aku tidak sabar ingin tahu siapa yang memulai petaka ini.
Masih sangat lekat di pikiranku saat dia menangis tidak jelas sepulang dari Taiwan pertama kali. Ayah sangat khawatir dengannya. Terlebih Ibu. Tapi tidak lama kemudian dia memutuskan pergi lagi ke Taiwan. Negara di mana aku juga akhirnya memutuskan bekerja di sini demi memperbaiki keadaan ekonomi keluarga.
“Yu Tuti. Dia yang menceritakan kalau Ibu adalah wanita perusak rumah tangga orang lain.”
Yu Tuti? Bisa ditebak kenapa dia menceritakan aib Ibu padanya. Yu Tuti juga yang dulu menanamkan bibit kebencian pada Ibu di benak Bira, anaknya sendiri. Sudah jelas apa yang menjadi motif dari semua ini. Yu Tuti membenci Ibu karena merebut ayah dari pelukannya. Ibu memang salah. Setidaknya itulah angapan mereka. Dan aku sampai sekarang, sampai saat aku tahu siapa yang membuat kakak berubah, masih belum tahu apakah Yu Tuti juga bisa dibilang bersalah.
Terlepas dari siapa yang salah, aku sangat tidak terima jika Ibu dikatakan sebagai perusak rumah tangga. Karena kata perusak berarti orang yang suka merusak. Dan aku sangat tahu kalau Ibu tidak seperti itu.
“Kau sama seperti Bira,” kataku membuatnya tersentak.
“Apa maksudmu?”
“Dulu Bira bercerita padaku kalau Ibu pernah menyiksanya sewaktu dia kecil. Mencambuknya…, memukulinya…. Awalnya aku memang percaya karena waktu itu rumah kita dengan rumah mereka hampir sebelahan. Tapi kemudian aku tahu kalau itu semua cuma omong kosong yang dibiuskan oleh Yu Tuti agar bira membenci Ibu. Bira tak mengalami luka apa-apa di tubuhnya. Aku tak pernah menemukan bekas cambukan atau pukulan kasar.”
“Hehh…, mungkin itu memang hanya omong kosong. Tapi wanita yang menjadi penyebab rumah tangga orang lain hancur bukankah wanita itu sama saja dengan wanita murahan?”
“Jangan pernah mengatakan kalau Ibu seperti itu?” ancamku. Jelas aku tidak terima dia mengatakan itu.
“Lalu kamu mau apa kalau memang seperti itu yang terjadi? Kita lahir dari rahim wanita murahan yang merusak rumah tangga orang lain,” katanya sembari tertawa. Entah tawa yang kulihat darinya ini sebagai tawa kepuasan atau kesedihan.
“Bukan ibu yang merebut ayah dari Yu Tuti,” kataku.
Dia diam seketika. Matanya melotot. Aku balas menatapnya dengan tajam. Aku tahu dan sadar kalau aku sangat tidak pantas bersikap seperti ini pada kakakku sendiri. Tapi dia sendiri yang memutuskan untuk tidak lagi menjadi kakakku semenjak cerita itu mengubah hidupnya.
“Maksudmu ayah yang menggoda ibu padahal dia masih menjadi suami Yu Tuti?”
“Memang seperti itu kenyataannya,” kataku dingin.
Aku tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa lagi.
Dia diam dan menunduk. Kelu. Mencoba memercayai omonganku dengan logikanya.
“Dan sepertinya kau juga harus tahu kalau saat itu ibu masih menjadi istri lelaki lain. Ayah merebut istri orang lain padahal dia sendiri punya istri.”
Dia tersentak dan menatapku begitu lekat. Napasnya seketika tidak teratur. Ada amarah yang muncul seketika.
Aku tahu ini akan sangat mengguncang batinnya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi karena ini adalah pesan ayah padaku untuk terakhir kali dalam hidupnya. Ayah tidak ingin kakak membenci ibu sebagaimana Yu Tuti yang tidak ingin Bira membenci ayah kendati dia tahu ayah yang meninggalkannya begitu saja.
“Kita memiliki saudara ipar baik dari ayah ataupun dari ibu. Bira dan Danu.”
“Danu? Kau bilang Danu adalah saudara ipar?”
“Iya. Saudara ipar dari ibu. Lelaki yang saat ini kau bilang ingin menikah dengannya.”
“Apa? Kenapa… kenapa aku baru tahu sekarang?”
“Bukankah sudah jelas, karena selama ini ayah dan ibu merahasiakannya dari kita.”
Dia geram. Rahangnya mengeras. Namun dengan tiba-tiba dia lemas. Dan dadanya bergetar. Dia terisak.
Kudekatkan kotak tisu di hadapannya. Aku tahu dia sangat terguncang dengan ceritaku ini. Dua kenyataan menohok ulu hatinya sekaligus.
Guanyin, 130416
21:57