HARU YANG MENUNGGU

ADI ANTO / HARU YANG MENUNGGU / KOMUNITAS PENULIS KREATIF TAIWAN / tenaga kerja asing HARU YANG MENUNGGU Oleh: Adi Anto Mata itu begitu sayu dan tanpa binar, seakan terpancar sejuta ratap dan putus asa. Bulir bening pun menggenang dalam. Haru yang kental dan begitu syahdu seiring rinai yang menetes ke bumi, waktuku untuk berlari pergi meninggalkannya dalam … Continue reading “HARU YANG MENUNGGU”

ADI ANTO / HARU YANG MENUNGGU / KOMUNITAS PENULIS KREATIF TAIWAN / tenaga kerja asing

HARU YANG MENUNGGU
Oleh: Adi Anto

Mata itu begitu sayu dan tanpa binar, seakan terpancar sejuta ratap dan putus asa. Bulir bening pun menggenang dalam. Haru yang kental dan begitu syahdu seiring rinai yang menetes ke bumi, waktuku untuk berlari pergi meninggalkannya dalam diam yang meradang.
Esok paginya dia pun masih sama, menatap nanar jauh entah di titik mana. Pandangan yang basah oleh titik-titik air mata dan ada alur di bawah mata sayunya tanda tangisnya pecah semalam. Ingin sekali aku bernasihat, memberinya semua kata bijak para pakar, menyemangatinya untuk menghentikan tangisnya. Hidup itu indah dan dia harus belajar menikmatinya. Tetapi sayu masih menggelayut dan dia kian larut. Apa yang bisa kuperbuat?
Sebelum mengayuh sepedaku pulang kulirik dia yang masih diam di tempatnya. Mungkin sudah beberapa hari ini dia tidak beranjak pergi, matanya yang sayu masih nanar menatap langit yang sudah berkelir hitam. Lara itu masih kentara dan tak kuasa rasanya seorang sepertiku mengusir jauh sang lara itu. Aku berlalu dengan kayuhan pelan sepeda tuaku, menjauh pergi membawa lelah dan iba yang berdesakkan.
“Sudah tahu kabar Mr. Yu?” tanya Anton sambil menyantap pientangnya dengan rakus.
“Masih koma ya?” jawabku balik bertanya.
“Iya … katanya tak ada harapan. Luka di kepalanya terlampau parah.”
Kucerna omongan Anton sambil menelan sesuap nasi yang belum hancur terkunyah dan sekilas sorot mata sayu itu terlintas.
Esok paginya kusempatkan duduk sebentar untuk menyapanya, mungkin perhatianku akan mengalihkan dunianya yang sedang biru.
“Cau an … kau baik-baik saja kan?”
Dia tak menjawab, menoleh kepadaku pun tidak. Tatapannya masih jauh menerawang tak bertujuan. Sepuluh menit kami saling diam aku berlalu saat bel panjang tanda jam kerjaku dimulai berdentang-dentang memekakkan.
Entah perasaan apa yang kumiliki rasanya ada keterikatan antara aku dan dirinya. Sungguh ada iba yang menyeruak menyaksikan bening yang menggantung di mata sayunya. Aku tak tega, sungguh andai aku ini adalah pujangga yang pintar membuat rangkaian kata akan kujelaskan bagaimana sorot mata itu memenjarakanku dalam iba yang tanpa pintu. Tak tega tapi sekali lagi aku bisa apa?
Siang harinya kami ada melakukan acara sembahyang selintas terdengar itu adalah asupan doa untuk kesembuhan Mr. Yu yang terbaring koma. Kulirik dia sepintas … masih sama dalam diam abadinya.
Entah hari itu hari apa yang kuingat hanya dua hari setelah doa bersama untuk Mr. Yu, dari corong speaker terdengar pengumuman dalam bahasa mandarin yang simpang siur kutangkap apa maknanya. Tak lama semua membicarakan Mr. Yu yang telah berpulang, pendarahan di otaknya tak mampu diredam. Setengah berlari aku mendatanginya, aku ingin menyampaikan kabar itu padanya. Ingin memeluk dan menghiburnya.
Dia kudapati lunglai sekarang, jika beberapa hari lalu kepalanya masih tertopang kini semua merebah setara tanah. Bening itu tak lagi menggenang tapi sudah bercucuran, dia menangis dalam.
“Kau tahu Mr. Yu meninggal? Dia sudah berpulang … sabar ya?” Entah kenapa justru kata-kata itu yang terlontar padahal ingin kukatakan hal indah yang bisa membuatnya sedikit bahagia.
Aku tetap tak dihiraukan.
“Mas … ayo pulang ngapain ngurusin anjing itu!” teriak sebuah suara di belakangku.
Entah siapa yang mengajakku pulang, fokusku hanya tertuju pada Haru yang telah beberapa hari ini menunggu. Haru yang hanya seekor Rottweiler mempunyai nurani untuk menanti sang tuan yang koma akibat kecelakaan. Haru yang tidak punya perikemanusiaan tapi menunjukkan padaku arti sebuah setia.
Kuusap tubuh gemetar dan mata yang membanjir air mata itu. Dia berduka begitu dalam lebih dalam dari duka para manusia-manusia.
“Bertahanlah Haru ….!” Itu ucap terakhirku sebelum kukayuh sepeda tuaku pulang. Esok paginya Haru juga tiada ….

Tainan, 25 Mei 2016