Ana widiya H / May JURAGAN And DEGAN / Tidak ada / tenaga kerja asing
Dear juragan bukan dear mantan, meme mau bilang sebenernya ini bukan rayuan atau sogokan tapi lebih mirip Surat pengakuan. Ketika aku membelah degan faforitmu, aku telah mematahkan pisau daging kesayanganmu, yang baru saja kamu beli dari jepang.
Disini kejujuranku di uji, antara bilang jujur meski ajur dan kemungkinan gajiku dipotong atau berbohong sebentar aman tapi lama kelamaan ketauan malah jadi bumerang .
Dan aku memilih jujur meski hatiku hancur,membayangkan kemungkinan yang nanti akan menjadi hukumanku, keyakinanku semakin kuat ketika pesan almarhum bapak selalu mewanti wanti dalam wejangannya ” jadilah pribadi yang sabar, jujur dan rendah hati. Itu yang akan membuatmu tenteram, aman dan insyaAllah selamat dapat dipercaya majikan, meski kamu hanya seorang pembantu.
” Yes, almarhum bapak pasti angkat dua jempol buat ku di surga sana, untuk keputusanku kali ini” suara hatiku yakin.
Rucuh ( es degan kelapa muda ) dengan sirup gula merah, bercampur dengan serutan daging kelapa yang lembut sudah tertata menggoda, kuberi topping irisan strawberri dan daun mint di bibir gelas bening, yang mungkin nggak nyambung dengan isinya ku tata semanis mungkin. Berharap, ketika juragan pulang dari shoppingnya lalu Mendengarkan ratapan kesalahanku, akan sedikit lebih adem tanpa harus marah berapi api.
” Ting tong ” bel pintupun berbunyi, yang berarti juragan telah datang, kupaksakan wajahku tersenyum wellcome bergegas ku raih segala belanjaan dari tangan juragan.
” Hari ini sangat panas” keluhnya sambil berjalan menuju dapur , ku ikuti dari belakang dengan Persiapan wajah termelas dan terkusut.
” Lumayan lah ” sahutku menandakan responku yang selalu ON.
” Waow coconat with black sugar ” melihat beberapa gelas es degan yang telah kupersiapkan, wajah juragan nampak bersinar dan cerah secerah musim panas tahun ini.
Segera ia raih segelas es degan dan menyeruputnya ” ahh….,segar, manis sekali” penilaiannya tentang es degan buatanku.
” Benarkah? Trimakasih” jawabku sambil menata barang dalam kegalauan.
” Juragan, aku ingin bicara jujur padamu, hari ini aku merusakkan barang mu lagi” tuturku memelas.
” What?” Juragan terkejut. Aku menunduk.
” Barang apa lagi yang kamu rusakkan sekarang?” Tanyanya menyergap dalam curiga.
” Pisau daging yang baru kamu beli bulan lalu dari jepang, ku pakek untuk membelah
degan. Maaf, aku tidak sengaja melakukan semua ini” kataku menjelaskan kronologi patahnya pisau daging juragan.
Wajah juragan memerah bak kepiting rebus.
” Ya Tuhan, setelah kamu merusakkan kloset, memecahkan piring, mematahkan gagang pelpelan, menghilangkan gunting, menghilangkan uang jajan, sekarang kamu patahkan pisau dagingku? Anaaaaaa……, kenapa kamu ceroboh sekali?” Deretan daftar kesalahanku telah di jabarkan dengan geram.
” Nanti malam, setelah pekerjaanmu selesai temui aku di lantai atas” perintahny berlalu pergi.
Aku hanya bisa terapaku mendungu. Kemelut dalam otak dan benakku seakan akan membuat jaringan fonis kematian.
” Yah, tamatnya pekerjaanku nanti malam, atau di marahi habis habisan dengan fonis akhir, mengganti rugi di potong pas gajian dan kumungkinan terburuk aku benar- benar di pulangkan” bathinku dalam kegusaran yang mendalam.
Ku hela nafas dalam- dalam berharap jarum jam disitu saja, di angka satu siang jangan memutar menuju malam.
” Oh malam apa yang akan kuper buat?” Kegalauan ini menghantui siang sore ku.
Makan malam berjalan dengan lancar, duduk semeja antara dua juragan, nenek, dua cucunya dan aku. Kali ini makan malam berlangsung hening, tanpa candaan dan obrolan seperti biasanya. Setelah selesai mencuci piring aku bergegas nail ke lantai atas. Hatiku deg deg gan aku mulai gugup.
” Aku sudah siap Mendengarkan segala keputusanmu tentang kesalahanku, juragan” kataku gemeteran.
” Oh ya, es degan yang kamu buat siang tadi apa masih sisa ?” Tanya juragan , yang nggak nyambung dengan pertanyaanku.
” Masih, sisa dua gelas ” jawabku, cepat ku jawab, kutunjukkan sikap siagaku tanpa ragu.
” bulan 6 mendatang kita akan berlibur ke Amerika, ini naskah interfiu yang harus kamu hafalkan, untuk pengajuan Visa USA mu, jika kamu lolos dalam interfiu itu, semua kesalahanmu akan kami lupakan, jika kamu tidak lolos kami semua akan kecewa padamu” ancaman juragan yang masih ku telaah lama.
Ku tatap wajah nenek yang penuh dukungan mengangguk, ku lempar pandangan pada kedua juragan di sambut senyuman dan kepalan tangan penyemangat.
” Semangat ya an” kata mereka serempak.
Tubuhku lemas dan aku benar- benar tidak percaya, kebaikan keluarga juragan benar- benar menguras air mata jelataku. Dan sejak hari itu aku bertekad untuk tidak mengecewakan mereka lagi.
4 Mei, aku diantar juragan peremupuan untuk memgikuti tes interfiu di kedutaan USA, nasib baik berpihak padaku, Alhamdulillah aku dinyatakan lolos dengan mengantongi dua tahun masa tenggang Visa. Ku isaratkan senyuman pada juragan yang berada di luar ruangan, pertanda kabar bahagia, ketika aku keluar dari ruangan interfiu, kebahagiaan juragan meluap luap melebihi rasa bahagiaku yang kupendam sopan.
Setiba kami di rumah, juragan langsung sembahyang pada Tuhanny, aku hanya terpaku berdiri di depan pintu memunguti segala rasa bak menang undian milyaran,kejutan, kebaikan keluarga juragan, segala ujian dalam hidupku sejak dulu di jawab oleh Tuhanku, dengan melimpahkan segala kemudahan dan nikmat tanpa ku duga.
Juragan peremupuan meraih tanganku, menuntunku duduk berjejeran di sova, dia berkata ” kami sangat bahagia bisa mengajakmu ke Amerika, dengan segala perjuangan tentang kepengurusan dokumenmu yang begitu rumit, kami tak pernah menyerah agar kamu bisa merasakan kebahagiaan yang belum tentu seumur hidupmu bisa menginjakkan kaki di negara Amerika, trimakasih atas bantuanmu di keluarga kami, kita adalah keluarga dan kami tak pernah membeda bedakanmu tentang itu”
Dedikatet, buat keluarga Lan, ditengah tengah kelurgamu aku merasa berharga dari hanya sekedar pembantu yang kebanyakan di pandangan sebelah mata. Trimakasih atas segalanya.