Secercah harapan di negeri formosa

Ane juliane / Secercah harapan di negeri formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing “An, wo yao niau-niau” teriak kakek membuyarkan lamunanku. Aku beranjak dari tempat duduk ku dan membawa pispot untuknya. Perkenalkan nama ku ane, usiaku….25 tahun, dan ini adalah usia dimana seorang wanita sudah siap siaga menjadi ibu rumah tangga 😄 namun aku, malu??? Bagaimana … Continue reading “Secercah harapan di negeri formosa”

Ane juliane / Secercah harapan di negeri formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing

“An, wo yao niau-niau” teriak kakek membuyarkan lamunanku. Aku beranjak dari tempat duduk ku dan membawa pispot untuknya.
Perkenalkan nama ku ane, usiaku….25 tahun, dan ini adalah usia dimana seorang wanita sudah siap siaga menjadi ibu rumah tangga 😄 namun aku, malu??? Bagaimana tidak, di saat teman” ku yg lain sudah menikah bahkan ada yg sudah memiliki 2 orang anak. Tapi aku masih sibuk bekerja di negara orang.
Dan yaa, ini adalah pekerjaan ku. Merawat seorang kakek lansia berusia 86 tahun. Sudah hampir 7 tahun aku menghabiskan waktu di negara ini, negara yg memberi ku pengalaman berharga, tentang waktu. Dan disini pula aku tau, bagaimana rasanya berjuang dan di perjuangkan (ah maaf ini berlebihan) 😄
Dan aku bersyukur kakek ku di beri kesehatan hingga aku bisa merawat nya sampai sekarang.
“kriiiinggg” dering handphone ku berbunyi saat aku membenarkan posisi bantal kakek ku. Ku lirik di layar handphone ku “one message received from bapak” aku hanya tersenyum kecil. Setelah selesai mengurus kakek ku, aku beranjak mengambil handphone ku. “Nduk, lagi apa? Tadi siang mas Agung putra nya bapak mantri tetangga desa kesini. Dia bilang dia mau…….” belum selesai ku baca aku sudah tertawa. Ah, bapak ku ini. Dan tiba-tiba aku teringat beberapa tahun yg lalu. Saat aku baru lulus SMA. Saat itu aku berlari sambil membawa surat tanda kelulusan ku. Sesampainya di ambang pintu “buuuukkk, ibuk..” teriak ku panjang memanggil ibu.
“sopan banget to nduk cah ayuu, masuk rumah mbok ya salam dulu” ibuku yg keluar dari dapur dengan memakai daster kesayangan. Lalu aku berjalan mundur pelan sambil cengengesan “assalamualaikum buk, hihihi” di sambut dengan senyum ibuku pula.
“walaikumsalam. Ada apa kok teriak-teriak” ibu menghampiri dan duduk di ruang tamu, lalu aku duduk di samping nya.
“aku lulus buk,” ujarku tersenyum di sertai mata yang berbinar.
“NEM -nya lumayan tinggi loh buk, kalo di rata-rata bisa dapet 8,5” sambungku.
“alhamdulillah,” ibu merangkul dan mengelus elus kepala ku.
“oh iya buk, besok pagi kata temenku ada seleksi ujian bidik misi. Aku boleh ikut buk??”
Ibu memandang ku dengan tatapan kosong.
“buk, gimana?? Ibu takut ga ada biaya buat kuliah ya??” aku memicingkan mata sambil menarik nafas panjang.
“nah itu kamu tau nduk, emang kamu beneran mau kuliah? Ga kasian sama ibu sama bapak juga? Bapak mu udah tua nduk, adikmu juga masih kecil. Dia juga butuh biaya banyak. Lagian kamu perempuan, sekolah tinggi ujung-ujungnya juga di dapur” seketika itu aku langsung lemas.
Aku masih menimbang kata-kata ibu ku barusan. Ada benarnya juga, perempuan mau sekolah tinggi namun ujung-ujungnya harus melayani suami.
“yaudah kalo ibuk ga kuat biayain ane kuliah. Ane paham kok, besok ane coba langsung nyari kerja deh”
Ibuku meneteskan airmata.
“maafin ibu ya nduk, ga bisa sekolahin kamu tinggi” lalu ibu memeluk ku.
“gak apa-apa buk,” jawabku tersenyum.

Esoknya…
Baru pertama kali aku menulis surat lamaran. Aku mencoba melamar pekerjaan sebagai sales promotion girl di salah satu mall di kota ku. Di hari itu pula aku langsung ikut interview, dan aku lolos. Dengan sepeda motor matic ku, aku pulang dengan perasaan bangga.
Aku beritahukan kepada ibu, bahwa aku sudah mulai bekerja besok pagi. Hari demi hari ku lewati, dan aku baru tau rasanya mencari uang seperti apa. Lalu apa yg aku sesalkan selama ini, saat ibu harus bangun di pagi hari menyiapkan dagangan untuk di titipkan di warung warung sekolah. Dan hasilnya… Siapa lagi kalau bukan buat biaya ku sekolah. Ayah…laki-laki yang paling ku sayang di dunia ini, beliau pensiunan pegawai negeri sipil sejak aku kelas 1 SMA. Oleh sebab itu, perekonomian keluarga kami sedikit kurang semenjak ayah pensiun. Dan ibu harus berjualan nasi bungkus dan gorengan di setiap harinya.

2 bulan sudah aku bekerja sebagai SPG, namun ada sesuatu hal yg mengganjal. Apa aku harus menekuni pekerjaan ku ini, dimana pengeluaran lebih besar di banding gaji yg ku dapat. Atau aku yang kurang bersyukur?

Saat itu aku pulang kerja, dan ibu menghampiri ku di kamar.
“nduk, ada yg pengen ibu bicarakan.” ibu duduk di samping ku.
“apa buk??” aku menatap wajah ibuku, yg sudah mulai ada kerutan kecil di wajahnya.
“jadi gini, tadi siang ada tamu datang. Namanya pak baharudin. Beliau bilang, mau jadiin kamu mantunya nduk” ibu mengucapkannya dengan hati-hati. Mungkin takut aku tersinggung.
“trus ibu jawab apa?” aku memicingkan mata.
“ya ibu jawab terserah kamu to nduk, tak bilangin nduk.. Pak baharudin itu orang terkenal di kampung nya, dia itu kaya nduk, sawahnya aja berapa hektare. Anaknya yg mau di jadiin suami buat kamu itu juga pengusaha nduk, wes to pokok ga bakal nyesel kalau seandainya kamu nikah sama dia” ibu menjelaskan dengan panjang lebar.
“yang kaya kan bapaknya to buk, lagian aku masih belum siap buk buat nikah. Wong baru lulus sekolah kok mau nikah, apa kata teman-temanku nanti buk”
Aku menolak.
“halah, kok mikir umur. Ibu mu ini lo pas masih seusia mu udah punya anak kakakmu” ibu masih tak mau kalah.
“la itu kan dulu buk, apa ibu ga mau liat aku sukses punya uang sendiri” jawabku
Lalu ibu setengah berfikir ” oalah nduk, kamu kerja disini cuma cukup buat biaya sehari hari. Beda kalau udah punya suami, kamu mau apa aja pasti keturutan”
Dan tiba-tiba aku teringat dengan cerita temanku yang kakaknya bekerja di luar negeri dan ia pulang dengan membawa kesuksesan.
“gimana kalau aku keluar negeri buk, jadi TKW gitu??” ujarku pada ibu.
Ibu terbelalak kaget. “serius kamu nduk, kamu kan masih kecil. Masa mau ke luar negeri?”
“daripada aku nikah di usia muda buk, mending aku kerja buat ibuk, buat bapak, buat adik juga” Aku berusaha meyakinkan ibuku.

Dan akhirnya ibu mengiyakan permintaan ku.
Selama 3 bulan aku berada di PT. Lalu bagaimana dengan usia? usia ku waktu itu masih 18 tahun. Sebenarnya minimal usia untuk masuk ke Taiwan adalah 21 tahun. Namun, itu adalah keinginan ku sendiri. Dan aku meminta orang PT untuk memalsukan identitas ku.
Dan akhirnya… Ya, aku sekarang bernafas di negara ini. Negara yang memberi ku banyak pengalaman. Di antaranya, kesabaran itu yang pasti dan paling utama. Rindu, rindu ayah dan ibu ku. Namun aku masih harus tetap berjuang untuk mereka. Karna tujuan utama ku bekerja adalah untuk mereka. Selama 3 tahun aku menyisihkan gaji untuk membuka usaha. Agar ada peningkatan ekonomi di keluarga kami. Alhamdulillah aku finish kontrak yang pertama. Sepulang dari Taiwan, aku berencana untuk menikah. Aku mengenal seorang laki-laki dari dunia maya. Laki-laki yang bekerja di negeri ginseng korea. Hampir setahun lebih aku menjalin hubungan dengan dia. Dan tentu saja, kami hanya berhubungan lewat dunia maya. Video call tentunya. Lelaki yg selalu menemani ku di setiap malam nya seusai aku lelah bekerja seharian.
Namun apa yang terjadi, sesampainya di Indonesia, aku mendapat kabar dari dia sendiri. Bahwa ternyata selama ini dia telah membohongi ku. Dia sudah berkeluarga, betapa hancur hatiku. Aku tak tau harus bagaimana, lalu aku berfikir untuk pergi ke Taiwan lagi. Sebenarnya ibu melarang ku , beliau meminta ku untuk di rumah saja merawat mereka yang sudah mulai menua. Tapi, aku masih tak terima atas apa yang aku alami.
“nduk, anaknya pak mantan lurah lagi nyari calon buat pendamping hidupnya. Kamu mau?” ibu dengan secara tiba-tiba membuyarkan lamunan ku.
“aku masih pengen kerja di Taiwan buk, besok aku harus ke PT untuk proses lagi. Buk, aku bisa nyari pendamping hidup sendiri buk. Tanpa ibu harus menjodohkan aku dengan siapapun. Aku kan cantik persis seperti ibu, jadi jangan khawatir kalau aku ga laku ya buk” jawabku sambil memeluk ibuku.

“kalau itu mau kamu, ibu bisa apa nduk? Ibu cuma bisa mendoakan yg terbaik buat kamu. Asal kamu ga macem-macem selama disana”
Dan aku menganggukan kepala tanda setuju.

Proses kedua di Taiwan di mulai, by the way… Aku sudah pakai identitas asli ku lo, aku sudah berusia 22 tahun. Dan aku minta balik majikan. Karena majikan ku ini sangat baik. Sehingga tak ada rasa ragu untuk ku.
Hari-hari ku lalui bersama kakek yg ku rawat. Lelah, kesal dan yang pasti selalu ada perasaan ingin menyerah. Namun, aku masih memikirkan masa depan ku dan adikku kelak.
Bagaimana pun itu, aku akan selalu ingat tujuan awalku datang kesini. Dan yang pasti untuk senyum kedua orang tua ku.
Masalah jodoh? Ayolah, jangan takut untuk tidak kebagian. Allah sudah menuliskan jodoh, rejeki, dan umur kita. Jadi tak perlu ragu kapan aku akan duduk di pelaminan. Hehehe

“kriing” dering handphone ku membuyarkan lamunan ku lagi.
Message from bapak: “kok cuma di baca nduk, gimana mau ga kamu di lamar sama dia? Dia orang baik banget, tanggung jawab insyaallah” dan aku hanya tersenyum kecil.

Lalu kembali ku buka tumpukan chatting dari para pujangga yg menawarkan diri untuk menikahi ku. 😄
Kalau tiba-tiba ada laki-laki yg ga kamu kenal menawarkan diri untuk jadi imam kamu, jangan langsung di terima. Biasanya calon makmum nya banyak 😄✌

Dan begitulah, tak ada yang tau bagaimana jalan hidup kita kelak. Selain hanya bisa menikmati atas apa yg Tuhan beri.