Arini / Hualien Ajariku Bersyukur / FLP Taiwan / tenaga kerja asing
Hualien Ajariku Bersyukur
Kupandangi hamparan sawah yang menghijau. Pepohonan tumbuh rindang di tepi jalan. Matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Merdunya kicau burung menambah hangatnya suasana pagi. Sungguh pemandangan alam yang sangan indah.
Sebelum memulai aktivitas pagi, aku biasakan melemaskan otot sebentar di teras rumah. Rasanya seakan tak percaya bahwa aku tinggal di pulau Formosa. Semua bayanganku tentang Formosa tak seperti yang ada di depan mataku. Cerita tentang keramaian kota Taipei. Megahnya gedung tertinggi 101 kebanggaan pulau Formosa juga tak pernah aku temui di sini. Rasanya seperti tinggal di kampung halamanku. Tapi semuanya tak pernah membuatku terasa sepi. Justru aku sangat merasa tentram dan damai.
Semua masalah dan beban di hati sudah sedikit terasa ringan. Aku akui aku memang egois. Tak pernah bisa menerima keadaan. Dulu keluargaku hidup tercukupi. Suamiku memiliki usaha tekstil yang sudah lumayan berkembang. Kami juga memiliki beberapa orang karyawan. Selang berjalan lima tahun, usaha suamiku bangkrut total. Semua karena suamiku terlalu percaya dengan patner kerja. Hutang-hutang kami semakin menumpuk. Yang tersisa hanya rumah yang kami tempati. Aku yang dari awal tak pernah hidup susah, tak bisa menerima keadaan ini. Seharusnya aku memberi semangat buat suamiku. Tapi tidak denganku, aku malah memilih pulang ke rumah orang tuaku. Akan tetapi suamiku tak pernah mengizinkan membawa putriku. Beberapa bulan di rumah orang tuaku, ayah dan ibu hanya menyalahkanku. Aku semakin terpojok oleh keadaan. Dan akhirnya aku memilih untuk menjadi TKI, atas dukungan dan saran dari teman sekolahku. Walau berat hati juga tanpa restu mereka aku tetap memilih pergi. Inilah sepenggal kisahku sehingga aku berada di bumi Formosa.
Hualien, kota kecil yang terletak di bagian timur kepulauan Formosa. Ternyata juga banyak tempat-tempat wisata yang sangat indah. Juga banyak dikunjungi oleh wisatawan asing dan juga penduduk lokal Taiwan. Sebagian besar penduduknya adalah warga Yen chu min. Begitu pula dengan majikanku.
Disinilah aku temukan kehidupan baru. Kehidupan yang masih sangat asing bagiku. Pekerjaan sehari-hariku hanya merawat Kakek yang hanya bisa duduk di kursi roda. Majikanku sangat menghargai hasil kerjaku. Meski aku kadang masih belum faham bahasa, mereka telaten mengajariku. Rasa syukur yang tak ternilai harganya.
Suatu peristiwa yang sangat mengesankan disaat pertama kali melihat tungku kayu bakar di dapur.
“Lina, di rumah kamu sana ada tidak seperti ini?“ tanya nyonya sambil menunjuk tungku kayu bakar.
“Ada Nyonya,“ jawabku agak keheranan.
“Ini dipakai untuk merebus daging dan air mandi, kalau kamu tidak bisa menghidupkan apinya nanti aku ajari,“ jelas Nyonya padaku.
“Bisa, bisa kok Nyonya,“ jawabku, padahal aku di Indonesia sudah jarang masak pakai kayu bakar.
Inilah keluarga besar kakek. Kakek mempunyai empat anak laki-laki. Semuanya tinggal tak jauh dari rumah Kakek. Mereka semua hidup rukun dan saling membantu. Kakek tinggal bersama anak bungsunya. Keluarga majikanku bukan orang kaya. Tapi mereka memiliki lahan pertanian yang luas. Sayur yang dimakan sehari-hari juga hasil dari menanam sendiri di belakang rumah. Juga merupakan tugasku, selain merawat Kakek aku juga bantu menyiram sayur.
Kesederhanaan yang dimiliki keluarga majikanku menjadikan motivasi buatku. Aku yang dulu suka hidup berfoya-foya, kini aku sadar bahwa semuanya cuma sesaat saja.
“Lina, sebentar lagi di sini akan ada acara.Kamu mau tidak didandani pakaian adat kami?“ tanya Tuan sambil mengeluarkan pakaian adatnya dari almari.
“Malu saya Tuan, saya khan jelek,“ sahutku.
“Siapa bilang kamu jelek. Kamu pasti cantik banget pakai baju adat,“ canda Tuan padaku.
“Iya Lin, nanti saya yang dandani. Kakek pasti senang melihatnya,“ Nyonya menimpali.
Aku cuma senyum-senyum terharu mendengar canda tawa majikanku. Begitu besarnya perhatiannya padaku. Kakek yang aku jaga juga sudah mulai cocok denganku. Memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Merawat orang tua, semuanya harus dengan sabar dan telaten. Apalagi Kakek tak seberapa bisa bahasa mandarin. Kadang beliau tak mengerti maksudku dan sebaliknya aku.
Acara yang ditunggu-tunggu telah tiba. Tuan dan Nyonya sangat antusias menyambut acara ini. Kebetulan tahun ini Tuan adalah pembawa acaranya. Tuan, Nyonya dan juga aku hari ini memakai pakaian adat warga Yen chu min yang tak beda jauh dengan pakaian adat suku Dayak di Indonesia. Dengan sedikit malu-malu aku berjalan di belakang Nyonya sambil mendorong Kakek. Sedangkan Tuan sudah berada di tempat acara sejak pagi. Kakek tersenyum riang melihat dandananku.
“Lina, nanti kamu cari tempat duduk paling depan ya!“ ucap Nyonya padaku.
“Iya Nyonya. Emang acaranya seru banget ya?“ tanyaku.
“Bukan cuma seru tapi heboh pastinya. Banyak perlombaan juga. Tahun ini saya ikut lomba nyanyi,“ jelas Nyonya senyum-senyum.
“Saya doain moga-moga Nyonya yang jadi juara,“ sahutku.
“Terima kasih banyak Lina. Kamu cari tempat dulu, aku mau menemui Tuan.
Aku segera bergegas membaur diantara para penonton. Banyak juga teman-teman seprofesiku yang berdandan sepertiku. Jadi aku tak perlu malu-malu lagi.
Hari ini Kakek kelihatan senang sekali, melihat ramainya para penonton. Acara sangat meriah sekali. Apalagi Tuan sangat berwibawa dalam memberikan sambutan demi sambutan.
Acara semakin heboh disaat lomba nyanyi dimulai. Inilah kehebatan warga Yen chu min, memiliki suara yang sangat merdu dan nafas yang panjang. Acara demi acara berjalan sangat teratur dan meriah.
Empat jam sudah berlalu, waktupun sudah mulai merangkak sore. Berkat doaku dan juga Kakek, Nyonya kali ini mendapat juara dua. Sorak sorai para penonton saling bersahutan, disaat sang juara naik ke atas panggung. Kakek sangat gembira sambil melambai-lambaikan tangannya, melihat menantunya menerima seikat bunga, piala dan juga uang. Acarapun usai, penonton mulai meninggalkan tempat itu satu-persatu. Aku juga segera pulang tanpa harus menunggu Nyonya dan Tuan.
Untuk merayakan kemenangannya Nyonya mengundang saudara-saudaranya makan malam dirumahnya. Rumah begitu ramai dengan anak dan cucu Kakek. Aku sangat gembira melihat mereka hidup dengan rukun. Kakek pun juga terlihat sangat bahagia melihat anak-anak dan cucu-cucunya.
**************
Satu tahun kemudian, Tuan terpilih menjadi kepala desa. Dari awal kedatanganku, memang Tuan orangnya sangat bermasyarakat. Selalu bersikap ramah dan sopan pada siapapun. Tak heran juga bila warga memilih Tuan sebagai kepala desa. Meskipun sudah menjadi kepala desa Nyonya dan Tuan juga masih bekerja di sawah. Kesederhanaan yang di milikinya tak pernah berubah.
Belum ada satu tahun menjabat kepala desa, keluarga Tuan ditimpa musibah. Anak laki-laki satu-satunya ditangkap polisi karena kasus narkoba. Acen namanya. Padahal setahuku Acen adalah anak yang baik. Dia kuliah di Taipei mengambil jurusan kesenian. Acen memiliki cita-cita menjadi penyanyi. Saat pulang ke Hualien, Acen sering mengisi lagu-lagu rohani di gereja. Tapi Tuan tetap percaya bahwa anaknya tak mungkin melakukan hal itu. Setelah divisum, hasil test tidak membuktikan bahwa Acen adalah pengguna narkoba. Menurut cerita, teman kuliah Acen hendak pulang ke Pingtung. Dia menitipkan satu kardus kecil yang katanya berisi sepatu. Acen pun juga tak memeriksa isinya. Dan dua hari kemudian tiba-tiba polisi menggerebek kamar kost Acen. Acen tak bisa mengelak, karena telah di temukan narkoba sejenis pil di dalam kardus tersebut. Saat ini Acen dituduh sebagai pengedar.
Bolak-balik Taipei-Hualien. Aku lihat kondisi Tuan cukup lelah. Tapi Tuan tetap terlihat tegar. Begitupun Nyonya, beliau juga tetap seperti biasa. Tiap minggu juga berkumpul bersama teman-temannya di gereja. Cuma Nyonya suka termenung sendiri kalau sedang berada di rumah. Jarang makan. Aku sangat prihatin melihat keluarga Tuan. Mungkin ini adalah ujian Tuhan buat keluarga mereka. Gunjingan dari warga sekitar mulai menusuk di telinga. Bahkan sudah merambah ke media koran dan juga televisi. Tapi saudara-saudara Tuan tiap hari selalu datang melihat keadaan Nyonya dan Kakek.
Kondisi Kakek semakin hari semakin memburuk. Sampai harus dirawat empat hari di rumah sakit. Tapi Kakek masih sangat beruntung, anak-anaknya sangat memperhatikannya. Tuan sudah tiga hari tidak pulang ke Hualien. Nyonya kelihatan sangat sedih sekali. Aku beranikan diri untuk menanyakan keadaan Acen yang biasa aku panggil Titi.
“Nyonya, gimana keadaan Titi?“ tanyaku.
“Hari ini sidang terakhir Lin, makanya Tuan sudah tiga hari tidak pulang. Doakan ya Lin, moga Titi bebas dari tuduhan,“ jelas Nyonya.
“Iya Nyoya, saya juga percaya Titi tidak bersalah. Nyonya makan dulu, ini sudah waktunya makan siang!“ tawarku.
“Nanti dulu Lin, saya mau istirahat sebentar. Kamu juga jaga kesehatan ya!“ ucap Nyonya sambil masuk ke kamar.
Aku hanya bisa berdoa, semoga keluarga ini segera bebas dari masalah. Kasihan Kakek, keceriaannya yang dulu pun hilang. Tersenyum saja jarang. Tapi aku percaya Tuan orang baik. Semua masalah akan segera berlalu.
*****************
Setelah melalui dilema yang sangat panjang akhirnya Acen bebas dari tuduhan. Acen tetap meneruskan kuliahnya yang sempat terkatung-katung. Tuan maupun Nyonya sudah terlihat tenang. Keadaan Kakek juga mulai membaik. Aku pun juga ikut gembira tentunya.
Satu hal yang lebih membuat keluarga ini bahagia dan bisa kembali tersenyum, Acen lolos dalam sebuah audisi. Dan bulan depan akan melanjutkan audisi berikutnya di China.
Sebuah rona kehidupan yang selalu memberiku memotivasi.
Tetap sejuk di tempat yang panas.
Tetap kecil walau menjadi besar.
Tetap manis walau terasa pahit.
Tetap tegar di tengah badai yang hebat.
Selalu bersyukur dalam setiap keadaan yang kita hadapi, semua akan indah pada waktunya.
Tamat
New Taipei City, 28-05-2016
.