Asih / IGTSB ( IBU GURU TAPI SEPERTI BURUH) / tidak ada / tenaga kerja asing
IGTSB ( IBU GURU TAPI SEPERTI BURUH )
Apa yang kalian fikirkan ketika anda mendengar kata GURU yang ada di fikiran anda.
Apa kah sama seperti yang saya fikirkan bawah GURU adalah sosok pahlawan tanpa tanda jasa, seseorang yang berpendidikan yang di hormati dan di segani oleh orang juga sejahtera hidupnya.
Namun beda dengan ibu guru yang satu ini mungkin ada yang seperti ini namun yang aku tau hanya beliau , darni nama seorang ibu guru yang mempunyai 7 orang anak . 5 anak nya masih duduk di bangku sekolah dan satu belum duduk di bangku sekolah dan satu nya lagi masih dalam kandungannya.
Beliau mempunyai seorang suami yang bekerja sebagai wirasuasta .
Dulu hidupnya lebih dari cukup semua serba ada . Ia selalu mengulurkan tangannya untuk saudara saudaranya dan orang yang membutuhkan uluran tangannya.
Namun beliau masih tinggal di perumahan, hingga suatu hari beliau berfikir untuk membangun rumah di desa kelahirannya. dari pinjaman bank yang sebagai jaminannya itu gaji perbulannya.
Tidak besar hanya 1 petak tanah, yang berisi 2 kamar , ruang tamu dan juga warung kecil untuk usaha beliau.
Di belakang rumah nya terdapat sebuah kandang kecil untuk menernak ayam dan bebek.
Kini hidupnya berdampingan dengan saudara saudaranya.
Namun ketika beliau tinggal di situ keadaan semakin hari semakin tak sama seperti dulu .
Warung nya pun semakin hari semakin sepih.
Hingga suatu hari suami beliau merantau ke kota mengadu nasib di kota sebagai kuli bangunan.
Namun kondisi beliau saat itu sedang mengadung anak ke terakhirnya.
Tiap bulan suami beliau datang dengan di sambut oleh anak anak nya penuh rasa rindu akan bapak nya.
Namun 3 bulan kemudian suami nya berkata bawah dia harus pergi merantau di pulau sebrang tugas dari atasannya hingga harus meninggalkan beliau dan anak anaknya yang masih kecil.
Saat itu usia kandungan masih 4 bulan namun apa daya harus beliau relakan suaminya pergi demi menyambung hidup keluarganya walaupun kondisi beliau dalam keadaan mengandung.
Namun tak di sangkah hari demi hari beliau menunggu kabar dari suaminya.
Namun tak kunjung datang kabar sedikit pun hingga saat itu beliau tidak punya uang sama sekali , hewan yang ia ternak pun sudah habis di jual untuk keperluan sehari harinya.
Sedangkan gajinya masih dalam pembayar hutang di bank yang uangnya untuk membangun rumah sederhana yang ia tempati itu.
hingga harus berhutang sana sini bakan kepada renternir agar bisa makan sehari harinya dan membayar sekolah anak anaknya.
3 bulan suaminya tak ada kabar namun ada kabar burung yang beliau dengar dari orang orang bawah suaminya telah menikkah lagi di sana.
Dan pada saat itu pula anak tertua nya terkena ledakan gas hingga membuat sekujur tubuhnya gosong.
Betapa sakit hati beliau dalam kondisi mengandung yang seharusnya penuh kasih sayang dari seorang suami namun harus di coba seperti ini.
Silih berganti ada saja satu di antara anak nya sakit, setelah anak pertama anak keduanya masuk rumah sakit bakan dokter bilang anak keduanya itu terkena gejala struk dini.
Malang niang baru berusia 18 harus menderita seperti itu , namun ingat cobaan tak akan melampaui batas kemampuan manusia.
Kondisi tubuh beliau kurus karna banyak yang ia fikirkan bakan janin yang ia kandung dokter bilang sangat lemah .
Namun allah ada melindunginya dan janin yang ia kandung, hingga tiba saat ia melahirkan.
Lahirlah seorang gadis kecil mungil manis dari rahimnya.
Hingga 2 bulan kemudian setalah kelahiran anak terakhirnya ini lah awal beliau menjadi buruh.
Saat itu liburan sekolah ia manfaatkan untuk menjadi Buruh serabutan , musim hujan ia menanam padi namun bukan sawah miliknya, mencari tutut, mencari ikan di sawah memancing di sungai bersama anaknya ,yang hasil untuk di jual ke orang . Dan mengumpulkan barang barang bekas untuk di tukar dengan uang.
Anak terbesar nya duduk di bangku SMA pun ikut membantu beliau mengerjakan semua itu ketika ia libur dan pada hari minggu.
sedangkan anak anak yang lainnya ada yang bertugas mencuci memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lain.
Seakan terlatih mandiri atas kondisi yang yang ada.
Dan berjalannya waktupun lupa akan sosok seorang bapak atau kepala keluarga seolah hilang di gantikan beliau sendiri bukan hanya sebagai ibu tapi juga menjadi seorang bapak bagi anak anaknya.
Hasil tutut dan ikan kadang juga sayuran sayuran yang ia peroleh dari sawah orang ia masak untuk di jual keliling desa olehnya.
Walaupun 10000 ribu 20000 ribu yang ia peroleh dari hasil jualan nya namun berarti baginya.
Dan untuk anak anaknya.
Namun ketika tutut atau ikan yang ia jual tidak terjual habis atau sisanya ia makan sendiri dengan anak anaknya.
Kadang anak nya bersekolah tanpa uang saku hanya di bekali nasi yang di bungkus dengan daun pisang dan setabur garam yang di masak dengan bawang.
Hatinya tak tega sebenarnya melihat anak anak yang masih kecil tak sama seperti anak anak yang lain .
Namun apa daya untuk beli beras pun kadang tak bisa Bakan harus berhutang di tetangga nya.
Bulan berganti tahun dan kini anak laki lakinya lulus SMA. namun harus terhenti pendidikannya sampai di sini saja karna ia melihat keadaan ibunya seperti ini ia memutuskan untuk menjadi kuli di pabrik padi.
Sedangkan anak ke 2 nya yang masih duduk di bangku SMP kelas 2 setiap pulang sekolah berinisiatif untuk menambah uang janjannya bekerja sebagai kuli cuci pakaian di tetangganya.
Musim pun berganti menjadi musim panas saatnya petani panen padi.
Beliau pun ikut bekerja di ladang sawah orang yang panen padinya.
Bakan beliau pun tidak hanya memanen
Namun sehabis ia memanen di sawah milik orang itu.
Dalam perjalanan pulangnya ia mengumpulkan sisahan sedikit demi sedikit padi yang bercerakan di jalan yang tak sengaja di buang untuk ia olah sendiri menjadi beras.
Bertahun ia merasakan hidup seperti itu .
Guru bukan guru , buruh tapi ia guru.
Bakan kadang cemohan , hinaan ,cacian , karna keadaan dan pakaian yang ia pakai hanya bekas pemberian orang lain kepadanya, semua itu selalu ia terima dengan lapang dada.
Hidup tanpa seorang suami pendamping hidup , imam yang seharusnya ada di posisi beliau bertanggung jawab sebagai kepala keluarga harus menghidupi 7 orang anak dan mendidiknya sendiri itu tidak mudah di lakukan seorang wanita.
Namun ia mempunyai harapan terhadap anak anak nya agar tetap sekolah dan sukses agar bisa hidup lebih baik dari yang ia alamin sekarang.
Dan meringankan sedikit beban yang ia pikul selama ini .
Hingga tak terasa tahun berlalu hutang pun sedikit demi sedikit terbayar .
Anak lelaki pertamanya kini sudah berkeluarga dan tak terasa anak gadisnya kini sudah lulus SMA.
Ia memutuskan untuk menjadi seorang TKW pergi keluar negri mengadu nasib jahu dari orang tua untuk mengurangi beban ibu.
Kini harapan nya ada pada anak gadis nya berharap bisa membuat keadaan lebih baik dari kondisi sekarang ini walaupun tanpa seorang ayah yang entah kemana pergi nya dan bagaimana kabarnya. Bertahun sudah menghilang.
Berharap ada pelangi setelah hujan badai yang ia hadapi.
Yang di ciptakan oleh anak gadisnya.
Gadis tersebut bernama CAHAYA.
Kini dia sudah berada di negri sebrang , namun sudah dua bulan tak ada kabar hingga ibu darni pun sampai jatuh sakit memikirkan anaknya.
Satu bulan kemudian anak nya mengasih kabar bawah dia baik baik saja dan akan mengirim gaji hasil kerja dia di rantau sana.
Dan uang pun telah di terima oleh ibu darni , uang tersebut di bayarkan untuk hutang nya dan juga untuk ibu darni manfaat kan mengelolah kehaliannya membuat kue , yaitu kue donat.
Bulan berganti tahun dalam malam ibu darni selalu merindukan sosok anaknya yang jahu di negri sebrang .
Kadang ketika ada berita tentang negara tempat anak nya mengadu nasib , rasa kawatir selalu menyelimuti nya.
Kini dia sudah tidak lagi bekerja sebagai penanam padi, pencari tutut, pengumpul barang bekas, kini dia mengelolah warung kecilnya berjualan sayuran sayuran dan sarapan pagi.
Sedikit berkurang beban dan hutangnya tinggal separuh berkat anak gadisnya.
Namun fisik nya lambat laun lemah karna akibat selama ini bertahun ia merasakan penderitaan, tak seperti Guru lainnya yang hidup mewah , serba ada seperti dulu yang beliau alami.
Jangan kan membeli seelai baju untuk biaya 5 orang anaknya yang masih kecil dan masih duduk di bangku sekolah pun kadang tak sanggup memenuhinya.
Kini usia nya 48 tahun sudah , dari jahu anaknya mendoakan atas bertambahnya umur ibunya. Dan tak di sangkah sebuah bingkisan besar datang kerumah nya.
Lalu ibu darni membuka bingkisan itu berlinang lah air matanya ketika melihat sebuah bukusan baju baru dan kue ulang tahun yang bertulis.
“IBU SELAMAT ULANG TAHUN, ADINDA MERINDUKANMU”
Butiran air mata pun terjatuh tak terasa di pipinya.
Karna selama ini tak pernah membayangkan untuk mengharapkan suatu perayaan ataupun kejutan seperti ini, karna beliau hanya mementingkan anak anaknya.
Tanpa memperhatikan dirinya sendiri. Sebuah telepon pun berbunyi.
Dan ternyata itu dari anaknya yang jahu di negri sebrang menanyakan apa kah ibu nya bahagia atas sedikit hadiah yang ia berikan untuk beliau.
Rasa bahagia bercampur sedih dengan semua yang ia terima hari ini , sedihnya karna ia harus berjahuan dengan anak gadisnya selama ini.
Dalam hatinya berkata ” ya allah , angkatlah derajat anak ku berilah kelancaran untuknya, kasih sayangmu kepadanya agar ia kuat menjalani hidup di negri orang sana , amin ya allah”.
Kini yang di tunggu ibu darni adalah mengobati rasa rindu akan anak gadisnya yang sudah dua tahun jahu di negri sebranng tanpa memikirkan lagi sosok seorang suami , seakan hilang di kehidupannya.