Sepenggal Catatan Pilar

Chen Aiya / Sepenggal Catatan Pilar / Tidak Ada / Jou Li San, adalah rangkuman dari keangkuhan yang tertera dari seluruh pilar-pilar tinggi Bandara Chiang Kai Shek, kejamnya udara dingin bulan Maret, sekaligus anggunnya kota Taichung yang kulewati. Dia wanita yang lincah dan cekatan, gaya bicaranya lugas. Bahasa tubuhnya mampu menghapus semua kecemasan yang telah mengendap sejak … Continue reading “Sepenggal Catatan Pilar”

Chen Aiya / Sepenggal Catatan Pilar / Tidak Ada /

Jou Li San, adalah rangkuman dari keangkuhan yang tertera dari seluruh pilar-pilar tinggi Bandara Chiang Kai Shek, kejamnya udara dingin bulan Maret, sekaligus anggunnya kota Taichung yang kulewati. Dia wanita yang lincah dan cekatan, gaya bicaranya lugas. Bahasa tubuhnya mampu menghapus semua kecemasan yang telah mengendap sejak aku terpuruk di Chiang Kai Shek semalam. Ia tak banyak bicara, tetapi jawaban-jawaban singkat yang ia berikan ketika aku bertanya, cukup bagiku sebagai penjelasan kebingunganku memandang rangkaian huruf-huruf cakar ayam yang berada di sekelilingku.
“Ini untukmu, untuk menekan rasa dingin” katanya menyodorkan sebuah permen, sesaat setelah ia mengantarku ke kepolisian setempat mengurus Alian Recident Card ku.
“Xie-xie”. Sahutku sesopan mungkin. Dan aku langsung menyesal memakannya. Rasanya sangat aneh.
Jou Li San menyetir sambil menggambarkan profil negaranya. Sesekali ia menolehku dan bertanya ‘apa kau mengerti apa yang sedang kubicarakan?’. Well, selama ia tidak bicara secepat kilat seperti itu, aku akan ‘agak’ mengerti. Lalu ia menawariku seorang penerjemah. Aku mengiyakan dan dia menghentikan mobilnya di ujung jalan.
Ia memperkenalkan diri dengan nama Li Bao Li — Indonesian girl with oriental face. Nona Li mendeskripsikan tentang perbedaan musim secara singkat, makanan khas, serta beberapa hal yang tabu untuk dilakukan terkait dengan budaya dan adat istiadat, tentu saja dalam bahasa Indonesia yang sangat kupahami. Ketika Jou Li San memberi isyarat padanya, Bao Li mengangguk, berdehem sebentar dan memulai sebuah narasi.

***

Tuan Zhang, mengangkat ketel air dari atas kompor listriknya. Dengan gerakan yang tak dapat dijelaskan, ia menuang air panas yang mengepul itu ke dalam poci naga kecil di hadapannya. Serta-merta ia menutupnya, membuang airnya, dan mengisinya kembali dengan air panas dari dalam ketel dan menutupnya kembali dengan cepat. Ia meraih timer elektrik di samping kirinya dan menekan tombolnya beberapa kali. Ia membuka laci meja dan mengeluarkan cawan-cawan kecil dengan sigap. Ketika timer berbunyi, Tuan Zhang menuang isi poci ke dalam cawan-cawan itu. Nyonya Lin, isterinya yang jelita membagikan cawan – cawan berisi air seduhan teh itu pada kami. Senyumnya belum terlepas sejak kedatangan kami tadi. Itulah jamuan minum teh pertamaku.
Sore itu, Tuan Zhang mempersembahkan pesona seni menyeduh teh pada kami. Pertama, butiran kecil teh ia tuang ke dalam poci kecil. Lalu ia menyiramnya dengan air mendidih dengan ketinggian tertentu. Ia akan membuang air dari dalam poci itu dengan ketinggian tertentu pula. Lalu mengisinya kembali dengan air mendidih dan menutup poci itu. Sekitar 3 menit kemudian ia menuangnya ke dalam cawan. Semuanya itu, dilakukan dengan gerakan yang seolah ia berkata kepada kami bahwa ia sangat menghormati teh dan segala perabot yang mendampinginya lebih dari apapun. Kelak, ketika kuhadiri jamuan minum teh yang lain, selama hidupku di sini, tak ada seorangpun yang bisa menandingi keanggunannya menyeduh teh.
Tuan Zhang menumpahkan isi cawan ke atas meja minum tehnya. Air tumpahan itu segera mengalir terhisap selang kecil di sudut meja dan berakhir di tempat sampah teh. Sebelum meja itu kering lagi, ia menyapu sisa air teh, dengan sebuah kuas dan menulis sebuah huruf dengan air teh itu.
“Ming, untuk Ming Yuin” ucapnya seraya menatapku. Aku tahu, Ming dalam tulisan itu berarti nasib.

Ia mengguyur lagi, dan menulis huruf baru.

Jou Li San segera mengambil alih pembicaraan ketika melihatku kebingungan. “Kami selalu mempercayai takdir dan jodoh. Semoga Pilar dan keluarga Tuan Zhang berjodoh dan bisa bekerja sama dengan baik”
Tuan Zhang mengangguk puas. Ia mengamatiku lagi.
“A Hui, tunjukkan padanya” katanya.
Lin Shu Hui tersenyum, jemari lentiknya melambai, memberi isyarat padaku agar mengikutinya ke dalam sebuah kamar penuh dengan tumpukan kardus. Lalu di kamar itu, aku ditunjukkan sebuah narasi baru.
“Pila, ( Kau tahu? Jika kau hidup disini kelak, jangan mencari huruf R dalam namamu ) ini cairan peritoneal dialysis, sebagai pengganti dari hemodialisis, jadi kita tak perlu repot-repot melakukan cuci darah di rumah sakit. Pertama, cairan konsentrasi 1,5 % harus kau gunakan pukul 8 pagi, konsentrasi 1,1 % pukul 11.30 siang, konsentrasi 2,5 % pada pukul 5 sore, dan konsentrasi 7,5 % pada pukul 21.30 malam”. Berkata begitu ia menunjuk-nunjuk masing-masing kardus.
“Catat semuanya di buku ini. Kau bisa lihat grafik bulan sebelumnya di buku itu, oke? berapa tekanan darahnya dan cairan konsentrasi mana yang harus diberikan ketika tekanan darah itu tidak stabil. “ ia memberiku sebuah buku yang berisi jurnal perawatan yang tentu saja berisi huruf cakar ayam. Perutku mengejang.
“Lihat, ada kalanya tensinya agak tinggi, kau harus periksa kadar cairan di tubuhnya. Jika terjadi demikian, maka gunakan konsentrasi 2,5% dua kali sehari.” Ia berhenti sebentar, “dan perlu kau ingat, dalam sehari, kau hanya boleh memberinya cairan sebanyak 500cc, tidak boleh lebih!” ada tekanan dalam kalimat terakhir ini. “Kau tahu akibatnya kalau melanggarnya?”
“Errr…beberapa bagian tubuhnya akan membengkak karena cairan” jawabku asal. Nona Li menerjemahkan kalimatku padanya.
Anehnya, Nyonya jelita itu mengangguk-angguk “Ini untuk gula darah” ia menunjuk satu kolom
“Ini untuk tekanan darah” ia menunjuk kolom yang lain
“Ini untuk cairan yang kau keluarkan dari dalam”
“Ini untuk cairan yang kau masukkan”
“Ini untuk obat dan suntikan yang kau berikan”
“Sebulan sekali, bawa buku ini saat membawa Ama check up ke Internist, Urologist, dan Neurolog di rumah sakit. Kami ingin mengetahui kinerjamu, selama 2 minggu kau akan tinggal disini dan setelahnya, kau dan Ama akan kami antar ke Changhua”
Cepat, tanpa jeda, tak paham sedikitpun kalau otakku yang telah mulai membeku ini perlu banyak waktu untuk menelaah setiap kata yang terlontar dari mulutnya. Aku melirik Bao Li, ia tersenyum-senyum aneh tak bisa kuartikan. Besar kemungkinan ia sedang menertawakan ketololanku.
Lin Shu Hui tersenyum sekali lagi, dan aku merasa tak enak. Ia mendekatiku dan mengerling, sambil berkata lembut : “Kau Paham?”

Aku melongo….(1)

***

Nenek Zhang , Ibu yang sangat dikasihi oleh Tuan Zhang yang dipanggil dengan sebutan Ama adalah wanita Hokkian dengan karakter yang sangat kuat. Karakter yang telah dikombinasikan dengan segala sakit yang telah di deritanya sejak ia berusia 35 tahun. Selama lebih dari dua dekade diabetes telah menggerogoti tubuhnya. Selama itu pula ia bergantung pada suntikan insulin. Dan semenjak empat tahun yang lalu, ia kehilangan satu ginjalnya. Sakit itu telah berhasil menumbuhkan sifat paranoid yang berlebihan dalam dirinya. Paranoid itu akan lebih berkembang pesat jika ia berhadapan dengan orang baru, orang baru dengan otak setengah membeku sepertiku.
Bahwa wanita Hokkian itu tidak bisa berbahasa mandarin, adalah neraka bagiku. Aku, sama sekali tidak mengerti Hokkian. Setiap ia merapalkan kalimat Hokkian, aku tak mengerti ia bicara apa, dan itu menjadi pemicu utama penyebab kemarahannya. Saat kusadari kalau tak ada satupun ejaan Hokkian di kamus tebal mandarinku, api nerakaku semakin menyala nyala.
Sementara aku frustrasi memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa berbahasa hokkian secepatnya, tampaknya Ama juga cukup frustrasi dengan ketololanku yang tak memahami apa yang dikatakannya. Tak cukup sampai disitu, aku juga harus memikirkan bagaimana bisa menyajikan menu makanan untuk Ama agar setidaknya apa yang kusajikan untuknya tidak menambah volume suaranya ketika memarahiku.
Selama 2 minggu Nyonya Zhang mengajariku bagaimana mengolah daging dan sayur yang baik dan benar setiap menjelang jam makan malam. Kalau boleh diringkas, gambaran pelajarannya seperti ini : Kau harus selalu ingat untuk menyajikan satu set menu makanan dengan baik. Satu set menu harus terdiri dari minimal 6 macam masakan yakni nasi, daging, ikan, 2 tumis sayuran berbeda warna, dan sup. Semua itu harus dibuat dalam waktu tidak boleh lebih dari 45 menit dalam porsi yang pas, dan disajikan dalam keadaan hangat. Kau tidak diperkenankan membuang sisa makanan. Jadi, pastikan terlebih dahulu berapa orang yang akan makan, agar kau tidak menyisakan makanan. Buatlah sup terlebih dahulu, yang membutuhkan waktu lebih lama membuatnya. Sementara itu, di tungku yang lain, goreng atau steamlah ikan. Jika kau menggoreng ikan cukup gunakan 3 sendok makan minyak goreng dengan api kecil. Setelah itu, uruslah daging, dan 2 macam sayuran mendapat giliran terakhir. Jangan harap kau akan menggunakan banyak kuali dalam membuat semua itu. Kau hanya diperkenankan menggunakan sebuah kuali untuk sup, dan sebuah wajan untuk yang lainnya. Wajan itu harus kau cuci setiap pergantian bahan yang akan kau masak. Jika semuanya sudah selesai atur di atas meja makan beserta mangkuk dan sumpit. Kau tentu harus menghafal mangkuk dan sumpit dari setiap anggota keluarga. Satu set menu itu, harus terdiri dari minimal 5 macam warna yang mewakili setiap bahan, agar berfungsi bagus di dalam tubuh. Putih untuk ikan, orange untuk wortel, hijau untuk sayuran hijau, coklat untuk daging, hitam untuk jamur, kuning untuk telur, merah untuk paprika dan lain sebagainya. Kau juga harus menyajikan menu yang bervariasi setiap harinya. Dan yang lebih penting, tiga kali waktu makan, jangan menggunakan nasi untuk sumber karbohidratnya. Maksimal, 2 kali waktu makan kau boleh menyajikan nasi.
Nyonya Zhang tersenyum padaku, mengerling, dan berkata lembut : “Mingbai, ma?”

Aku melongo…. (2)

***
Lalu tibalah dua minggu itu kepadaku. Puyan Township, Changhua County yang suram dan dingin menyambutku. Menyusuri jalan beraspal menuju rumah Ama, aku berusaha melawan perasaan tidak setuju di hatiku dengan membuang pandangan pada hamparan sawah yang mulai menguning di sisi kananku. Sejak lima belas menit yang lalu aku membuat sugesti baru pada diriku bahwa aku harus menyukai tempat ini, tetapi belum juga berhasil. Kulirik Ama yang duduk di samping kiriku. Aku merasa ia begitu riang sejak berangkat dari Taichung, dan astaga! sekarang di bibirnya kulihat sesungging senyum aneh, yang kalau dilihat dari kacamata seorang yang frustasi karena kegagalan adaptasi tahap pertama sepertiku, senyum yang mengekspresikan kegembiraan karena rindu yang terlampiaskan akan kampung halamannya itu tampak sebagai senyum penindasan terencana.
Aku tidak berlebihan jika menggambarkan Puyan adalah tempat yang tidak menyenangkan pada kesan pertamaku. Sisa-sisa musim dingin yang suram dan ribuan lalat yang ada telah berhasil menambah kesan buruk untukku. Ia membalut Puyan sehingga menampakkan Puyan sebagai tempat yang tidak higienis. Bukan main banyaknya lalat-lalat itu. Ama berkali-kali meneriakiku untuk jangan terlalu sering membuka pintu agar lalat-lalat itu tidak masuk ke dalam rumah. Mereka menempel memenuhi seluruh pintu kaca rumah Ama dan tentu saja meninggalkan jejak kotoran di sana. Pada kehidupan mendatangku nanti di sini, aku harus selalu mencuci pintu-pintu itu dari serangan pasukan lalat. Konyolnya, meski aku tahu dalam rentang waktu yang singkat pintu-pintu itu akan kembali menjadi habitat yang menyenangkan untuk ribuan lalat-lalat itu, aku tetap saja mencucinya. Lalat-lalat itu berasal dari peternakan ayam di depan rumah Ama. Angin yang berhembus tidak hanya membawa para lalat bermigrasi ke rumah Ama. Angin itu juga membawa bau kotoran ayam yang busuknya bukan main. Tentang peternakan ayam busuk itu, kau tentu tak akan menduga ada pemuda tampan nan rupawan di dalamnya, akan kuceritakan di bagian tersendiri kapan-kapan.

Rumah Ama terdiri di 2 bangunan besar. Aku sudah berkeliling melihat-lihat seberapa luas tempat yang mungkin harus kubersihkan setiap hari dari dua bagian itu. Aku juga sudah naik sampai ke lantai tiga dan cukup terpesona dengan perkiraan jumlah energi yang harus kukeluarkan setiap harinya untuk mengurus dua rumah ini. Ternyata itu belum seberapa, ketika kubuka pintu belakang untuk mencari dimana letak mesin cuci, aku tertegun. Di belakang rumah terhampar tanah lapang yang sangat luas. Tanah lapang itu ditumbuhi rumput dan bayam liar setinggi satu meter. Kutatap lekat-lekat kebun bayam liar mahaluas itu, aku langsung terjerat perasaan tak enak.
Rumah itu berhimpitan dengan garasi besar keluarga Hong. Di rumah keluarga itu ada seorang Wai Lao dari Philipina bernama Annet yang merawat Nenek Hong. Lalu rumah mereka berada di belakang garasi tersebut. Jadi kebun bayam liar Ama, yang juga ikut bersemi dengan hebatnya saat musim semi tiba, berada tepat di belakang rumah Tuan Hong. Seringkali, Annet menyapaku dari jendela lantai 3 ketika aku sibuk membabat bayam-bayam liar itu.
Puyan tidak memiliki Sakura atau semacamnya. Tetapi ada sebuah tanah lapang di sebelah rumah Keluarga Hong. Tuan Tan, anak dari Nenek A Hong yang sangat mencintai bunga telah menyebarkan benih bunga liar yang langsung tumbuh dengan suburnya. Ketika musim semi tiba, bunga-bunga liar itu serentak mekar, semburat warnanya mampu menghapus kesuraman Puyan. Lalu di tanah lapang yang lain, ia juga telah menebar bibit sawi. Musim semi menjadikan sawi-sawi itu berbunga kuning mencolok, kontras dengan warna hijau dan merah. Sangat indah. Tuan Tan mempersilahkan penduduk Puyan mengambil batang-batang sawi itu untuk di masak. Batang sawi itu rasanya manis sekali, semanis pemandangan yang telah dipersembahkan Tuan Tan di musim semi.
Oh ya, tentang bagaimana pada akhirnya aku bisa bicara Hokkian, sepertinya aku perlu menceritakan ini padamu. Saat itu dalam keputus asaanku, sebelum Nyonya Zhang pergi meninggalkan kami di sini, aku mengadu padanya. Bagaimana bila nanti aku tidak bisa mengerti Hokkian. Nyonya cantik itu tertawa, seolah itu bukanlah masalah besar dan berkata : “Tenanglah, kau akan bisa dengan sendirinya. Kau pikir darimana bayi akhirnya bisa bicara?”
“Dari mendengar” jawabku, tersadar akan sesuatu.
Nyonya Zhang terkekeh, aku heran, ia tetap cantik meski sedang terkekeh. “Dengar dan bicaralah…” ucapnya seraya melambai.

Tak ada buku, tak ada guru. Sesederhana itu?
Yes! Trust me, it’s work!!

***

“PI-LAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!”

What do you think about monster?
Tak perlu berpikir keras seperti itu….akan kuceritakan bagaimana bentuk dan rupa monster itu. Monster adalah makhluk yang sekarang berada tepat di hadapanku. Jenis kelaminnya wanita, berumur kira-kira 63 tahun, dengan tinggi badan 150 cm dan beratnya 45 kg, rambutnya putih abu-abu, gusinya selalu berdarah, dan sedang berteriak-teriak seolah gelombang tsunami akan segera melahapnya.
Sudah paham? Monster seperti orang kebanyakan bukan? Tidak! Tentu saja dia lebih mengerikan dari siapapun. Monster itu baru saja menggagalkan acara sikat gigiku dengan teriakan 7 skala richternya. Ketika kutengok di kamarnya, dia telah mengobrak-abrik seluruh isi lemarinya. Segala rupa pakaian tumpah ruah. Melihat kekacauan di pagi buta itu, aku nyaris tak percaya kalau pelaku dari semua itu adalah seorang wanita paruh baya penderita diabetes, anemia, gagal ginjal, dan baru saja terserang stroke seminggu yang lalu. Sudah agak mengerikan? Tunggu dulu…kau harus tahu yang ini…
“Ama….kau kenapa???”
Wanita yang kupanggil hormat dengan sebutan Ama itu menatapku tajam, mulutnya berkomat-kamit tak jelas seperti sedang merapal mantra. Melihatnya seperti itu mengingatkanku pada tokoh antagonis sinetron laga Misteri Gunung Merapi yang dulu sering kutonton setiap minggu malam bersama ayahku. Tokoh jahat itu seorang nenek tua yang sakti mandraguna yang tak mudah untuk dikalahkan. Sebenarnya aku tidak suka menontonnya, tetapi ayahku sangat menyukainya. Dan yang sebenarnya kutonton adalah euforia ayahku ketika ia terbawa alur cerita sinetron laga itu. Aku senang menemani ayahku waktu itu, tetapi aku tidak senang pada tokoh jahat itu, begitu pula sebaliknya. Kurasa, tokoh jahat itu juga tidak begitu senang padaku, karena aku selalu mencacinya dari depan layar TVku. Imajinasiku melayang tak karuan, tokoh jahat itu masih tidak terima atas cacianku semasa itu dan sekarang mengejarku hingga ke negeri ini untuk membuat perhitungan denganku. Di hadapanku, siap menghabisiku dengan rapalan mantranya. Aku ngeri, tapi tetap mempertahankan posisiku untuk tidak gentar menghadapinya.
“Kau yang mencuri 50.000ku !!” raungnya membahana.
Aku terhenyak. Merinding melihatnya terengah-engah. Segala rasa ketulusanku untuk terus menaruh hormat dan menyayanginya selama ini tiba-tiba menguap. Aku benci yang seperti ini. Bukan sekali dua kali kalau sakit yang dideritanya membuatnya paranoid padaku, selalu membuatnya menuduhku tanpa bukti. Tapi firasatku mengatakan kalau pagi ini masalahnya akan lebih gawat.
“Kenapa kau berdiri saja di situ?? Cepat bantu aku mencarinya!!!”
Detik berikutnya, yang terjadi adalah aku ikut menggila bersamanya mengobrak-abrik isi kamarnya. Seluruh isi lemarinya, kotak kaus kaki dan handuknya, kaca meja riasnya, tempat tidurnya, tak luput dari perhatianku. Dan selama kulakukan itu, dia tak berhenti meneriakiku. Tapi hasilnya nihil. Tak kutemukan 1 senpun disana.
“Tentu saja tak ada. Karena kau telah mengambilnya!!” sudah empat puluh satu kali ia mengatakannya.
“Ama, aku tidak mengambil apapun!!!” aku tak tahan lagi mendengarnya.
“Siapa yang tahu apa yang kaulakukan semalam???” cemoohnya.
“Periksalah dompetmu, barangkali kau lupa menaruhnya disana” kataku membela diri.
Dia mengacungkan dompet merahnya yang selalu tak terpisahkan darinya. “Kemarin kau mengantarku ke Bank dan mengambil 90.000. Dan di sini, di dalam dompet ini hanya tersisa 40.000.”
Oh, well. Aku sudah tahu duduk permasalahannya. Kupandang sekali lagi kekacauan yang dibuatnya bersamaku pagi ini. Aku tertegun. Kurasa aku telah membuang banyak waktu untuk meladeninya.
“Ayolah, sudah waktunya kucuci ginjalmu. Kau tak kehilangan sepeserpun dari dompetmu. Uangmu memang hanya 40.000 bukan 90.000”
“Karena kau mengambilnya!!! Tunggulah sampai Nona tahu” cerocosnya ketika aku memeriksa tekanan darahnya. Yang dimaksud Nona adalah putri bungsunya.
Dia merapal beberapa kosa kata hokkian yang paling kasar saat kupapah tubuhnya ke dalam ruang steril. Ketika itulah pintu depan berderit. Aku mendengar khas langkah kaki Nona Zhang yang di seret. Ama pasti telah menelponnya untuk datang.
“Masuklah” teriakku ketika dia mengetuk kamar steril.
Ia masuk tanpa banyak bicara, memakai maskernya seperti kami dan menatap tajam padaku.
“Ibuku bilang…”
“Aku mengambil 50.000 darinya” potongku.
Ia mengangguk.
“Kemarin aku mengantarnya ke Bank, Ama mengambil 40.000. Tapi dia pikir dia mengambil 90.000.
“Aku mengambil 90.000, kau tahu itu!!!” potong Ama.
Aku dan Nona menoleh bersamaan kepadanya.
“Nona, pergilah ke kamarnya dan periksa buku tabungannya.” Kuberitahu kau, saat seperti ini terjadi padamu, kata sanggahan darimu tidak akan berlaku untuk pembelaanmu.
Nona Zhang meninggalkan kami dan rapalan mantra Ama dimulai kembali.
“Dengar!” kata Ama. “Nanti kalau di buku tabunganku tertulis 90.000 kau harus mengembalikan padaku 50.000”
Mendengarnya, perutku melilit. Seketika terlintas ide sinting di kepalaku. Aku menahannya untuk tidak melakukannya tapi tak berhasil.
“Dan kalau tertulis 40.000??” tanyaku culas. “Kau akan memberiku 50.000. Begitu baru adil kan??”
Dia diam, tapi anehnya setuju denganku. “Ingat, kau tak boleh mengkhianati perjanjian ini.” tambahnya.
Aku memandangnya sekali lagi. “Baiklah. Aku tak akan mengkhianati perjanjian kita.” Sahutku, sudah benar-benar sinting.
Pada akhirnya, dialah yang mengkhianatiku. Ketika Nona Zhang menunjukkan buku tabungan itu kepadanya, di sana benar-benar tertulis 40.000. Dia terpukul dengan kekalahannya, tapi tak sudi minta maaf padaku. Tapi aku tak peduli. Aku tahu, Ama tak akan pernah membayar 50.000 padaku atas kekalahannya, aku juga tak peduli. Karena yang paling penting adalah, secara mendadak, rasa benciku yang terkumpul tadi pagi untuknya hilang entah kemana. Kutatap wanita renta itu. Keriput, lelah, tak berdaya.
“Ama.” panggilku.
Ia menolehku dalam diam.
“Maafkan aku” kataku akhirnya.
Ternyata aku salah, dia bukan monster….

Puyan, Oktber 2007

Note :
Peritoneal dialysis : metode cuci darah dengan bantuan membran peritoneum ( selaput rongga perut ), jadi darah tidak perlu dikeluarkan dari tubuh untuk dibersihkan dan disaring oleh mesin dialysis.
Wai Lao : Pekerja asing
Internist : Dokter spesialis penyakit dalam
Urologist : Dokter spesialis urologi (cabang ilmu kedokteran yang mempelajari kelainan saluran kemih dan genital)
Neurolog : Dokter spesialis saraf