36 Purnama di Taiwan

Dwi Setyawaningsih / 36 Purnama di Taiwan / Tidak ada / Purna BMI 36 Purnama di Taiwan “Rangkaian mimpi terpahat dalam setiap do’a. Taiwan, negeri yang 36 purnama kedepan akan menjadi pijakan kaki melangkah. Negeri yang entah akan mendayungkan ribuan mimpi ke seberang atau menenggelamkannya sebelum sampai ke tujuan.” *** Alam beringsut menuju pagi, detak jarum jam seolah … Continue reading “36 Purnama di Taiwan”

Dwi Setyawaningsih / 36 Purnama di Taiwan / Tidak ada / Purna BMI

36 Purnama di Taiwan
“Rangkaian mimpi terpahat dalam setiap do’a. Taiwan, negeri yang 36 purnama kedepan akan menjadi pijakan kaki melangkah. Negeri yang entah akan mendayungkan ribuan mimpi ke seberang atau menenggelamkannya sebelum sampai ke tujuan.”
***
Alam beringsut menuju pagi, detak jarum jam seolah menjadi musik yang setia mengiringi pergantian hari. Cuaca masih dingin pagi itu, cahaya fajar dan kabut putih mulai merambahi pematang sawah. Seperti hari-hari sebelumnya, saat pagi menjelang Arin pun sudah siap memulai hari. Memasak, menyiapkan sarapan untuk bapak dan adiknya serta pekerjaan rumah lainnya. Seiring waktu berjalan tanpa kehadiran seorang ibu, keadaan tersebut mampu mendidiknya menjadi sosok gadis mandiri.
Jarum jam tepat menunjuk angka 9, Arin pun bersiap melangkahkan kaki dari rumah ke rumah untuk mengais rezeki. Berharap di antara deretan rumah tersebut ada yang membutuhkan jasanya untuk mencuci pakaian, menyetrika atau pekerjaan lainnya. Ia ingin membantu meringankan beban ekonomi keluarga yang selama ini hanya bertumpu pada pekerjaan bapaknya sebagai kuli panggul di pasar.
Empat tahun berlalu sejak kepergian ibunya. Kala itu ibunya mengatakan akan merantau ke Taiwan, dengan harapan negeri itu akan menjadi pelabuhan mimpinya mewujudkan kehidupan lebih baik saat kembali ke tanah air kelak. Sejak tahun pertama kepergian ibunya, Arin tak pernah mengetahui kabar keberadaannya. Meski dari angin yang berhembus atau dari kicauan burung yang hinggap di dahan pohon sebelah rumahnya. Hanya do’a yang mampu terucap agar dimanapun ibunya berada Tuhan selalu bersamanya. Sejak itu pula Arin memutuskan berhenti sekolah, supaya adiknya tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Bulan bulat penuh menggantung di langit malam, pendar cahayanya seolah hendak mengganti malam menjadi siang. Arin tertegun menatap cahayanya. Ingatan tentang ibunya berkecamuk dalam jiwa. Terbersit keinginan mencari keberadaannya di negeri seberang. Sayup berbisik dalam benak bahwa Ia harus pergi, meski berat hati meninggalkan bapak dan adiknya. Fikiran itu terus berkelindan hingga membuatnya gelisah. Perlahan bibirnya melafadzkan dzikir, berharap hatinya menuai ketenangan.
Arin17 tahun kala itu, usia dimana seharusnya Ia bisa menikmati masa remaja dan menuntut ilmu tanpa beban. Garis kemiskinan yang karib bersahabat, memaksanya melewatkan masa-masa itu. Berbekal tekad dan do’a yang tiada terputus, serta restu bapak dan adiknya, Arin mendaftarkan diri menjadi buruh migran di Taiwan.
Bagi Arin, hidup adalah sebuah pilihan. Begitupun ketika Ia memutuskan menjadi buruh migran, berarti Ia harus siap dengan segala resiko yang akan dihadapi. Kerap kali nyalinya ciut, mengingat dirinya hanya lulusan sekolah dasar dan baru pertama akan menginjakkan kaki di negara asing yang tentu saja berbeda adat budayanya. Ditambah ketika mendengar kisah tragis para buruh migran yang teraniaya oleh agensi dan majikan, cacat akibat kecelakaan kerja, bahkan tak sedikit yang pulang sebelum kontrak berakhir sebagai jasad. Tapi tekad untuk menemukan ibunya, keinginan memperbaiki kehidupan keluarganya, keinginan melanjutkan sekolah kembali, merontokkan segala kekhawatiran itu. Ia yakin Tuhanlah pelindung terbaiknya.
***
Dimanapun kaki berpijak disitulah langit dijunjung, dan hukum tetap akan berlanjut. Hidup dibalik jeruji besi sudah tentu tidak mengenakkan, segala akses kehidupan dibatasi, cita-cita mengais rezeki pun pupus sudah. Ia tak pernah menyangka bahwa mimpinya akan berakhir di ruangan berlangit-langit rendah, berbau lembab dengan tatapan sendu para penghuninya. Jerat hukum telah dijalani, dalam lorong waktu yang meski bergerak tapi baginya tetap saja diam.
Yana seakan terisolasi dalam lembaran kenangan peristiwa silam. Peristiwa yang membawanya berdiri dibalik barisan jeruji besi. Berjuang untuk menghapusnya, berharap agar sepekat gelap didalam lorong itu berganti dengan segurat sinar yang mampu memendarkan kembali cahaya mimpinya. Mimpi yang disulamnya bersama keluarga di tanah air silam. Yana tahu itu hanya angan-angan kosong, tapi Ia ingin ketegaran itu tetap kokoh bercokol di hati, supaya lapang dadanya menghadapi semua.
Masa hukuman 20 tahun menjadi keputusan mutlak baginya. Baginya yang sebenarnya sedang membela diri yang terancam kala itu. Masih tergambar jelas dibenaknya, peristiwa yang benar-benar memutus garis kehidupannya. Sejak vonis itu ditetapkan, dirinya sendiri telah menganggap bahwa jiwanya pun telah mati. Dan seseorang yang tiba-tiba hadir mampu menyalakan kembali binar-binar kehidupannya.
Taiwan, negeri yang padanya dititipkan rangkaian cita untuk kedua putri juga suaminya, negeri yang menjanjikan kebaikan mimpi seperti para kerabat yang telah menuai keberhasilan. Awal musim dingin menyambut kedatangannya, di negeri dimana angin topan berhembus setiap tahunnya. Tiga bulan untuk pekerjaan pertamanya, menjaga seorang nenek berumur 90 tahun, yang hidupnya bergantung pada peralatan medis. Keluarga majikan yang baik dan pengertian adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Tapi semua tidak berlangsung lama, nenek yang dijaganya meninggal dunia. Sesuai prosedur perjanjian kerja, jika pasien yang dirawat meninggal maka otomatis kontrak kerja pun terputus. Dan mau tidak mau Yana harus berganti dengan pekerjaan baru. Sisa potongan biaya agensi yang masih harus diangsur, memaksanya untuk menerima pekerjaan apapun yang diberikan tanpa punya pilihan untuk berkata tidak setuju. Tak bisa dipungkiri bahwa buruh migran ibarat pemain dalam pertunjukan yang digerakkan agensi, seringkali tak punya kesempatan untuk membela diri karena dililit aturan agensi yang terkadang tidak jelas, seperti ancaman dipulangkan. Hanya sebagian kecil agensi yang ada sebagai pengayom, dan sisanya sekedar meraup untung dari pekerja tanpa memperjuangkan hak-haknya.
Pekerjaan keduanya di sebuah peternakan sapi perah. Awal mimpi buruk dalam drama kehidupannya. Tak pernah terfikir bahwa pekerjaannya kali ini Ia harus mengurus 150 ekor sapi. Pukul 3 dini hari, ketika hitam malam masih pekat menyelimuti, ketika kebanyakan orang semakin lelap dalam buaian, Yana sudah harus menyongsong harinya. Memerah susu, memberi makan sapi, membersihkan kandang. Kemudian beristirahat sebentar di tengah hari, dan melanjutkan pekerjaannya hingga langit benar-benar gelap. Tepat pukul 9 malam Yana telah menyelesaikan semua pekerjaan. Beristirahat di sebuah ruangan kecil di samping kandang. Ruangan yang lebih layak disebut gudang karena bercampur dengan peralatan peternakan. Ia rebahkan tubuhnya pada sehelai tikar yang menghampar dilantai, melepas segala penat, berharap esok mampu bangkit menyongsong hari kembali.
Tiga bulan Yana bertahan di peternakan dan tiga bulan juga pengaduannya tak mendapat jawaban. Bahkan ketika bertanya tentang pekerjaan baru yang dijanjikan agensi, hanya sumpah serapah yang didapat. Yana tak mampu bertahan lagi, eksploitasi waktu, beratnya pekerjaan, majikan yang tak segan memukul saat dirinya melakukan kesalahan, janji agensi dan perlindungan yang tak kunjung didapat. Semua itu membuat kondisi tubuh dan kejiwaannya semakin melemah, hingga memaksanya untuk meninggalkan peternakan.
Langit sore seakan dikurung mendung, sesekali angin berpusar menanggalkan daun-daun dari dahannya. Senada dengan dirinya yang terpaksa memupuskan segala cita. Menjadi seorang tenaga kerja kaburan, tentu bukan potongan kisah yang diinginkan siapapun, termasuk Yana. Yana sudah paham resiko apa yang akan dihadapi saat Ia memutuskan menjadi tenaga kerja kaburan, kehilangan hak asuransi kesehatan, kehilangan ijin tinggal, kehilangan hak perlindungan, jika tertangkap harus membayar denda 30.000 sampai 150.000 NT, dipenjara dan akan dideportasi serta tidak boleh bekerja lagi di Taiwan. Hal itulah yang selalu diperingatkan berulang-ulang oleh agensi di Indonesia dulu. Tapi sekali lagi Yana tidak punya pilihan, segala akses komunikasi yang terampas membuatnya tidak tahu kemana lagi tempat berlindung.
Yana pasrah dengan keadaannya, mengikuti kemana kakinya melangkah. Berjalan dari satu taman ke taman lain berharap mendapat informasi dari sesama tenaga kerja Indonesia yang biasa berkumpul di taman kota. Hingga akhirnya Ia bertemu dengan Tina, wanita Indonesia yang bersedia menolongnya. Tina membawanya ke sebuah kantor agensi resmi yang secara sembunyi ternyata merangkap sebagai agensi ilegal, menawarkan pekerjaan dengan syarat bahwa Yana harus membayar uang muka senilai 6000 NT sebelum memulai bekerja. Dan saat bekerja nanti Yana harus membagi hasil gajinya setiap bulan kepada agensi ilegal yang jumlahnya diluar batas kewajaran. Sudah jatuh tertimpa tangga, begitupun keadaan Yana. Tiada pilihan lain selain menerima, karena hidupnya harus tetap berlanjut.
Hari-hari dilaluinya dengan berganti-ganti pekerjaan. Jika keberuntungan berpihak Yana bisa bertemu dengan majikan yang baik, dan bukan sekali dua kali Yana pun mendapat majikan yang kasar dan memperlakukannya dengan tidak manusiawi, disiksa, dipukul, bahkan pernah disekap tanpa diberi makan. Hingga akhirnya harus lari dan lari dari satu tempat ke tempat lain. Terkadang lelah menyelimuti, memaksanya memutar potongan kisah hidupnya di bumi pertiwi. Seketika airmatanya pun tumpah tak terbendung.
“Diri juga ingin pulang,” lirihnya.
Pekerjaan terakhir yang membawanya berada di balik jeruji pesakitan. Yana tinggal di sebuah apartemen sederhana di pinggiran kota Taipei, menjaga seorang nenek yang terkena stroke. Majikan Yana, Tuan Huang hanya sesekali datang berkunjung. Yana bertekad setelah uangnya terkumpul untuk membayar denda dan tiket pesawat, Ia ingin menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengurus kepulanganya ke tanah air.
Tak satupun dari kita bisa memilih keadaan. Di hari naas itu, tiba-tiba seorang lelaki masuk ke kamar Yana, mencengkeram tubuhnya dan menyeretnya ke ranjang. Yana yang kaget tak bisa sedikitpun bergerak karena cengkeraman lelaki itu teramat kuat, nenek yang duduk di kursi roda hanya bisa berteriak “Uhh..uh.” Lelaki itu bahkan tak memperdulikan teriakan nenek yang jika diterjemahkan mungkin akan berarti jangan lakukan. Yana berteriak, memohon pada lelaki itu untuk menghentikan perbuatannya. Lelaki itu mengatakan bahwa Tuan Huang telah menjual Yana padanya, dan dirinya bebas melakukan apapun pada Yana. Sontak Yana tersadar bahwa dirinya telah menjadi korban trafficking, resiko terbesar yang pasti dihadapi tenaga kerja kaburan sebagai pintu utama perdagangan manusia.
Nenek semakin keras berteriak, tapi lelaki itu pun tetap tak mengindahkan. Yana berhasil melepaskan diri setelah menendang diantara kedua paha lelaki itu. Ia terus berteriak berharap ada yang mendengarnya, berlari mengitari ruangan mencari tombol darurat agar bisa terhubung dengan petugas apartemen untuk meminta pertolongan. Lelaki itu terus mengejarnya, Yana berlari menuju belakang kursi roda nenek. Nenek masih terus berteriak di sisa kekuatan suaranya. Lelaki itu semakin beringas, memukul dan mendorong nenek hingga terjatuh dan berdarah. Yana semakin terdesak, nenek sudah tak sadarkan diri. Ia pun tak tahu apa nenek masih hidup atau tidak. Pengaruh alkohol begitu jahat menerkam kesadaran lelaki itu. Ia menendang Yana dan menyeretnya. Darah terlihat mengalir dari hidung Yana, Ia menjerit kesakitan, berusaha berontak dalam ketidakberdayaan. Diraihnya tongkat nenek disamping kursi roda dan memukulkannya tepat mengenai kepala lelaki itu. Seketika lelaki itu melepaskan tangannya. Yana berlari menuju pintu berusaha membukanya, tapi pintu pun telah terkunci. Lelaki biadab itu sudah semakin mendekat dengan tatapan mata penuh dendam. Yana yang panik, tak sadar bahwa lelaki itu siap mengayunkan tongkat di kepalanya, seketika darah pun mengalir dari sela-sela rambutnya. Yana yang sudah benar-benar terancam nyawanya, sigap merampas tongkat yang dipegang lelaki itu dan memukulkan berkali-kali tepat dikepala bagian depan. Seketika lelaki itu limbung, jatuh tersungkur di lantai. Darah semakin deras menganak sungai dari kepalanya. Yana tak bisa berkata apapun tentang kengerian itu, Ia bersumpah pada Tuhan bahwa tak ada niat dalam hatinya untuk membuat orang lain celaka. Tapi sekali lagi tak seorang pun bisa memilih keadaan. Dan Lelaki itu telah mati.
Langkahnya terasa lemas, airmata semakin deras tak terbendung. Ia tersadar dari kepekatan hatinya, berusaha membuang kilatan keputusasaan dan perih akibat luka yang menganga. Tiba-tiba Ia melihat ruang kosong antara dirinya dan orang-orang yang berdiri di depannya, Ia pasrah saat polisi itu memborgolnya.
***
Tak terasa waktu melesat begitu cepat. Rentang masa itu pula Tuhan telah mendayungkan serangkaian mimpinya ke seberang. Arin bahagia dengan pekerjaannya di Taiwan. Bersyukur di tengah keberagaman, perbedaan adat juga kepercayaan, majikannya benar-benar memperlakukannya dengan baik. Bahkan Arin diijinkan untuk melanjutkan pendidikannya di tingkat kesetaraan yang diselenggarakan oleh perwakilan pemerintah Indonesia setiap hari Minggu. Arin juga memanfaatkan liburnya untuk bergabung dengan berbagai organisasi orang Indonesia di Taiwan, mengikuti kursus bahasa Mandarin, bahasa Inggris, juga pelatihan kewirausahaan. Arin kagum dengan kawan-kawan sesama buruh migran, disela kesibukannya bekerja masih bersemangat melanjutkan pendidikannya di tingkat kesetaraan maupun universitas, sukses berwirausaha dengan berjualan online, membuka usaha katering, menyebarkan pesan-pesan kebaikan melalui organisasi keagamaan, mengejar prestasi dalam dunia seni, olahraga dan sastra. Semua seolah membuktikan bahwa buruh migran bukan hanya cukup disebut pahlawan devisa, namun mereka adalah pahlawan yang tak kenal kata menyerah, mampu berprestasi dalam berbagai bidang meski terbatas ruang dan waktu.
Lie Hua putri Nyonya Chen, gadis 15 tahun penderita retardasi mental. Sepintas Lie Hua seperti kebanyakan remaja pada umumnya, tumbuh besar dan cantik. Tapi jika dicermati seksama, Lie Hua tetaplah gadis kecil dan usianya seakan terkunci disitu. Keterbatasan yang membuat Nyonya Chen menyekolahkan Lie Hua di sekolah kaum difabel, agar Ia tidak merasa sendiri dan bisa berkomunikasi dengan orang disekitarnya.
Setiap sore tiba, Arin akan membawa Lie Hua berjalan-jalan di sekitar apartemen, mengajaknya bercerita tentang banyak hal. Tentang ibunya, kehidupannya di kampung dulu, tentang cita-citanya, tentang rasa sayangnya pada Lie Hua. Dan Lie Hua akan menimpalinya dengan ceracauan yang tak jelas. Saat Arin tertawa maka Lie Hua pun akan ikut tertawa. Arin ingin membiasakan Lie Hua berinteraksi dengan dunia luar. Tubuh Lie Hua yang rentan sakit jika terlalu lelah berjalan, mengharuskan Arin menggunakan kursi roda di setiap aktivitasnya. Lie Hua juga tak bisa mengeluarkan kata-kata dengan baik dari pita suaranya. Awalnya Arin sulit mengerti, tapi dengan mengikuti aktivitas tubuh Lie Hua, Arin berusaha memahami maksud dari setiap gerakannya. Setiap hari semua berjalan seperti itu, lama-kelamaan Arin pun terbiasa. Bagi Arin, Lie Hua begitu manis dan dianggapnya seperti adik sendiri. Meski emosi Lie Hua sering tidak stabil tapi Arin tetap sabar dan lembut memperlakukannya. Dan Lie Hua pun begitu sayang kepada Arin.
Nyonya Chen sudah menganggap Arin sebagai bagian dari keluarga kecilnya. Sejak kedatangan Arin, Lie Hua mengalami banyak hal luar biasa. Ia sudah mau tersenyum kepada orang-orang dan membalas sapaan meski dengan mengeja, Ia bisa makan sendiri meski berserakan, dan Ia juga sudah mandiri dengan aktivitas pribadinya di toilet. Arin hanya cukup mengantar dan menunggunya di depan pintu. Saat malam Arin akan membacakan dongeng dan memutarkan lagu pengantar tidur. Dengan begitu Lie Hua akan cepat terlelap. Nyonya Chen menaruh harapan besar pada Arin, karena tiada kebahagiaan berarti selain melihat putrinya berkembang.
Hari libur adalah hari berharga baginya, menuntut ilmu, melakukan serangkaian kegiatan dan mengunjungi ibunya adalah satu hal yang sangat dinanti. Setelah menyiapkan sarapan dan obat untuk Lie Hua, kemudian Arin akan berpamitan padanya dan mengatakan akan pulang sebelum jam makan malam tiba. Dengan senyum lebarnya Lie Hua akan memeluk Arin dan melambaikan tangannya.
Dua pekan sekali di hari Minggu, Arin akan berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan di kawasan Tucheng. Pukul 9:30 Arin telah tiba di pelataran gerbangnya, membeli 2 porsi makanan untuk ibunya. Kemudian masuk menuju ruang tunggu mengantri di loket pendaftaran. Menyerahkan kartu identitas, nomer telepon dan nomer narapidana yang akan dikunjungi. Setelah itu makanan yang dibawa akan diambil petugas dan Arin akan menerima secarik kertas yang berisi gelombang kunjungan dan nomer loket kaca.
Setelah beberapa kali datang, Arin faham dengan satu dua peraturan pengunjung yang diterapkan. Seperti jenis dan berat makanan yang dibawa, tidak boleh melebihi 2 kg. Juga sesuatu yang ingin diberikan kepada narapidana tidak semua bisa diijinkan, seperti majalah, karena dikategorikan sarat informasi dan seorang narapidana dilarang mendapat informasi keadaan diluar lapas. Bahkan buku bacaan pun tidak boleh ada bekas coretan, karena dikhawatirkan coretan tersebut adalah kode petunjuk rahasia bagi narapidana.
Ketika libur Arin akan menuju tempat-tempat utama yang banyak dikunjungi pekerja Indonesia, seperti main station, masjid atau taman kota. Disitu Arin akan meneliti wajah-wajah yang lewat dihadapannya dan menunjukkan foto ibunya. Arin juga mencari informasi melalui kawan-kawan di organisasi dan memposting foto ibunya di komunitas media sosial. Waktu melaju merambat hari, berbilang pekan dan bulan. Kabar keberadaan ibunya pun mulai tersemat. Tiba-tiba telaga menggenang di kedua bola matanya, perlahan meneteskan gerimis. Saat itu Ia pun merasakan kepedihan yang sama dengan kisah hidup wanita yang dicintainya. Pertemuan itu akan menjadi hal yang berharga. Mendekap kembali sosok yang paling dirindukannya setelah hampir 7 tahun Ia belajar tegar dalam cekik kehilangan.
Wanita berwajah teduh itu terlihat takjub saat melihat Arin. Pastinya Ia tak bisa menyangka sama sekali bahwa putrinya yang ditinggalkan beberapa tahun silam mampu menemukannya. Arin faham, kejutan ini pastilah membuat hati wanita itu diliputi keharuan yang tak bisa diungkapkan. Sebungkus airmata yang disembunyikan dalam senyumnya pun tumpah. “Ibu,” suara Arin mengambang ringan di bawah lanskap langit-langit ruangan itu, didekapnya tubuh ibunya. Ia tak menyangka bahwa wanita yang dicarinya itu tengah pasrah menjalani sisa hidupnya di balik jeruji besi.
Arin terbuyar dari lamunan saat nomer antriannya disebut oleh alat pemanggil otomatis. Segera diusap airmatanya karena Ia tak ingin menunjukkan wajah sedih saat bertemu dengan ibunya. Arin beranjak menuju ruang pertemuan, ruangan dengan sebaris kamar kaca seperti warung telepon di tanah air. Terlihat Yana ibunya telah duduk di sisi lain di balik kamar kaca nomer 20. Arin pun masuk menuju kamar kaca tersebut. Tak ada yang berubah dalam diri ibunya, meski harapannya telah terputus tapi Ia tetap berikan senyum sumringahnya. Saat semua pengunjung sudah siap dalam ruangan kaca masing-masing, petugas pun meneriakkan aba-aba untuk memulai percakapan melalui gagang telepon. Sepuluh menit, waktu untuk menumpahkan segala kerinduan, menatap wajahnya dari balik kaca, mendengar setiap penggalan kalimatnya. Arin tahu ibunya adalah wanita yang tegar, dan ada sebuah alasan kuat yang mendasari setiap kata yang meluncur dari bibirnya.
“Saat engkau kembali ke tanah air nanti, biarkan kisah ini menjadi rahasia. Biarkan bapak dan adikmu menganggap bahwa Ibu telah mati.” Yana terdiam sesaat, airmata terlihat menetes di wajahnya. “Tak seorang pun dari kita tahu dimana bisa ditemukan batas antara kehidupan dan kematian. Meski melambungnya keinginan ini, Ibu tetap harus memilih satu kenyataan getir yang tak sanggup Ibu elakkan. Ibu pun tak ingin dikubur di daratan yang jauh ini, Ibu ingin mati di tanah air dimana kaki ini pernah berlindung di bawah atap langitnya, tapi…”
Sepuluh menit pun seolah terlibas pedang tak tersisa. Airmata merinai di wajahnya yang ayu, perpisahan dengan ibunya. Bisikan-bisikan di balik gagang telepon itupun terputus saat petugas meneriakkan aba-aba berhenti.
***
Udara dingin membalut kelamnya malam. Para penumpang pesawat itu pun telah hanyut dalam kantuk. Percakapan dengan ibunya mendengung dalam relung telinga, saat sepi hatinya menghujam, fragmen itu seolah berputar kembali. “Ibu, apapun alasan yang engkau simpan, aku tahu engkau adalah wanita yang sanggup berkorban bahagia untuk siapapun meski engkau tertikam pedih di ulu hatimu. Dan aku akan mengatakan apa yang engkau minta.”
Malam semakin meninggi, sedikit saja jarum jam yang panjang tergelincir maka hari berganti baru. 36 purnama telah terlampaui, wajah-wajah itu kembali berkelebat dalam bayang. Lie Hua, Nyonya Chen, bapak, adiknya, ibunya. Semua sama, mengharap kehadirannya.
36 purnama sudah Yana menjalani hukumannya, terpisah bermil-mil dari sanak saudara di tanah air yang mungkin sudah menganggapnya tiada. Dan di 36 purnama selanjutnya, Arin akan tetap melangkahkan kakinya di bumi Taiwan. Masih tetap menjaga Lie Hua, menemani ibunya di hari Minggu ke dua, mewujudkan cita-cita adiknya meraih masa depan gemilang dan untuk dirinya sendiri, Ia ingin bermanfaat bagi siapapun. Burung besi itu masih terus melaju membelah angkasa, melintasi samudera. Arin pun terlelap dalam kantuk, saat matahari bersinar esok pagi Ia akan menemukan senyum di wajah bapak dan adiknya.