Arogansi Kehidupan

Ike Lindiyani / Arogansi Kehidupan / Tidak ada / tenaga kerja asing AROGANSI KEHIDUPAN Oleh : Ike Lindiyani Seperti biasa, mentari terbenam diufuk barat. Cahayanya menghilang diujung mata, entah kemana perginya. Perlahan, kegelapan mulai menyelimuti malam. Menjadi sangat menyenangkan bagi para kelelawar mencari makan setelah 12 jam tertidur dengan lelapnya. Dibalik tirai jendela apartemen pandanganku tertuju pada … Continue reading “Arogansi Kehidupan”

Ike Lindiyani / Arogansi Kehidupan / Tidak ada / tenaga kerja asing

AROGANSI KEHIDUPAN
Oleh : Ike Lindiyani
Seperti biasa, mentari terbenam diufuk barat. Cahayanya menghilang diujung mata, entah kemana perginya. Perlahan, kegelapan mulai menyelimuti malam. Menjadi sangat menyenangkan bagi para kelelawar mencari makan setelah 12 jam tertidur dengan lelapnya. Dibalik tirai jendela apartemen pandanganku tertuju pada laju kendaraan yang lalu lalang dijalan. Diluar bunyi klakson kendaraan sangat jelas terdengar. Benar-benar memekikkan telinga. Gemerlap lampu trotoar memanjakan mata. Tak terasa, ini sudah tahun ketiga ku berada di Taiwan atau juga di kenal dengan nama Negeri Formosa yang artinya Pulau yang Indah. Negeri yang menjadi tujuan kaum menengah ke bawah untuk mengais pundi-pundi rupiah. Negeri yang mayoritas penghuninya adalah non-muslim. Negeri yang terkenal dengan kemajuan IPTEK dan SDM-nya. Negeri yang terkenal akan kedisiplinan waktunya. Ya, paling tidak itu yang kurasakan jika dibandingkan dengan Indonesiaku tercinta, Negeri ini berkembang lebih pesat.

Ah! Rasanya hatiku perih manakala teringat akan hiruk pikuknya kampung halaman. Jiwaku mendadak tak bergairah, senyum diwajahku pun membisu. Ini tentang rintih gemercik pilu yang tertatih lintasi Samudra dan lautan nan biru. Ada jengah disitu tapi bukan pertanda lelah. Dalam remah renungan senja, aku berangan akan hening dan damainya sebuah dunia. Anganku melayang. Aku bermimpi bisa bersembunyi diantara ilalang kering dan ideologi penghamba dunia. Kisah Indonesiaku hampir membuatku pingsan bahkan kehilangan sisi warasku. Oh, Indonesiaku sayang, kau membuatku semakin bangga padamu. Gelandangan berceceran naikan prestasi dunia, perut kosong kian nyaring terdengar dijembatan rapuh tepi sungai kumuh. Makanan empuk hewan pengerat yang tak tahu malu. Mereka adalah saksi bisu ulah para petinggi yang acuh dan tak mau tahu. Lewat pengemis renta aku berkaca, “Inikah drama uji kehidupan? Dimana letak keadilan? Yang kaya makin kaya, yang miskin semakin melarat dan diinjak-injak”. Sayang, kemana perginya nilai-nilai Pancasila yang kau punya? Kemana perginya semboyan Bhineka Tunggal Ika yang dengan gagah berbunyi berbeda-beda tapi satu? Liatlah, orang-orang itu rela mati demi uang, karena uang manusia menjadi kanibal. Makan kawan, makan lawan. Sebenarnya aku ingin reaksikan tragedi dalam tabung kaca atau melelehkan larutan ketidakadilan dalam setiap eksperimen kehidupan. Tapi aku bisa apa? Aku sadar aku bukan siapa-siapa. Aku hanya sebutir bawang dalam kerupuk. Aku bukan seonggok polimer yang mampu sisihkan monomer untuk menembus sebuah cerita. Ah, sudahlah! Seandainya aku mampu tentu aku tak berada disini sekarang. Kerasnya dunia mengharuskanku untuk mengabaikan impian-impian untuk mengenyam pendidkan yang lebih tinggi. Persepsi masyarakat desa yang terbilang masih kolot yang beranggapan;“Bocah wadon kudu miang luar negeri bari sugih lan ngerubah nasib, kerja ning kene mah laka olihe” (baca: “Anak perempuan harus pergi keluar negeri agar bisa kaya dan merubah nasib, kerja disini tidak bisa diharapkan.”) ternyata berdampak juga kepadaku. Akupun terkena imbasnya. Aku harus rela meninggalkan keluarga, kampung halaman dan orang-orang tercinta. Banting tulang menguras keringat demi memperbaiki keadaan ekonomi keluarga agar mendapat pengakuan. Ya, sebuah pengakuan. Miris memang, tapi itulah yang terjadi di kehidupan sosial. Pengakuan dan reputasi merupakan hal sangat penting dalam kehidupan seseorang pada satu tahap tertentu.

Aku ingat betul saat pertama kali aku mendaratkan kakiku di tanah Formosa ini, 28 Juni 2012. Usaiku masih sangat muda kala itu. Dengan bermodal doa restu orang tua, akhirnya aku sampai di negeri ini. Dadaku sesak, tubuhku gemetar, nafasku seakan tersedat dan aku merasakan jiwaku ingin melarikan diri dari ragaku. Ingin rasanya aku menumpahkan genangan bening yang ada dipelupuk mataku tapi apa daya aku tak mampu. Alih-alih menumpahkannya aku malah membiarkannya terbujur kaku dipelupuk mataku. Aku teringat wejangan ibuku, Ibuku bilang; “Orang dewasa tidak pantas menangis. Karena ia telah dewasa, ia seharusnya mampu menyimpan sedih dan amarahnya dengan bijaksana, lalu dikeluarkan untuk hal-hal yang perlu saja.” Berkat kalimat inilah aku tumbuh menjadi perempuan mandiri yang kuat didunia yang serba patriarkal. Didikan kerasnya mengkondisikanku untuk yakin bahwa semua hal yang aku inginkan didunia ini datang dengan harga yang harus dibayar, yaitu peluh dan determinasi. Bukan dengan rengekan atau rayuan paras tak bercela. Akupun membulatkan tekad. Melangkah kakiku perlahan. Walau masih dalam mendung yang menggelayut. Meneguk semua keparauan dunia. Sadar bahwa hidup ini pun soal tanggung jawab. Bukan hanya soal sekedar hidup saja. Bukankah tidak ada kalimat yang sempurna, seperti tidak ada keputusan yang sempurna?

Aku harus memulai semuanya dari awal. Mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru, orang-orang baru, keluarga baru dan bahasa yang asing ditelingaku. Ya, inilah dunia baruku di Taiwan. Tugasku adalah merawat 小姐 (baca:Xiǎojiě) dengan sebaik-baiknya. Usianya tidak muda, 45 tahun. Dia cacat sedari lahir. Keluarga majikan memperlakukanku dengan amat baik. Bahkan menganggapku sebagai anaknya sendiri. Aku bersyukur. Aku mulai menikmati ranah jalan hidupku disini. Walaupun tentu saja ada hari dimana aku merengek tatkala jemu menjerang rindu. Ketika aku tengah sendirian. Sendiri dalam arti hanya ada aku dan udara di sekelilingku. Hanya ada aku dan kenangan-kenangan yang berlari-lari kecil di taman atau hanya ada aku dan ruang yang lapang di kepalaku. Dan boom! Maka ingatan masa lalu memelukku begitu saja, begitu erat hingga aku bahkan dapat mendengar detak jantungku sendiri. Rasanya menyebalkan ketika aku harus berusaha melawan jutaan ingatan tentang masa lalu yang mulai mengepul di otakku, seperti asap rokok yang menggantung di udara. Impian untuk mengenyam pendidikan tinggi mencuat kembali kepermukaan. Awalnya aku mengabaikannya dengan dalih impian ini akan memudar dan padam dengan sendirinya. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Impian itu semakin menggerogoti pikiranku. Aku gamang. Aku seperti berdiri di puing titik kata. Tak dapat memilih dan mencari arah pada layar perahu yang ku hempas.

Hingga pada suatu siang, mataku terbelalak menatap layar handphoneku. Aku menemukan sebuah selebaran yang berisi tentang pendaftaran mahasiswa baru Indonesia Open University di Taiwan. Aku girang tiada kepayang. Impianku untuk sekolahpun menemukan titik terang. Awalnya aku sempat ragu untuk menyampaikan niatku kepada bos. Tapi karena tekadku sudah bulat dan dengan mengucap Bissmillah. Aku memberanikan diri menghadap bos, apapun resikonya akan aku terima. Aku bahkan bertekad tidak akan melanjutkan kontrak kerjaku jika tidak diberikan ijin. Karena dari kabar burung yang beredar, mayoritas orang Taiwan sangat perhitungan dalam hal apapun dan sebagian tidak suka jika pekerjanya sekolah apalagi sampai mengambil libur. Bosku mematahkan penilaian tersebut. Dia sangat mendukung impianku. Dia memberikanku ijin libur ketika aku harus ke Taipei untuk belajar. Aku merasa berdosa karena sudah berburuk sangka terhadapnya. Negeri ini pada akhirnya merupakan rumah kedua tempatku melabuhkan segudang harapan dan impianku. Tanah ini bukan hanya sekedar tempatku mengais pundi-pundi rupiah tetapi juga tempatku menuntut ilmu dengan harapan kelak aku bisa membawa pulang ilmu dan gelar baru yang akan ku bagikan kepada adik-adik kurang beruntung dikampung halamanku. Dirumah ini banyak petualangan yang kualami. Banyak kesadaran baru yang mulai aku mengerti. Benang merah antara peristiwa demi peristiwa kini tampak secara perlahan. Seperti peribahasa lama; “Kalau ada asap pasti ada api.” Hanya saja aku masih sering latah. Aku sering memperumit sesuatu yang seharusnya sederhana. Apa mungkin ini pengaruh dari keinginan yang seringkali melenceng dengan kenyataan? Atau ini apologiku untuk membela diri karena ketidaksabaran untuk mencapai semuanya dengan proses? Ya, proses. Penerjemahan dari usaha beriring dengan waktu. Mungkin mindsetku yang ingin semuanya serba instan. Aku ingin hasil yang cepat. Walaupun aku yakin Allah pasti punya rencana yang indah untukku. Untuk mengurai semua kamuflase yang kulakukan. Ataupun memecahkan cangkang yang mengungkungku. Entahlah. Sekarang aku hanya bisa berjalan menyusuri setiap sudut peristiwa. Menjawab pertanyaan yg muncul disela-sela waktuku menghitung arti diriku di dunia. Di sela-sela senyum dan kepedulian palsu yg datang dan pergi, aku kembali menyulam satu per satu mimpi demi mimpi meski dalam keramaian arogansi kehidupan yang sedang terjadi.