Wanita adalah Ibu

Julian / Wanita adalah Ibu / Linda Linarta / mahasiswa  Waktu sudah lama berlalu sejak kita berkumpul, menunggu angkatan baru keluar dari bandara internasional taoyuan yang baru akan melanjutkan studi mereka di Taiwan. Pandanganmu bergerak kesana kemari mencari-cari wajah polos Indonesia yang mungkin baru pertama kali menginjakkan kakinya di bumi Formosa. Tentu saja motivasi utama kita datang sebetulnya … Continue reading “Wanita adalah Ibu”

Julian / Wanita adalah Ibu / Linda Linarta / mahasiswa 

Waktu sudah lama berlalu sejak kita berkumpul, menunggu angkatan baru keluar dari bandara internasional taoyuan yang baru akan melanjutkan studi mereka di Taiwan. Pandanganmu bergerak kesana kemari mencari-cari wajah polos Indonesia yang mungkin baru pertama kali menginjakkan kakinya di bumi Formosa. Tentu saja motivasi utama kita datang sebetulnya ingin melihat cewek baru anggota PPI Taiwan. Sebenarnya, walaupun engkau berhati baik, terkadang aku tidak menyukai gaya hidup dan cara berpikirmu.

Dulu, satu semester lalu sebelum ini engkau sering ribut begitu melihat cewek cantik seangkatan dengan kita berjalan dengan seorang cowok berdua saja di Shilin night market. Mengapa engkau kelihatan iri? Engkau sudah memiliki pacar yang cakep dan baik. Tidak jarang juga engkau mendorong dia dan aku untuk menarik perhatian cewek-cewek mahasiswi yang baru bergabung dengan kita di Taiwan. Tanpa sadar juga, atas dorongan gengsi aku dan dia bersikap konyol, menuruti tantanganmu, menghadiahkan sesuatu yang kudapatkan dari permainan menembak balon dengan pistol di night market, mengajak dia ngobrol dengan kikuk, sementara aku engkau awasi dengan tawamu yang tertahan melihat kekonyolan aku dan dia.

Saat itu, diriku belum memahami arti cinta. Perasaanku mudah silih berganti menghadapi kebaikan mereka. Apa yang harus aku lakukan? Menurutmu, aku harusnya lebih gentle, mengajak kencan mereka seperti yang kau lakukan. Tapi apa kau mau mempertahankan hidup seperti ini? Bayang-bayang semu tarikan cewek yang tiada habis-habisnya. Aku sendiri bingung tidak merasakan makna hidup kita ini. Have fun yang tiada habis, tapi semu di dalamnya.

Kita sering menghabiskan waktu untuk mengobrolkan hal-hal yang sebenarnya tidak berguna sama sekali. Memang bias jadi benar menurut penelitian, sebagian besar waktu pria dihabiskan untuk memikirkan cewek cakep yang seksi dan seks. Walau sudah memiliki pacar resmi, masih saja dirimu ini sibuk membandingkan cewek ini dengan cewek itu. Atas komandomu pula dia dan aku sering menjadi pelengkap permainanmu. Sudah terlalu banyak wanita yang sudah berjalan bersama kita hanya untuk hedonisme belaka. Satu wanita untuk satu pria. Untung saja, ini hanya sekedar kencan buta biasa, aku masih memegang prinsip untuk melakukan hubungan itu dengan cewek yang kelak telah resmi bersatu denganku di mata hukum dan agama.

Kemudian, datanglah hari itu. Engkau mengajakku kencan buta dengan 2 mahasiswi angkan baru. Diriku diam saja melihatmu mengeluarkan berbagai jurus rayuan gombal. Suasana masih ceria sampai akhirnya dia datang. Aku sedang mengisi minuman ketika pacarmu tiba-tiba muncul dan segera mendampratmu dengan tatapan yang penuh emosi. Suasana menjadi tegang. Engkau tidak terima dimarahi di tempat umum seperti ini. Kalian adu mulut, seakan ini adalah tempat yang tepat untuk bersitegang, sementara mata-mata tamu lain bingung melihat keributan yang ditimbulkan dari orang asing berbahasa Indonesia yang tidak mereka pahami. Rupanya dia sering dikisiki oleh temannya tentang kelakukanmu sehingga dia tersiksa dan ingin membuktikan ucapan mereka. Akumulasi emosinya meledak. Dia bertanya “apakah engkau menganggap semua cewek sebagai mainan?” jawabanmu semakin menyulut emosinya. Air matanya berderai indah, suasana semakin tegang sehingga akhirnya aku berinisiatif mencairkan suasana.

Aku minta maaf kepadanya karena kita ke sini tanpa memberitahunya. Aku mengaku mengajakmu. Dan mengenai wanita, aku menceritakan padanya mengenai cintaku kepada seorang wanita, wanita yang sangat pengertian, memikirkanku setiap hari sementara aku jarang memikirkannya. Dia memandangku dengan jijik mendengar pernyataanku. Tapi, dengan suara mantap aku melanjutkan. Tidak peduli seberapa besar kesalahanku, dia selalu memaafkanku. Aku tidak tahu sudah berapa banyak air mata yang sudah dikeluarkannya demiku, sementara seringkali aku tidak memperdulikan nasehat dan perhatiannya. Aku masih hidup sembarangan, terkadang membahayakan diriku sendiri, dan tidak benar-benar memperhatikan masa depanku. Padahal, semua yang akan kulakukan, tidak akan cukup untuk membalas jasanya. Emosi kalian berdua masih tinggi dan mulai tidak sabar akan poin utama yang ingin kusampaikan. Kepada kalian, aku sampaikan. Wanita tersebut adalah ibundaku. Setelah pernyataanku ini, kusadari emosi kalian mulai mereda. Kalian tidak mengerti kenapa aku membawa-bawa namu ibundaku ke dalam masalah yang sedang terjadi sekarang. Aku sendiri tidak tau dan merasa takjub juga, dari mana kata-kata ini keluar dan dari mana kesadaran ini berasal.

Kepada pacarmu, kujelaskan. Kami berdua tidak akan berpikir yang tidak-tidak dan menjelekkan wanita, apalagi mempermainkan wanita. Sebab dengan menjelekkan wanita, secara tidak langsung kami juga menjelekkan ibunda kami sendiri. Aku mengajak dua mahasiswi baru ini supaya mereka lebih terbiasa dengan lingkungan Taiwan (alasan yang sebenarnya engkau kemukakan saat kita mengajak mereka). Setelah berbicara panjang lebar, kukatakan bahwa engkau salah bicara karena emosi, bahwa engkau tidak terima disalahkan sebab pada dasarnya akulah yang mengajakmu. Pacarmu tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan, akhirnya dia memilih meninggalkan restoran ini. Aku segera menyuruhmu menyusulnya, buru-buru juga aku minta maaf kepada dua mahasiswi adik kelas kita yang masih syok akan drama yang baru saja terjadi.

Kali ini aku melindungimu. Dari apa yang kulihat dari jauh, sepertinya hubunganmu dengan pacarmu masih dapat dipertahankan. Aku benar-benar lega, kalian tidak putus hanya karena hal-hal yang tidak semestinya. Sekarang aku sedang merenungkan hal yang baru terjadi, terutama hal-hal yang baru kuucapkan. Mengapa aku dapat mengutarakan hal rumit seperti itu? Dari mana kata-kata itu keluar?ini benar-benar misteri tersendiri bagiku. Sejak saat itu, kita benar-benar terkena efek jera. Untung saja orang Taiwan di sana tidak sampai menghubungi polisi untuk melerai kalian. Aku sendiri mulai memegang prinsip untuk menghargai wanita sebagaimana diriku menghargai dan menghormati ibundaku.

Akhirnya tidak acara tahunan yang dinantikan setiap mahasiswa-mahasiswi angkatan baru, malam keakraban bersama senior-senior untuk saling mengenal dan bersenang-senang. Aku tersenyum simpul melihatmu mengajak ngobrol cewek-cewek angkatan baru. Apa karena pacarmu tidak berada di sini? Engkau benar-benar tidak berubah, tapi juga tidak sama dengan dulu dengan mulai belajar untuk memahami perasaan wanita dan mempraktekkan etika dasar sedikit demi sedikit. Pada akhirnya, engkau memilih setia dengan pacarmu. Aku sungguh bangga akan perubahan positif ini. Dan berkat engkau juga aku sudah mulai belajar banyak hal mengenai kehidupan ini.

Aku mulai melihat hal-hal yang benar-benar ingin kupelajari. Tidak seperti ikut arus dan melanjutkan kuliah bersamamu, aku mulai belajar dengan mengiikuti retret hidup berkesadaran, ikut kegiatan humanis dan kegiatan lain yang membuatku semakin dewasa dan memahami sifat-sifat dasar manusia. Ya, aku ingin dapat memahami satu sama lain dan berusaha untuk membentuk kehidupan yang harmonis untuk semua orang. Keputusanku akan jalan hidup yang baru membuatku pindah ke jurusan psikologi dan pada satu bakti sosial yang kuikuti, akhirnya diriku menemukan wanita yang benar-benar membuatku jatuh hati. Ternyata kami memiliki sifat dan tujuan yang serupa. Hal ini menjadi motivasi utama kami menjadi sepasang kekasih. Jadi, diriku benar-benar bersyukur memilikimu sebagai teman baikku. Secara tidak langsung, dirimu menuntunku mencapai tujuan hidup yang tidak kuketahui sebelumnya. Tujuan hidup yang menjadi rahasia hidup ini juga, “dengan membahagiakan orang lain di sekitar kita, kita juga otomatis ikut berbahagia saat melihat orang lain yang bahagia. Dengan begini, hidup ini benar-benar menjadi indah.