Bahagiaku Milikku

Kara / Bahagiaku Milikku / tidak ada / mahasiswa  Tinggal satu bulan lagi, lalu genaplah satu tahun aku hidup di negara ini. Banyak suka duka yang kurasakan selama satu tahun ini, dan banyak juga pelajaran hidup yang tak kusangka akan kudapatkan disini. Ada waktu dimana aku sangat menikmati hidup seorang diri di ibu kota negara ini, dan ada … Continue reading “Bahagiaku Milikku”

Kara / Bahagiaku Milikku / tidak ada / mahasiswa 

Tinggal satu bulan lagi, lalu genaplah satu tahun aku hidup di negara ini. Banyak suka duka yang kurasakan selama satu tahun ini, dan banyak juga pelajaran hidup yang tak kusangka akan kudapatkan disini. Ada waktu dimana aku sangat menikmati hidup seorang diri di ibu kota negara ini, dan ada waktu ketika aku bertanya-tanya, apakah sekolah di sini merupakan pilihan yang tepat untukku. Tidak sedikit pula air mata yang telah kutumpahkan selama berada di sini, kadang air mata bahagia, namun selebihnya adalah air mata rindu.
Hanya satu tahun, baru satu tahun. Aku tak pernah berpikir kalau tahun pertamaku tinggal di negara asing ini akan merubahku secara drastis. Aku yang dulu jauh lebih egois, aku yang dulu takut sendirian, aku yang dulu, tidak tahu betapa berharganya hidup.
Ketika aku pertama kali memutuskan untuk melanjutkan studi ke Taiwan, hatiku berapi-api. Aku hanya ingin pergi dari rumah, pergi dari orang tuaku, pergi dari adikku, menjauhi setiap pertengkaran yang seringkali terjadi dan menyakitiku. Aku ingin merasakan kebebasan, merasakan indahnya dunia tanpa harus menangis setiap hari.
Ada masa dimana hari terasa lebih panjang, lebih menyakitkan, dan aku hanya ingin pulang. Pelajaran membuatku lelah, tugas yang harus kukerjakan bermalam-malam menggerogoti tubuhku, dan negara dengan bahasa yang tak kupahami ini membuatku merasa terasing. Beberapa teman yang dulu datang bersama-sama denganku sudah mulai memutuskan untuk pulang, dan kerap kali aku tergoda untuk melakukan hal yang sama. Tapi setiap kali terbayang Papa dan Mama, aku meneguhkan hati untuk bertahan.
Namun di sinilah aku sekarang, membisiki diriku untuk tetap bertahan dari hari demi hari. Demi masa depanku, demi harga diriku. Kehidupan di Taiwan menamparku dengan keras, setiap hari kuhabiskan dengan berdiam dan menangis. Aku rindu orang tuaku, aku rindu pulang. Anak keras kepala yang ingin bebas ini, akhirnya merindukan rumah. Beberapa kali seminggu aku akan menelpon ke rumah, kadang-kadang kami makan bersama via video. Ada perih di hati ketika aku duduk di asramaku dengan semangkok mie instant, sementara makanan masakan Mama terhidang di hadapan mereka. Tak jarang pula makanan kesukaanku nampak di sana.
Bila aku menelpon di sore hari, aku bisa melihat kalau teleponku akan memunculkan senyum di wajah Papa dan Mama. Selama satu tahun ini mereka sudah mengorbankan banyak hal agar aku bisa pergi ke Taiwan, agar aku bisa melanjutkan studi di jurusan yang aku inginkan. Beberapa anggota keluargaku sempat mempertanyakan kemampuan bahasa mandarinku yang sangat rendah, dan karena mereka menganggap kalau jurusan yang kupilih tak akan menghasilkan uang, mereka meremehkan keputusanku. Tapi Papa dan Mama selalu percaya padaku, mendukungku walau mereka sendiri terkadang nampak khawatir.
Ribuan kilometer dari tempat ini, aku meninggalkan semua orang yang kusayang demi mengejar masa depan yang lebih baik. Dan selain orang tuaku, aku tidak pernah menyangka aku akan sangat merindukan adik laki-laki yang selalu bertengkar denganku. Kami jarang akur, dan aku tidak terlalu suka mengalah. Aku kira dia adalah orang terakhir yang akan kurindukan, apa daya hati ini berkata lain. Benar perumpamaan yang mengatakan jauh di mata dekat di hati. Ketika kita berada jauh dari orang itu, barulah kita sadar betapa berharganya dia bagi kita. Kami sering mengobrol, aku senang ketika ia memberitahuku hal-hal yang tidak akan diketahui pada Papa dan Mama. Kadang-kadang aku menasehatinya untuk mengurangi waktu gamenya agar dapat meluangkan waktu bersama Papa dan Mama. Karena guru yang paling baik setelah pengalaman adalah penyesalan—andai aku tahu lebih awal waktu bersama mereka akan terasa sangat berharga, aku pun akan melakukan hal yang sama sejak dulu.
Di kotaku, aku selalu dikelilingi oleh orang-orang yang kusayang. Sahabat-sahabatku adalah keluargaku yang kedua. Orang tuaku mengenal mereka, dan aku sangat bersyukur memiliki mereka di hidupku. Memberi tahu diriku sendiri bahwa aku akan tinggal jauh dari mereka, adalah salah satu hal terberat yang harus kuterima. Sepanjang yang kuingat, mereka selalu ada di saat senang dan susah. Mereka mendukungku untuk mengejar mimpiku walaupun tiga ribu delapan ratus empat puluh enam kilometer akan membentang di antara kami. Saat mereka mengantarku ke bandara, aku menguatkan hatiku untuk tidak menitikkan air mata, karena aku tahu, ini bukan perpisahan.
Sembilan september dua ribu lima belas adalah hari pertamaku di kelas, dua orang gadis tiba-tiba mulai berbicara padaku, dan segera kami menjadi teman akrab. Kami adalah tiga serangkai, semua anak di kelas akan bertanya bila salah satu di antara kami tak nampak batang hidungnya. Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, dan rasa rindu akan rumah dengan cepat memudar. Kami bertukar cerita tentang masa lalu kami, dan untuk pertama kalinya, aku menemukan seseorang yang pengalamannya dapat menjadi cermin hidupku. Mereka memaklumi kemampuan bahasa mandarinku yang masih sangat berantakan, serta tidak segan membantu setiap kali aku kesulitan. Hampir semua pengalaman pertamaku di Taiwan kulalui bersama mereka, dan setiap waktunya akan tetap menjadi kenangan indah bagiku. Keduanya berjanji bahwa empat tahun dari saat itu, mereka akan datang ke Indonesia, dan kami akan bertualang bersama di kota mungilku.
Namun hidup bukan jalan bebas hambatan. Hidup adalah jalan setapak di tengah hutan, yang terjal dan berliku-liku. Tujuh bulan kemudian, entah apa yang terjadi, kami memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. Si tiga serangkai memutuskan untuk berpisah tanpa sepatah kata pun terucap. Saat itu aku hancur, aku memarahi Tuhan, mengapa hal seperti ini harus terjadi lagi? Bukankah tiga tahun yang lalu hal serupa sudah kualami? Berapa kali lagikah aku harus merasakan hal seperti ini? Berminggu-minggu aku mengurung diri di kamar. Aku mulai membolos beberapa kelas, berusaha sebisa mungkin untuk tidak melihat kedua temanku itu. Karena setiap kali bertemu mereka, luka di hatiku akan terbuka lagi.
Tapi setiap hal terjadi untuk suatu tujuan, dan apa yang tidak membunuhmu, hanya akan membuatmu menjadi lebih kuat. Ketika hal serupa terjadi dulu, aku berulang kali berpikir untuk mengakhiri hidupku. Aku merasa putus asa, tak berdaya. Kehilangan orang yang kusayang membuatku kalut. Saat itu, aku tak menyangka bahwa aku akan bertahan melewati semua itu. Seperti pelangi yang akan muncul setelah hujan, semua tangis dan air mataku membuahkan hidup baru yang lebih cerah. Aku menemukan sahabat-sahabat baru, lebih akrab dan banyak dari sebelumnya, dan pada akhirnya semua akan baik adanya.
Suatu hari aku terbangun dengan mimpi akan kejadian itu, dan seketika aku sadar: kebahagiaanku, adalah milikku. Tak seorang pun boleh merampasnya dariku. Belajar dari pengalamanku yang lama, aku mulai berbaur dengan teman-teman baru, berkumpul dengan orang-orang yang mau menerimaku. Kini aku belajar untuk menjadi lebih mandiri dan menolak untuk terus-menerus bergantung pada orang lain. Aku makan ketika ingin, dan pulang ketika aku lelah. Tidak ada yang harus kutunggu karena solidaritas, tidak ada yang mengatur jadwalku karena hanya aku yang akan menentukannya sendiri. Seketika, hidup terasa lebih mudah. Aku yang dulu takut sendirian dan kesepian, aku yang sejak kecil takut dikasihani orang karena berjalan seorang diri, belajar untuk mencintai kesendirian. Sendiri akan membuatku tenang, memberiku lebih banyak waktu untuk berkomunikasi dengan teman-teman yang kutinggalkan di Indonesia. Sendiri, membuatku sadar bahwa ada banyak hal yang lebih penting daripada sekedar mempedulikan apa kata orang. Aku mulai menikmati waktu sendirian di dalam bus, memandangi pemandangan di luar jendela dalam duniaku sendiri. Wisata seorang diri memberiku kebebasan untuk menentukan arah jalanku. Makan apa yang ingin kumakan, ke toilet hanya saat aku ingin. Tidak ada orang lain yang perlu kupedulikan perasaannya.
Hari ini aku duduk seorang diri di lantai dua sebuah kedai kopi. Jendela besar membentang di hadapanku, memberiku kebebasan untuk memandang seluruh pelosok kota Taipei yang indah. Segelas kopi dan sepiring kue cantik terhidang di hadapanku. Pikiranku melayang jauh, memandang diriku bertahun-tahun yang lalu. Kara yang dulu tidak akan pernah mengira bahwa suatu hari di masa depan, ia akan belajar mencintai hidupnya dari sebuah pengalaman yang begitu pahit. Kara muda, tidak akan pernah tahu bahwa suatu hari, ia akan menikmati kesendiriannya di sebuah kota terasing nan jauh, sambil menuliskan kisah hidupnya. Ketika langit mulai berubah gelap, aku dapat melihat pantulan wajahku di kaca jendela, dan seketika aku sadar—aku tengah tersenyum.
Taipei bukan rumahku, tapi ia telah menyambutku dengan ramah, tulisku. Ia menjagaku di bawah gedung-gedung pencakar langitnya yang tinggi menjulang, tapi ia tidak membiarkanku tumbuh manja, ia membuatku belajar untuk menjaga diriku sendiri. Taipei bukan rumahku,
Tapi di sini, aku menjadi dewasa.