Perjalanan Hidupku Seorang Imigran Baru di Negeri Formosa

Lian / Perjalanan Hidupku Seorang Imigran Baru di Negeri Formosa / Brilliant Time / pengantin asing Tulisanku ini adalah curahan hatiku selama 15 tahun di Taiwan ini, sebuah pernikahan tanpa saling kenal siapa calon suamiku, keluarganya seperti apa dan tinggal dimana aku tidak tanyakan dulu. Ya itulah aku tidak tahu berapa besar resiko yang aku ambil tanpa kufikirkan … Continue reading “Perjalanan Hidupku Seorang Imigran Baru di Negeri Formosa”

Lian / Perjalanan Hidupku Seorang Imigran Baru di Negeri Formosa / Brilliant Time / pengantin asing
Tulisanku ini adalah curahan hatiku selama 15 tahun di Taiwan ini, sebuah pernikahan tanpa saling kenal siapa calon suamiku, keluarganya seperti apa dan tinggal dimana aku tidak tanyakan dulu. Ya itulah aku tidak tahu berapa besar resiko yang aku ambil tanpa kufikirkan masa depan dan nasib taruhanku.
Namaku Lian, dilahirkan 35 tahun yang lalu, dikota Pontianak dari keluarga sederhana, dibawah kakiku ada 5 orang adik yang masih kecil dan sekolah saat aku berangkat ke Taiwan.
Walaupun sudah 11 tahun berlalu ku tidak pulang ke Indonesia, tetapi hubungan keluargaku masih terjawab dengan saling kirim kabar berita lewat telepon. Masuk kedalam rumah aku baru tahu suamiku anak pertama di keluarga bermarga Lin, dengan kedua orang tua yang masih sehat-sehat, diatasnya ada satu kakak perempuan dan dibawahnya ada adik laki-laki, semuanya sudah menikah dan punya dua anak laki-laki, selisih umur kami 16 tahun.
Menikah di Taiwan dengan sebutan pengantin asing memang tidak mudah dan tidak enak didengar, itu yang aku alami selama ini. Banyak pandangan negatif dari keluarga suamiku, saudara maupun tetangga yang memandang sebelah mata bahwa pengantin asing adalah hasil dari pembelian, apalagi kalau saya tak punya pekerjaan diluar, bisa dibayangkan berapa banyak kata sindiran yang harus sabar aku terima setiap hari atau keluar rumah selalu dibilang “ni na me hau ming, chia lai Taiwan pu yong cou se”, yang artinya hidupmu enak tidak perlu bekerja. Itu bukan kata pujian buatmu tetapi itu sindiran buatmu yang seharusnya rajin dan pintar bisa bekerja cari uang seperti orang-orang Taiwan yang seharusnya.
Bukannya saya tidak mau bekerja, selama menikah tugasku selalu di rumah jaga anak-anak dan suami, kalaupun bisa keluar rumah juga harus bersama anak-anak dan suami. Sewaktu anakku lahir, orang rumah sudah berpesan anak yang sudah kamu lahirkan anak harus kamu jaga sendiri, orang tua sudah lanjut usia tidak boleh disuruh mengasuh anak sebentar pun juga. Dengan begitu kedua anakku besar ditanganku sendiri, tanpa ada bantuan dari siapapun juga, itulah keluarga kecilku dengan dua anak cukup laki-laki dan perempuan, dengan suami yang cinta keluarga.
Tahun 2002 saya melahirkan anak perempuan, dari situ saya baru paham anak perempuan tidak ada harganya kalau sudah besar nanti, setiap hari seperti makan hati dan keluar airmata sering mendengar orang rumah dan tetangga yang menjelek-jelekan nama anak perempuanmu sudah tidak ada nilainya. Setiap malam makan bersama keluarga sering ditekan terus batin ini untuk bisa melahirkan anak laki-laki lagi, orang rumah tidak pernah tahu, kalau melahirkan juga harus selalu dipaksakan berapa beban berat yang harus kami pikul dalam hubungan suami istri, rasanya seperti babi yang harus dipaksakan hamil dan melahirkan anak laki-laki.
Tahun 2007 selisih 5 tahun dengan anak pertamaku, kumelahirkan lagi anak kedua berjenis kelamin laki-laki, puji syukur pada Tuhan yang selalu mendengarkan doa-doaku. Waktu masih mengandung dimana kaki berjalan dan bertemu tempat sembayang seperti wihara atau gereja tidak pernah lupa saya berdoa semoga anak dalam kandunganku adalah laki-laki maka lengkap sudah keluarga kecilku. Saya tahu Tuhan cinta sekali dengan umatnya, setiap doa-doaku Tuhan mengabulkannya. Puji syukur yang sebesar-besarnya pada Tuhan yang maha Esa. Saya juga tidak berfikir banyak seandainya anak yang kulahirkan perempuan lagi, semuanya kuserahkan pada Tuhan. Masa-masa gunjingan dari orang sudah kulalui dengan berjalannya waktu, berapa banyak ketidak adilan sudah aku terima dengan pasrah dan tidak mau berdebat dengan orang lain dan keluarga, dengan begitu aku bisa merasakan kedamaian di hati.
Saya juga tidak menceritakan sedetil mungkin masalah yang saya hadapi sini dan mengadu kepada orang tua, hanya doa-doa yang sering diucapkan oleh mama papa setiap telepon pulang ke rumah, semoga kita keluarga sehat-sehat semua. Karna saya fikir mengadu masalah juga percuma, setiap masalah kita juga yang harus menyelesaikannya juga, lebih baik diam dan mencari jalan keluarnya. Aku harus kuat dan tabah menerima keadaan seperti ini serasa penjara hidup, mau melakukan apapun harus diam-diam bertanya juga tidak ada yang bisa menjawabmu.

Aku harus terima menikah dengan orang Taiwan adalah nasib pilihan hidupku. Aku harus berjuang agar bisa hidup lebih baik lagi dimata orang tuaku dan teman-temanku, jangan membuat orang lain menanggung beban masalahmu. Aku juga selalu bersyukur dimana sering bertemu masalah selalu ada penolong dalam hidup, teman-teman dan doa-doa dari orang tua tidak pernah berhenti diucapkan selalu, yaitulah hidupku lebih baik dari orang dan sudah cukup bagiku atas segala yang ada hari ini.

Sebelumnya pernah terkurung sendiri 10 tahun di dalam rumah dan fokus pada rumah tangga, aku kehilangan komunikasi dengan sesama teman dan keluarga, bahasa Indonesiaku pun sudah lama tak kuucapkan hampir hilang dan punah. Aku tidak ada kesempatan bisa bergaul dan berteman diluar, pernah dengar ada sekolah khusus pengantin asing, aku tidak punya kesempatan sampai hari ini pun. Aku tidak putus asa walaupun tidak bisa sekolah setidaknya dengan membeli buku-buku yang dijual dimana pun aku bertemu tentang bahasa selalu kubeli dan belajar sendiri, ada huruf kalimat yang tidak paham kutanyakan pada suami saat pulang kerja.
Waktu berjalan begitu cepat anakpun mulai tumbuh dewasa, yang besar sudah duduk dibangku SMP dan yang kecil duduk dikelas 3 SD. Tidak pernah ada kata kalimat yang bisa mematahkan semangatku, aku juga belajar dengan anak-anakku kemana pun kaki melangkah selalu jadi pertanyaan selalu anak-anak yang membantuku.

Pada tahun 2011 kurasakan sedikit kebebasan setelah anak-anakku sekolah. Dan setelah ada jaringan internet masuk disetiap handphone juga semakin canggih dan bisa berteman dengan dunia maya, teman yang tidak pernah kita tahu orangnya seperti apa ternyata membawa dampak positif bagiku, bisa berteman dan curahan hati dengan mereka. Berbagai info cara membunuh waktu yang kosong tentang sekolah untuk belajar bahasa masih kucari walaupun kecil kemungkinan, dan info-info lowongan pekerjaan dari teman-teman selalu kutanyakan.
Bersyukur kembali aku pada Tuhan, disetiap doa selalu ada jawabannya, bertemu teman yang membuka toko Indonesia iseng-iseng kutanyakan adakah pekerjaan buatku untuk part time ibu rumah tangga sepertiku. Iya aku diterima dengan senang hati dalam kantor yang menerima pengiriman uang teman-teman Indonesia, walaupun sedikit sekali pengetahuanku yang kelamaan di rumah, dari situ aku banyak belajar kembali apa itu bahasa Indonesia dan komputer, karna aku harus berkomunikasi dengan setiap bos toko Indonesia dan pelanggan yang juga orang Indonesia.
Pekerjaan ini kudapat tanpa sepengetahuan orang rumahku, jam anak masuk sekolah sudah ku antar sampai pintu gerbang aku kembali ke jalan pekerjaanku yang tidak jauh dari rumah dan sekolah, jam anak pulang sekolah aku sudah siap jemput pulang ke rumah, makan, mandi, periksa tugas sekolah dan seterusnya sampai hari ini. Keperluan suami dan anak-anak kuatur sangat rapi, saat anak sakit juga ke dokter, pekerjaan rumah sedikit banyak kukerjakan satu persatu, dengan bantuan anak-anakku.
Aku tidak pernah mengeluh dengan keputusan yang kubuat selama hidupku, hanya satu yang kuingat hidup ini jangan merugikan orang lain dan memberi beban yang harus mereka pikul. Saya juga berharap apa yang kulakukan bisa meringankan beban orang lain dan orang itu bisa senang dengan apa yang sudah kita lakukan. Hidup ini harus banyak bersyukur, Tuhan selalu ada dimana kita berada, doa-doa yang kita panjatkan Tuhan juga menjawabnya.
Keputusan yang kubuat tidaklah salah, apa yang kulakukan yakin sudah di atur Tuhan, masuk kedalam lingkungan pekerjaanku sedikit demi sedikit aku banyak teman dan kegiataan. Waktu liburku selain bersama keluarga jalan-jalan keluar kota, juga ikutan kegiatan sosial dan acara-acara yang sering diadakan pemerintahan Taiwan dan Indonesia. Setiap bulan selalu ada dengan acara yang berbeda-beda yang dapat diikuti oleh teman-teman tenaga kerja dan migran dari Indonesia, bahkan saya pernah ikutan melihat acara lomba nyanyi empat negara, lomba cerita dalam bahasa Taiwan dan mandarin.
Ikutan jadi tenaga suka rela yang diadakan teman-teman Taiwan dan Indonesia dalam perpustakaan berjalan di hall Taipei main station setiap hari minggu, membuat saya jadi banyak teman dan pengalaman yang tidak bisa ditulis dengan kata-kata, dan sering diwawancara oleh beberapa wartawan tertulis dan station televisi dari Taiwan.
Saya tidak pernah bosan lagi dirumah ada kegiatan luar yang bisa kulakukan apa saja agar hati ini tenang dan tidak terkurung dalam rumah lagi. Dan punya banyak ribuan teman yang sebelumnya hanya bertemu didunia maya, sekarang sudah bisa saling menyapa disetiap pertemuan acara. Saya merasa hidup ini sudah cukup bahagia, jalan kedepan harus lebih baik lagi untuk keluargaku di Taiwan dan Indonesia.
Masih ada satu doaku belum terwujud semoga bisa secepatnya berkumpul lagi dengan keluarga yang di Indonesia bertemu mama papa adik-adik dan teman-teman semuanya, setelah 11 tahun tidak pulang ketanah air. Semoga doa-doaku bisa dikabulkan oleh Tuhan, amin.

Dari: Lian