Bahagia Kan Hadir Pada Masanya

Moede Dian / Bahagia Kan Hadir Pada Masanya / Ze Cayank Heaven / Indonesia / tenaga kerja asing BAHAGIA KAN HADIR PADA MASANYA Oleh: Moede Dian Ternyata, tak mudah mencari pekerjaan meski hanya ingin menjadi kuli. Rasa gelisah, hampir putus asa, yang dirasakan Ana saat itu. Wanita dengan status singgle parent alias janda, berumur kurang lebih 30 tahun, asal … Continue reading “Bahagia Kan Hadir Pada Masanya”

Moede Dian / Bahagia Kan Hadir Pada Masanya / Ze Cayank Heaven / Indonesia / tenaga kerja asing

BAHAGIA KAN HADIR PADA MASANYA
Oleh: Moede Dian

Ternyata, tak mudah mencari pekerjaan meski hanya ingin menjadi kuli. Rasa gelisah, hampir putus asa, yang dirasakan Ana saat itu. Wanita dengan status singgle parent alias janda, berumur kurang lebih 30 tahun, asal Losari, Jawa Tengah. Sudah 120 hari dia berada dalam tampungan PJTKI, tepatnya di Surabaya, Jawa Timur. Dengan tekad yang tinggi, demi kedua anaknya, berniat mengadu nasib, mengais rejeki di negeri Formosa, Taiwan.
Seperti layang-layang yang terikat benang, berjalan melenggang naik ke awang-awang. Begitu dirinya mencicil harapan untuk hidup bersama pria yang biasa dipanggil dengan sebutan Kang Aep. Laki-laki yang berahang kukuh, kepadanya ia pernah mencinta dan merindu, bersamanya pula ia pernah memeluk dunia.
Dari celah-celah jendela, Ana memandang ke arah luar. Dilihatnya ada pelangi menghiasi langit biru. Seketika itu, ia teringat masa dulu, kata-kata yang pernah terucap dari sang mantan suami.
“Ana, kau layaknya pelangi, yang selalu hadir setelah badai dan hujan.”
Ah, Kang Aep. Tak lagi ingatkah pada rupa pelangimu itu. Betapa pun kamu pernah memujanya, tetapi sekarang semua itu telah menjadi keping-keping yang menusuk, melangkah pergi, melepasmu pada peraduan perempuan simpananmu. Membiarkan lara mengikuti bayangan istri yang kau ceraikan dan dua anak yang kau tinggalkan.
Terkadang, mengalah itu bukan pertanda kita lemah. Bukan pula bukti bahwa kita yang salah. Justru, dengan mengalah kita paham arti bahagia yang sesungguhnya. Cinta tidak pernah salah, terkadang tempatnya saja yang tidak tepat.
***
Di akhir bulan Desember, hari sabtu malam minggu, tanggal 29, tahun 2012, adalah hari yang sangat dinanti-nantikan oleh Ana. Terbang dengan pesawat Eva Air, menempuh jarak kurang lebih 5-6 jam, hingga mendarat di negeri yang terkenal dengan gedung 101-nya itu.
Ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di negeri Taiwan. Setelah cek kesehatan, Ana diantar menuju ke rumah agensi. Ke esokan harinya ia diantar ke rumah majikan, di kota Sanchong, New Taipei City.
“Ni she, Ana? (“Apa kamu, Ana?”) tanya seorang wanita.
“She, Thai-thai!” (“Benar, Nyonya!”) jawabnya dengan menganggukan kepala, tanda benar.
“Wo she ni te laupaniang.” (“Saya majikan perempuan kamu.”)
Pekerjaan Ana adalah menjaga nenek, selain itu di rumah ada sepasang suami istri dan empat anaknya yang masih kecil-kecil. Pagi bangun jam 04.30, setelah salat subuh, mulailah ia berperang dengan lap, kemoceng, sapu dan alat pel. Belum lagi ia pun harus mengurus anak-anak majikan yang akan pergi ke sekolah, membuat sarapan, menyiapkan pientang (Bekal makanan untuk makan siang). Pekerjaan rumah belum beres dikerjakan, ia sudah harus mengantar ke empat anak majikan ke sekolah.
Setelah pekerjaan rumah beres, ia membawa nenek ke toko majikan untuk bantu-bantu di sana. Tak perduli panas atau hujan, tak perduli keadaan nenek yang sedang sakit, mendorong wanita tua berumur 85 tahun dengan kursi roda. Yang paling memilukan makan dijatah. Pagi, satu buah mantou (roti khas orang Cina) tanpa kopi, teh susu, atau susu kacang kedelai. Siang, semangkuk kecil bubur nasi dengan lauk pauk ala kadarnya dan malam setengah piring mie goreng atau rebus tanpa sayuran, ikan atau pun daging. Tenaganya diperas habis, tetapi kebutuhan yang ada dalam tubuhnya tidak sesuai.
Tiap hari memasak, sehari tiga kali. Cuci baju tidak boleh pakai mesin cuci walaupun ada mesin cuci. Cuci piring, antar jemput anak sekolah, setrika baju. Belum lagi mengurus nenek yang dirawatnya. Setelah itu semua, nyonya menyuruhnya memijit selama kurang lebih 1-2 jam. Ana tidur tidak lebih antara 2-3 jam. Jam 12 malam baru diperbolehkan masuk kamar, terkadang tengah malam nenek bangun minta kencing, 2 jam sekali harus fansen (membalik badan) nenek, 4 jam sekali ganti popok.
Cuma tangis yang menemani, seakan air matanya sudah mengering. Setiap malam menangis meratapi nasibnya, merasa dirinya bodoh dan terlalu lugu. Pernah ia melapor kepada agensi, tetapi bukan perhatian atau pertolongan yang didapat melainkan amukan dari agensi.
“Kalau aku jadi kamu, pasti aku sudah kabur!” seru Asri teman Indonesia yang sering bertemu saat buang sampah.
Pernah terpikir oleh wanita berwajah manis itu, membenarkan ucapan dari Asri temannya. Dua puluh hari ia berpikir, berharap masih ada keajaiban yang datang, tetapi tidak ada. Akhirnya, entah setan yang datang dari mana, menguatkan tekadnya untuk kabur dari rumah itu. Segera ia kemasi barang-barang yang perlu untuk dibawa. Melalui bantuan Asri, ia diperkenalkan oleh agensi kaburan. Sesuai dengan perjanjian, hari, tanggal, waktu dan tempat yang ditentukan, Ana pun siap angkat kaki dari rumah itu.
Pagi, tepat jam 03.00. Ana diam-diam dengan langkah perlahan-lahan membuka pintu kamarnya. Langkahnya terhenti, karena pasiennya bangun dan memintanya jangan pergi.
Dalam hatinya ia merasa heran “Dari mana nenek tahu, kalau aku ingin pergi meninggalkannya?”
Dilihatnya si nenek, saat Ana mencoba membenahi selimut nenek, kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tangan nenek, suhu badan nenek panas, sekujur tubuhnya berkeringat, tetapi anehnya nenek merasa kedinginan. Hati kecilnya tak tega melihat keadaan nenek.
Tak dihiraukan belasan kali telepon genggamnya berbunyi, segera ia membangunkan majikan, memberitahukan keadaan nenek. Majikan segera membuktikan kebenaran dari ucapan pembantunya itu, kemudian mereka membawa nenek ke rumah sakit.
***
Matahari perlahan muncul dari ufuk timur, sinarnya mulai masuk melalui celah-celah jendela, burung-burung pun mulai terdengar kicauannya. Suhu badan nenek tak kunjung reda, bahkan suhunya semakin tinggi hingga mencapai 42 derajat celcius. Unit gawat darurat tidak mampu menangani nenek. Menurut keterangan dokter, nenek terkena virus H1N1, hingga nenek terpaksa dibawa keruang ICU.
“Ya Tuhan, aku berlindung padaMu, berikanlah yang terbaik untukku dan pasien yang aku jaga,” Ana berdoa dalam hati.
Dua jam berlalu, dokter memberi keterangan kalau pasien yang Ana jaga telah pergi ke alam lain. Tak lama kemudian tuan Huang yang tak lain majikan Ana mengurusi segala proses pemakaman nenek. Ana sejenak berpikir, seandainya beberapa jam yang lalu, ia terus melangkah, mengikuti hawa nafsu setan yang telah meracuninya untuk kabur, pasti bukan hanya salah yang ia lakukan, dosa besar pun ia dapat. Hidup mati seseorang memang tiada yang tahu, tetapi ada kesempatan menolong hidup seseorang merupakan suatu kebajikan. Walaupun harapan yang didapat kan berbeda akhirnya.
***
Sebulan setelah kepergian nenek, Ana dijemput agensi untuk menuju rumah majikan yang baru. Kali ini berbeda kota, bukan di pusat kota, daerah pedalaman, dekat pesisir pantai, tepatnya Baisawan, Dansui District. Daerah yang jauh dari keramaian, seven eleven (Nama sebuah toko) pun jauh keberadaannya. Rumah-rumah di sekitar, jaraknya cukup berjauhan, kendaraan jarang yang berlalu-lalang, sepi.
Kesempatan kali ini, job Ana adalah menjaga kakek. Tinggal hanya berdua dengan kakek di sebuah rumah tua berlantai empat. Rumah yang cukup besar, tetapi berantakan macam kandang. Jelas saja, bertahun-tahun lamanya hanya kakek yang tinggal sendirian. Anak-anak kakek semua tinggal di kota faktor pekerjaan. Kakek tidak mau tinggal bersama mereka, karena ia tidak suka tinggal di kota, apalagi rumah itu mempunyai banyak kenangan bersama mendiang istrinya dulu.
Pekerjaan yang dibilang ringan, tidak ada pengawasan majikan, bekerja semaunya, bangun sebangunnya, makan pun sudah di penuhi segala kebutuhannya, cukup untuk satu bulan. Majikan datang setiap satu bulan sekali secara bergantian, untuk memberi gaji dan membelikan segala kebutuhan hidup untuk satu bulan. Di sini segala sesuatunya terjamin, berbeda dengan yang dulu.
Sayangnya tak berlangsung lama, kakek jatuh dari tangga, mengakibatkan nyawanya terenggut maut. Meskipun itu bukan 100% kesalahan Ana, karena kakek jatuh dengan sendirinya. Merawat orang yang pikun memang sangat diperlukan pengawasan ekstra, tidak boleh meleng (lalai) sedikit pun. Permasalahan tersebut telah menyeret Ana sampai ke meja hijau.
“Saat itu, saya sedang memasak di dapur, saya lihat Kakek masih tertidur. Maka dari itu, saya berani meninggalkan Kakek pergi ke dapur, yang ada di lantai 1,” keterangan Ana pada pihak yang berwajib.
Kecelakaan yang terjadi pada kakek membuat Ana harus di deportasi, pulang ke Indonesia tanpa kesuksesan. Ia sempat mengalami shock berat beberapa bulan, tidak mau makan, setiap malam susah tidur, bayang-bayang kakek terus menghantui pikirannya, selalu dalam ketakutan.
***
Nampaknya, Ana masih trauma untuk bekerja ke luar negeri lagi. Tetapi ia adalah seorang ibu sekaligus bapak yang bertanggung jawab atas kedua anaknya. Apapun pekerjaannya, asalkan halal, ia bersedia melakukannya. Seperti, kuli Tandur (Menanam padi) di sawah, mencuci pakaian, bersih-bersih di rumah orang kaya, jualan pete, jengkol, buah, bawang, cabe, sayur, dan apa saja sesuai musim panen yang ada.
Namun, semua itu tak dapat mencukupi segala kebutuhan yang ada. Ayu dan Tya adalah kedua putri Ana, mereka berdua semakin tumbuh besar. Ayu sudah kelas 3 SMP, mau ujian. Tya sudah kelas 6 SD, mau ujian juga. Biaya sekolah pun semakin besar. Penghasilan dan kebutuhan tidak seimbang, meminta pertolongan kepada orangtua atau saudara pun tidak ada, semua dalam keadaan kesusahan. Membuat kepala Ana penat mau pecah.
“Kalau tidak dapat ke Taiwan lagi, Kau bisa ganti haluan, pergi ke Hongkong misalnya!” tutur pak Robana, dia adalah seorang PL atau biasa disebut sponsor.
Ana tak lagi berpikir panjang, ia menerima tawaran sponsor itu untuk merantau ke negara kelahiran Andi Lau dan Toni Lung itu. Kali ini berbeda sebelumnya, PJTKI yang memberangkatkan Ana ke Hongkong, bertempat di Jakarta Pusat. Dua bulan berada di sana, job Ana langsung turun, kemudian terbang bersama pesawat China Airlines.
***
Pengalaman menjaga lansia sudah pernah didapat Ana, tetapi menjaga anak remaja umur 15 tahun yang tidak normal, maaf bukan fisik, tetapi otaknya. Membuat Ana tiap hari makan hati hingga kurus kering. Bayangkan, betapa susahnya merawat orang yang tidak normal otaknya. Bicara secara baik-baik tidak mungkin di dengarkan, apalagi kalau berbicara dengan nada tinggi dan marah? Kalau apa yang dikehendaki tidak segera dituruti, Ana dipukul dan diancam akan dibunuh, tanpa ada rasa takut akan dipenjarakan. Yaaa … namanya juga orang tidak waras.
Peraturan tenaga kerja di Hongkong berbeda dengan di Taiwan. Mengapa demikian? Karena di Hongkong bisa dengan mudah minta pindah majikan, berbeda dengan di Taiwan, cukup rumit prosesnya. Ana pun memohon agensi untuk pindah majikan dan dikabulkan.
Mungkin nasib Ana bisa dibilang kurang mujur, berkali-kali ia pindah majikan, berkali-kali pula ia menderita. Tak ada satu job pun yang ia mampu tuk bertahan. Setelah menjaga anak remaja yang tidak normal, job keduanya adalah bekerja diperternakan babi. Tiap pagi dan sore, Ana harus membersihkan kandang, memberi makanan dan minuman untuk 100 ekor babi. Karena terlalu berat, ia kembali minta pindah majikan. Job ketiga menjaga nenek umur 90 tahun. Awalnya ia merasa sedikit lega dengan job ini, tetapi sayangnya tidak berlangsung lama juga, karena si nenek pikunnya sudah sampai stadium atas. Ana sering mendapat pukulan, cubitan dan yang lebih sering lagi, ia sering mendapatkan semprotan air ludah. Begitu pula selanjutnya, job ke empat dan kelima pun telah membuat Ana seakan kapok.
Pulang ke Indonesia, itu menjadi keputusan Ana yang terakhir. Dua tahun ia bertahan, 20 KG berat badannya berkurang, dari yang 60 KG hingga turun sampai 40 KG.
***
“Sudahlah, mungkin rejekimu bukan di luar negeri, kamu yang sabar!” ucap si Mbok Cas, ibunya Ana.
“Mbok, mengapa kebahagian tak mau hinggap di peraduan hidupku, apakah aku bukan makhluk yang layak mendapatkan kebahagiaan?” keluh Ana dan menangis dalam pangkuan ibunya.
“Percayalah, Nak! Tuhan tak mungkin memberi cobaan di luar batas kemampuan umatnya,” ucap si Mbok menghibur putrinya.
***
Jauh dari pulau seberang, pria tampan bak seorang pangeran telah datang ke pulau Jawa bagian barat, tepatnya Cirebon, kota yang terkenal dengan sebutan kota terasi. Semua orang memanggilnya Bang Al, nama lengkapnya Alfirzal. Nampak sekali terlihat macam orang kaya. Jelas saja, karena ia telah membeli sebuah RUKO (Rumah dan toko) pinggir jalan di salah satu pusat kota Cirebon, seharga ratusan juta. Rencananya, ia akan membuka usaha penjualan kain khas minang, dan toko baju, dari mulai baju anak-anak sampai dewasa. Di pasangnya sebuah pengumuman pada papan spanduk depan tokonya
‘Menerima lowongan pekerjaan untuk pelayan toko, pria atau wanita, lulusan akhir tidak menjadi masalah, yang penting rajin bekerja dan jujur’
Kabar gembira itu sampai juga ke telinga Ana, ia pun segera mempersiapkan diri untuk melamar. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih satu jam dari Losari ke Cirebon, dengan semangat yang tinggi dapat diterima bekerja, walaupun hanya dengan gaji tujuh ratus ribu rupiah perbulan. Kalau dibandingkan dengan gaji waktu kerja di luar negeri, memang sangat kecil sekali. Tetapi apalah daya, demi kelangsungan hidup seorang singgle parent beranak dua, seberapa pun penghasilannya, asalkan halal pasti ia lalukan.
Lagi-lagi Ana tidak mujur, pekerjaan yang diharapkannya itu telah diambil orang. Entah mengapa tiba-tiba butiran-butiran hangat menetes membasahi pipinya. Pandangannya menatap langit, seakan ingin bertanya kepada Tuhan, merasa tidak pernah mendapatkan keadilan dalam hidupnya. Bertumpuk pertanyaan dalam benaknya, masih adakah kebahagian yang tersisa?
Berjalan menelusuri jalan yang panjang, di bawah terik matahari yang menyengat, rasa haus dan lapar menambah rasa sedihnya. Dilihatnya duit yang ada dalam dompetnya, hanya tersisa lima lembar duit sepuluh ribuan. Hanya cukup untuk ongkos pulang. Ia pun tak menghentikan langkahnya, melaju menaiki Bis, pulang ke losari.
***
“Ana, apakah Kamu mau kerja ke Jambi?” tanya Sulastri tetangganya. “Jadi pelayan restoran, gajinya lumayan, untuk ongkos ke sana, biar semua aku yang tanggung!” lanjutnya.
“Ya, aku mau, Las!” Ana langsung menjawab dengan gembira.
Singkat cerita, Ana sampai di kota Jambi. Tempat yang asing sekali baginya, dalam hatinya hanya berdoa, semoga ini adalah jalan yang terbaik, sehingga ia dapat membiayai sekolah kedua anaknya.
“Ana, mulai sekarang jangan panggil aku dengan nama asliku, panggil aku dengan nama Selly,” kata Selly yang tak lain adalah Sulastri.
Memasuki rumah mewah bak istana yang megah, menambah perasaan aneh, bercampur rasa takut. Di dalam ada beberapa wanita, sepertinya teman-temanya Selly, dengan gaya mirip turis. Semua rambut mereka dicat warna-warni, semua berpakaian seksi, rata-rata merokok.
“Tidak usah takut, mereka semua orang baik!” hibur Selly.
Sampai di depan pintu sebuah kamar, seorang pria membukakan pintu. Selly menyuruh Ana tunggu di luar. Entah apa yang mereka bicarakan, setengah jam sudah Ana menunggu di luar. Selly pun keluar dari kamar itu kemudian, mengajak Ana ke lantai dua untuk beristirahat. Perasaan tidak enak terus menyelimuti hati Ana, ia menjadi curiga dengan Selly tetangganya itu. Diam-diam ia mencari tahu kebenaran, dan ternyata …
***
Hujan deras hari itu, mengiringi peristiwa naas yang terjadi pada Ana. Dengan susah payah ia mencari ide untuk keluar dari rumah terkutuk itu. Seseorang yang dianggapnya Dewi penolong yang diturunkan untuknya, ternyata adalah seorang siluman ular yang ganas dan beracun. Siluman itu akan menyeretnya ke dalam jebakan lembah hitam.
Di persimpangan jalan, Ana kelelahan, kakinya terasa mau patah, tulang belulangnya seakan remuk. Ia telah melompat dari lantai dua, kabur dengan berlari sejadi-jadinya macam orang yang dikejar setan. Dilihatnya sebuah masjid besar di seberang jalan. Ia yakin akan aman di sana, Tuhan akan melindunginya. Dalam sujudnya ia berpasrah sambil menangis sejadi-jadinya, mengadu kepada Sang Maha Esa, memohon petunjuk dan pertolongan untuknya, agar ia dapat kembali ke kampung halamannya.
“Kenapa Nona menangis? Apakah ada keluarga Nona yang sedang sakit?” tanya seorang pemuda.
“Kau pun terlihat habis menangis?”
“Ibuku sedang sakit, sekarang ia membutuhkan donor ginjal untuk kelangsungan hidupnya. Tapi …”
“Tapi apa? Belum menemukan seseorang untuk mendonorkan ginjal?” tanya Ana penasaran.
“Hu um!” pemuda itu menghela nafas dan menganggukan kepala tanda benar.
“Saya bersedia, mendonorkan ginjal saya, asalkan Abang memberi uang untuk saya pulang ke jawa.”
“Tapi …”
Entah ini dinamakan apa, kebaikan atau sebaliknya? Yang ada di otak Ana saat itu adalah ia ingin cepat kembali ke kampung halamannya, bertemu kembali dengan kedua buah hatinya.
“Lebih baik menjual ginjal dari pada menjual kehormatan,” pikir Ana.
***
Makan dengan sambal terasi, lalapan rebusan pepaya muda, sudah terasa nikmat. Begitulah yang dirasakan Ana setelah kepulangannya dari Jambi. Dapat berkumpul kembali dengan keluarga tercinta, walau hidup serba kekurangan, merupakan anugerah besar baginya. Kebahagian itu pasti ada, tidak perlu menunggu dan menunggu. Bahagia itu, bisa kita ciptakan sendiri. Jadikan keluhan, cobaan, ujian, yang ada sebagai bumbu penyedap. Hidup ini penuh warna, berbagai kisah itu ada, pahit dan manis selalu mengiringi roda kehidupan. Ambil hikmahnya, di situlah kita akan menemukan jawabannya.
***
“Ana, Kau tahu kabar Sulastri tidak?” tanya Salamah, tetangga belakang rumah Ana.
“Memang kenapa?”
“Dia kemarin di gerebek Polisi!” bisik Salamah. “Hukum pidananya cukup berat, selain pelacuran, ada kasus NARKOBA juga!” lanjutnya.
“Masa sih?” Ana terkejut.
Seharusnya, mendengar kabar ini Ana bahagia, tetapi malah sebaliknya. Dia merasa kasihan kepada Sulastri, karena Sulastri pun seorang janda beranak dua sama seperti dirinya. Sulastri pun wanita malang yang ditinggal suaminya, pergi bersama wanita lain. Hanya saja Sulastri menempuh jalan salah, mungkin karena keadaan yang memaksanya. Kejamnya krisis moneter yang melanda Indonesia, memang tak dapat dipungkiri.
Ana berjalan terhuyung, setapak demi setapak ia menjejak kebahagiaan. Mungkin juga pahit getir kehidupan sudah tak asing lagi baginya. Kisahnya, dari menjadi TKW (Tenaga kerja wanita), di negeri Taiwan dan Hongkong, kuli tandur, kuli cuci baju, jualan di pasar, bahkan hampir saja terjebak lembah hitam, sampai akhirnya ia harus kehilangan satu ginjalnya hanya untuk pulang ke kampung halamannya.
Jika ia boleh memilih, tentunya ia akan memilih tuk tidak jatuh cinta pada Kang Aep. Menurutnya, pertemuan dengan Kang Aep adalah malapetaka, mimpi yang paling buruk di kehidupannya. Tapi sayang, cinta bukan pembantu yang mampu disuruh jatuh di mana kita mau. Tidak ada makhluk hidup manapun yang dapat memutar kembali waktu. Walau tanpa cinta dari seorang Adam, walau ia harus menjanda seumur hidupnya. Hanya satu yang mampu menguatkan dirinya tuk bertahan hidup, yaitu kedua putrinya.
***
Cerita pelangi kan hadir setelah hujan, memang nyata adanya. Putri Cinderela yang penuh derita berakhir bahagia. Begitu pula dengan Ana. Terkejut hatinya, saat ia melintasi sebuah toko di pasar Kota Cirebon. Sebuah toko telah mengingatkan ia pada masa-masa yang sulit. Sebuah harapan bisa diterima sebagai pelayan toko namun kandas karena sudah didahului orang. Ini semua kehendak Tuhan. Andai saja saat itu Ana mendapatkan pekerjaan itu, mungkin ginjalnya tak kan terjual. Jodoh memang tak kan ke mana, pemilik toko tersebut adalah seorang pemuda yang membeli ginjalnya untuk ibunya.
“Kamu …”
“Ya benar! Aku Alfirzal.”
Sejak saat itulah bunga-bunga perlahan mekar dengan sendirinya, hujan pun reda meninggalkan embun yang sejuk. Pancaran sinar pelangi menghiasi langit biru, begitu indahnya. Nampaknya burung-burung pun ikut gembira. Menyaksikan hari-hari bahagia Ana. Percayalah! Tuhan Maha adil, segala sesuatu telah diatur olehNya. Jangan menyerah dengan cobaan yang ada. Jadikanlah segala cobaan pembelajaran untuk kita semua, memperkuat iman dan takwa kepada Sang Esa. Bahagia kan hadir pada masanya.
Tamat

Taipei, 22 Maret 2016.