Teman Tangis Kesetiaan

Nana Chyintia / Teman Tangis Kesetiaan / Tidak ada / tenaga kerja asing Teman Tangis kesetiaan Oleh: Nana_Chyintia Ini kedua kalinya aku datang ke Taiwan. Baru dua bulan yang lalu aku meninggalkan Taiwan dan sekarang aku sudah berada di sini lagi.. Udara pagi ini membuat aku menggigil sepertinya musim dingin belum berlalu, semilir angin menembus jacket berlapis-lapis yang … Continue reading “Teman Tangis Kesetiaan”

Nana Chyintia / Teman Tangis Kesetiaan / Tidak ada / tenaga kerja asing

Teman Tangis kesetiaan
Oleh: Nana_Chyintia

Ini kedua kalinya aku datang ke Taiwan. Baru dua bulan yang lalu aku meninggalkan Taiwan dan sekarang aku sudah berada di sini lagi..

Udara pagi ini membuat aku menggigil sepertinya musim dingin belum berlalu, semilir angin menembus jacket berlapis-lapis yang membungkus tubuhku.

Setelah menunggu beberapa jam, agency membawaku kerumah majikan

“apa kamu takut?” tanya penerjemah saat mengemudi mobil

Aku diam, tidak menjawab pertanyaan itu.

Kulangkahkan kaki keluar dari mobil sedan yang sudah berhenti di depan rumah, tidak cukup besar tapi berlantai dua. Rumah yang ada dihadapanku saat ini bukanlah rumah mewah yang selama ini aku bayangkan melainkan rumah yang berada di tengah persawahan jauh dari kota.

“ini adalah majikanmu, sapalah mereka” penerjemah menunjukkan majikanku.

“tajia hao?” *sapaku kepada mereka seraya menundukkan kepala, mereka membalas menundukkan kepala.

Entah kenapa hati ini gundah, hati ini mengatakan “AKU TIDAK INGIN DI SINI!!!”

Setelah Penerjemah mengajariku beberapa cara mengurus pasien yang aku jaga, dia memanggilku untuk duduk bersama majikan. tiba-tiba air mata menetes terlihat jelas mengaliri pipi cubbyku ini, entah karena apa aku menangis yang pasti aku belum siap dengan keadaan sekitar rumah ini. Sepertinya mereka merasakan keresahanku.

“jangan menangis, kasihan nyonya kamu ikut menangis juga.” melirik ke majikan yang ikut mengusap air matanya

Pasien yang aku jaga masih muda sekitar umur 52 tahun seusia ibuku, aku memanggilnya dengan sebutan mami. Mami mengalami kecelakaan 8 bulan sebelum kedatanganku, dia mengalami patah tulang pada kaki dan harus terapi 3 kali dalam seminggu.
***

Hari berlalu begitu cepat, satu tahun sudah aku merawatnya kesehatan mami semakin membaik dia sudah mulai berjalan tanpa menggunakan tongkat. Setelah kesehatan mami membaik aku kira pekerjaan akan terasa ringan karena tidak harus memapahnya. Tetapi perkiraanku salah pekerjaanku justru semakin sibuk.

Mereka tinggal bersama mertua mami, masih ada nenek dan kakek. Akhir-akhir ini kesehatan nenek semakin memburuk, setelah beberapa kali jatuh sakit dan dirawat inap. Nenek mulai tidak kuat memopang badannya sendiri, sekarang hanya bisa menghabiskan waktunya berbaring di ranjang.

Setiap 40 menit sekali, pasti jeritan nenek terdengar sampai lantai atas “Wa ai gi pang nio.” **cepat-cepatlah aku berlari menghampirinya.

Awal aku datang nenek bisa berjalan, walau memakai tongkat. Mulai dari kesehatan nenek yang tidak bagus lagi, kini pekerjaanku menjadi bertambah, selain menjaga mami aku juga menjaga nenek.

Pindah majikan sempat terbesit di fikiranku. Menjaga dua orang sekaligus bukanlah hal yang mudah, ketika aku sedang memandikan mami pada saat bersamaan nenek memanggilku mau buang air kecil, terpaksa aku harus lari menghampiri nenek membantunya berdiri. Selain mengurusi mereka aku juga harus mengurus pekerjaan rumah, dari berbelanja ke pasar, sampai hal sekecil apapun di rumah itu aku yang mengerjakan.

“sepertinya kita akan pulang telat” mami melirik jam tangannya “sudah jam 12:00 dokter belum memulai acupuncture” ***
setiap hari senin dan kamis mami melakukan terapi dan acupuncture kami pasti pulang telat, tidak hanya telat saja tapi pekerjaan juga menumpuk. jam 12:00 lebih kami pulang, sesampainya di rumah aku harus memasak makan siang terkadang sampai pukul 14:00 kita baru makan. Mami tidak pernah memikirkan untuk membeli makanan kotak, yang selalu beralasan makan seadanya saja.

Tetapi, mereka tidak pernah memarahiku ketika aku salah mengerjakan sesuatu. Bahkan mereka sabar dengan sifatku yang terkadang mudah tersinggung dan berbicara dengan nada keras. Aku juga begitu, aku mudah melupakan sesuatu yang membuat aku sakit hati. Itulah kecocokan kami.

Setelah aku berfikir ulang tentang kebaikan mereka terhadapku yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, aku urungkan lagi niatku untuk pindah majikan. Aku memilih pekerjaan berat asal mereka baik terhadapku. Memiliki persamaan, dalam sebuah hubungan pekerjaan adalah hal penting untuk menyatukan sifat-sifat individu yang berbeda. Apalagi aku hanyalah seorang perawat lansia di sini, apa yang bisa aku andalkan kalau bukan ketrampilanku untuk mereka.
***

Sering kali aku mendengar isak tangis di pertengahan malam. dia menangis tersendu-sendu, mungkin dia tidak tau akan mengadu dengan siapa,sakit yang dia rasakan tidak hanya sakit pada tulang saja dia juga merasa tidak berguna, sampai pernah dia berkata “Kenapa aku tidak mati saja”.
Mengadu dengan suaminya pasti akan menambah beban, karena hanya suaminya lah tulang punggung di keluarga ini. Di balik selimut aku pun turut merasakan kesedihannya, betapa sedih hatinya melihat tetesan keringat di badan suami yang semakin kurus itu. Papi, ya … Aku memanggilnya dengan sebutan papi. Papi hanyalah pekerja bangunan, gajinya hanya cukup untuk memopang kehidupan kami. Dari situlah kesetiaanku kekeluarga mereka, aku tidak meminta tambah gaji karena aku tahu perjuangan papi sangatlah sulit.

“Ma … Mama … Ma … “ suara papi membangunkan nenek beberapa kali yang tak kunjung bangun.

Tiba-tiba suara papi hilang

“hoy … melamun aja.” haaah … aku kaget sampai berdiri dari kursi tempat dudukku “noh, es cream kamu meleleh’’ tegur temanku mencubit pipiku

“hehehee ….” aku tertawa lirih.

“Kamu kenapa? Melamun dari tadi.” tanyanya ulang

“hmm … Nggak ada apa-apa kok” jawabku tersenyum meliriknya

“Nana dipanggil boss suruh ke kantornya” sahut teman satu ruanganku, yang baru saja keluar dari ruangan boss

Aku hanya membalas dengan senyuman.
***
Sekarang aku bekerja di kantor pabrik kakak kedua mami yang didirikan di Indonesia, di kota Bandung. Mereka (mami dan papi) pindah ke Indonesia, bukan untuk menetap tapi entah sampai kapan. Aku dipekerjakan sebagai penerjemah sekaligus sekertaris untuknya.

Dulu sewaktu aku libur, aku pergunakan waktuku untuk belajar. Aku mengambil sekolah juga mengambil kursus bahasa mandarin. Di tengah-tengah kesibukanku mengurus mereka, aku masih menyempatkan diri untuk belajar sampai larut malam,terkadang waktu istirahatku tersita untuk belajar. Aku tidak pernah berhenti berharap bahwa keadaan pasti akan bisa berubah jika kita mau berusaha. Mereka sangat mendukungku sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan di Negeriku sendiri Indonesia.

Kesibukanku yang sekarang juga membutuhkan ketrampilan, sama seperti kesibukanku yang dulu yang membutuhkan kesabaran. Sekarang nenek dan kakek di rawat oleh adik papi, yang tinggal tidak jauh dari rumah papi yang dulu.

Dalam pertengahan malam, kini aku tidak lagi mendengar tangisan sendu dari balik selimut. Yang aku dengar adalah senyuman bahagia dari mereka, yang dapat aku lihat setiap kali aku duduk bersama mereka menikmati secangkir kopi.

Chiayi, 26-maret-2016.

*tajia hao= apa kabar semua?
** wa ai gi pang nio= saya ingin pergi buang air kecil.
*** acupuncture= pengobatan atau terapi yang menggunakan jarum, sering disebut dengan tusuk jarum(akupuntur)