Mungkin Asa Tak di Formosa

nana / Mungkin Asa Tak di Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing eks taiwan Mungkin Asa Tak di Formosa Oleh Nana Kedua mataku berbinar kurasakan hembusan angin Daratan Cina menyapa lembut wajah, mencumbu tengkuk, menyibakkan rambut yang luruh di dagu saat aku tertunduk. Kupijakkan kaki di pelataran parkir Rumah Sakit Buddist Tzu Chi, di Xindian sesaat … Continue reading “Mungkin Asa Tak di Formosa”

nana / Mungkin Asa Tak di Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing eks taiwan

Mungkin Asa Tak di Formosa
Oleh Nana

Kedua mataku berbinar kurasakan hembusan angin Daratan Cina menyapa lembut wajah, mencumbu tengkuk, menyibakkan rambut yang luruh di dagu saat aku tertunduk. Kupijakkan kaki di pelataran parkir Rumah Sakit Buddist Tzu Chi, di Xindian sesaat setelah oto berplat nomor aksara Han Zi itu memboyongku untuk menemui majikanku. Aku tidak sendiri, ada Mr. Chen yang notabene sebagai agenku. Ada sesuatu yang membuncah isi kepalaku, hatiku membelungsing.
‘Bukankah aku sudah medical check up, kenapa harus ke rumah sakit lagi?’ gumamku dalam hati.
Meski begitu aku tetap mengekor mengikuti jejak Mr. Chen menuju lantai 7, ruangan nomor 23. Aroma pekat obat begitu kuat di dalam ruangan itu. Terdapat tiga ranjang pasien, langkah kami lurus menuju ranjang yang memangku jendela. Sontak perhatianku mengarah pada sosok pria yang tergolek pulas di atas ranjang. Dimana kedua tangannya dalam keadaan terbungkus dan terikat pada masing-masing sisi ranjang. Separuh batok kepalanya terbalut perban ada bercak darah, di hidungnya terpasang selang makan, di lehernya terdapat lubang sebagai saluran sedot dahak, di dadanya terpasang alat pendeteksi detak jantung. Dan di bagian bawah ranjang terdapat kantong kencing.
Kondisi pria itu sungguh memprihatinkan, dan pemandangan ini pertama kalinya sepanjang hidupku. Terdapat dua wanita yang berdiri di masing-masing sisi ranjang.
“Selamat Petang, Nyonya Ma.” Suara Mr. Chen menyapa wanita di depannya memecahkan lamunanku akan sosok pria yang tergolek di atas ranjang.
“Petang, Mr. Chen.” Salah satu wanita menjawab sapaan Mr. Chen. Wanita paruh baya, bertubuh kurus, tingginya kurang lebih sama denganku 150 cm kurang sesenti. Tergambar jelas guratan-guratan penuh beban di wajahnya, kusam, matanya terlihat lelah.
“Namanya Nana, baru datang dari Indonesia pagi ini, ” tambah Mr. Chen.
“Nana, ini Nyonyamu,” ungkap Mr. Chen padaku.
“Selamat petang Nyonya,” sapaku padanya sambil menganggukkan kepala. Ada sedikit rasa gugup meski ini bukan kali pertamanya aku bekerja menjadi buruh.
“Selamat datang,” jawab Nyonya, diikuti seraut senyuman hambar dari wajahnya.
“Nana, tugas utamamu menjaga Tuan Ma.”
“Beliau baru saja operasi di bagian kepala akibat kecelakaan.” Mr. Chen memberi penjelasan singkat padaku.
Perkenalan dilanjutkan dengan penjelasan tugas dan kewajibanku yang Nyonya paparkan panjang lebar. Aku sedikit tergemap, keadaan seperti ini bagai membeli kucing dalam karung. Aku tidak membaca dengan seksama isi lembar hijau yang telah terbubuh oleh tanda tanganku itu. Tepatnya semasa training di asrama PJTKI, sebelum terbang ke Taiwan. Yang ada dibenakku saat itu hanya ingin segera bekerja di Taiwan, tanpa memilah-milah bagaimana kondisi kerjanya. Pekerjaan kali ini sungguh berbeda dengan sewaktu di Singapura, yang kukira berkutat dalam urusan dapur dan kebersihan rumah. Namun berurusan dengan pesakit dan rumah sakit.
Meski begitu aku harus tetap konsisten, semua sudah terlanjur. Terikat perjanjian hutang bank selama 9 bulan, kuharus melunasinya. Aku harus tetap bekerja demi pulang membawa uang.
Mr.Chen pamit undur diri, sepesan wejangan dia wariskan padaku.
“Kerja baik-baik ya?”
“Kalau ada apa-apa hubungi aku,” pesannya sambil menepuk ringan pundakku.
“Terima kasih,” ungkapku sambil mengangguk.
Mr. Chen berlalu meninggalkanku, sementara sesosok wanita lain yang bersama Nyonya adalah yang merawat Tuan sebelum aku tiba. Namanya Ms. Anggie, perawakan tinggi besar dan wajahnya sinis menatapku. Untuk sementara dia juga yang akan mengajariku bagaimana merawat Tuan.
“Nyonya, kecil sekali dia!”
“Apa dia mampu menjaga Tuan?” ungkap wanita itu pada Nyonya sambil sesekali melirikku.
“Nana pernah bekerja di Singapura selama empat tahun.” Nyonya mencoba membela.
Magrib menjelang, senja di ufuk barat menyemburatkan asa yang segera tenggelam dalam dekapan malam langit negeri formosa. Nyonya pun telah berpulang ke kediamannya, dan mempercayakanku merawat Tuan di bawah pengawasan Ms. Anggie yang memang sudah berpengalaman.
“Kamu bisa sedot dahak kan?”
“Coba kamu praktekkan sekarang!” Suruh Ms. Anggie dengan nada agak tinggi. Entah apa yang terjadi, sejak awal kedatangan dia memperlakukanku dengan sinis. Kucuaikan saja, toh dia bukan majikan.
“Aku bisa, Ms. Anggie,” jawabku lirih.
“Selamat malam, Tuan.”
“Namaku Nana.”
“Nantinya aku yang akan merawatmu.”
“Permisi Tuan, aku akan membantumu sedot dahak.” Aku memperkenalkan diri pada Tuan sebelum melakukannya.
Tuan tak bersuara karena dibagian leher ada semacam lubang nafas dan itu dijadikan jalan saat sedot dahak, dia hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Sesekali dia melirik ke arah Ms. Anggi, sorotan mata Tuan bak pisau tajam, penuh kebencian. Dahinya mengernyit, bibirnya komat-kamit menyumpah serapah, namun tak terdengar suara.
Kulakukan dengan perlahan penuh kehati-hatian. Aku ingat pesan Nyonya yang kenapa kedua tangan Tuan terikat. Karena otak Tuan bagian pengendali saraf motorik belum benar-benar pulih, hal ini menimbulkan gerak reflek memukul, mencakar, mencabut setiap apa saja yang ada didekatnya dan dia tidak sadar hal itu.
Saat aku sedang menyedot dahak pada sedotan ketiga, tiba-tiba pembungkus tangan Tuan sebelah kanan terlepas. Reflek tangan kanannya menampar wajahku sangat kuat, aku tersungkur menepi ranjang. Tangannya tak terkendali mencabut selang makan, menarik alat yang terpasang pada lehernya. Seketika darah segar muncrat bak air mancur dari lubang sedot dahak itu, tangannya tak berhenti mencakar-cakar tubuhnya sendiri.
“Dokter!”
“Suster!”
“Tolong!” Terdengar teriakan Ms. Anggie, wajahnya menggambarkan ketakutan.
Aku dengan gegas memencet tombol darurat di tepi ranjang, agar pertolongan segera datang. Kuraih tangan kanan Tuan, darah itu menyembur keluar mengenai wajahku. Ada sembilan perawat, tiga dokter yang datang menanganinya. Sesekali aku turut membantu membasuh darah yang mancur tak terkendali itu. Sementara kulirik Ms.Anggie yang berdiri menepi, terlihat sedang berbicara di telepon.
Tak lama Tuan dibawa masuk ke ruang ICU, dan waktu yang bersamaan Nyonya datang bersama kedua putrinya. Wajah mereka penuh kegelisahan berderai air mata. Namun reaksi Nyonya membuatku nanap terpatung.
“Pergi Kau, aku tak ingin melihatmu!” Dengan suara yang begitu lantang hingga beberapa penghuni ruang lantai 7 keluar menyaksikan pengusiran Nyonya padaku. Dia melempar tas yang berisi baju-bajuku, berserakan di lantai.
“Tapi, Nyonya… !” Aku berusaha menjelaskan, Nyonya berlalu tak pedulikanku.
“Tak punya pengalaman jangan kesini,” ejek Ms. Anggie yang mengikuti langkah Nyonya.
Dengan tubuh berlumur darah, kupunguti baju-bajuku. Beberapa pasang mata mengawasiku penuh iba ada pula yang mencaci, menyumpah serapah. Selanjutnya dalam lunglainya sang tubuh, wajahku bagai tersulut api, dadaku terpanggang, rasanya seperti ada hawa panas berdesak-desak, menggerapai kerongkongan, menggumpal di rongga hidung, berjalar pelan, lalu bermuara di balik kelopak mata, kubiarkan saja air mataku merembes mengalir pelan di pipi. Mindaku seolah masuk dalam delusi dan berbisik agar aku tak perlu takut.
Tanganku merogoh ke dalam tas, kuraih telepon genggam yang hanya memiliki tiga fungsi, menelepon, mengirim SMS, dan melatih kesabaran. Kutekan beberapa nomor, dan mulai berbicara.
“Selamat malam, Mr. Chen!”
“Aku….” Dengan nada terbata-bata aku mengubungi agen, namun belum selesai berucap dia sudah memotong pembicaraan.
“Ya, aku sudah tahu.”
“Bermalam saja di rumah sakit.”
“Besok aku jemput.” Mr. Chen berkata dengan nada ketus, sepertinya dia sudah tahu apa yang terjadi. Dia tak memberiku kesempatan berbicara dan langsung mematikan telepon.
Bulir-bulir bening tak berhenti menetes, isak tangis lirih memecah keheningan malam yang semakin larut. Bahkan satu-satunya pelindung di negeri ini menelantarkanku. Aku ingat Ibu, aku ingin mengadu padanya. Tapi tidak, ini kecerobohan yang kubuat sendiri. Aku tidak boleh membebaninya. Aku tidak memahami isi kontrak kerjaku, ambisi untuk segera mengeruk NT mematahkan nalarku, itu kelalaianku.
“Ibu, aku sudah sampai di Taiwan, majikanku sangat baik. Ibu doakan anakmu ya?” Selayang SMS kukirim untuk Ibu, agar beliau tidak khawatir.
Dinginnya AC ruangan lobi rumah sakit membawa lamunku pada sebuah perenungan. Kejadian hari akan jadi pengalaman tak terlupakan seumur hidupku. Belajar, belajar, dan belajar dari setiap skenario hidup yang terjadi.
“Kamu pergi mandi dulu!” Seorang perawat tiba-tiba mendekatiku sambil mengulurkan sebungkus roti dan sekaleng susu.
“Malam ini aku boleh bermalam di kursi ini?” izinku padanya.
Dia mengangguk tanda setuju.

Hongkong, 17 Mei 2016
Catatan:
NT : New Taiwan Dollar
Medical check up : tes kesehatan
Han zi : aksara cina
Training: pelatihan