Nawang wulan / Tetesan kasih di formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing
Tetesan kasih di formosa
Karya : Nawang Wulan
Demi kebahagian keluarga, kuharus menepiskan segala kebutuhan pribadiku. Aku tak ingin melihat keluarga terus terusan berada dibawah garis kemiskinan. Aku bertekat pergi merantau, walaupun aku harus rela meninggalkan mereka di kampung halaman. Namun perjalan hidupku tak seindah yang ku bayangkan.
Kutelusuri hidupku setapak demi setapak. Letih raga tiada aku rasa, demi mewujudkan cita-cita keluarga bahagia. Liku liku kehidupan yang aku lalui tak membuatku surutkan langkah kaki. Maju dan terus maju, walau rintangan selalu menghadang didepanku. Ku bularkan tekatku dalam mengarungi gelombang kehidupan yang menyimpan berjuta misteri.
Singkat kata, dinegeri formosa kulangkahkan kaki mencari rejeki. Harapan ku tanamkan tanpa ada keraguan. Aku berusaha semaksimal mungkin bekerja sesuai dengan kemampuanku. Berdoa dan berusaha, bekerja keras demi cita cita. Akan tetapi sebagai manusia biasa yang bisa yang hanya bisa berencana, Tuhan jugalah yang menentukan.
Siang berganti malam, minggu berganti bulan. Setahunpun telah berlalu tanpa terasa, semua berjalan biasa saja, tak ada pengaruh yang berati bagiku. Namun menginjak tahun ke dua, aku mulaj merasakan perubahan pada diriku. Dku yang dulunga lugu dan culun, kini aku mulai suka berubah. Aku suka membeli alat-alat kecantikan. Yang dulunya pakaianku panjanv dan sederhana, kini aku suka pakai pakaian yang serba minim. Dulu yang rambutku selalu ku ikat ekor kuda, kini ku gerai dan ku semir pirang. Dan lagi yang dulu aku masa bodoh dengan tubuhku yang bongsor, kini aku mulai diet untuk mendapatkan tubuh yang sexi dan idial. Tubuhku yang tinggi membuatku yakin dan percaya diri aku bisa berpenampilan aduhai. Aku telah melupakan segala cita citaku. Aku melupakan tujuanku untuk apa aku sampai di negeri ini.
Begitulah aku yang sekarang bukan aku yang dulu lagi. Setiap liburan aku aku habiskan waktuku untuk hura hura bersama teman-teman yang berpandangan sama denganku. Tak ketinggalan kamipun mulai bisa mengkonsumsi rokok. Tak malu malu lagi kami merokok, walau didepan umum. Cuek dan masa bodoh apakata orang. Semua itu kulakukan dengan enjoy tanpa beban. Begitulah hari-hariku selama ini.
Hingga pada suatu hari aku mendapat kabar temanku jatuh dari lantai atas. Aku tertegun tak percaya. Satu temanku telah meninggalkanku, namun perasaan kehilangan cuma berlangsung beberapa minggu saja, kami masih terus menjalani hura-hura. Nasehat dan saran dari teman-teman tidak kami hiraukan.
Waktu terus berlalu, dan akupun belum ada tanda-tanda untuk menyadari bahwa apa yang kami lakukan salah. Gelak tawa canda, dandan sexy masih terus menjadi kebiasaan ku. Aku nyaman nyaman saja. Bahkan aku mulai ikut-ikutan berdugem ria. Aku tidak mau dibilang kurang gaul. Aku tidak ingin orang mengatai aku cewek kuper. Baju-bajuku kini separoh badan semua. Bahkan lebih terkesan hanya yang bagian penting saja yang tertutup. Tidak, aku suka menonjolkankan buah dadaku agar aku dibilang cewek yang gaul dan sexy. Aku sangat bangga dengan tubukku yang sexy, tinggi semampai, pastilah idaman setiap wanita. Dan aku selalu menyerang orang-orang yang berusaha menasehati aku. Selalu aku katakan karena mereka iri padaku. Begitulah aku dengan segudang perubahanku selama dinegeri formosa ini.
Pada suatu hari kami mengadakan acara ulang tahun salah satu temanku disebuah taman kota di Taipei. Taman 228, itulah tempat tujuan kami mengadakan acara. Bernyanyi, bergembira, dan tidak lupa berjoget ria dengan iringan musik yang ada di hp kami. Ditengah- tengah acara aku disuruh temanku untuk membeli makanan ringan ke seven eleven yang tidak jauh dari taman. Akupun segera berangkat dengan hati berbunga bunga. Pada saat itulah, karena kurang hati- hati, aku tidak memperhatikan jalanan. Aku berlari lari kecil, namun ” brusskk”, aku terjatuh. Itu yang ku ingat. Selainnya aku tidak ingat lagi. Aku tidur pulas, pulas sekali, bahkan aku tak tahu aku dimana dan kenapa.
Disuatu saat aku menelusuri sebuah lorong yang panjang, perlahan lahan kulangkahkan kaki panjangku yang berbalut celana jiens street warna biru muda, warna faforitku. Tas kulit usang bergantung dipundakku. Suasana sepi dan dingin menyayat membuat bulu kudukku merinding. Aku terus berjalan menelusuri lorong itu. Lorong inj menuju kemana, pikirku dalam hati. Namhn akhirnya aku tahu diujung lorong ada persimpangan lorong lagi, aku bingung, pilih yang arah mana. Hati kecilku menyuruhku ambil langkah kekanan, disisi hatiku yang lain menyuruhku membelok kekiri. Aku berdiri sejenak, dan aku teringat kata- guru agama sewaktu aku disekolah dulu. Bila kita lupa atau dalam kebingungan, pijitlah leher belakang pangkal kepala sambil menyebut nama Allah dan bersholawat. Mendadak aku terkesiap. Seketika itu juga aku lakukan apa yang ku ingat, rifleks ku langkahkan kakiku kearah kanan. Ya aku terus melangkah, hingga aku sampai ke station taipei. Lagi-lagi suasana sepi dan lenggang. Tam seorangpun aku lihat disana. Aku duduk dikursi ruang tunggu.
Kriiiyyyt, kriiiyyt, kriiyyyt, thok thok thok, bunyi langkah kaki membuat jantungku berdebar- debar. Kupalingkan kepalaku menengok kanan kiri mencari datangnya arah suara, namun belum kutemukan adanya orang yang sedang berjalan. Suara langkah kaki semakin jelas, dan dekat sekali, tetapi aku tak bisa melihatnya. Badanku menggigil, keringat dingin bercucuran. Siapa yang datang? Aku berdiri untuk memastikan apakah ada orang apa tidak. Di samping kanan yang agak terhalang oleh dinding tangga, mataku menangkap sebuah bayangan yang bergerak seperti menenteng sesuatu, aku tak berani menyapa, karena suasana dilorong itu sepi sekali, apakah laki-laki atau perempuan, aku tak bisa memastikan.
Dengan masih diliputi rasa ketakutan, aku berjalan keujung lorong yang kelihatan ada lampu bersinar terang. Bukan lampu, tetapi terangnya alam disiang hari, kata hatiku memastikan. Kepercepat langkah kakiku untuk menggapai ujung lorong. Dan ternyata benar. Ujung lorong yang menghubungkan dengan jalan raya. Namun belum sampai keluar lorong, tiba tiba ada mobil putih datang diparkir di ujung lorong, yang seakan menghalangi jalanku. Aku menghindari, namun tiba tiba pintu mobil dibuka dari dalam,
” Oh my god” pekik ku lirih kagum akan ketampanan sang pengemudi yang membuka pintu. Aku terpana dibuatnya. Aku berdiri diam, namun sang tampan menyuruhku naik ke mobil. Aku riang sekali lagi aneh, kenapa aku harus naik mobil mu? Kataku sengit, aku menolak, tetapi dia memaksa naik. Aku menolaknya, dan akupun hendak berlalu meninggalkannya. Namun dengan gesit dia hadang jalanku dan menarik tanganku memaksaku masuk kemobil. Aku sangat tidak suka dengan kekasaranya. Diikat tangan ku, dipasangnya sabuk pengaman, dan di kuncinya pintu mobil itu, “hai, hai, buka pintu, aku gak mau iku kamu,” teriakku keras. Dia tak pedulikan aku. Dia acuhkan diriku yang memandangnya garang. Gejolak brutal yang mempengaruhiku masih tersimpan didada. Dia cuek dan tersenyum senyum simpul menyimpan misteri yang tak ku tahu.
Sampailah disuatu tempat, dia hentikan laju mobilnya. Dibukanya ikatan tanganku, dilepaskannya sabuk pengaman dibadanku, dibukanya kunci pintu mobil putihnya seraya menunjuk kesebelah arah. “keluarlah, jalanlah kamu kesana, ingat jangan belok belok lagi, jalan lurus dan terus,” katanya kepadaku sambil tersenyum. Alamaaaak, hatiku dibuatnya bergetar juga melihat senyumannya. Aseem, pekikku dalam hati sambil membalikan badan, takut kelihatan mukaku ketahuan berubah. Aku rasakan mukaku merah bukan marah, tetapi jengah. Aku ikuti petunjuknya. Aku kembali menyusuri lorong panjang, namun kali ini ada aroma semerbak harum. Selalu ku ingat pesannya, lurus dan lurus, berjalan. Sampai di satu tempat, kulihat ada seorang wanita tua sedang menyuapi dua anak kecil yang lucu lucu. Mereka bertiga serentak memandangku. Aku terkejut seakan kenal dengan mereka. Yeach aku kenal baik dan bahkan akrab dalam keseharianku. Tetapi kenapa mereka sampai disini, diTaiwan ini? Mamak ku sayang, kenapa berada disini, dan dua anak kecil itu, dua buah hatiku. Kutatap mereka dengan pandangan nanar dan berkaca kaca. Ada aliran hangat yang meleleh di sudut mataku. Kupercepat langkah kakiku ingin segera memeluk mereka. Namun kenapa aku tak bisa memeluknya, mereka berjalan terus, dan aku terus mengejarnya, sampai nafasku tersengal sengal.
“Maaak, maaaak,” aku memanggil mamak yang menhilang bersama dua buah hatiku yang selama ini ku tinggalkan. Aku terus berlari mengejarnya. “Maaak pean dimana maaak, aku sendirian kii loo maak,” aku memanggil sambil mulai terisak isak. Samar samar aku mendengar ada suara berbicara didekat telingaku. Berbisik lembut dan merdu seakan melantunkan sebuah lagu yang merdu. Eh bukan syair lagu. Kutajamkan pendengaran ku. Ya Arhamarohimiin. Ya Arhamaarohimiin. Hatiku tiba tiba begejolak dan bergetar hebat sekali. Lantunan itu semakin jelas. Lantunan itigoshah, yaa, orang melantunkan istigoshah. Tiba tiba aku menjerit keras, Yaa Allah, Yaa Allah Yaa Allah. Air mataku mengalir deras. Belaian lembut dan hangat kurasakan mengusap pipiku. Ku dengar seseorang mengucap syukur Alhamdulillah, dia sadar, katanya. Siapa yang sadar yaa, siapa yang pingsan pikirku terus. Tapi hatiku masih terpaku dengan lantunan istighoshah.
Perlahan lahan aku melihat suasana yang serba putih dan bersih. Semerbak bau obat obatan menghampiri hidung kecilku, ku. Kubuka mataku perlahan, kulihat seseorang memegang mataku dan membukanya, serta menyorotkan lampu senter kebola mataku. Aouw, silau man, pekikku. Namun aku tak bisa membuka mulut, karena sesuatu ada yang menyumlal mulutku.
Perlahan dan pasti kesadaranku pulih, alat-alat yang menempel ditubuhku sudah dilepasi semua. Tinggal satu jarum selang infus yang menempel. Aku masih tertidur saat kudengar sesorang yang disebut ustadz mengucapkan tahmid. Subhannallah alhamdulillah, Allah masih menyayanginya, dan masih memberi kesempatan. Semoga bila sudah sehat nanti, mbak ini bisa kembali kejalan yang benar, Amiin,, suara serempak kudengar mengaminkan. Dadaku kembali bergemuruh. Aku menangis haru, kulihat ada sekitar 9oeng mengerubungi aku sambil memberiku semangat. Cia yao,, cia yao, kami menunggumu bergabung dengan kami. Aku masih menangis, ternyata aku bermimpi tetapi bukan bermimpi sembarang mimpi. Kini aku sadar selama ini aku salah jalan. Astaghfirullohal’adziim, Yaa Allah, ampunilah hambamu ini Ya Allah…
Kini aku sudah pulih seperti sediakala, Allah telah menunjukan kasihnya dengan cara di masukannya kaki ku kedalam selokan, agarku terjatuh, dan kepalaku membentur beton, karena ketidak hati hatianku. Mungkin karen kondisi tubuhku yang saat itu tidak fit, dan atau apa, namun apapun kondisi tubuhku, Allah dengan kasih sayangnya menegurku agar aku mendekat kepadanya. Tetesan kasih Allah kurasakan begitu nyaman dan tenangnya hati sekarang ini. Allah tidak pernah meninggalkan kita, kitalah yang selalu melupakannya,,,
Formosa, 25 mei 2016.