Ninik Nuryati / Pelangi Di Langit Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing
Namaku Layla,tetapi majikanku biasa memanggilku Lala.Aku tidak tahu apa penyebabnya,mungkin saja nama Lala lebih terdengar indah daripada Layla,atau nama Lala lebih mudah disebut.Apapun penyebabnya itu tidak menjadi masalah bagiku.Yang terpenting adalah Ama(sebutan untuk nenek)dan anak-anaknya baik terhadapku.Mereka benar-benar memperlakukanku dengan baik,mereka menganggapku seperti keluarga sendiri.Anak-anak perempuan Ama melarangku memanggil dengan sebutan Thai-thai ataupun Siaoce ,mereka menyuruhku memanggil dengan sebutan Jie-Jie,biar lebih akrab.Bagiku dan tentunya bagi para BMI lainnya saat awal mulai kerja di Taiwan adalah masa yang sulit bagi kami.Kami harus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan baru.Tentang makanan yang mungkin pada awalnya terasa aneh (hambar)di lidah kami, yang sudah terbiasa dengan pedasnya sambal.Bekunya musim dingin yang belum pernah kami rasakan sebelumnya di Indonesia.Dinginnya sampai merasuk ke tulang,sudah pakai rompi jaket tetap saja dingin.Kalau mau jujur terkadang rasanya malas untuk keluar dari hangatnya selimut tebal,tapi bagaimanapun aku berusaha melakukan tugas-tugasku sebaik mungkin.Sikap kekeluargaan dari majikan seperti mesin penghangat yang memompa semangatku.Semuanya berjalan dengan baik,apa yang disukai dan yang tidak disukai Ama sekeluarga aku sudah hafal di keluar kepala.
Hingga pada suatu hari Ama yang telah divonis dokter menderita kanker sejak setahun lalu,kondisinya semakin memburuk.Dia tidak mau makan dan minum.Tubuh rentanya semakin mengurus.Benjolan tumor ganas di leher Ama membuat dia kesulitan untuk menelan makanan,bahkan untuk minum susu pun dia meringis kesakitan.
“Lala, besuk kita harus membawa Ama ke rumah sakit.Tolong siapkan semua keperluan Ama selama di rumah sakit” kata Jie jie kepadaku.
“Hao” jawabku,kemudian bergegas menyiapkan segala keperluan Ama.
“Jangan lupa membawa keperluan kamu sendiri” terdengar suara Jiejie yang lembut,mengingatkanku.
Pagi-pagi sekali kami berangkat dari rumah,mengendarai mobil menuju sebuah rumah sakit besar di Taipei.Jalanan kota Miaoli yang kami lewati masih lengang.Baru satu dua kendaraan terlihat berpapasan dengan kami.Ama terkulai lemah di pangkuanku.Iba sekali melihatnya.Meskipun baru 2 bulan merawatnya tapi aku sudah menganggap seperti nenekku sendiri.
Serangkaian pemeriksaan dilakukan oleh para petugas medis,setibanya di rumah sakit.
“Setelah melalui berbagai pemeriksaan,kami menemukan penyakit kanker di tubuh Ama sudah mencapai stadium 4” , ucap seorang lelaki berbaju putih yang kupastikan dia adalah dokter yang menangani Ama.Dia memberikan penjelasan panjang lebar yang tentunya aku tidak paham.Aku hanya diam melongo.
Hari – hari berikutnya kulalui di rumah sakit.Setiap hari secara bergiliran anak-anak Ama datang menemani.Siang hari mereka menyuruhku tidur,karena mereka tahu malam hari aku jarang tidur.Malam hari Ama susah tidur,dan aku dengan setia menemani di sampingnya,membelai tangannya.Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi sakit Ama ,setidaknya genggaman tanganku bisa menenangkan hatinya.Dokter mengatakan kemungkinan Ama untuk sembuh sangat kecil.Perlu dilakukan serangkaian pengobatan kemoterapi dan juga operasi pengangkatan tumor.Tapi,mengingat usia Ama yang sudah 90 tahun operasi tidak bisa dilakukan.Menitik air mata ini mendengarnya.Apa mau dikata hidup mati setiap manusia sudah diatur.
Hingga sampai saatnya malam itu semua anak-anak Ama sudah berkumpul,Ama menghembuskan nafasnya yang terakhir.Tangannya masih dalam genggamanku,mata yang hanya berkaca-kaca telah tumpah mengeluarkan airmata.
Selamat jalan Ama,semoga engkau tenang di sana.
Dengan kepergian Ama berarti finish sudah kontrak kerjaku dengan keluarga bermarga Xi itu.Aku tidak pernah membayangkan Ama akan pergi secepat itu,belum genap 4 bulan aku harus mencari majikan baru,
“Lala, kalau kamu mau ikutlah kami ke Taipei,merawat ibu mertua ku.” suara Tuan Xi menghapuskan kegelisahan ku,keresahan ku tentang masa depan ku di negeri Formosa ini.
Sama seperti sebelumnya keluarga mertua Tuan Xi juga memperlakukan ku dengan baik.Ibu mertua Tuan Xi(untuk memudahkan disini aku menyebutnya Ama juga)menderita kanker hati.Oh Tuhan,kanker hati yang dideritanya sudah menginjak stadium 4 juga.Semalaman Ama tidak tidur,akupun bergadang setiap malam.Aku merawatnya dengan ikhlas,sejak awal aku selalu menanamkan di hatiku bahwa tidak ada yang sia-sia.Selalu ada indah di balik kesusahan,ada hikmah di setiap musibah.Dengan begitu setiap pekerjaan apapun akan terasa lebih ringan.Aku selalu berharap adanya sebuah mukjizat,berharap Ama bisa membaik.Ternyata takdir berkata lain,aku kembali harus membiasakan diri dengan aroma obat-obatan yang menyengat.Kondisi Ama yang memburuk membuat kami harus membawanya ke rumah sakit..
Kejadian yang sama terulang lagi.Persis seperti dua bulan yang lalu,Ama menghembuskan nafasnya yang terakhir,sembari masih menggenggam tangan ku erat.Airmata menitik melepas kepergiannya.Selamat jalan semoga engkau tenang di alam sana.Setiap yang bernyawa pasti akan pergi,ini adalah hukum alam yang tidak bisa dipungkiri.
“Hhuhhhh” ku hela nafas panjang .Setelah usai upacara penghormatan Ama yang terakhir saatnya aku memikirkan masa depan ku di negeri ini.Ya…harus mencari majikan yang baru.Sebagai manusia biasa ,aku juga tak luput dari rasa was was ,memikirkan tentang majikan selanjutnya.
“Lala,aku punya teman ,dia mempunyai ayah yang perlu dijaga, kamu mau gak kerja di sana ” Ucap majikan ku di suatu sore.Sebelum aku menjawab di melanjutkan perkataannya ” Sekarang ini ada seseorang yang menjaga dia,juga orang Indonesia tetapi mereka kurang begitu suka.Kalau kamu mau kerja di sana Ati (nama BMI yang ada disana)akan di kembalikan ketempat agency”.
Aku terdiam sebentar…”Bagaimana?” majikan ku bertanya ulang sambil memandangku.
“Maaf Tuan,agency sudah menelepon saya pagi tadi ,saya sudah mendapat majikan baru.”Jawab ku berbohong.Jawaban yang sebenarnya adalah aku tidak mau merampas pekerjaan mbak Ati.Meskipun aku belum pernah bertemu dia,tetapi bagiku sesama BMI adalah semuanya teman,saudara harus saling menolong.
Kaki ku selanjutnya menapak di Daan Distrik,sebuah tempat yang strategis dekat Taman Daan.Sayangnya meskipun rumah majikan ku dekat dengan Taman Daan ,sekalipun aku belum pernah ke sana karena Ama yang ku jaga tidak mau keluar.Seperti roda sepeda yang selalu berputar ,dua majikan ku dulu sangat baik terhadap ku ,tapi yang ini “agak”kurang bersahabat.Kesan keramahan yang kulihat pertama kali saat masuk ke rumah ini,sekejap langsung menghilang bersamaan dengan deru mobil agency yang menjauh meninggalkan ku sendiri di rumah majikan baru ku.Bukan ,bukan sendiri karena di situ ada mbak Ani,perempuan asal Jawa Timur yang usianya beberapa tahun di atas ku.Perasaan ku dag dig dug juga,mengingat obrolan teman-teman di fb kalau satu rumah dua orang BMI pasti tidak enak,saling iri,saling menjatuhkan dan sederet kata lainnya yang berkesan negatif.
“Lalaaaaa,”suara serak Ama mengagetkan ku.
“Kamu kerja di sini harus mengikuti jadwal .Harus mengerjakan sesuai dengan waktunya,menyapu,mengepel,masak,dan menjaga ku,karena Ani bertugas merawat Akong.”ucap Ama panjang lebar.
Seperti anak sekolah sedang mendengarkan penjelasan ibu guru ,kepala ku manggut-manggut mendengarkan mbak Ani menjelaskan tentang jadwal kerjaku.Benar -benar seperti anak sekolah.Semua harus dikerjakan tepat waktu ,kalau terlambat 5 menit saja aku harus siap-siap mendengarkan ceramah Amaku yang dulu juga berprofesi sebagai guru.He…he….
Kami ,aku dan mbak Ani lumayan cocok ,kami bekerjasama menyelesaikan pekerjaan rumah .Ketakutan ku tentang permasalahan yang selalu ada bila 2 BMI bekerja di satu tempat tidak terbukti,nyatanya kami akur-akur saja.Saling membantu,pekerjaan mana yang belum selesai dikerjakan bersama-sama.Seringkali kami mendapat ceramah dari Ama,kami diam mendengarkan,tapi setelah itu kami lari ke dapur,saling pandang dan akhirnya tertawa bersama-sama.Yah,itulah cara kami menghilangkan rasa stress karena setiap hari harus menghadapi Ama yang super dan pekerjaan yang seperti tak ada habisnya.Kami bekerjasama menjaga Ama dan Akong yang sama-sama sudah lanjut usia.Apalagi Akong,kata mbak Ani sudah dua tahun ini Akong hidupnya bergantung pada tabung oksigen.Keluar masuk rumah sakit sudah menjadi kegiatan rutin.Sementara satu satunya anak Ama tinggal di Amerika.Jadi segala sesuatu kami yang mengurus.Hari -hari terasa begitu melelahkan ,apalagi saat Akong masuk rumah sakit.Karena mbak Ani menjaga Akong di rumah sakit,itu berarti aku harus menyiapkan telingaku untuk mendengarkan ceramah Ama yang tak ada habisnya,sepanjang hari.Belum lagi masalah belanja,kami harus laporan satu-satu sehabis belanja.Satu sen pun tidak boleh salah menghitung.Rumus matematika pun berlaku untuk menghitung berapa harga sebuah pampers. Huhhhh,jengkel banget rasanya.Tapi apa boleh buat ,ini adalah pekerjaanku,tanggung-jawabku.Meski letih aku harus berjalan sampai tujuan terakhir.
Waktu berjalan seiring bergantinya musim,dari musim panas ,ke musim gugur ,melewati musim dingin dan kembali ke musim semi.Musim semi tahun ini genap setahun aku bekerja di keluarga bermarga Zhao ini.Lelah rasanya,capek tenaga dan pikiran.Dan ternyata Akong juga lelah mondar mandir ke rumah sakit.Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah di hadapan kami,aku dan mbak Ani.Ama sudah tertidur,saat itu.Aku bergegas membangunkan Ama,mbak Ani menelepon keponakan Ama,sekejap beberapa orang berdatangan ,juga dua orang polisi untuk memastikan bahwa kematian Akong adalah wajar bukan karena tindak kriminal.Belakangan baru ku tahu bahwa setiap kematian di rumah maka pihak berwajib akan datang untuk melakukan pemeriksaan.
Selamat jalan Akong……sekarang kamu sudah tidak merasakan sakit lagi.Selama setahun lebih aku sudah menyaksikan 3 orang menghembuskan nafasnya di depan mataku.Setiap yang bernyawa pasti akan mati.Selagi ada kesempatan marilah kita berbuat yang terbaik.
Suara deringan telpon mengejutkan lamunanku,
“Wei,maaf ini siapa?”tanyaku dengan bahasa Mandarin.
“Layla” suara yang sangat ku hafal,satu satunya orangTaiwan yang bisa mengeja namaku dengan benar ,Mr.Wu ,agency ku yang sekaligus juga agency mb Ani.
Mr.Wu memberikan penjelasan panjang lebar yang intinya bahwa karena Akong meninggal semestinya mbak Ani harus berpindah majikan tetapi Ama memutuskan agar mbak Ani tetap tinggal disitu karena mbak Ani lebih lama disitu jadi paham semuanya dibanding aku yang belum genap setahun di situ.Separoh rasa lega dan was-was.Lega karena selanjutnya tidak harus mendengarkan kuliah gratis dari Ama dan was-was memikirkan majikan baru.
Sudahlah,semuanya akan baik-baik saja bisikku dalam hati menyemangati diriku sendiri.Meskipun Ama orang nya rewel tapi dia tetap berbaik hati,selama menunggu majikan baru aku tetap boleh tinggal di situ ,bekerja di situ sampai mendapat majikan baru.Bayangan tidak menyenangkan tentang bagaimana rasanya harus menunggu majikan di tempat agency hilang sudah.
Selama ini sering terdengar cerita sedikit miring bahwa kita diwajibkan membayar sekian ratus nt perhari sebelum mendapat majikan baru.Entahlah mungkin setiap agency punya aturan sendiri-sendiri.
Waktu mengalir,sudah lebih dari sebulan aku menanti kabar dari agency.Tetapi mereka belum memberi kabar pasti.Yah,mungkin saja dengan sisa kontrak kerja ku yang tinggal 1,5 tahun ini agak sulit untuk mendapatkan majikan.Akupun tak tinggal diam ,bertanya kesana kemari siapa tahu ada teman yang punya informasi,tak lupa update status di fb ,siapa tahu nasib baik,he….he…
Banyak teman-teman BMI yang memberi respon,menunjukkan solidaritas yang tinggi di antara teman seperjuangan.Pesan memenuhi inboxku,aku saring satu persatu.Tapi sayangnya dari sekian info yang diberikan teman-teman BMI semuanya adalah job dari agency yang berbeda.Jadi aku harus berganti agency.Sudah bukan rahasia lagi ganti agency tidak semudah naik MRT,dalam hitungan menit sudah mencapai tempat tujuan.Dan benar saja Mr.Wu tidak mau melepaskanku.Gagal dech…
Hingga suatu hari seseorang menyapa ku saat aku mengantar Ama ke rumah sakit .
“Ni she Inni ma?” tanyanya sopan.
“She te.”
Lelaki berusia sekitar 40an itu bermarga Wang,dia mengantar ibunya untuk periksa dokter.Dia membutuhkan seorang caretaker untuk merawat ibunya.Karena setiap hari dia bekerja,tidak ada yang menemani ibunya di rumah.Pucuk dicinta ulam pun tiba,kata peribahasa.Aku menyapa ibu Tuan Wang dengan anggukan kepala .Perempuan itu tersenyum kecil.Hemmmm,kelihatannya orangnya baik dan ramah.
Aku memberikan nomor telepon agency dan juga nomor telepon ku agar mudah untuk urusan selanjutnya.Secercah sinar menerangi hatiku yang dipenuhi kegelesihan.Kegelisahan karena takut dipulangkan Indonesia jika dalam 2 bulan aku tidak juga mendapatkan majikan baru.Dari agency aku mendapat kabar kalau Mr.Wang menghubungi dia dan meminta aku bekerja di sana,aku senang sekali.Tapi,,masih ada tapinya
“Layla kamu harus bersabar lagi menunggu karena Mr.Wang belum mengurus surat -surat yang diperlukan untuk mengambil seorang caretaker.Dan aku kurang begitu yakin,karena kelihatannya ibu Mr.Wang masih sehat.” kata-kata Mr.Wu membuat ku tertunduk lesu. “Berdoa saja.”
Ya.Betul sekali ,berdoa ,aku yakin Tuhan akan mendengarkan doa-doaku.Selama menunggu mengurus surat-surat yang di perlukan Mr.Wang sering menelponku,memberitahukan kalau dia masih mengurus surat dokter ,ini,itu dan lain sebagainya.Kadang juga cuma bertanya kabar.Dan untuk menghormati karena dia adalah”calon majikan baru” aku pun selalu mengangkat teleponnya.Tak jarang dia mengirim sms dengan huruf pagar yang sebagian besar aku tak tahu artinya,karena memang di Indonesia kami tidak diajari menulis mandarin.Ditambah lagi aku malas belajar,ha….ha…melihat hurufnya yang bertumpuk melingkar-lingkar sudah membuat pusing.Jalan termudah biasanya aku hanya membalasnya dengan sticker.Obrolan di telepon mengalir begitu saja,dia sering mentertawakan bahasa mandarinku yang berlepotan,yang nadanya ngalor ngidul.Dia selalu menyemangati ku untuk terus belajar mandarin ,siapa tahu nanti berguna setelah pulang ke Indonesia.Benar juga toh tak ada salahnya menguasai bahasa lain selain bahasa nasional.Aku optimis jika nanti aku bekerja di rumah Tuan Wang pasti menyenangkan sekali,orangnya baik,siapa tahu mau mengajariku juga .
Jalan tak selamanya mulus,harapan tak selalu sesuai dengan kenyataan.
“Lala,duepuchi rumah sakit tidak meloloskan permohonan surat untuk ibu,karena beliau masih tampak sehat,jadi aku tidak bisa mengambil kamu bekerja di rumahku.Sebenarnya kami sangat membutuhkan seorang caretaker.” suara Wr,Wang lirih diseberang.Aku tidak begitu jelas apa yang dikatakan selanjutnya karena aku sibuk menenangkan diriku.Salah siapa aku terlalu optimis kalau aku bisa bekerja di rumah Mr.Wang.Menangis lagi,air mata adalah senjata ampuh untuk menumpahkan segala beban.
“Sabarlah ,aku akan mencobanya lagi.” kata Mr.Wang di ujung pembicaraan kami.
Aku mungkin bisa bersabar tapi 2 bulan masa tenggang ku untuk mencari majikan baru apakah juga bisa bersabar?,,,tentu saja tidak,aturan tetap aturan.Aku tidak boleh pulang ke Indonesia ,bisikku dalam hati.Terbayang jelas kedua orang tuaku bermandikan cucuran keringat,tidak peduli panas hujan selalu giat bekerja di sawah.Senyum mereka saat mereka melepasku terlintas kembali.Ya,aku tidak boleh pulang,aku harus menyelasaikan 3 tahun ku di sini.Aku ingin membawakan keberhasilan untuk mereka.
Akhirnya aku menerima tawaran agency untuk bekerja di Xindian.Aku mengiyakan tanpa berpikir panjang ,yang penting adalah aku segera mendapat majikan baru.
“Pekerjaan mu adalah menjaga Akong di rumah Chou Siaoce.Tapi karena dia belum begitu membutuhkan kamu untuk sementara dipinjamkan ke temannya dulu menjaga Ama juga di Xindian.”
Aku diam saja,”dipinjamkan” sebenarnya aku ingin protes,kenapa harus dipinjamkan.Tapi ku urungkan niatku.Di pinjamkan berarti hanya sementara,biarlah kuterima saja yang penting lancar.
Ama berusia 75 tahun itu sekarang menjadi majikan ku.Dia tinggal bersama cucunya yang masih sekolah.Pekerjaan ku adalah merawat Ama dan antar jemput anak itu.Sifatku yang tidak begitu menuntut membuat aku menerima pekerjaan yang kurasa lebih berat dari pekerjaan pekerjaan sebelumnya.Betapa tidak ,setiap hari aku harus mendorong kursi roda berjalan hampir satu jam lebih,mengajak Ama jalan-jalan.Dia memang sangat senang jalan-jalan,tapi kondisinya yang habis operasi tidak memungkinkan dia untuk berjalan sendiri.Tak peduli panas terik kalau dia mau jalan jalan aku juga harus patuh.Bahkan gerimis tetap juga jalan.Tubuhnya yang tinggi besar,hampir 90 kg membuat ku kewalahan.Ditambah lagi harus mengurus cucunya yang maaf agak lemah mentalnya.Lelah.
Tapi aku selalu menyemangati diri ku sendiri.Harus kuat,ikhlas agar terasa lebih ringan.Jia you ,jia you.
Semua akan lewat dan indah pada saatnya.Lama-lama aku menjadi terbiasa,meskipun tiap hari harus berjalan jauh aku anggap saja olahraga.Jalan kaki baik untuk kesehatan.Ha,,ha…meski tiap malam harus merendam kaki dengan air hangat agar tak terasa pegal.Berat badanku pun turun 2 kg,anggap saja diet gratis.
Sikap Ama kurang bersahabat meskipun aku sudah bekerja dengan baik.
“Itu memang sifat Ama jangan di masukkan hati.” hibur anak-anak Ama.Bagiku itu bukan masalah besar.Aku sudah mengalami hal yang sama dimajikan ku sebelumnya.Sudah terbiasa mendengar kata-kata yang tidak enak.Benar dianggap salah,salah harus siap-siap mendengarkan uraian panjang lebat.Sudah biasa,semua pasti berlalu. Pengalaman di waktu lalu telah membuat ku lebih kebal.
Empat bulan berlalu,agency menelpon aku harus segera berkemas dia akan mengantar ku ke rumah Chou Siaoce,karena besuk caretaker Ama yang sebenarnya akan datang dari Indonesia.Alhamdulillah,lepas sudah semuanya,semoga keluarga Chou Siaoce lebih baik,bisikku dalam hati.Meskipun senang lepas dari tugas-tugas rutin selama ini tapi iba juga melihat Ama berkaca-kaca melepas kepergianku.Yah,setiap orang selalu mempunyai sisi baik dan buruk.Semoga mbak yang merawat Ama bisa kerasan dan bisa beradaptasi dengan sikap Ama yang sedikit keras.
Ini kelima kalinya aku harus menenteng lagi koper kesayangan ku.Pindah rumah,pindah majikan.Perasaan ku biasa-biasa saja,tidak seperti dahulu waktu pindah ke majikan baru.Mungkin karena sudah terbiasa,bergonta ganti majikan,menghadapi pekerjaan yang berbeda,perlakuan yang berbeda pula membuat ku menjadi lebih siap menghadapi pekerjaan baru ini.Kalau tidak baik pasti kurang baik atau mungkin rewel,cerewet,apapun aku pernah mengalami.
Pintu terbuka,seraut wajah cantik keluar dengan senyum ramahnya,itulah Chou Siaoce.Seorang Akong duduk di sofa ruang tamu,tersenyum.Yah,dialah Akong yang akan ku rawat mulai hari ini dan seterusnya….
Terima kasih Tuhan,doa doa ku terjawab.Chou Siaoce sekeluarga memperlakukan ku dengan baik.Aku juga bebas masak apa saja kesukaan ku,masakan Indonesia .Tak jarang Jie jie(Chou Siaoce)menyukai masakan Indonesia yang ku masak,karena ternyata dia juga menyukai masakan pedas.Akong,bukan kesulitan bagiku untuk merawat dia.Meskipun agak ribet bagiku tidak masalah yang penting mereka baik terhadap aku.Mempercayai aku.Jie jie juga membebaskan aku untuk beribadah ,dan melakukan apa saja yang penting pekerjaan ku beres.Meskipun jarang libur tapi aku bisa mengajak Akong jalan -jalan keluar.Satu hal yang tidak pernah kubayangkan.Aku menganggap ini adalah jawaban Allah atas doa-doaku.Setelah melewati berbagai kesulitan setelah rintik hujan muncullah pelangi ,pelangi di langit hidupku.Hampir tak ada masalah ,aku kerasan sekali.Jie jie menyukai cara kerjaku.Orangtua ku juga senang mendengarnya.Bahkan Jiejie bilang kalau aku mau setelah selesai kontrakku yang kurang beberapa bulan ini aku bisa balik bekerja di sini.Dia akan membantuku dengan proses Direct Hiring.Dengan begitu gajiku utuh tidak terpotong sana sini.Aku bersyukur sekali mendapat majikan seperti dia.Akhinya di akhir kontrakku aku menemukan majikan yang baik.Kalau tidak ada halangan aku pasti balik ke sini lagi,karena aku punya cita-cita membuatkan rumah untuk kedua orang tua ku.
“妳好嗎?我想妳” .
Sebuah pesan masuk di Line ku.Pesan dari Tuan Wang.Hampir saja aku melupakan orang itu.Ternyata dia masih mengingatku.Komunikasi terjalin kembali,saling bertanya kabar,sedang melakukan apa seperti seorang sahabat.Oh ya,aku sedikit-sedikit mulai belajar mengetik huruf mandarin.Tuan Wang selalu meledekku karena aku tak paham pesan pesan singkat yang dikirim dengan huruf pagar itu.Tapi itu memacu semangatku untuk belajar.Di sela-sela kesibukan bekerja aku mulai belajar mengenali huruf-huruf rumit itu.Di waktu luang aku sering browsing internet dan memanfaatkan fb untuk belajar dan bertukar pengalaman dengan teman lain.Tidak banyak yang aku bisa tapi setidaknya aku bisa membalas pesan-pesan Tuan Wang dengan huruf Mandarin.Hubungan semakin akrab,hingga di suatu sore kami bertemu,aku minta ijin Jie jie keluar sebentar.Aku ingin memberitahu dia bahwa 3 tahun kontrak kerjaku akan berakhir.Yah 4 bulan lagi aku akan pulang ke Indonesia.Tak di sangka dia menyatakan bahwa dia menyukai ku.Ingin hidup bersamaku.Aku anggap itu hanya gurauan ,aku tak begitu menanggapi.Dia menjelaskan semuanya panjang lebar.Dia sudah menyampaikan maksud hatinya kepada ibunya ,beliau sudah menyetujuinya.
Aku tidak bisa menjawabnya,aku jga tidak tahu bagaimana perasaan ku terhadapnya.Jujur aku menyukainya tapi aku tidak yakin aku bisa hidup bersamanya.Banyak hal yang perlu di pertimbangkan.Ini bukan hanya antara aku dan dia,tapi menyangkut orang tua ku juga.Hahhhh….menghela nafas panjang menjadi satu cara untuk melepaskan beban di hati.Tuan Wang semakin baik kepada ku.Dia membelikan oleh-oleh untuk kedua orang tua ku.Aku menolaknya tapi dia memaksanya.Akhirnya kuterima.Aku tidak tahu bagaimana memberi jawaban padanya.
Sampai detik ini,saat aku duduk di pesawat Eva Airlines aku belum bisa memberikan jawaban kepada Tuan Wang.Dia baik,aku menyukainya,hadirnya dalam lembaran hidupku memberi corak indah, tapi aku tak yakin bisa bersamanya….Biarlah waktu yang menjawab.
Taiwan selamat tinggal,Formosa yang telah mengajari banyak hal.Memberitahu ku bagaimana cara bersabar ,bagaimana harus ikhlas, dan tegar menghadapi kerikil tajam kehidupan.Semua kesulitan akan berlalu ,selagi kita tetap melangkah tidak ada kata gagal.Tuhan sealu punya rencana indah setiap manusia,jadi jangan pernah putus asa.Terima kasih Taiwan ,banyak hal yang aku dapatkan dari indahnya negerimu.Satu bulan lagi aku akan datang kembali….
Sekilas ku melihat keluar,semburat indahnya pelangi menghiasai langit Formosa,再見。
Indonesia aku pulang……
生活就是一個過程甜過,苦過,愛過,恨過
Shenghuo jiushe yi ge guocheng tianguo,khuguo,aiguo,henguo
Kehidupan adalah sebuah tahapan,manis,pahit,cinta,benci
其實每個過程會有結果
Qishe meige guocheng hui you jieguo.
Sebenarnya setiap tahapan pasti ada hasil/hikmahnya.
Keterangan :
Ama : Nenek
Akong : Kakek
Siaoce : Nona
Nihao : Apa kabar
Dupuchi : Maaf
妳好嗎 :Ni hao ma (Apa kabar)
我想妳 :Wo xiang ni (Saya rindu kamu)
再見 :Zai Jian (Selamat tinggal)
******