SAKURA DI TAMAN HATI

Nok Djoyorady Ipank / SAKURA DI TAMAN HATI / Forum Lingkar Pena Taiwan / tenaga kerja asing SAKURA DI TAMAN HATI Sepi. Seperti inilah suasana taman yang setiap hari aku dan Nenek kunjungi. Orang-orang lebih memilih mengunjungi taman yang lebih besar di tempat lain daripada di sini. Hampir setiap pagi aku menemani Nenek yang kurawat ke taman ini … Continue reading “SAKURA DI TAMAN HATI”

Nok Djoyorady Ipank / SAKURA DI TAMAN HATI / Forum Lingkar Pena Taiwan / tenaga kerja asing

SAKURA DI TAMAN HATI

Sepi. Seperti inilah suasana taman yang setiap hari aku dan Nenek kunjungi. Orang-orang lebih memilih mengunjungi taman yang lebih besar di tempat lain daripada di sini.

Hampir setiap pagi aku menemani Nenek yang kurawat ke taman ini untuk jalan-jalan santai mengitari taman atau sekadar duduk-duduk berjemur. Namun, Nenek lebih suka olahraga Yoga di sini. Karena tempatnya lengang dan lumayan sejuk, cocok untuk beryoga.

“Kenapa Nenek lebih suka di sini daripada di taman lain?” suatu hari tanyaku padanya.

“Di taman ini ada sejuta kenang dalam hidupku, Mei.”

“Bukankah di sana lebih besar, indah, dan banyak orang, Nek?”

“Iya…, aku jauh nyaman di sini.”

Oh, alasan itulah Nenek lebih suka singgah di sini daripada di tempat lain. Kumaklumi, walau sebenarnya aku kepingin sangat ke taman besar di seberang jalan. Di sana,aku bisa berjumpa dengan teman dari tanah air. Apalah daya?

***

Pagi ini, setelah ikut lari-lari kecil mengitari taman bersama Nenek, aku istirahat di gardu taman. Nenek berolahraga Yoga tak jauh dari tempat dudukku.

Di bangku taman ini, sembari menunggu Nenek aku bisa menikmati sejuknya taman penuh bunga-bunga. Merehatkan penatnya badan dari rutinitas bertumpuk-tumpuk, pekerjaan rumah yang kujalani.

Menikmati musim daun-daun gugur, menikmati hujan Sakura di kala bunga-bunganya mekar dan jatuh satu-satu dibelai-belai mesra angin. Terkadang aku juga bisa menikmati turunnya hujan deras saat kami terjebak hujan. Pun, hujan airmataku saat-saat aku merindukan rumah.

“Mei, keluarkan manthou dan kopi di termosnya. Kita sarapan dulu, ya?” ucap Nenek menghampiriku.

“Iya, Nek. Tumben yoganya sebentar?”

“Iya. Aku pengen ngobrol denganmu.”

Nenek duduk di bangku hadapanku sembari makan manthou kukusnya. Sesekali menyeruput kopi. Pun aku, sama. Saban hari kita selalu membawa bekal sarapan dari rumah.

“Kamu nggak bosan, kan, selama ini menemani nenek hampir setiap hari di taman ini?”

Nenek menatapku kalem.

“Tidak, Nek. Justru suka sangat. Di sini Amei bisa melihat Sakura bermekaran, Azalea mekar dengan indahnya….”

“Dan…, itu kali pertama dalam hidupmu melihat Sakura, kan?” ucapnya memotong pembicaraanku.

‘Hahaha…hahaha….’

Kami tertawa bareng. Memang kenyataannya seperti itu.

“Taukah, Mei? Kenapa taman ini begitu berkesan?”

“Kenapa, Nek?”

“Di sini nenek kali pertama bertemu dan berkenalan dengan almarhum Kakek. Pun setiap hari sampai sebelum Kakek meninggal selalu beryoga bareng di sini.”

Nenek mulai serius memulai curhatnya. Di situ aku mulai tahu banyak hal betapa tempat yang indah ini bagi Nenek dengan segala kenangannya.

Di sini aku juga sering berbagi banyak hal tentang keluargaku, kampung halaman, pohon Mangga di depan rumah, juga tentang kekasihku kepadanya.

Nenek tahu itu semuanya. Karena sembari menungguinya berolahraga, aku sering kali menelepon ke kampung halaman, mendengarkan musik dari earphone hpku, pun terkadang menulis diari berisi serupa surat-surat cinta, puisi-puisi kerinduan, dan sejenisnya di bawah pohon Sakura yang sedang mekar-mekarnya. Sejuk, indah!

“Kamu suka nulis juga, ya?” tanyanya sambil mengelap mulut dengan tisu dari sruputan terakhir kopinya menuju tandas.

“Suka sangat, Nek.” jawabku singkat.

“Selama ini kamu juga suka, kan, menjaga nenek dan bekerja di rumah kami?”

Raut muka Nenek mendadak sedih.

“Suka, Nek.”

“Terima kasih. Aku selama ini terlalu merepotkanmu, Mei.”

“Kenapa berkata seperti itu, Nek?” lirih tanyaku.

“Tak apa. Suatu saat nanti aku juga bakal merindukan ‘surat rindu’ dari kampung halamanmu untukku, seperti yang selalu kautulis di bawah Sakura di taman ini.” ucapnya penuh harap.

“Emmm…, itu pasti, Nek.” jawabku mantap. “Kan, kutulis untuk Nenek di bawah Pohon Mangga besar. Di pelataran depan rumahku.”

Mata Nenek berkaca-kaca. Pada akhirnya tangisnya pecah. Terisak-isak. Pun hujan deras dari mataku jatuh berderai-derai di pipi, yang sebelumnya gerimis jauh lebih dulu mampir di mataku. Saat terucap kata pamit dan pisah, tadi.

Dan, aku pasti akan merindukan yang semua-muanya tentang Taiwan, selama 3 tahun di sini.

Besok, aku pulang….
Bukit Perindu, 208516_
Ap Aksara Pelangi