Di Balik Gelar Nyonya Besar

Nurhayati / Di Balik Gelar Nyonya Besar / Tidak ada / tenaga kerja asing  Di Balik Gelar Nyonya Besar Kegagalan bukan akhir dari semuanya, tapi awal kita untuk menuju kesuksesan. Pengalaman adalah guru terbesar dalam hidup ini. Dari situ aku banyak belajar arti kehidupan yang sesungguhnya. Kerasnya kehidupan di Formosa mengajarkan diri ini lebih dewasa lagi dalam menyikapi … Continue reading “Di Balik Gelar Nyonya Besar”

Nurhayati / Di Balik Gelar Nyonya Besar / Tidak ada / tenaga kerja asing 

Di Balik Gelar Nyonya Besar
Kegagalan bukan akhir dari semuanya, tapi awal kita untuk menuju kesuksesan. Pengalaman adalah guru terbesar dalam hidup ini. Dari situ aku banyak belajar arti kehidupan yang sesungguhnya. Kerasnya kehidupan di Formosa mengajarkan diri ini lebih dewasa lagi dalam menyikapi segala hal. Pemberangkatanku yang pertama, tidak membawa kesuksesan. Namun, tidak membuatku putus asa. Perjuanganku belum selesai sampai di situ, untuk menyekolahkan ketiga adikku dan membahagiakan keluarga. Sekarang pemberangkatan yang kedua kalinya, aku harus finis kontrak–pulang membawa kesuksesan–walau seberapa beratnya kerjaanku nanti. Masih kugantungan asa ini di negeri Formosa, menggapai mimpi yang tertunda.

*****

Maret 2008, kuinjakan kaki di bumi Formosa, tepatnya di daerah Taichung City. Di sini aku bekerja menjaga seorang kakek yang kedua kakinya habis dioprasi, karena kecelakaan. Tuan bernama Jung Ta Wei dan Nyonya Lee Hua Mei, keduanya seorang guru, sehingga mereka jarang berada di rumah. Semoga Tuan dan Nyonya mengerti tata cara memperlakukan pekerjanya dengan baik, serta mengerti tentang hak dan kewajiban pekerjanya. Masa-masa adaptasi selama satu bulan kadang sulit kulewati–mencoba menyibukan diri dengan kerjaan–tak terasa waktu begitu cepat berlalu.

Kakek yang aku rawat lumayan baik, walau terkadang dia sering marah-marah. Mungkin dia marah karena menahan rasa sakit di kakinya itu. Tapi, dugaanku salah. Dia marah bukan menahan rasa sakit di kaki, tapi sakit dibatinnya. Di rumah ini kakek bagaikan mekanik, mereka menganggap kakek ada namun tak pernah mengajak dia bicara, kedua cucunya pun tak pernah menyapanya.

“Aila, maafkan aku karena telah memarahimu,” ucap kakek sambil menarik napas dalam-dalam.

“Tidak apa-apa, Kakek. Boleh aku tahu, kenapa mereka tidak pernah bicara denganmu?” tanyaku.

“Menantuku, Lee Hua Mei tidak suka sama aku, gara-gara masalah uang. Dulu keluarganya meminjam uang puluhan juta, namun tak mau membayarnya. Sehingga terjadi pertengkaran besar, sampai sekarang dia membenciku begitu juga dengan anakku. Ah, sudah jangan membahasa masalah ini lagi,” jawab kakek menitikkan air mata.

“Maaf Kakek, jika aku tidak sopan,” ucapku.

Kakek hanya menjawabnya dengan senyuman, dan aku kembali melanjutkan pekerjaan.

Sekarang aku mulai paham dan bisa merasakan apa yang kakek rasakan. Kadang melihatnya kasihan, saat Kakek makan tak pernah satu meja dengan mereka. Seolah mereka jijik jika makan bersama Kakek, di raut wajahnya penuh kesedihan. Tuan Jung yang bertubuh gemuk, perutnya buncit kaya orang hamil sembilan bulan itu, beliau walaupun kepala rumah tangga tak berani membantah perintah istrinya–Nyonya Lee–yang berkuasa dan harus mematuhi perintahnya. Nyonya Lee–dia yang memiliki tubuh ramping dan wajah cantik–selalu menjaga penampilan dan kecantikannya. Sehingga aku dilarang untuk memakai pakaian ketat disaat bekerja, takut kecantikannya tersaingi olehku. Nyonya Lee tak peduli dengan kebutuhan rumah tangga, sepeser pun beliau tak pernah memberiku uang belanja, semuanya dari kakek. Nyonya Lee bisanya cuma ; makan, tidur, main game di laptop serta bekerja.

Lambat laun keadaan kakek semakin membaik, dia sudah bisa berjalan walau menggunakan tongkat. Namun, ini bukan meringankan pekerjaanku. Tapi, kerjaan malah tambah banyak. Selain membersihkan rumah enam lantai, aku harus bekerja di rumah temannya Nyonya Lee.

“Aila, mulai besok pagi kamu bantu bersih-bersih di rumah temanku. Dia akan kasih kamu uang, lumayan buat jajan,” ucap Nyonya Lee berharap aku mau menurutinya.

“Tapi, Nyonya. Gimana dengan Kakek dan kerjaan rumah?” ungkapku berharap Nyonya memahaminya.

“Sekarang Kakek sudah bisa berjalan, serta kerjaan rumah bisa kamu kerjakan malam hari,” jelasnya.

“Maaf Nyonya, saya tidak bisa. Kalau seperti itu saya kerepotan. Sore hari saya harus menjemput anak Nyonya pulang sekolah, lalu masak dan mengurus kakek, kemudian lanjut pekerjaan rumah. Terus kapan saya istirahatnya, Nyonya?” ungkapku padanya semoga Nyonya mengerti.

“Sudahlah, jangan banyak ngomong! Pokoknya besok kamu harus pergi bekerja di rumah temanku itu,” ucapnya dengan nada sinis. Mau tak mau, aku harus menuruti perintahnya. Padahal, kerjaan di rumah sendiri menumpuk.

*****

Embun pagi masih menyelimuti bumi, tetesan airnya membasahi dedaunan yang menjadi segar. Beda denganku, tetesan embun tidak memberikan kesegaran pada tubuh ini, seperti semangat kerjaku hilang. Terasa malas untuk pergi bekerja di rumah orang lain. Pagi ini, Nyonya Lee yang mengantarku ke rumah temannya itu.

“Aila, cepat kita pergi! Aku tidak punya banyak waktu, karena aku juga harus bekerja,” ucapnya.

“Iya, Nyonya,” jawabku sambil berlari menuju mobil Nyonya Lee.

“Kamu harus ingat jalannya, besok kamu pergi sendiri,” ungkap Nyonya Lee seraya menancap gas dengan kecepatan tinggi.

Sepanjang jalan aku terus mengamati nama jalannya. Berharap esok pagi, ketika aku pergi sendiri tidak kesasar. Saat itu juga, aku kurang istirahat karena pulang dari rumah sahabatnya masih membersihkan rumah Nyonya Lee. Kakek memarahiku, agar aku tidak bekerja lagi di rumah orang lain.

“Aila, kamu di sini itu tugasnya merawatku bukan membersihkan rumah orang lain. Satu hari NT 100 ini sangat keterlaluan,” ucap Kakek merasa iba padaku.

“Aku juga tahu, Kakek. Tapi, aku tidak bisa melawan perintah Nyonya Lee, dia adalah majikanku. Aku bicara juga percuma, Nyonya Lee tetap memaksaku bekerja di rumah temannya. Mungkin kakek yang bicara, dia tak akan berani lagi mempekerjakanku di rumah orang lain,” ungkapku panjang lebar berharap kakek memahamiku.
Kakek hanya terdiam, sungguh tak mungkin dia bertatap muka dengan menantunya, bicara tentang masalahku ini. Karena sudah lama sekali, mereka saling diam. Yang dikatakan kakek memang benar, satu hari NT 100 sangat keterlaluan, karena uang segitu tidak cukup untuk uang jajanku, atau hanya sekadar untuk membeli obat jika badan sakit. Semenjak kerjaanku double, tubuh ini sering sakit–kecapean. Nyonya Lee walaupun beliau seorang guru, tapi tak punya hati nurani. Mata hatinya seperti sudah dibutakan oleh uang. Padahal uang banyak tak akan dibawa mati. Sikapnya yang masih seperti anak kecil membuatku jengkel.

Jam dinding menunjukan pukul 11:30 menit, sudah larut malam. Ada sebagian orang sudah terlelap dengan tidurnya, beda denganku masih bertarung dengan pekerjaan rumah yang masih menumpuk. Saat itu, aku sedang menyetrika baju–Nyonya Lee berteriak memanggilku–nadanya yang begitu nyaring membuat gending telinga ini seakan mau pecah. Kumatikan setrikaan dan segera menghampiri dirinya.

“Ada apa, Nyonya?” tanyaku.

“Perut saya laper, kamu bantu saya belikan makanan di pasar malam,” ungkapnya.

“Baik, Nyonya,” jawabku singkat, seraya pergi meninggalkan dirinya.

Di bawah terangnya lampu jalanan, aku masih mengayukan sepeda, menelusuri jalan yang mulai sepi. Jarak antara rumah dengan pasar malam itu lumayan jauh, jika di tempuh menggunakan sepeda ontelku ini, sekitar tiga puluh menit baru sampai. Lamannya kaki ini mengayunkan sepeda akhirnya sampai juga, aku segera membeli makanan yang Nyonya Lee pesan, kemudian langsung pulang.

Kuayunkan sepeda dengan cepat, takut Nyonya Lee marah-marah. Namun, dari belakang terasa ada orang yang mengintaiku. Pikiran mulai takut tidak karuan, sesekali aku menengok ke belakang–dua orang polisi–mengintaiku. Mau apa mereka berdua mengikutiku? Rasa penasaran mulai merasuk dalam pikiran, detak jantungku ikut berdenyut kencang. Dua polisi itu, langsung menghalangi jalanku.

“Stop!” Silakan turun dari sepedamu! Kami berdua akan memeriksamu,” ucap seorang polisi yang berbadan kekar dan tinggi, tatapan mata elangnya menatap wajahku tajam.

“Ada apa, Pak?” tanyaku penuh ketakutan.

“Kamu orang mana?” tanya Pak polisi bermata elang itu.

“Saya orang Indonesia, Pak,” jawabku.

“Kamu pasti orang kaburan, ya?” tanyanya lagi.

“Bukan, Pak. Saya pekerja resmi, saya tidak kaburan,” jawabku.

“Terus kamu ngapain malam-malam ke luar? Mana KTP-mu?” tanyanya lagi, dengan nada tinggi.

“Saya hanya ke luar untuk membeli makanan. Sebentar, KTP-nya saya cari dulu,” ucapku seraya membuka dompet kecil mencari KTP sebagai bukti bahwa aku bukan BMI kaburan.

“Okay.”

“Ini Pak, KTP saya!” kusodorkan KTP itu padanya.

Dua orang polisi itu memandangi wajahku dengan seksama, kemudian mereka mengembalikan KTP itu dan mempersilakan aku pergi.

“Alhamdulilah, rasanya lega hati ini,” gumamku sembari menarik napas dalam-dalam.

Kupercepat ayunan sepeda, takut Nyonya Lee menungguku terlalu lama. Sepeda ontel kupakirkan di depan rumah dan tak lupa menguncinya. Tangan ini mulai membuka gagang pintu, sambil menarik napas berharap Nyonya tak ada di ruang tamu. Kreekkk … pintu terbuka, mataku terbelalak kaget, ternyata Nyonya Lee sudah berada di hadapanku.

“Aila, kamu beli makanan itu di Hongkong, ya? Lama banget, tidak tahu kalau perutku sudah keroncongan,” cerocosnya.

“Maafkan saya, Nyonya. Tadi, saat perjalanan pulang ada polisi mengintai saya dan di introgasi olehnya,” jelasku semoga Nyonya mengerti.

“Iya, sudah. Mana makanannya!” ucapnya.

Aku pun memberikan makanan itu pada Nyonya Lee, dan langsung melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.

*****

“Ting … tong … ting … tong … ting … tong ….”

Suara bel pintu berbunyi, aku berlari segera membukanya. Ternyata Nona Lan Jie Yi–temannya Nyonya Lee–dia datang pasti akan memberikan uang gajiku pada Nyonya Lee. Kupersilakan duduk, kemudian aku langsung pergi memanggil Nyonya Lee.

Mereka pun mulai bercakap. Sementara, di balik pintu dapur yang berdekatan dengan ruang tamu, aku menguping pembicaraan mereka. Nona Lan Jie Yi menyerahkan semua hasil keringatku pada Nyonya Lee, kurang lebih sekitar NT 25.000, jumlah uang yang lumayan besar dibandingkan gaji pokokku. Aku yang melihat dan mendengar percakapan mereka sangat menyayat hati, Nyonya Lee sedikitpun tak pernah punya rasa bersalah. Beliau seenaknya saja memakan uang hasil keringatku. Setelah mendapatkan semuanya, beliau tertawa bahagia. Nona Lan Jie Yi, tak berbincang banyak hal, setelah uang itu diterima Nyonya Lee, dia segera pamit pergi karena ada keperluaan.

Nyonya masih menghitung lembar demi lembar uang yang ada di tangannya, sesekali beliau tersenyum lebar. Beliau tertawa bahagia di atas deritaku. Ketika tertawa lepas, tangannya menyentuh bagian dada. Beliau berhenti tertawa, raut wajahnya mulai pias pudar. Aku yang masih berada di balik pintu dapur, pergi menghampiri dirinya.

“Maaf, Nyonya kenapa?” tanyaku sedikit cemas.

“Bagian payudara saya tiba-tiba sakit, begitu juga kepala. Sakit banget. Tolong panggilkan Tuan Jung, bilang antar saya ke dokter,” ucapnya dengan nada meringis kesakitan.

“Baik, Nyonya,” jawabku.

Aku pun memanggil Tuan Jung, langsung berbicara padanya sesuai apa yang Nyonya Lee katakan. Sebenarnya aku sering melihat Nyonya Lee kesakitan seperti itu, cuman kali ini rasa sakitnya tidak bisa beliau tahan lagi, dan minggu-minggu ini rambut Nyonya Lee mulai rontok. Aku mengetahuinya saat merapikan meja rias beliau, dibagian sisirnya banyak rambut yang nyangkut. Penasaran. Jadi selama ini Nyonya Lee punya penyakit apa? Entahlah, aku tak mau memikirkan beliau.

“Aila, ayo bantu Nyonya Lee masuk ke dalam mobil!” teriak Tuan Jung.

“Baik, Tuan,” jawabku.

Tuan Jung menyalakan mobil tergesa, beliau sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuh Nyonya Lee membuat raganya lemas tak berdaya. Tuan Jung, sudah tahu dari awal penyakit yang didera isterinya. Tuan Jung membawa isterinya ke dokter pribadinya bernama–Wang Liu Zhen–dokter yang menangani penyakit isterinya itu. Dokter Wang membawa Nyonya Lee ke sebuah ruangan untuk diperiksa penyakitnya. Sementara, aku dan Tuan Jung menunggu di luar. Sepuluh menit berlalu, dokter Wang ke luar dari ruangan dan membicarakan tentang penyakit Nyonya Lee pada Tuan Jung.

“Maaf, Tuan Jung. Saya mau memberitahukan bahwa daging yang tubuh di dalam payudaranya Nyonya Lee sudah membesar, saya khawatir jika tidak segera di buang akar dari daging tersebut akan merambat kebagian tubuh lainnya. Tak ada cara lain lagi, harus segera di oprasi. Takut kankernya tambah parah,” ungkap dokter Wang sejelas-jelasnya.

“Iya, dokter kalau tidak ada cara lain, oprasi saja. Yang penting isteri saya bisa sehat kembali,” ucap Tuan Jung.

Aku tersentak kaget mendengar percakapan mereka, jadi selama ini Nyonya Lee punya penyakit kanker payudara. Pantas saja rambut Nyonya Lee sering mengalami kerontokan yang begitu banyak, bagian rambutnya menipis dan botak. Besok, Nyonya Lee akan dioprasi bagian payudaranya. Beliau pasti setres berat, karena kecantikannya mulai pudar dan tubuhnya semakin kurus. Walaupun Nyonya Lee sakit, aku masih tetap bekerja di rumah temannya itu. Terkadang lelah juga, kerja mondar-mandir dari rumah temannya, terus rumah sendiri dan malam menjaga Nyonya Lee di rumah sakit.

Aku terdiam di sudut pojok kamar pasien, batin menangis saat lelah menghampiri. Tidak bisa apa-apa, selain menuruti perintahnya itu. Mungkin aku orang bodoh, yang mudah dimanfaatkan olehnya. Karena kebaikan hatiku, sehingga aku tidak melaporkan masalah ini ke pihak konseling. Pernah melaporkan ke pihak agensi, namun mereka tak pernah mendengarkan jeritan hatiku. Seolah tak peduli dengan tugasnya–membantu BMI jika ada masalah–mereka menanggapinya dengan cuek, sama seperti Nyonya Lee. Kalau uang sudah ditangannya, bisa lupa segalanya tidak pernah peduli. Sehingga sekarang raganya terdampar di ranjang, namun di mata hati beliau tetap yang ada hanyalah uang.

Inilah kisah di balik gelar Nyonya besar, yang telah banyak memakan uang hasil keringat orang lain. Tidak takut azab dari Tuhan, walau raganya sekarang mulai merapuh. Harusnya beliau segera sadar, karma itu pasti ada. Mungkin rejekiku hanya segitu, aku hanya bisa mensyukurinya. Tak terasa akhirnya aku kerja di sini sampai finis kontrak. Pulang membawa kesuksesan dan sejuta cerita tentang kehidupan di negeri Formosa.