BUAH KEIKLASAN

Sri Retno Yulianti / BUAH KEIKLASAN / tidak ada / Indonesia / tenaga kerja asing BUAH KEIKLASAN Oleh : Sri Retno Yulianti “Greegggh.” Aku mendengar pintu besi di sebelah rumah yang kutinggali dengan ama dibuka. Itu pasti majikanku sudah datang ke gudang penyimpanan daging babi dagangannya. Waktu masih menunjukan pukul 03.00 dini hari. Segera kuhabiskan kopi susu di cangkirku … Continue reading “BUAH KEIKLASAN”

Sri Retno Yulianti / BUAH KEIKLASAN / tidak ada / Indonesia / tenaga kerja asing

BUAH KEIKLASAN
Oleh : Sri Retno Yulianti

“Greegggh.” Aku mendengar pintu besi di sebelah rumah yang kutinggali dengan ama dibuka. Itu pasti majikanku sudah datang ke gudang penyimpanan daging babi dagangannya. Waktu masih menunjukan pukul 03.00 dini hari. Segera kuhabiskan kopi susu di cangkirku lalu kupakai kerudungku dan membuka pintu rumah untuk segera pergi ke sebelah. Begitu pintu terbuka, angin dingin langsung menerpa wajahku membuat kulit pipiku serasa kaku. Dingin pagi ini serasa menusuk tulang, tadi kulihat di layar androidku jika suhu hanya 11 derajat celcius.

Aku sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu ketika kudengar bunyi “bummm” beberapa kali. Itu adalah bunyi babi-babi utuh yang sudah dipotong dan diletakkan di depan gudang sebelah rumah. Babi-babi tersebut diantar oleh penjual babi. Nanti daging babi tersebut akan diiris menjadi potongan kecil-kecil yang sudah siap dijual ke konsumen di pasar. Dua minggu menjelang tahun baru cina seperti ini, dagangan daging babi majikanku sangat laris. Pada hari biasa dalam sehari hanya memotong satu atau dua ekor babi tapi sekarang bisa empat sampai lima ekor.

Di dalam kontrak kerja, pekerjaanku adalah menjaga seorang nenek berusia 80 tahun yang lumpuh. Dan memang benar, dalam keseharian aku menjaga nenek dan tinggal berdua dengannya. Namun disamping bekerja seperti yang tertuang dalam kontrak tersebut, aku juga harus membantu majikanku menyiapkan dagangan sebelum mereka berjualan di pasar. Aku membantu mengiris daging-daging tersebut setiap hari. Di musim dingin pekerjaan itu menjadi terasa sangat berat karena tempat mengiris daging tersebut ada di halaman sehingga udara dan angin dingin sangat menusuk tulang. Mereka akan berangkat ke pasar pada pukul 06.30 setiap harinya.

“Ati, kamu masak telor dadar dan keluarkan satu botol rumput laut untuk sarapan pagi. Jangan lupa buatkan meme roti bakar selai kacang, semalam dia bilang tidak mau makan bubur pagi ini.” Kata nyonya yang duduk disamping tuan sebelum mobil bak yang dikemudikan tuan meninggalkan halaman gudang.

“Baik, Nyonya.” Kuekori mobil majikanku itu dengan pandanganku sampai hilang di tikungan.

Setelah mencuci peralatan dan membersihkan lantai dari sisa-sisa daging dan darah babi, aku bergegas masuk ke rumah yang kutinggali. Kumelihat ke kamar sebentar untuk memastikan jika ama masih tidur di ranjangnya, kemudian aku ke kamar mandi. Segera kulepas celemek yang kotor dan bau anyir itu lalu kucuci muka dan tanganku sebanyak tujuh kali yang salah satunya dengan kugosokan debu yang memang sengaja kusiapkan. Aku melakukan pencucian sampai tujuh kali adalah agar aku kembali bersih supaya bisa beribadah sesuai tuntunan agama yang kuanut, islam.

Kutengok jam dinding di ruang tamu, sekarang sudah jam 06.45. Aku keluar dan melangkah ke arah rumah majikan. Setiap hari, setelah majikan pergi ke pasar aku akan pergi kesana yang jaraknya hanya 100 meter dari tempat tinggalku dan ama, untuk menyiapkan sarapan pagi bagi seluruh penghuni rumah majikan, ama dan untukku sendiri. Dua anak lelaki majikanku telah menikah, mereka juga tinggal di rumah besar tersebut bersama istri dan anak-anak mereka. Juga masih ada satu anak perempuan dan satu anak lelaki yang belum menikah.

Pagi ini setelah sarapan untuk keluarga majikan siap, aku bergegas pulang. Biasanya aku akan sedikit membereskan ruang tamu rumah majikan. Menyapu dan mengelap perabotan, namun hari ini aku akan pergi ke toko Indonesia untuk mengirimkan uang. Rencanaku akan kubersihkan nanti sore saja, sekitar jam 15.00, pada jam istirahatku.

Setiap bulan, setelah gajian pasti kukirimkan uangku. Aku seorang janda dengan empat orang anak. Suamiku menikah lagi ketika aku hamil 6 bulan anak keempat kami. Aku yang tidak sanggup dimadu memilih pulang ke rumah orang tuaku walaupun suamiku bersikeras tak mau menceraikanku. Mas Hasan menduakanku dengan teman kecilku, Dewi yang bekerja sekantor dengannya. Hari itu ketika tahu aku telah dihianati oleh suami dan sahabatku, aku merasa hancur, hatiku sakit, terluka sekali. Mengapa sahabatku setega itu? Mungkin akan lebih mudah andai saja wanita itu orang lain yang tidak kukenal, bukan teman kecilku.

Menjadi orang tua tunggal tanpa pekerjaan membuat kehidupanku berubah dratis. Memang sesekali mas Hasan masih memberikan hasil jerih payahnya, namun itu tidaklah mencukupi. Sekarang keempat anakku kutitipkan pada orangtuaku yang telah mulai tua. Sedang suamiku tinggal dengan maduku.

Kutinggalkan anak-anakku menuju PJTKI yang memproses keberangkatanku ke Taiwan ketika bayiku baru berusia 3 bulan. Aku berangkat dengan membawa banyak keraguan, karena sebelumnya belum pernah jauh dari anak-anak apalagi sampai bekerja ke luar negri. Kupilih Taiwan karena kudengar Taiwan banyak memberi harapan, terutama gajinya yang lebih tinggi juga perlindungan hukum yang lebih baik dari negara tujuan penempatan lainnya.

Aku sangat membutuhkan pekerjaan. Sangat sulit mencari pekerjaan di Indonesia hanya dengan mengandalkan ijasah SMP. Sementara aku tidak punya pengalaman kerja apapun karena selama menikah aku tidak pernah bekerja. Bersyukur akhirnya karena kemudian proses keberangkatanku lancar dan sekarang bekerja di rumah ini.

*******

Ama sudah kudandani, tadi telah kubantu dia untuk cuci muka dan menggosok gigi. Kini dia memakai sweter tebal dan duduk di sofa yang ada di sebelah ranjangnya. Sebuah penghangat ruangan berjarak dua meter darinya masih tetap menyala sejak semalam. Sekarang sedang kusuapi dengan semangkok bubur sambil menonton sebuah opera dengan bahasa tayi di TV. Pemainnya memakai pakaian tradisional Taiwan dengan warna-warna cerah yang didominasi oleh warna merah kuning dan hijau. Musik opera itu sangat khas, dialog-dialog yang diucapkan oleh pemain lebih banyak berupa syair-syair yang dilagukan. Tayangan itu telah berulang kali ama tonton, dengan cerita yang sama, namun sepertinya dia tak pernah bosan. Aku pernah melihat langsung pertunjukan opera seperti itu di halaman mio dekat rumah ketika ulang tahun dewa. Pertunjukan yang berlangsung selama sepekan tersebut juga lebih banyak di tonton oleh generasi usia lanjut. Barangkali anak muda Taiwan lebih menyukai pertunjukan modern dari pada opera-opera klasik seperti itu.

Setelah kuhabiskan sarapanku, aku berpamitan pada ama untuk keluar sebentar. Kemarin sudah kubilang pada nyonya kalau pagi ini mau mengirimkan uang ke Indonesia. Aku tidak kuatir meninggalkannya sendirian di rumah, dia akan tetap duduk di sofa itu tanpa mampu bergerak kemanapun, kedua kakinya lumpuh sejak tiga tahun lalu. Remot TV kuletakkan di dekatnya agar jika bosan dengan acara yang ditontonnya, dia bisa mengganti chanel TV.

Daerah tempatku bekerja adalah perbukitan dengan lahan pertanian yang luas. Untuk sampai ke toko Indonesia yang ada di kota terdekat diperlukan waktu sekitar 20 menit dengan sepeda. Kukayuh sepedaku di jalan yang berbukit namun beraspal mulus. Sesekali jika tak kuat lagi mengayuh karena jalanan yang terlalu menanjak aku akan turun dan mendorong sepeda itu. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika melewati jalanan yang menurun, aku akan mengemudikan sepadaku dengan merdeka tanpa kayuh. Beruntung sekali rem sepeda ini sangat pakem sehingga aku tak perlu merasa kuatir, seminggu yang lalu paman yang tinggal di sebelah rumah telah menyetelnya karena sebelumnya aku terjatuh menubruk pagar ketika tiba-tiba ada anjing yang menyebrang.

Berbelanja ke toko Indonesia menjadi salah satu hiburan bagiku karena jika beruntung disana aku bisa bertemu dengan teman-teman sesama pekerja dari Indonesia. Jika hari kerja tempat itu tidak begitu ramai namun aku pernah datang di hari minggu toko itu dipenuhi oleh teman-teman dari Indonesia. Aku yang tidak memiliki hari libur merasa sangat tertolong dengan kehadiran toko ini. Disini banyak kudapatkan barang-barang yang bisa sedikit mengobati kerinduanku kepada tanah air.

Aku tak bisa berlama-lama ditempat ini. Setelah mengirimkan uang dan membeli beberapa barang yang kuperlukan aku segera kembali karena jam 10.30 aku sudah harus mulai memasak untuk makan siang. Setelah makan siang aku memiliki waktu sebentar untuk istirahat sambil menunggu majikan pulang dari pasar pada jam 13.30 karena jika majikan pulang dari pasar aku harus membantunya membereskan dagangan dan membuat sosis untuk dijual besok pagi.

Biasanya jam 15.30 segala aktifitas di gudang babi sudah selesai. Majikanku akan pulang untuk beristirahat begitupun denganku, namun hari ini aku tidak beristirahat karena tadi pagi seharusnya aku membersihkan ruang tamu rumah majikan tapi aku pergi ke toko Indonesia.

Setelah membersihkan rumah aku langsung memasak untuk makan malam. Jam 17.00 semua hidangan sudah selesai dan terhidang di meja makan. Aku mengambil wadah yang biasa kupakai untuk membawa makananku dan ama. Karena aku sendiri yang memasaknya aku tidak perlu merasa kewatir makananku tercampur babi. Majikanku membebaskanku memasak apapun yang kuinginkan. Sebenarnya hal inilah yang membuatku betah bekerja kepada mereka. Walaupun pekerjaanku sangat banyak dan capai, menjaga ama juga membantu di gudang daging babi tapi keluarga majikanku memenuhi kebutuhanku dengan baik, terutama soal makanan halal yang kukonsumsi.

Ama akan segera tidur jika telah selesai makan malam. Akupun terbiasa tidur cepat karena besok pagi harus bangun dini hari untuk kembali bekerja. Namun kadang rasa kantuk sulit sekali datangnya. Jika ama sudah tidur maka televisi di kamar sudah tak boleh dinyalakan. Biasanya aku akan tiduran di sofa yang ada di ruang tamu. Menelfon keluarga di Indonesia atau bermain game HP androidku.

“Kak, aku ada di rumah bapak. Aku akan bercerai dengan mas Pri.”

Kubaca sms yang adikku Rina kirimkan setelah kudengar bunyi “bep-bep” tanda sms masuk. Kabar itu tidak mengejutkanku. Dari sekitar tiga bulan lalu Rina sering bercerita tentang biduk rumah tangganya yang mulai goyah, sejak suami Rina di-PHK dari pabrik tempatnya bekerja. Minimnya ekonomi memang sering memicu pertengkaran. Aku sudah berkali-kali menasehati Rina untuk lebih bersabar namun semakin menipisnya perekonomian mereka membuat munculnya banyak masalah baru sehingga menyebabkan cek-cok pada mereka.

Kupencet nama Rina di kontak teleponku. Tak lama kemudian kudengar suara Rina di seberang. Ada suara gaduh anak-anak disana. Itu pasti suara anak-anakku dan anak-anak Rina yang sedang bermain. Kusuruh Rina menepi, meninggalkan anak-anak itu agar aku bisa bicara serius dengannya.

“Rin, apakah kau sudah benar-benar memikirkannya?” Tanyaku ketika tak lagi kudengar suara gaduh.

“Aku sudah tak bisa bersabar menghadapi mas Pri. Dia sudah berubah. Kesulitannya mencari pekerjaan membuat dia stres. Lalu aku dan anak-anak dijadikan tempat untuk melampiaskan kemarahannya. Aku tak bisa membiarkan anak-anakku dalam keadaan tertekan bila terus di dekat ayahnya.” Kudengar jawaban Rina lirih. Dia pasti sedang menahan gemuruh dihatinya.

“Seharusnya kau mendampinginya, dia membutuhkanmu saat ini. Bukan malah pergi meninggalkannya, Rin.”

“Aku sudah berusaha, Kak, tapi mas Pri sudah berani main tangan kepadaku dan juga kepada anak-anak.” Kali ini aku terdiam. Sudah sering kunasehati Rina sejak masalah mereka muncul tiga bulan yang lalu tapi sepertinya usahaku sia-sia. Padahal perceraian pasti akan menimbulkan banyak masalah salah satunya adalah masalah ekonomi yang akan dihadapinya karena selama menikah Rina juga tidak bekerja.

Sekarang, Rina akan memilih bercerai dengan suaminya dan kembali ke rumah orang tua, itu berarti bebanku bertambah. Rina membawa kedua anaknya dan itu berarti tanggunganku bertambah tiga orang. Ayah juga sudah semakin tua, beberapa bulan ini menjadi sering sakit-sakitan.

Pikiranku masih penuh dengan segala masalah yang terjadi di rumah ketika kemudian suara telfon mengagetkanku. Kulirik nama yang terlihat di layar. Titin. Dia temanku ketika di PJTKI dulu.

“Ati, bisakah kau meminjamiku uang lagi? 5000 Nt saja. Kamu sudah gajian kan? Anakku harus membayar uang sekolah. Pekan depan dia ada UTS. Jika belum membayar dia tak bisa mengikuti Ujian.” Suara Titin kudengar dari seberang begitu aku selesai mengucapkan salam.

Dua bulan lalu dia sudah meminjam uangku 8.000 Nt dengan alasan ibunya dirawat di rumah sakit. Aku merasa kasihan kepadanya. Kubayangkan bagaimana jika itu terjadi kepada keluargaku dan aku kesulitan mendapatkan uang untuk kukirimkan ke Indonesia, makanya kurelakan uang bonus yang sering kali nyonya berikan jika dagangannya laris terjual, uang yang kumasukan ke dalam celengan dari kaleng biskuit. Ketika itu dia berjanji akan mengembalikan beberapa hari lagi. Karena tanggal gajiannya belum sampai. Namun ketika waktu yang dijanjikannya telah lewat dia tak mengembalikan kepadaku. Tiga minggu lalu ketika aku bertanya kepadanya dia menjawab jika uang dua bulan gajinya sudah habis terpakai. Aku merasa dihianati oleh temanku sendiri. Pada hari aku menagihnya itu, anakku yang paling tua baru saja menelfon, mengatakan kalau ayahku pingsan di sawah dan butuh uang segera untuk berobat.

”Iya, aku sudah gajian kemarin, tapi tadi pagi sudah kukirimkan ke indonesia.”

“Apakah kamu kawatir aku tak membayarnya? Sungguh jika aku gajian akan kubayar sekalian dengan yang kemarin.”

“Aku tidak ada lagi, maaf.”

“Apakah kau tak ada simpanan sedikitpun, bukankah nyonyamu sering memberimu bonus?” Kata Titin penuh harap.

“Maaf Titin, walaupun ada simpanan aku tak akan meminjamimu lagi.” Aku hanya bisa menjawab itu dalam hati. Tidak kuucapkan kepadanya. Pepatah jawa mengatakan ajining diri soko lathi, yang artinya harga diri seseorang ada pada lisannya. Jika lisannya tak bisa lagi memegang janji bagaimana mungkin orang lain akan bisa percaya.

“Bonus dari nyonya sudah kau pinjam dua bulan lalu. Sekarang semua uangku sudah kukirimkan. Anak-anakku juga harus membayar uang sekolah, sama seperti anakmu.” Aku berusaha menjawab tanpa menyakiti hatinya.

“Kau pasti bohong, tidak mungkin kamu tidak punya uang. Kamu hanya tidak mau menolongku. Kamu takut aku tidak membayarnya. Dasar kamu tak bisa dijadikan teman.” Titin bicara dengan marah lalu terdengar bunyi tut tut tanda telfon sudah tak tersambung.

Menolak meminjami teman disaat mereka butuh memang menyakitkan bagiku. Aku paling tidak tega jika mendengar ada teman yang kesusahan. Tapi terjatuh di jurang yang sama adalah sebuah kebodohan. Titin sudah menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan. Dengan tidak merasa berdosa dia telah mengingkari apa yang diucapkannya, bagaimana aku masih bisa mempercayainya. Ketika ayahku sakit, aku menagih uang yang dipinjamnya tapi jangankan membayar hutang, bersimpatipun tidak.

Titin dan aku bekerja dengan gaji yang sama sesuai standar pemerintah Taiwan. Tapi entah mengapa Titin selalu saja ribut mencari pinjaman kepadaku juga kepada teman-teman yang lain. Mungkin gaya hidupnya di Taiwan membuat pengeluarannya sangat besar sehingga dia tidak bisa menyisihkan untuk keluarganya.

*****
Hawa dingin masih menyelimuti Taiwan. Walaupun sudah memakai baju berlapis aku tetap merasa sangat dingin. Di luar angin bertiup kencang. Semua jendela rumah ini kututup rapat, namun kusisakan sedikit celah agar udara di rumah ini tidak begitu pengap. Kupakai switer tebal yang diberi oleh menantu nyonya. Kedua menantu nyonya mempunyai tubuh yang hampir sama denganku sehingga baju yang mereka pakai ukurannya tidak berbeda denganku. Hal itu membuat mereka sering memberiku pakaian yang mereka sudah tidak ingin memakainya. Dengan senang hati kuterima pemberian mereka karena itu berarti aku bisa menghemat pengeluaran. Aku memang sangat jarang membeli pakaian karena tanpa membelipun pakaianku sudah sangat banyak.

Ini hari kedua tahun baru cina. Keluarga majikanku sedang berkunjung ke rumah orang tua nyonya di Chiayi. Tadi sebelum mereka berangkat nyonya mengatakan kalau mereka akan pulang lusa. Selama seminggu setelah tahun baru cina majikan tidak berjualan. Aku yang biasanya sibuk bekerja sekarang sedang menikmati waktu istirahat. Kemarin baru saja kuterima hong bao (amplop merah) dari majikan. Hong bao yang berisi 5 lembaran warna biru yang menjadi bonus bagiku. Ini adalah rejeki dari Allah yang harus kusyukuri karena mendapatkan nikmat dari-Nya.

Memberi hong bao kepada pekerja ataupun kepada generasi muda yang belum menikah merupakan tradisi dan budaya masyarakat Tionghoa pada saat merayakan tahun baru cina. Nilai uang yang ada di dalam hong bao hanyalah untuk menyenangkan si penerima hong bao, yang benar-benar memiliki arti adalah amplop merahnya. Hong atau merah merupakan warna kesenangan masyarakat Tionghoa yang memiliki arti kebahagiaan, kesenangan, keberuntungan, hoki dan semangat. Kebudayaan hong bao berasal dari konsep untuk saling membalas kebaikan diantara sesama dan menunjukan keharmonisan antar anggota keluarga, teman dan saudara.

Pada malam tahun baru, seluruh keluarga majikan berkumpul di rumah ama untuk menikmati makan malam. Rumah ini menjadi penuh sesak. Ama terlihat sangat gembira dan terus tersenyum melihat tingkah laku cucu dan buyutnya yang riuh. Kesempatan berkumpul seperti malam itu adalah kesempatan yang sangat langka. Selama ini mereka sibuk dengan urusan masing-masing namun pada malam tahun baru semua orang menyempatkan diri untuk berkumpul bersama keluarga besar.

Sekarang aku duduk di sofa, disamping ama sambil memijat bahunya. Kutemani dia menonton opera di televisi. Aku menyayangi ama seperti menyayangi keluargaku sendiri, dia seperti telah nenekku sendiri. Bagiku tidak soal ketika tengah malam harus mengganti popoknya karena telah penuh dengan air kencing atau karena dia berak. Begitupun pekerjaan tambahan di gudang daging babi yang kadang terasa sangat berat. Itu adalah pekerjaan yang harus kujalani dengan iklas. Seberat apapun pekerjaan jika hati gembira dan ridho maka semua akan terasa ringan.
.
Selalu kuingat nasehat ibu sebelum aku berangkat ke PJTKI dulu, “Nak, berbuat baiklah kepada orang lain maka Allah akan membalasmu dengan kebaikan yang setimpal. Bekerjalah dengan keiklasan tanpa mengeluh walaupun itu berat maka Allah akan meringankannya.”

Mendengar suara anak-anak ketika aku menelfon mereka, lalu mereka berebut untuk bicara denganku adalah caraku mengobati kerinduan kepada mereka. Si sulung yang sudah SLTA sudah bisa menjaga dan mengajari adik-adiknya. Anak keduaku sudah kelas tiga SMP dan akan segera menempuh ujian akhir sementara anak nomer tiga sibuk mempersiapkan lomba cerdas cermat di kecamatan yang diikuti oleh anak anak kelas 5 SD. Si bungsu yang saat kutinggal baru bisa membalik badan kini sudah pandai berkejaran dengan teman-temannya, usianya sudah hampir tiga tahun. Mendengar kabar anak-anak tumbuh sehat dan pintar menjadi hal yang sangat membahagiakan.

Tidak mengapa sekarang aku harus menjadi tulang punggung keluargaku. Kalau aku tidak bekerja disini, pasti aku tidak bisa membantu perekonomian keluarga orang-tuaku. Tidak bisa membantu biaya berobat ayah dan tidak bisa menampung adikku dan dua anaknya. Semua ini adalah sebuah nikmat dari-Nya.

Ada banyak yang harus kusyukuri atas nikmat-Nya. Ketika Allah menghadirkan wanita lain dalam hidup suamiku, itu pasti teguran dari Allah, karena cintaku pada mas Hasan terasa berlebihan dibanding dengan rasa cintaku pada-Nya. Dia pasti cemburu, maka Allah memberikan kasih sayang-Nya kepadaku dengan cara seperti itu. Mas Hasan hanya manusia biasa, temanku Dewi juga perempuan biasa, begitu juga aku. Beberapa pekan lalu Dewi menelfonku dan meminta maaf atas kesalahannya. Dewi memutuskan untuk bercerai dengan mas Hasan dan pergi bekerja ke kota lain. Akupun memaafkan Dewi. Kepadanya kukatakan seribu terima kasih atas semua pelajaran dan hikmah yang bisa kuambil.

“Terima kasih kamu telah membuatku sadar bahwa aku memiliki sesuatu yang berharga dalam hidupku, yaitu suamiku. Terima kasih karena kamu mengingatkanku untuk selalu menjaga baik-baik apa yang kupunya. Kamu telah mengajarkanku rasa sakit dihianati. Kini aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melakukan hal yang sama sehingga orang lain tidak perlu merasakan yang kualami. Maaf karena kelalaianku, menyebabkanmu melakukan kesalahan itu.”

Aku teringat pada sebuah tulisan yang pernah kubaca pada sebuah novel berjudul RINDU karya Tere Liye, “Selalu ada alasan terbaik kenapa sesuatu itu terjadi, meski itu menyakitkan, membuat sesak dan menangis. Kita boleh saja tidak paham kenapa itu harus terjadi, kita juga mungkin tidak terima. Tapi Tuhan selalu punya skenario terbaiknya. Jadi jalanilah dengan tulus. Besok, lusa mungkin kita bisa melihatnya dengan tersenyum lapang.”
~Tamat~