Namaku Lintang

Tun Swardjo / Namaku Lintang / Tidak Ada / Alumni Mahasiswa Namaku Lintang, nama yang indah bukan? Begitulah dulu semasa kecilku bapak sering memujiku dengan nama itu. Seperti tidak pernah bosan, setiap ada waktu luang bapak sering menceritakan kenapa aku diberi nama itu dengan harapan agar aku bisa mengapai cita-citaku setinggi bintang dan tetap bisa menyala di dalam … Continue reading “Namaku Lintang”

Tun Swardjo / Namaku Lintang / Tidak Ada / Alumni Mahasiswa

Namaku Lintang, nama yang indah bukan? Begitulah dulu semasa kecilku bapak sering memujiku dengan nama itu. Seperti tidak pernah bosan, setiap ada waktu luang bapak sering menceritakan kenapa aku diberi nama itu dengan harapan agar aku bisa mengapai cita-citaku setinggi bintang dan tetap bisa menyala di dalam kegelapan. Usiaku masih terlalu dini kala itu, aku tidak pernah perduli betapa bapak selalu takjub dan seperti punya harapan besar akan makna dari nama itu karena aku lebih peduli dengan dongeng yang akan bapak ceritakan setelahnya. Aku benar-benar baru bisa memahami makna besar namaku sendiri beberapa tahun kemudian setelah kepergian bapak.

Usiaku baru 12 tahun kala itu, usia yang sangat dini untuk menerima kenyataan bapak telah berpulang selamanya. Usia yang masih sangat dini untuk menerima kenyataan bahwa orang miskin seperti keluarga kami tidak boleh sakit karena begitu kami sakit maka kematian atau hutang dari rentenir yang akan siap memporak-porandakan kehidupan keluarga kami. Pilihan yang sama-sama berat dan jika kami bisa memilih kami tidak pernah ingin memilih kedua-duanya. Bagaimana mungkin ibu bisa membawa bapak untuk sekedar berobat ke rumah sakit sedangkan untuk makan besok saja kami tidak tahu apa yang kami makan kecuali dari hasil ladang yang luasnya tidak seberapa. Kemiskinan benar-benar telah merenggut secuil kebahagiaan yang keluarga kami miliki sampai kami benar-benar lupa bagaimana rasanya bahagia.

Setelah kepergian bapak seperti ada lubang besar yang menganga di lubuk hatiku. Lubang yang tidak pernah bisa ditutup sampai kapan pun dan aku juga tidak akan pernah membiarkan orang lain menutup lubang itu karena disanalah tempat dimana aku selalu meletakkan kenanganku bersama bapak. Kenangan yang begitu indah untuk dilupakan tapi juga begitu sakit untuk dikenang tapi biarlah, biarlah kenangan itu yang akan selalu memompa semangatku dan menemani hari-hariku. Tidak banyak yang berubah dalam kehidupaku dan keluargaku. Kemiskinan yang tetap menghantui kehidupan kami, hinaan dari tetangga-tetangga yang tidak pernah berempati dengan penderitaan yang kami lalui meskipun masih banyak juga tetangga yang perduli. Satu hal yang aku rindu setelah kepergian bapak adalah tidak ada lagi orang yang menceritakan kepadaku tentang kebesaran arti namaku. Aku rindu akan kenangan-kenangan itu dan bahkan teramat rindu, perasaan rindu yang aku rasakan teramat dalam sampai jika aku merasakan rasa rindu itu justru rasa sakit yang aku rasakan. Rasa sakit yang menusuk sampai ke ulu hatiku.

Setelah lulus sekolah menengah pertama, ibu memaksaku untuk melanjutkan pendidikanku. Aku tidak pernah benar-benar menginginkannya. Bukan tidak menginginkannya lebih tepatnya, aku lebih berfikir realistis jika aku bisa sekolah sampai SMU bagaimana dengan adik-adikku? Bagaimana dengan sekolah mereka dan bagaimana dengan kebutuhan sehari-hari kami karena aku tahu biaya sekolah menengah atas tidaklah murah untuk ukuran keluarga kami. Selain itu aku lebih merasa setelah kepergian bapak, akulah yang seharusnya membantu ibu untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan untuk memenuhi biaya pendidikan adik-adikku. Tentang kenangan bersama bapak, ibu sama sepertiku. Ibu juga tidak pernah mau membiarkan posisi bapak dihatinya digantikan oleh orang lain sehingga ibu selalu menolah laki-laki yang meminangnya. Dan kesedihan ini sempurna menjadi milik kami, kesedihan yang membuat kami merasakan mejadi keluarga yang utuh. Utuh karena kami tetap menghidupkan bapak dihati kami, utuh menurut versi keluarga kami.

Aku sudah tidak tahan lagi dengan kemiskinan yang terus menerus menjerat keluargaku. Aku sudah tidak tahan lagi mendengar rengekan adik bungsuku yang selalu menolak ke sekolah jika ibu tidak membelikan sepatu baru untuknya. Dan aku sudah tidak tahan lagi melihat ibu yang diam-diam menangis menahan kepedihan yang beliau rasakan, kepedihan yang selalu ditutupi rapat-rapat dan tidak pernah ingin diperlihatkan kepada kami apalagi untuk dibagi. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua penderitaan dan kesedihan yang aku dan keluargaku alami.

Setelah tamat sekolah menengah atas, aku diam-diam mendaftarkan diri menjadi tenaga kerja Indonesia ke agent penyalur tenaga kerja asing yang tidak jauh dari sekolahanku. Aku punya harapan besar dengan keputusanku itu. Aku ingin merubah nasib keluargaku, aku ingin adik-adikku merasakan kehidupan yang jauh lebih baik dari kehidupanku dan yang paling utama aku ingin mengambil alih tugas bapak. Ternyata keputusan itu mendapat tentangan keras dari ibu. Ibu begitu khawatir akan jalan yang akan aku lalui di Negara orang. Tempat baru di mana ibu sudah tidak bisa lagi menjagaku seperti janji yang telah ibu ucapkan kepada bapak. Dengan sekuat tenaga aku berusaha meyakinkan ibu dan berjanji akan menjaga diri dengan baik dan meminta ibu untuk tetap menjagaku dengan doa-doanya. Karena aku percaya tidak ada penjaga yang jauh lebih baik dari doa seorang ibu.

Hari keberangkatanku telah ditentukan beberapa bulan kemudian dan seperti tenaga kerja Indonesia lainnya aku mengikuti segala prosedur yang disyaratkan oleh PJTKI yang memberangkatkanku. Sebelum mengikuti Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP) aku menyempatkan diri untuk mengunjungi makan bapak untuk yang terakhir kalinya, tempat di mana selama ini aku biasa mencurahkan segala isi hatiku, mengungkapkan segala keluh kesahku dan tempat di mana aku menyembunyikan rahasia dan kesedihanku dari ibu. Di depan nisan bapak aku berjanji akan menjadi bintang di langit yang akan memberikan cahayanya tidak hanya kepada keluarga kami tapi kepada semesta alam. Beberapa bulan kemudian aku baru sadar bahwa aku hanyalah anak usia belasan yang begitu naïf menghadapi kehidupan.

Masih melekat dalam ingatanku, tujuh tahun silam dipenghujung musim dingin, kali pertama aku menginjakkan kakiku di bumi Formosa dan semua perjalanan hidupku dimulai. Udara dingin menusuk tulangku ketika aku bersama beberapa orang yang aku kenal selama di PT mengikuti seorang lelaki tengah baya menuju sebuah mobil yang diparkir di pelataran bandara. Hembusan angin pagi yang sejuk seperti menyadarkanku bahwa aku telah berada ribuan kilo meter jauhnya dari rumah, ribuan kilo meter dari orang-orang yang aku cintai. Bayangan wajah ibu yang begitu sendu dan keceriaan ke empat adikku silih berganti melintas dalam pikiranku. Lamunanku tersentak ketika salah satu temanku menyengol lenganku dan memberitahukan bahwa kami sudah sampai dan harus segera turun. Sore harinya aku dijemput oleh sepasang suami istri yang kemudian aku kenal dengan nama Mr. dan Mrs. Wang. Orang yang diperkenalkan sebagai majikanku dimana aku akan bekerja untuk menjaga orang tua mereka.

Sesampainya di rumah mereka, Mrs. Wang memintaku meletakkan tas yang aku bawa disudut ruangan sebelah kamar mandi dan kemudian membawaku ke sebuah kamar yang terletak paling ujung rumah yang berukuran sedang itu. Begitu pintu kamar terbuka aku mencium bau yang seketika menusuk hidungku. Bau tidak sedap yang begitu tajam, ingin rasanya aku menutup hidungku karena tidak tahan akan bau tersebut tapi aku tidak mungkin melakukannya dan aku hanya bisa menahannya. Keadaan kamar tidak jauh lebih baik kondisinya. Tumpukan baju berserakan dimana-mana dan perlengkapan makan pun terletak sembarangan. Ada beberapa sisa makanan yang telah mengering tergeletak begitu saja di sudut ruangan. Sedangkan di atas kasur tergeletak wanita tua berselimut kain kumal yang tidak berdaya yang terus memandangiku tanpa ekspresi apapun. Aku kikuk, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan tapi aku tahu pasti bahwa wanita tua yang berbaring di atas kasur itu adalah orang yang harus aku jaga seperti aku menjaga keluargaku sendiri. Sebagai salam perkenalan, aku memberikan senyuman paling tulus yang aku miliki kepadanya.

Mengawali kehidupan di Negara orang ternyata tidaklah semudah yang aku bayangkan. Hari kedua aku tinggal di rumah itu sudah empat kali aku mendapatkan pukulan dari Mrs. Wang. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menerima apapun perlakuan yang Mrs. Wang berikan padaku. Sebenarnya aku ingin membela diriku tapi apa yang bisa aku lakukan sedangkan bahasa pun tidak aku kuasai. Setiap siksaan itu datang, aku selalu membayangkan wajah sendu ibu dan tawa ceria adik-adikku. Aku yakin besok atau lusa pasti aku bisa bekerja dengan baik seperti yang keluarga ini inginkan dan aku akan memetik buah dari kesabaranku. Hari berlalu dan minggu pun berganti. Beratnya tekanan yang biberikan keluarga ini telah memaksaku untuk belajar lebih cepat. Dengan susah payah aku mengingat dan menyematkan kata-kata baru yang biasa dipakai dalam otakku. Sedangkan pekerjaan yang aku kerjakan tidak semakin berkurang tapi semakin bertambah. Jika sebelum dijemput dari rumah agensi aku ingat bahwa pekerjaanku adalah menjaga orang sakit namun tidak begitu kenyataannya. Selain memenuhi semua kebutuhan Ama, aku juga bekerja menyiapkan semua kebutuhan orang seisi rumah dari mulai masak, mencuci pakaian, membersihkan rumah dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Aku tidak pernah mengeluhkan semua pekerjaan itu. Aku dengan ikhlas mengerjakan semuanya toh bukankah aku sudah biasa hidup menderita di rumah. Semua pekerjaan ini tidak akan pernah bisa melunturkan semangatku apalagi membunuhku. Tidak itu tidak akan pernah terjadi.

Seperti belum puas dengan semua hasil kerja kerasku di rumah, tiga bulan setelah kedatanganku dan ketika aku sudah mulai bisa berbicara bahasa Mandarin meskipun belum begitu lancar, pada suatu pagi Ms. Wang membawaku ke sebuah pom bensin yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat keluarga Wang ini tinggal. Awalnya aku tidak pernah tau apa yang mereka inginkan dariku. Sampai ketika Ms. Wang menyuruhku memakai sarung tangan, masker dan menutup kepalaku dengan topi dan menyuruhku menjadi penjaga POM bensin tersebut. Sebelum pulang Ms. Wang mengancamku untuk tidak membuka masker dan topi yang aku pakai serta tidak berbicara dengan siapapun atau kalau tidak maka dia akan menyikasaku di rumah. Ancaman penyiksaan itu begitu mengintimidasiku, aku takut dan teramat takut karena jika sudah marah keluarga ini tidak segan-segan menyiksaku. Tamparan adalah hal paling ringan yang biasa aku terima selebihnya adalah pukulan atau tendangan yang mendarat ke tubuhku. Tubuhku tidak ubahnya seperti sasak hidup bagi keluarga ini.

Akhirnya aku menjalani kehidupanku seperti sebuah robot. Setiap harinya aku akan bangun jam 4 pagi dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan kemudian jam 7 pagi aku sudah akan berangkat ke POM bensin untuk menjalankan pekerjaanku sebagai penjaga POM bensin tersebut dan kembali ke rumah pada .jam 10 malam. Begitu setiap hari berulang dan terus berulang dari hari ke hari. Satu hal yang selalu membuat aku bahagia adalah ketika agensi datang ke rumah dan memberikan aku gaji setiap bulannya. Setiap menerima uang itu aku selalu membayangkan senyum sumringah ibu dan adik-adikku. Senyum yang selalu membuat aku bisa bertahan menjalani hari-hari beratku satu bulan kedepan. Senyum yang aku gunakan sebagai tempat bersandara dan pegangan saat aku menerima siksaan dari majikanku, senyum yang bisa aku gunakan sebagai obat paling mujarab melebihi obat paling mahal di dunia sekalipun. Senyum yang selalu memaksaku untuk tegak berdiri meskipun seluruh hati dan pikiranku menginginkan aku untuk menyerah kalah dengan nasib.

Sebenarnya bukan tidak pernah aku menceritakan semua yang aku alami kepada agensiku. Sudah sering dan bahkan teramat sering. Hampir setiap kali agensiku datang setiap bulannya selalu aku ceritakan semuanya tapi yang keluar dari mulut mereka hanyalah kata sabar dan sabar. Entah sampai kapan aku harus bersabar. Hingga pada suatu hari aku mengancam kepada agensiku untuk kabur dari rumah majikanku jika mereka tidak mendengarkan keluhanku dan pada saat itu mereka berjanji untuk mecarikan aku majikan baru. Tapi nyatanya ke esokan harinya aku justru mendapatkan perlakuan yang jauh lebih sadis dari majikanku. Tendangan di perut dan pukulan di punggung serta mukaku membuat aku tersungkur tidak berdaya. Sambil menjambak rambutku mereka mengancam akan lebih menyiksaku jika sekali lagi aku berani mengadukan apa yang mereka lakukan kepadaku kepada pihak agensi. Aku limbung, aku seperti ingin menyerah dengan nasib biarlah.. biarlah kisah hidupku berakhir sampai disini dan biarlah bintang itu pudar tertutup oleh mendung dan tidak akan pernah memancarkan cahayanya lagi.

Dengan masih menahan rasa sakit, majikanku memaksaku untuk berangkat ke POM bensin untuk menjalankan pekerjaanku. Udara musim dingin yang menusuk membuat seluruh tubuhku terasa semakin sakit dan aku merasakan tubuhku menggigil kedinginan. Dengan langkah terseok-seok aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk bisa sampai ke POM bensin segera mungkin atau jika aku ketahuan terlambat entah siksaan apa lagi yang aku terima dan aku sudah tidak sanggup lagi menerimanya. Sesampai di POM bensin pelanggan pertamaku memandangiku dengan iba. Meskipun aku berusaha menyembunyikan luka-luka pada tubuhku tapi percuma saja karena sembab di mataku tetap tidak bisa aku sembunyikan. Ada beberapa pelanggan yang berusaha bertanya apa yang terjadi denganku tapi aku memilih untuk bungkan seribu bahasa. Aku tidak mau membuat masalah baru yang akan menambah semakin panjang kepedihan yang aku alami dan rasakan pagi ini. Beberapa jam berlalu dan aku tetap berusaha mengerjakan tugasku sebaik yang bisa aku lakukan. Aku tidak memperdulikan tubuhku yang menggigil semakin hebat dan mataku yang semakin berkunang-kunang. Kedua kakiku seperti sudah letih menopang tubuhku dan sebelum tubuhku benar-benar terjatuh aku berpegangan pada tiang disampingku. Pada saat yang bersamaan datanglah dua orang polisi menghampiriku dan aku sudah tidak ingat lagi apa yang terjadi padaku setelahnya.

Aku berusaha membuka mataku dan ketika aku berhasil melakukannya aku mendapati tubuhku yang terbaring diatas tempat tidur yang begitu nyaman. Tempat tidur yang jauh berbeda dengan tempat tidur yang aku tempati selama ini. Wajah ramah seorang suster menyapaku dan menanyakan kondisiku. Aku berusaha membuka mulutku untuk menjawabnya tapi seperti ada sebongkah batu besar yang menyumbat kerongkonganku. Setelah kondisiku benar-benar normal akhirnya aku dibawa ke sebuah penampungan milik pemerintah. Ketika kali pertama aku menginjakkan kaki di penampungan aku bertemu dengan bu Dona yang merupakan penanggung jawab penampungan tersebut. Dari bu Donalah aku tahu bahwa sesungguhnya aku telah dipekerjakan diluar kontak kerjaku dan sudah masuk dalam kasus human trafficking. Kasus yang aku alami akan masuk ke ranah hukum dan aku harus memberikan kesaksian untuk menjerat majikanku yang telah menyiksaku dan juga telah melanggar aturan ketenagakerjaan yang berlaku. Bu Dona dengan sabar selalu mendampingiku setiap kali aku harus menghadiri persidang di pengadilan. Suatu hari bu Dona bertanya padaku apakah aku ingin menuntut majikanku dengan tuntutan yang lebih tinggi?. Tidak aku tidak ingin melakukannya. Biarlah aku mempercayakan semua kepada pihak berwajib karena selama ini mereka telah begitu baik memperlakukan aku dan aku juga tidak ingin menyimpan dendam kepada keluarga Wang.

Kehidupanku selama di penampungan telah mengajariku banyak hal. Di tempat itulah aku bertemu dengan orang-orang yang mempunyai nasib sama denganku atau bahkan jauh lebih buruk dari aku. Di sana jugalah aku telah menemukan arti sebuah keluarga ketika aku jauh dari keluarga. Selama tinggal di penampungan dan menunggu proses ganti majikan, Bu Dona juga telah mengajariku banyak hal mulai dari belajar bahasa, memasak masakan ala Taiwan bahkan telah memperkenalkan aku dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Negara Formosa ini. Dari mereka aku menemukan semangat baru tapi saat ini aku hanya ingin mendapatkan majikan baru, bekerja dengan sebaik-baiknya dan mengumpulkan uang untuk keluargaku. Pada akhirnya aku harus meninggalkan penampungan karena aku telah mendapatkan majikan baru. Wanita cantik dengan senyum yang begitu ramah menjemputku. Bu Dona memperkenalkan padaku dengan nama Mrs. Huang. Sebelum meninggalkan asrama aku memeluk Bu Dona dengan erat. Ada seribu kata yang ingin aku ungkapkan. Aku tahu ucapan terima kasih tidak akan pernah cukup untuk mewakili semua perasaanku dan apa yang telah bu Dona lakukan kepadaku. Dalam hati aku berjanji aku tidak akan pernah melupakan penampungan ini dan akan mengunjunginya suatu hari nanti.

Mobil merah yang dikemudikan oleh Mrs. Huang melaju mulus di jalanan dan berbelok ke sebuah apartement mewah di pingiran kota Taipei. Mrs. Huang mengajakku menaiki lift yang menuju ke lantai 10 apartemen itu. Begitu masuk rumah Mrs. Huang menghampiri wanita tua yang berusia 65 tahun dan kemudian mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku dengar. Wanita tua tersebut bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiriku dan bertanya siapa namaku?. “Namaku Lintang, Ama?” jawabku singkat. Aku melihat keteduhan di mata Ama. Keteduhan yang sama yang dimiliki oleh mata ibu. Sebelum pergi Mrs. Huang menjelaskan kepadaku bahwa aku hanya tinggal berdua dengan Ama di apartment ini dan tugas utamaku adalah menjaga Ama. Mrs. Huang juga meninggalkan nomer telephon yang bisa aku hubungi jika terjadi sesuatu dengan Ama.

Ama memperlakukan aku seperti cucunya sendiri. Setiap hari setelah mempersiapkan semua keperluan Ama dan membersihkan rumah, aku akan menemai ama jalan pagi di taman yang letaknya tidak begitu jauh dari apartment. Aku punya banyak sisa waktu luang yang aku gunakan untuk membaca tentang apapun atau sekedar menemani ama melihat film untuk mengasah kemampuan bahasa Mandarinku. Ama tahu bahwa aku tertarik dengan bahasa Mandarin, hal itulah yang membuat Ama menyuruhku mengikuti kelas bahasa Mandarin yang diperuntukkan kepada pengantin asing di sebuah sekolah dasar yang berada beberapa blok dari rumah. Kemampuan bahasa Mandarinku berkembang pesat. Dan itu menjadi kebanggaan tersendiri buat Ama. Ama akan menceritakan ke teman-temanya dan ketika Ama melakukannya sering kali aku diam-diam membasuh air mataku yang dengan susah payah aku tahan agar tidak jatuh kepipi. Entahlah.. aku merasa sangat terharu dengan apa yang Ama lakukan yang seolah-olah aku telah melakukan hal besar padahal tidak. Tapi bergitulah cara Ama untuk membesarkan hatiku. Sebenarnya setiap minggu Mrs. Huang mengijinkan aku untuk libur dan tugas menjaga Ama seharian akan digantikan olehnya. Tapi terkadang aku merasa enggan untuk libur karena aku tidak tahu kemana aku harus pergi. Aku hanya mengambil jatah liburku jika ada kegiatan-kegiatan yang aku rasa penting untukku atau ada pengajian yang ingin aku hadiri. Selebihnya aku lebih senang menghabiskan waktu di rumah dengan Ama dan keluarga Huang lainnya.

Hingga suatu hari aku meminta ijin kepada Ama dan Mrs. Huang untuk mengikuti perkuliahan yang diselenggarakan oleh salah satu Universitas Indonesia yang melakukan perkuliahan di Taiwan. Aku sangat bersyukur mempunyai kesempatan besar ini. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan mempunyai kesempatan untuk merasakan bangku kuliah. Meskipun tidak seperti perkuliah normal tapi aku benar-benar menikmati semua proses yang aku jalani. Di sana aku bertemu dengan teman-teman seperjuangan yang sama-sama bekerja demi keluarga dan pada waktu yang bersamaan belajar untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Tidak hanya itu, aku juga diberi kesempatan untuk bertemu dengan dosen-dosen muda yang semuanya adalah pelajar Indonesia dan salah satunya adalah yang pernah aku jumpai saat aku tinggal di penampungan. Mereka adalah pemuda-pemuda yang begitu perduli dengan pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, disela kesibukan mereka belajar tapi mereka masih mau membagikan ilmu yang mereka miliki untuk orang lain. Tidak hanya itu bahkan mereka mau meluangkan waktu lebih banyak jika kami para mahasiswanya tidak mengerti pelajaran atau kami mengalami masalah-masalah perkuliahan lainnya. Dan aku masih tidak percaya bahwa aku adalah salah satu dari orang-orang yang beruntung itu. Apakah salah jika saat ini aku berbangga diri?

Dua bulan yang lalu akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku. Aku sengaja pulang ke Indonesia dan mengajak ibu dan ke-empat adikku untuk menghadiri wisudaku di Jakarta. Saat namaku dipanggil sebagai salah satu mahasiswa berpredikat coumlaude, ada rasa haru yang menyeruak dalam hatiku. Butiran air mata yang selama ini aku tahan aku biarkan terjatuh dipipiku. Jika saat ini orang melihatku berhasil, mereka tidak akan pernah tahu betapa pedihnya masa laluku. Ketika mereka begitu bangga padaku mereka tidak pernah tahu betapa banyak luka yang telah menggores tubuh dan hatiku. Dan ketika orang-orang berdecak kagum dengan prestasi yang aku peroleh mereka tidak pernah tahu disana ada doa ibu yang selalu memelukku dan ada kenangan bapak yang selalu mengingatkan akan kebesaran arti namaku. Lamunanku tersentak ketika wartawan salah satu televisi swasta bertanya kepadaku, “siapa nama anda?”. “Namaku Lintang…”.