Karsiwan Petaruh Jati Diri

Wahib Abdur Rohman / Karsiwan Petaruh Jati Diri / tidak ada / tenaga kerja asing  Takdir adalah garis batas maksimal yang tak mampu lagi di lampaui manusia. Pertaruhkanlah kesejatianmu untuk menelanjangi segala Kesakralannya Karsiwan adalah pemuda yang tinggal di Desa Jinawi, desa yang terletak di kaki pegunungan Walas Gung. Setelah lulus SMA Karsiwan belum mempunyai kepastian menyangkut kehidupan … Continue reading “Karsiwan Petaruh Jati Diri”

Wahib Abdur Rohman / Karsiwan Petaruh Jati Diri / tidak ada / tenaga kerja asing 

Takdir adalah garis batas maksimal yang tak mampu lagi di lampaui manusia. Pertaruhkanlah kesejatianmu untuk menelanjangi segala Kesakralannya

Karsiwan adalah pemuda yang tinggal di Desa Jinawi, desa yang terletak di kaki pegunungan Walas Gung. Setelah lulus SMA Karsiwan belum mempunyai kepastian menyangkut kehidupan ke depannya, walau terbersit keinginan untuk melanjutkan kuliah namun Karsiwan kerap mengurungkan niatnya tersebut. Pertimbangannya adalah penghasilan ayah Karsiwan sebagai Kayim yang hanya berupa Bengkok sawah, di rasa tak akan mencukupi bila dia tetap bersikukuh menuruti keinginanya.

Ketika malam tiba merupakan waktu untuk bercengkrama antara satu dengan lainnya di ruang tamu yang sekaligus di jadikan ruang keluarga, untuk memperbincangkan banyak hal yang telah di lalui pada siang hari. Kali ini Misni Ibu dari keluarga tersebut menyisipinya dengan menceritakan kembali romansa saat Dia dan Suaminya Atmo masih berstatus sebagai sepasang kekasih. Gelak tawa Karsiwan dan Noerma adik perempuanya seketika memenuhi ruangan saat cerita emaknya tiba pada bagian kekonyolan ayah mereka ketika mendekati emaknya. Walau telah menjadi bahan tertawaan, Atmo hanya tersenyum kecil sambil sesekali mengelus-elus rambut Pambudi adik terakhir Karsiwan.

Telah dua jam kebersamaan keluarga itu berlalu, satu persatu dari mereka mulai beranjak. Si bungsu Pambudi sudah terlelap, Noerma sudah menguap dan segera memasuki kamarnya.

Tatkala Noerma dan Pambudi sudah tidur, Karsiwan dan bapak ibunya masih berada di ruang keluarga, melanjutkan perbincangan mereka. Kali ini Atmo menggiring pembicaraan mereka ke arah Karsiwan.

“Wan, sudah hampir satu tahun kamu lulus SMA, bukankah kau ingin melanjutkan kuliah? Kau tak perlu khawatir mengenai biaya, karena sudah jauh-jauh hari bapak telah menyisihkan uang secara rutin untuk biaya kuliahmu”

“Pak, bagaimana dengan adik-adik? Noerma yang baru lulus SMP juga sedang membutuhkan biaya untuk mendaftar ke SMU. Bagaimana dengan Pambudi, bukankah bapak mempunyai rencana untuk mengkhitannya?”

“Perihal adik-adikmu kau tak perlu risau. Untuk sekolah Noerma bapak sudah memiliki anggaran, sedangkan untuk Khitanan Pambudi kita tunda saja, toh Pambudi baru kelas empat SD”

“Pak, Iwan sangat gembira sekaligus bangga dengan apa yang bapak sampaikan. Iwan mengerti bapak akan melakukan apapun demi Iwan. Tapi pak, Iwan minta maaf. Iwan akan kuliah nanti. Hanya Iwan akan bekerja dulu barang satu atau dua tahun. Setidaknya mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk masuk kuliah”

“Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu Wan?” tanya Misni yang sedari tadi hanya terdiam.

“Tentu aku telah memikirkanya masak-masak mak, sehingga aku telah meyakini apa yang aku putuskan”

“Bagaimana pak ?” Misni kembali mengambil perannya sebagai penyambung lidah.

“Baiklah bu. Sebagai orang tua bapak hanya bisa menuruti keinginan putra-putrinya sepanjang itu baik, dan kami akan senantiasa mendoakan kalian agar di beri kelapangan dalam tindak dan langkah”

Atmo sebagai kepala keluarga telah menuntaskan pembicaraan yang bersahaja malam itu. Walau tentu masih banyak pertanyaan yang menggelayut di benaknya.

Ketika bulan semakin habis ditelan cadar malam, saat kantuk semakin membius syaraf, keluarga Karsiwan telah rebah dalam peraduannya.
———–
Pancaran sinar mentari pagi menelusup melalui pori-pori kabut, menyibak tirai yang merendai hamparan lembah, seolah turut merayakan suka cita, angin bergerak beralun-alun menggoda pepohonan untuk meliukkan dahan dan dedauananya untuk mendendangkan suara alam.

Di pagi ini Karsiwan duduk termangu. Sesekali Karsiwan mencoba merunut kembali apa yang dia ungkapkan semalam kepada orangtuanya. “Adakah dari kata-kataku yang menyinggung emak dan bapak” dadanya sesak, perlahan kelopak matanya basah. “andaikan ada, maafkan aku pak-mak, sungguh aku tak bermaksud melukai perasaan kalian”.

Tak ingin terus larut dalam perasaan, Karsiwan mencoba beranjak; berjalan menyusuri hutan yang mengitari desanya: Menghirup udara pagi, meresapi kehangatan mentari, menikmati kicau burung dan saat sampai di penghujang hutan, telinga Karsiwan tergoda oleh gemericik air pancuran; kesegaran airnya mampu menghipnotis Karsiwan untuk sekedar membasuhkannya ke wajah. “Ku rasa batinku lebih tenang, sudah waktunya kembali ke rumah”. Saat Karsiwan berjalan pulang, dari kejauhan nampak sesosok lelaki dengan tas ransel tergendong. Seperti mengenalnya, Karsiwan mencoba menajamkan pandanganya untuk memastikan

“Kang Mudrik, sampean baru tiba dari rantau?”

“Hey Karsiwan. Iya nih barusan sampai tadi jam enam”

Karsiwan dan Mudrik saling bersalaman, mereka berdua berbincang di tepi jalan desa.

“Kang Sampean kerja di Jakarta?”

“Aku sudah tidak kerja di Jakarta Wan”

“Lantas dimana?”

“Aku bekerja di Pulau Sebrang?”

“Wah Kang, ajaklah aku kerja”

“Nanti, bila Bos ku membutuhkan orang, kau yang pertama akan aku ajak. Wan sudah hampir Jam 7, aku mau lanjut pulang dulu ya. Bertandanglah ke rumahku nanti malam”

Perbincangan tadi melambungkan kembali ingatan Karsiwan pada masa lampau. Saat Mudrik masih tinggal di desa, dimana Mudrik merupakan karib Karsiwan walaupun umur mereka terpaut empat tahun. Mudrik pulalah yang berperan mewarnai sudut pandang serta meneladankan sikap dan pemikiran kepada Karsiwan. Selain itu, jalinan pertemanan antara Mudrik dan Karsiwan dimulai ketika Karsiwan menaruh rasa pada Havva, adik perempuan Mudrik.

Walau kabar Karsiwan menaruh hati pada Havva sudah jadi obrolan hangat warga desa, namun nyatanya mereka berdua belum ada tanda-tanda saling mengikat status. Hal demikian membuat Karsiwan kadang merasa malu namun di satu sisi juga merupakan “Pengumuman Karsiwan” kepada bujang-bujang desa “bila kalian menaksir Havva hadapilah aku dulu.”

Sore menjelang malam Karsiwan berniat untuk bertandang ke rumah Mudrik. Namun dia ragu, “baru tadi pagi Kang Mudrik sampai, sopankah bila malam ini aku ke rumahnya? tapi ku rasa dia telah cukup beristirahat. Tak mengapalah, nanti aku tetap akan ke sana” gumam Karsiwan berusaha menoleransi niatnya.

Malam hari setelah kepulangan Mudrik, rumahnya menjadi ramai oleh kunjungan teman-temannya. Riuh obrolan dan tawa terdengar oleh Karswian dari warung kopi depan rumah Mudrik. “Ramai sekali rumahnya, lebih baik ku batalkan saja”. Saat Karsiwan mulai berjalan untuk kembali pulang, tiba-tiba ada suara yang menyelia. “Wan mau kemana? Itu Kang Mudrik ada di rumah, apa tidak ingin ketemu?” suara yang tak asing bagi Karswian namun telah lama dia tak mendengarnya, “Havva.” tanpa berpikir lagi Karsiwan mengikuti ajakan Havva.

“Kita sambut Sedjoli Karsiwan-Havva” seru salah satu teman Mudrik menggoda kedatangan mereka.

“Apaan sih mas Paidi” Havva mencoba berkelit namun wajahnya tak bisa menyembunyikan kekikukannya.

“Sini Wan, duduk samping kakanda Mudrik” Paidi masih saja iseng dengan olokkannya.

Karsiwan dan teman-teman Mudrik sebenarnya sudah saling mengenal, namun keberadaan Havva di perkumpulan itu menjadikannya bersikap pasif. Setelah sekitar dua jam reuni di rumah Mudrik berlangsung satu persatu tamunya mulai pergi, hingga tersisa Mudrik, Havva dan Karsiwan.

“Va, sudah semester berapa sekarang?” Karsiwan membuka obrolan.

“Oh kalian berdua hendak ngobrol dulu ya” Mudrik menyelia sambil terkekeh memperhatikan Karsiwan dan Havva ”kalo begitu aku masuk dulu. Wan kamu nanti jangan pulang dulu ya!”

“aku sekarang semester 3 mas, eh Wan” entah mengapa Havva menjadi selip lidah dan dalam keberduan itu ada hal yang menerangkan bahwa kekikukan Havva semakin menjadi-jadi; kadang menyingkap rambutnya, menyentuh hidung, tempo suara yang tak teratur, dada yang berdegup ketika pandangannya beradu dengan mata Karsiwan, dan gejala alamiah itu berlangsung dalam intensitas yang terasa tak wajar bagi Havva.

Rupanya kegagapan Havva mampu meledakkan gelombang yang mentransimisikan entah energi apa ke relung jiwa terdalam Karsiwan. Dalam kemabukkanya, apa yang terucap dari mulut Karsiwan saat menanggapi perkatan Havva juga sering terdengar tak jelas bahkan pada kata-kata tertentu lidahnya justru terasa membeku.

“Ehemm” Mudrik berdehem mengisyratkan kehadirannya.

Walau sebenarnya Karsiwan tak rela Mudrik mengambil nuansa emosi yang sedang berlangsung, namun kehadirannya di saat yang tepat mampu mencairkan kekalutan yang sedang melingkupi mereka.

“Wan, maaf aku masuk dulu ya” saat Havva undur diri mata Karsiwan tak lantas surut dari memandangi geraknya.

“Jadi begini Wan. Tadi sore Bosku menanyakan kapan aku bisa berangkat, sekaligus aku sampaikan keinginanmu”

“Terus bagaimana Kang?”

“Setelah aku membujuk, akhirnya dia mau Wan untuk memperkerjakanmu”

“Syukurlah Kang, akhirnya aku dapat pekerjaan”
“Iya Wan. Yang aku minta pas bekerja nanti, kamu tetap menjaga sikap professional. Aku takkan ragu menegurmu andai kau nanti berbuat salah dalam bekerja”

“Perihal itu aku pun bisa memaklumi Kang”

“Wan udah jam 11, bukannya mengusuir nih. Oh iya, Seminggu lagi kita berangkat, segera saja kau persiapkan segalanya ”

“Baik Kang, aku pulang dulu ya.”

Sampai di rumah rupanya orang tua karsiwan belum tidur dan segera saja Karsiwan menyampaikan rencana pekerjaanya. Orang tua Karsiwan begitu antusias mendengar apa yang di ucapkan putranya tersebut karena setelah sekian lama akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan.

Malam semakin beranjak namun tak jua mata Karsiwan dapat terpejam. Banyak hal yang melintas dipikirannya; mengenai bakal pekerjaan yang akan dihadapi dan hal yang lebih menyita pikirannya adalah sikap Havva. “Apakah Havva juga merasakan gejolak yang sama denganku, atau aku yang berlebihan menanggapi kebaikkan Havva. Oh Havva, sasmita apa yang sedang kau isyaratkan; jangan biarkan aku terjerambab dalam ketidakpastian ini”
—————
Seminggu yang di nanti telah tiba dan hanya beberapa jam lagi Karsiwan akan pergi. Dengan di bantu ibu dan adiknya segala hal yang terkait kepergiannya telah dipersiapkan.

“Sudah tidak ada yang ketinggalan Wan?”

“Sudah beres mak.”

“Wan, Bapak berpesan; saat kau tinggal disana jaga tindak langkahmu, petiklah pelajaran dari setiap perkara, dan berlakulah seperti kau ingin diperlakukan”

“Noerma, Pambudi kesini! Mas Iwan sudah mau berangkat” seru ibu mereka.

Setelah menyalami seluruh anggota keluarganya, Karsiwan segera melangkah menuju mobil Mudrik yang sudah berada di halaman rumah Karsiwan. Saat mobil mulai berjalan nampak emosi Karsiwan belum benar-benar reda. Lamat-lamat masih terngiang oleh Karsiwan; petuah bijak ayahnya, emaknya yang enggan melepaskan peluknya seolah tak rela melepas kepergian Karsiwan, Noerma yang menangis terisak sambil berucap “Mas Iwan siapa yang akan mengajari Noerma nanti”, dan permintaan polos Pambudi, “Mas nanti aku beliin mainan robot.” Sungguh romansa pagi yang menggetarkan dada Karsiwan ketika orang tua dan adik-adiknya melepas kepergiannya.

“Wan, hapus air matamu” dari jok belakang mobil Havva memberikan sapu tangannya. “Kuatkan dirimu ya Wan” tanpa disadari pula Havva menggengam pundak Karsiwan.

Sudah tiga jam berlalu mobil yang mengantar rombongan Karsiwan telah tiba di bandara. Setelah melakukan proses administrasi mereka segera meniti Garbarata menuju pesawat. Dari pesawat Karsiwan kembali menatap kebawah, ke daratan yang semakin mengecil. Seolah ada wajah emak-bapaknya, serta tawa Noerma dan Pambudi di angkasa “Pak, mak, doakan aku. Noer, Pam kelak salah satu hal terindah adalah senyum kalian menyambutku.”

Dua jam berselang pesawat yang mengantar mereka tiba di Pulau Sebrang. Sesampainya di bandara mereka berdua masih harus melanjutkan perjalanan darat sekitar tiga jam.

“Wan kita mesti melanjutkan naik mobil, jangan khawatir Bos telah mempersiapkan jemputan untuk kita”

“Sekarang sudah jam satu siang Kang, apakah masih lama jemputannya?”

“Itu dia mobilnya datang, bila tak ada halangan yang berarti jam empat sore kita sudah sampai di asrama. Kenalkan supir kita Wan. Pak Badari”

Setelah Karsiwan dan Pak Badari saling berkenalan dan sedikit berbasa-basi mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanannya. Perjalanan yang di lalui sebelumnya membuat Karsiwan dan Mudrik sangat kelelahan. Akhirnya bersama lelah yang dirasa mereka terlelap dalam tidur.

Jam empat sore mobil yang membawa rombongan mereka sampai di asrama. Saat akan memasuki pintu gerbang, seorang security bergegas menghampiri mobil “Orang baru Pak?”, “Eh Pak, iya ini temanku mau ikut kerja,” jawab Mudrik (sambil menempelken sebungkus rokok). Tanpa menunggu aba-aba selanjutnya, security tersebut segera membuka pintu gerbang lalu Pak Badari memasukkan mobilnya.

Tempat kerja sekaligus asrama Karsiwan terletak di daerah terpencil dengan lahan dan bangunan seluas lapangan sepak bola dengan hutan di sekeliling pagarnya. Di bagian dekat pintu gerbang tak nampak adanya Plang papan nama yang membuat “orang luar” akan bertanya-tanya; ada kegiatan apakah di tempat ini? Namun bila di lihat dari adanya bangunan gudang yang luasnya mendominasi; beberapa truk, mobil pickup, mobil box, forklift, dan alat derek ringan namun tanpa adanya mesin produksi, maka akan di ketahui bahwa tempat tersebut menjalankan kegiatan jasa.

“Pak Mudrik apa temanmu akan tinggal dengamu?”

“Temanku di antar saja ke ruang yang lain. Pak Badari tolong sekalian bantu Karsiwan ya”

“Siap”

Dengan sigap pak Badari segera mengantar Karsiwan ke kamarnya sekaligus membantu menata kembali ruangan tersebut.

“Sudah beres”

“Ok. Terimakasih Pak Badari”

Keheningan, angin yang mendesis, dan lengkingan serangga hutan semakin menambah rasa kesendirian Karsiwan di tempat barunya. “Apakah semua orang meraskan hal yang sama bila mereka berada di lingkungan baru.” Saat Karsiwan merenung dalam kesendiriannya dia mengambil kembali sapu tangan pemberian Havva, dan saat dia melihatnya lebih teliti terdapat tulisan yang menyebabkan angin mengalir terasa lembut di dadanya.

“Mas” Entah mengapa kata tersebut terasa nyaman saat kuucapkan untuk menyebutmu.
Hal yang mesti kau ketahui adalah mengenai apa yang mengusik pikiranku ini Mas.
Kehadiranmu Mas. Ucap dan bahasa tubuh yang kau isyaratkan, telah menghujam alam bawah sadarku
Walau tetap saja aku tak berani memaknai kesejatiannya.
Maafkan atas kelancanganku ini. Havva.

“Havva. benarkah apa yang barusan aku baca” demi mebuktikannya Karsiwan segera menghubungi Havva via HP. Gundah yang membuncah, rindu yang menderu, dan misteri yang tersingkap akhirnya menyatukan Mudrik dan Havva dalam keterpaduan Cinta.
————————–
Pagi hari karsiwan telah bersiap untuk wawancara dengan calon Bosnya. Sebelum menghadap langsung, Mudrik terlebih dahulu memberinya briefing.

“Pak Mudrik di panggil Bos” seru salah satu pegawai perempuan. Dengan segera Mudrik langsung menemui Bosnya.

“Bagaimana dengan temanmu? Selama kau berteman di desa tentu kau telah mengetahui karakternya”

“Tentu Bos, karena itu aku berani merekomendasikannya kepada Bos”

“Ok. Lalu pada bagian apa dia kita tempatkan?”

“Kurasa, untuk tahap awal Karsiwan bisa kita tempatkan di bagian Pengiriman, untuk selanjutnya tentu tergantung kinerjanya”

“Baiklah. kalo begitu kau atur-atur saja bagaimana baiknya”

Mudrik bergegas meninggalkan ruang Bosnya dan segera menemui Karsiwan, Selanjutnya Mudrik mengantar Karswian ke gudang dan terlebih dahulu memperkenalkan dengan pekerja-pekerja lainnya.

“Bos nggak jadi mewawancaraiku kang?”

“Oh. Kamu langsung di suruh kerja Wan. Wawancaranya lain kali saja kalo kinerjamu dinilai bagus”

“Terus aku kerja di bagian apa?”

“Untuk tahap awal kau akan menjadi Kurir, mengantar barang-barang”

Mudrik sebagai Koordinator memasangkan Karsiwan dengan Japra; yang merupakan pekerja lokal.

“Japra kali ini kau bekerja bersama Karsiwan. Kau yang nyetir dulu ya”

“Siap bang. Masalah nyetir tak perlu khawatir”

Pada pekerjaan pertamanya Karsiwan dan Japra bertugas mengirim barang sampai ke luar propinsi. Perjalanan kali ini memakan waktu satu harian, dengan muatan berbagai macam barang yang memenuhi bak truck. Selepas meninggalkan gudang truck mulai memasuki jalan raya.

“Rokok Wan”

“Aku tidak merokok Bang”

“Oh. Maaf ya aku merokok di mobil”

“Tak mengapa”

“Kamu saudara bang Mudrik?”

“Bukan, aku tetangganya di desa. tempat kerja kita ko nggak ada namanya ya? Pertama datang aku sempat curiga kalo perusahaan ini illegal”

“Tak perlu khawatir. Keilegalannya karena tidak ada badan usahanya saja. Dan sebenarnya itu salah satu perusahaan bos yang bergerak di bidang ekspedisi”

“Syukurlah” lenguh Karsiwan

Tiga jam telah berlalu, pengiriman barang pertama adalah kain pesanan milik konveksi. Selanjutnya Karsiwan mengkoordinasikannya dengan penerima, alih-alih Japra memarkirkan trucknya. Hal tersebut berlanjut ke pengantaran-pengantaran berikutnya. Hingga pada pengantaran barang terakhir dimana posisi penerimanya berada di luar propinsi.

Saat hari beranjak malam barang terakhir telah di antarkan dan truck kembali berjalan pulang. Menjelang masuk perbatasan propinsi mendadak Japra menginjak rem karena ia melihat sesosok perempuan muncul dari balik pohon. Truk berhenti dan keduanya kemudian sama-sama berseru, “Siapa dia?”

Perempuan tersebut menghadang truck sambil membentangkan tangannya

“Pak, aku ikut,” ujar perempuan itu dingin dan kaku. Tatapan matanya kosong.

“Ikut? Kami mau pulang. Kamu siapa?” Tanya Karsiwan dari atas kabin.

“Namaku Murdaya” jawabnya dengan wajah memelas.

“Lalu apa yang membuatmu malam-malam di tempat antah-berantah ini?”

“Pak kumohon, aku naik dulu. Nanti di perjalanan kuceritakan”

Rajukkan Murdaya membuat Karsiwan dan Japra luluh, “Yasudah buruan naik” Murdaya segera naik dan duduk di tengah, seketika suasana terasa canggung. Pikiran Karsiwan dan Japra sibuk dengan pertanyaan dan kekhawatiran yang sama.

Hingga saat truck memasuki jalan besar keadaan mulai terkendali. Japra kembali menyalakan rokok. Sementara Karsiwan menengok ke kanan dan sekejap terlihat olehnya Murdaya sedang menangis. Bersama tangisannya Murdaya mulai mengungkapkan jati dirinya.

“Tadi sore bersama kekasihku kami menaiki mobil menuju daerah kalian, ditengah perjalanan tak disangka satu Kompi Polisi melakukan razia. Selain karena surat-surat kendaraan yang tak lengkap, dalam mobil kami juga tersimpan barang terlarang. Untuk menghindari penangkapan kami langsung tancap gas, dan seperti yang sudah kami duga polisi-polisi tersebut segera mengejar kami. Untungnya mobil kami dapat melesat jauh meninggalkan mereka, namun karena kecorobahan, kami malah berhenti di pinggir jalan dengan maksud melarikan diri ke hutan dan mobil kami tinggalkan. Baru saja aku keluar dari mobil, ternyata para polisi sudah nampak dari kejauhan, karena panik kekasihku pergi meninggalkanku, sementara aku berlari sendirian menuju hutan”

“Barang terlarang apa maksudmu?” sergah Karsiwan

“Ganja Pak”

“Ya Tuhan, kita bersama buronan Wan” teriak Japra bersama asap rokok yang mengepul dari mulutnya.

“Maaf, maaf pak. Aku mohon jangan turunkan aku di jalan, uangku sudah tak mencukupi sedangkan Hpku tertinggal di mobil tadi” Murdaya kembali menangis, kali ini suara tangisnya semakin parau menyiratkan kepedihan yang tak terperi.

“Apa polisi-polisi itu melihat wajahmu?,” Murdaya tak bergeming dan tiba-tiba Japra membelokkan mobilnya ke warung pinggir jalan. Tanpa ada yang berani bertanya, Karsiwan dan Murdaya juga ikut turun ke jalan mengikuti langkahnya Japra. Beberapa pasang mata menatap mereka penuh selidik, tanpa berani menoleh, mereka langsung menuju tempat duduk pinggir jendela.

Setelah beberapa menit berlalu mereka bertiga nampak berbicara. Murdaya belum juga beranjak dari kepedihannya, sementara Karsiwan berusaha menenangkan. Suara Japra tiba-tiba meninggi sambil berlalu ke luar warung.

Japra berdiri diluar warung, sesekali pandangannya diarahkan ke jalan. Dilihatnya seorang pria sedang berbincang dengan dua pengendara motor. Lamat-lamat terdengar oleh Japra, empat orang tersebut mengaku sebagai polisi dan menanyakan keberadaan orang mencurigakan. Dan benar saja, pria tersebut memberi tahu salah satu ciri wanita yang persis seperti Murdaya. Japra panik mendengar hal tersebut. Dari dalam warung Karsiwan melihat Japra menaiki truck meninggalkanya, sejurus kemudian pandangannya menoleh ke pintu warung. Namun untung tak dapat diraih, keempat polisi tersebut telah melihat Murdaya dan berteriak; “Diam di tempat”

Entah ide gila darimana yang didapat Karsiwan. Segera dia menggamit lengan Murdaya dan menariknya berlari menuju ke hutan belakang warung. Tak mau buruannya lepas, dengan langkah sigap polisi-polisi tersebut turut mengejar mereka dari belakang, sambil sesekali melepaskan tembakkan ke udara “Woy berhenti! atau kutembak kalian”

Malam semakin larut dan berkabut. Sementara di balik rimbun pohon dan semak, riuh-rendah umpatan dan ancaman para Polisi semakin mengkerdilkan Karsiwan. “Dengan nafas terengah-engah aku terus saja berlari menembus belantara. ketika sampai di persimpangan jalan setapak kilatan sorot lampu senter berkelebat menyilaukan mata, “Berhenti… Angkat Tangan!!!!” teriakan-teriakan makin bergemuruh. “Cetarr-Jedar” ku rasakan sebutir timah menerjang kakiku, rasa panas campur nyeri perlahan melumpuhkan persendianku. Sekonyon-konyong aku limbung hingga tak terasa jatuh tersungkur. Sementara kulihat Murdaya sedang meronta-ronta saat di seret oleh polisi.”

Tatkala Karsiwan duduk meringis menahan sakit, salah satu polisi mengoloknya; “Seperti Inilah kesejatian takdir yang kuganjarkan akibat perbuatanmu”