Perjalanan Sebuah Persahabatan

Yuni Lai / Perjalanan Sebuah Persahabatan / Tidak ada / tenaga kerja asing Perjalanan Sebuah Persahabatan Mentari masih bersembunyi di balik awan, suasana mendung namun hujan tak kunjung datang, ku ayuh sepedaku menuju tempat dimana aku bersekolah, Ya sekolah SMA N 2 dimana aku menuntut ilmu yang tak jauh dari rumahku. Namaku Laras, aku terlahir bukan dari keluarga … Continue reading “Perjalanan Sebuah Persahabatan”

Yuni Lai / Perjalanan Sebuah Persahabatan / Tidak ada / tenaga kerja asing

Perjalanan Sebuah Persahabatan

Mentari masih bersembunyi di balik awan, suasana mendung namun hujan tak kunjung datang, ku ayuh sepedaku menuju tempat dimana aku bersekolah, Ya sekolah SMA N 2 dimana aku menuntut ilmu yang tak jauh dari rumahku.
Namaku Laras, aku terlahir bukan dari keluarga berpunya, mungkin karena itu aku minder untuk bermain dengan teman sekelasku. Hari ini hari terakhir ku tuntaskan pendidikan, hari yang penuh dengan kecemasan, antara tidak lulus dan lulus hanya itu yang ada di pikiran aku sekarang.
Laras” pangil sang guru yang sedang membagikan kertas hasil ujian.
Dengan berdebar ku maju kedepan , setelah kudapat ku buka pelan- pelan,
Saat terlihat disitu tertulis Lulus, hatiku sangat gembira, aku ingin segera pulang dan memberitahukan hasil ujian terakhirku kepada kedua orang tuaku.

Setiap orang pasti menginginkan berpendidikan tinggi, begitupun aku, namun apakah aku bisa seperti mereka, untuk melanjutkan ke jenjang SMA saja kalau bukan karena beasiswa mungkin aku tak akan bisa.Namun jika harus berhenti disini apa kata keluarga bapak aku nanti, pasti mereka akan mencibir keluargaku, menghina dan mengejekku.
Keesokan harinya seorang tetangga yang kebetulan juga seorang guru memberiku selembar brosur.
Laras kamu ikut saja khursus keperawatan disini, kamu masih bisa mendapatkan beasiswa!, disini tertulis jika kamu pernah mendapatkan rangking 10 besar kamu berhak mendapatkan beasiswa 1 smester, kamu sang juara kelas, kamu pantas untuk mendapat pendidikan yang tinggi” kata Bu Nur serambi memberikan brosur itu.
Tapi bu ini berada dikota, jika dilanju naik kendaraan pasti bisa terlambat sampai kampus, jika harus kos, apa bapak dan ibu saya sanggup membiayai, pastinya makan dan tempat tinggal di kota mahal. Jawabku sambil mengamati syarat pendaftaran yang tertulis di brosur. dan kamipun saling berdiam diri.

Malamnya ku tanyakan kepada ibu dan bapak, dalam hati aku berdoa mereka menyetujuinya apalagi setelah lulus smester 2 lembaga akan mencarikan pekerjaan langsung. Aku tak harus capek cari lowongan kerja.
Kujelaskan panjang lebar, dan kebetulan di situ ada bibi, adik dari ibu aku yang sejak kecil ikut membantu mengasuhkku saat ibu ke ladang.
Tenang untuk biaya kos nanti bibi yang biayai! kata bibi meyakinkan.
Walau berat hati ibu karena harus merepotkan bibi tapi ibu setuju untuk aku mengikuti khursus keperawatan.

Inilah tantangan baru, aku harus jauh dari bapak dan ibu, harus lebih mandiri dan dewasa, sungguh aku sedih sulit untuk aku adaptasi dengan kehidupan ini .
Boleh aku duduk sebelah kamu?” tanya seorang teman mengagetkan lamunanku.
Ohh,,silahkan! Aku dengan senang hati. Kami pun mulai ngobrol. Dia bernama Venes rumah dia tak jauh dr kampung tempat aku tinggal, setelah menanyakan dimana dia kos.
Aku pun bingung, aku belum dapat tempat kos, untuk sementara aku laju naik angkot” jawab venes.
Bagaiman kalo kita ngekos bareng satu kamar saja, nanti pulang kita bareng ke tempat aku, kita coba tanyakan ke bu kos’ ajakku.
Inilah awal perkenalanku dengan venes, aku sangat berharap dia akan menjadi teman dan sahabat yang bisa saling membantu.
Bagiku venes anak yang sederhana dan baik, tutur katanya yang sopan dan dewasa membuat ku merasa ada kakak yang selalu memberi ku sebuah pendapat dan mengajariku banyak hal.

Ternyata kehidupan menjadi anak kos tak seperti cerita para anak kos, yang mereka bilang menyenangkan dan bebas, bagiku kehidupan menjadi anak kos mengajarkan aku untuk mandiri, berhemat dan lebih ketat untuk mampu bertahan hidup dalam uang yang pas-pasan, mungkin ini karena uang saku yang kita punya sangat kecil,cukup makan gak cukup puasa.
Sudah 2 minggu kita ga mudik Ras, uang saku nipis nih, kata venes sambil membuka buku pelajaran.
Iya nih Nes, aku ada ide bagaimana kalo kita cari kerja, kan enak bisa buat tambahan uang makan. Jawabku sambil berfikir pekerjaan apa yang bisa kita kerjakan.
Emang kerja pa Ras, waktu kita kan ga seberapa!
Bagaimana kalo semacam setrika baju , atau kerja cuci piring setelah kita pulang kuliah.
Boleh juga tuh Ras, tapi gimana caranya? venes sambil gigit jari.
Kita minta bantuan bu kos saja , diakan orang sini dan kenal warga sini sapa tau dia bisa bantu cari?
What……? bu pelit bin cerewet itu, gak mungkin deh Ras, dia kan benci banget,
Dan sudah kaya kucing dan tikus dalam kos kita ini.
Bener juga katamu Nes! Aku sambil berfikir keras mencari jalan keluar.

Tak terasa satu semester telah terselesikan.
Walau kadang banyak bolos namun dosen” selalu memberi maaf dengan alasan kita yang ada saja.

“Ras, aku hari ini terlambat, angkot macet!” Pesan aku menggunakan via hp jadul.
“Aku juga masih di perjalanan, kayaknya juga bakal telat.”
“Lu mah Mis Telat Nes.”
“Ga beda jauh dari kamu Ras.”
“Kamu sampe mana Nes?”
“Masih di Bis Nes!”
“Kamu tunggu aku di terminal.”
“OK Ras!”

Sesampai di terminal, kita pun langsung menuju ke angkot.
Eh…si nwng kembar, kesiangan hari ini neng, ayo cepet naik ke angkot! Salah satu supir angkot yang sering kita naiki.
Iya bang ayo cepat berangkat! Jawab kita serempak.
Di terminal para supir mengira kita anak kembar. Kadang ini menjadi gelak tawa kami, kami yang tak ada sedikitpun persamaan mereka bilang kembar.
Ras, kita telat hampir satu jam, bolos aja , kita nongkrong di terminal daripada pulang kena marah. Kata laras sambil melihat jamnya.
Bolos lagi Nes. Jawabku sedih.
Kita sekarang sudah tak lagi kos, karena jam kuliah lebih siang dan bisa di laju dengan bis dan diganti angkot, terkecuali ada kemacetan pastinya kita bolos.

Ternyata untuk menyelesaikan sekolah sampai semester 2 tidak mudah, dan kendala pertama adalah di uang, walau untuk biaya pendidikan kita mendapat beasiswa, tapi untuk kebutuhan sehari , angkot, makan dan kebutuhan lain membuat aku kadang tak tega untuk meminta kepada orang tua.

Tinggal setengah semester lagi kita wisuda, sekolahpun mengadakan PKL pelatihan kerja lapangan. Namun sayang kali ini aku harus terpisahkan dengan Venes selama 2 bulan, karena Rumah Sakit tempat kita PKL berbeda.

Ternyata menjadi suster dalam rumah sakit tak segampang yang kita tau. Setiap hari harus berhadapan dengan orang sakit, harus sopan, berhadapan dengan darah dan infus juga jarum.
“Nes kamu dah dapat pasien berapa, dengan diagnosa apa? Pesan sms kepada venes.
“Types, diare, kecelakaan dah dapat 7, kamu gimana Ras?
“aku dapat pasien meningal 2 kali, pertama karena dah tua, kedua kecelakaan, tau ga lu Nes, kepalanya pecah, aku lihat dwngan jelas itu mata keluar, muka ngelupas, rasanya aku pengin pingsan, yang parah dokter nyuruh aku ambil itu otak dia yg pecah suruh masukin plastik, gila banget Nes!”
“Hebat lu Ras”
“Eh Nes aku kangen banget, besok minggu kamu kerumahku ya nginep, dah q mau tugas lagi , bye” lasas mengakhiri pesan.

Minggu ini venes nginep di rumah. Sebenarnya ga enak harus ngajak dia nginep di rumah berdindingkan bambu, berlantaikan tanah. Tapi ini lah rumahku, rumah yang penuh kedamaian dan kebahagiaan.
Venes sahabat satu” nya yang aku punya, aku sayang dia layaknya saudaraku sendiri.
Teringat saat kos dulu, saat kita kehabisan makan, sepiring nasi kita bagi berdua, bahkan kadang semangkok mie instan kita pun makan berdua.
Kena marah ibu kos berdua.
Bolos sekolah berdua.
Semua ini membuat kita makin akrab.
Persahabatan ini memiliki beribu kepahitan yang tak akan pernah terlupakan.
PKL pun berakhir, dan ujian terkhirpun kita tempuh, menunggu hari kelulusan dan wisuda pun tiba.
Hari ini kita berdandan cantik, memakai seragam wisuda , datang bersama keluarga.
Akhirnya kita lulus dan di wisuda!!!
Teriak kami para murid.

Akhir sekolah bukan pula akhir persahabatan.
Pertama bekerja aku masih bersama venes,
Tapi kini tidak seperti dulu saling berjauhan, kadang kurang komunikasi, bahkan rasanya saling acuh, tapi kita tetap sahabat.
Perjalanan persahabatan kita tak akan terlupakan sampai akhir hayat.
Venes adalah sahabat sejatiku.
Aku rindu kamu venes yang jauh di yempat kamu bekerja,
Doa ku kita dapat berkumpul dan bermain seperti dulu.
Indahnya perjalanan sebuah persahabatan!