{"id":813,"date":"2016-04-22T02:38:43","date_gmt":"2016-04-21T18:38:43","guid":{"rendered":"http:\/\/tlam.sea.taipei\/?p=813"},"modified":"2016-04-22T02:38:43","modified_gmt":"2016-04-21T18:38:43","slug":"the-light-at-formosas-sky-cahaya-di-langit-formosa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tlam.btbs.tw\/index.php\/2016\/04\/22\/the-light-at-formosas-sky-cahaya-di-langit-formosa\/","title":{"rendered":"The Light at Formosa&#8217;s Sky (Cahaya di Langit Formosa)"},"content":{"rendered":"<p>\t\t\t\tEny Trihariyanti \/\u00a0The Light at Formosa&#8217;s Sky (Cahaya di Langit Formosa) \/\u00a0tidak \/\u00a0tenaga kerja asing<\/p>\n<p>The Light at Formosa\u2019s Sky<br \/>\n(Cahaya di Langit Formosa)<br \/>\nMataku mata ikan, tak dapat terlelap malam ini. Sesekali mencoba memejamkan kedua bola mata namun pikiranku melayang. Terpaku memandang wajah malaikat-malaikat yang terlelap pulas di atas tikar tua. Maksud hati ingin memberikan selembar kertas hasil seleksi SNMPTN yang sudah berada dalam genggaman. \u201cBismillah, ini waktu yang tepat Aya!\u201d gumamku dalam hati seraya menepuk dada dan menghela nafas panjang.<br \/>\nAku mendekati malaikat itu. Segaris senyuman seperti mekarnya bunga desember yang merah merekah menghiasi raut wajahku. Belum sampai tangan menyentuh raganya. Tiba-tiba Ibu berbisik lirih dengan mata setengah terjaga. Segera kulipat kertas tadi memasukkannya kedalam saku celana.<br \/>\n\u201cAya, masih belum tidur?\u201d tanya Ibuku sembari bergegas menuju dapur mengambil baskom berisi air hangat dan handuk.<br \/>\n\u201csusah tidur Bu, siapa yang sakit? Citra?\u201d<br \/>\nIbu hanya menggelengkan kepala. Aku berpikir bahwa yang sakit adalah Citra adikku yang berumur 3 tahun Atau Aji kakakku. Kecemasanku mengikuti langkah Ibu dari dapur menuju kamar. Ia meletakkan kompresan itu diatas leher Bapak.<br \/>\nApa yang terlihat adalah sebuah jawaban pertanyaanku. Ibu memberi tahu hasil lab dari puskesmas. Bapak terkena infeksi tenggorokan. Benjolan di lehernya semakin membesar. Menyulitkannya untuk menelan makan atau minum. Tubuhnya semakin kurus dan sudah tak mampu bekerja. Dokter menganjurkan segera dioperasi tapi, kendala biaya dan keadaan keluargaku yang jadi masalah.<br \/>\n\u201cjangan cemas Ay, kita berdoa semoga ada jalan keluar. Bagaimana hasil beasiswanya?\u201d ibu mengalihkan pembicaraan.<br \/>\n\u201cMaaf Bu, Cayaha gagal\u201d jawabku singkat.<br \/>\nSuasana menjadi hening. Air mataku tumpah tak dapat dibendung. Ibu mendekapku erat. Belaian tangan, tutur kata, dan pelukannya terasa hangat. Tak terasa ingusku menempel dibajunya. Sebenarnya, aku mendapatkan beasiswa masuk perguruan tinggi. Aku terpaksa berbohong karena tidak ingin menyulitkan keadaan keluargaku.<\/p>\n<p>Yang kami butuhkan saat ini adalah uang. Aku harus mencari biaya operasi bapak. Kebutuhan sehari-hari, menyicil hutang, dan biaya adikku yang masih TK. Mereka berharap banyak terhadapku. Apa yang harus aku lakukan?.<br \/>\nRaja pagi telah menampakkan sinarnya. Aku mengasingkan diri di bawah pohon rindang. Buku harian usang dan pena yang tintanya hampir sekarat menjadi teman sekaligus bidang kemarahanku. Sambil menatap langit dan berpangku tangan membuka menutup diary dengan kasarnya. Tiba-tiba ada yang menarik perhatianku. Aku melihat sesosok bayangan hitam besar seolah-olah akan menerkamku dari arah belakang.<br \/>\nAwalnya aku takut tapi, matahari di siang itu begitu teriknya bayangan itu nampak jelas seperti tokoh wayang Semar. Sontak menggengam kedua tanganku seperti pose meminta. Aku harap itu Jin Botol yang bisa mengabulkan 3 permintaan atau Doraemon yang punya kantong ajaib. \u201cJreng&#8230;jreng&#8230;jreng iwak peyek nasi jagung yuhuu\u201d<br \/>\nTernyata kakakku Aji datang dengan petikan sinar gitarnya. Dengan ekspresi datar, aku hanya menurunkan kedua tangan yang mengadah tadi. Ditariknya tanganku tanpa sepatah kata, hanya teriakan namaku yang terdengar.<br \/>\n\u201cAy!\u201d<br \/>\n\u201cOalah Mas, ngamen lagi?\u201d<br \/>\n\u201cKamu malu? Yang penting kan halal!\u201d<br \/>\n\u201cMaksudku bukan begitu, Mas bisa mendapat kerja yang lebih baik menggunakan ijazah SMA kan?\u201d jelasku.<br \/>\n\u201cDipikir nyari kerja itu gampang apa? Kamu sendiri juga belom kerja kok! kerja apapun yang penting halal dan menghasilkan duit!\u201d<br \/>\nAku diam mengiyakannya. Mas Aji mengeluarkan uang recehan hasil mengamen. Aku memberitahu keadaan Bapak yang sakit. Saat ini, kami berpikir keras mencari jalan.<br \/>\n\u201cKerja di Taiwan asyik juga ay! Temen mas Aji banyak yang sukses kerja disana lho\u201d cetus mas Aji.<br \/>\n\u201cGundulmu mas! Ngomong itu mbok ya dipikir dulu! Kenyataan tak seindah drama taiwan METEOR GARDEN !\u201djelasku.<br \/>\n\u201cCari biaya operasi Ay!\u201d<br \/>\nAku sempat berpikir keras tentang saran kakaku. Mungkin ini jalan untuk mencari biaya operasi Bapak, masa depan keluarga dan masa depanku kelak. Berhari-hari kuberanikan diri menghasilkan tekad bulat. Awalnya orang tuaku tidak mengizinkan bekerja ke luar negeri. Tapi akhirnya mereka mengizinkan meskipun dengan berat hati.<br \/>\nKeesokannya, aku pergi ke koperasi simpan pinjam yang berada di desa. Aku meminjam uang untuk operasi Bapak dengan ketetapan bunga yang dibayar tiap bulannya. Bapak sudah berada di rumah sakit menjalani operasi. Kuintip dari pintu ruangan yang setengah terbuka. Ibuku memangku adikku dengan wajah bermuram durja.<br \/>\nAku bersandar di dinding luar yang dingin dengan mata berkaca-kaca.<br \/>\n\u201cAku harus kuat! Sampai kapan? Kamu melihat Bapak mencari kayu bakar di hutan dan melihat Ibu menjadi buruh cuci baju tetangga!\u201d Aku berbicara pada diriku sendiri.<br \/>\nKubuka daun pintu menghampiri Ibu mengajaknya pulang.<br \/>\nBeliau terlihat letih sekali. Selang waktu berganti, And Aji datang menjemput kami menggunakan sepeda motor tua era 70-an. Selama di perjalanan, Mas Aji memberitahu persyaratan tentang PT yang menjadi tempat pelatihan TKI. Mas Aji mendadak berhenti di sebuah salon. Aku dan ibu dibuat keheranan.<br \/>\n\u201cEh Mas, mau ngajak kita nyalon? Atau cuma numpang parkir aja!\u201d<br \/>\nMas Aji memegang pundakku dan berkata,<br \/>\n\u201cRambutmu ay! Rambutmu!\u201d jawabnya.<br \/>\n\u201cLah rambutku panjang dan rapi kok mas\u201d<br \/>\n\u201cKenapa sama rambutnya aya?\u201d Sambung Ibuku.<br \/>\n\u201cPeraturannya rambut harus dipotong model cowok. Kayak rambutku.\u201d jawab Mas Aji memamerkan gaya rambutnya.<br \/>\nKami bertiga saling bertatap muka sejenak. Rasanya jatuh tertimpa tangga pula. Perasaan sedih saat berada di depan cermin melihat mahkota terakhirku. Alat-alat pemotong rambut telah menebas habis setiap helai rambutku. Air mata dan potongan rambut jatuh bersamaan.<br \/>\n\u201cWah kamu tampan Ay\u201d berbicara di depan cermin sambil mengusap air mata yang tak henti menetes.<br \/>\n\u201cCahaya, akan tetap cantik dengan wujud apapun di mata Ibu\u201d diraihnya tanganku yang bergemetar. Kamipun melanjutkan perjalanan pulang.<br \/>\nSesampainya dirumah, aku mempersiapkan baju dan perlengkapan selama pelatihan. Lusa adalah jadwal keberangkatanku masuk PT. Aku hanya membawa beberapa pasang baju secukupnya. Dari kecil hingga beranjak dewasa hanyalah baju-baju bekas pemberian tetangga tempat ibuku bekerja yang memiliki anak seusiaku.<br \/>\nAku mulai memasukkan semua perlengkapan kedalam tas. Sebuah tas yang terlihat seperti peninggalan nenek moyang. Jadul, kusam dan terdapat motif robekan-robekan kecil yang kasat mata.<br \/>\nDiwaktu bersamaan, terdengar suara bising dari arah dapur. Ibuku terlihat pergi dengan terburu-buru membawa panci masak. Aku mengikuti tanpa sepengetahuannya.<br \/>\nSelang beberapa menit Ibu tiba di sebuah toko. Sedang apa Ibu disana? Membawa panci masak? Pikirku keheranan. Akupun tercengang dibuatnya. Kuintip dari celah daun pisang yang menjuntai. Perlahan mendekat mengikuti suara berbisik namun terdengar jelas.<br \/>\n\u201cMbok! Mbok! kemarin Mbok butuh panci ini buat lebaran kan? Jadi tawar berapa?\u201dsambil meletakkan panci diatas meja.<br \/>\n\u201cIya, katanya gak jadi dijual? Itu kan kenanganmu kerja semasa menjadi TKI di Arab?\u201dsaut Mbok Romlah.<br \/>\n\u201cAda keperluan mendadak Mbok\u201d<br \/>\nKarena dagangan Mbok Romlah sepi hari itu dan tidak bisa memberikan uang sebagai gantinya, Mbok Romlah menukar dengan salah satu dagangan miliknya. Kulihat Ibuku menunjuk salah satu koper yang lebih murah harganya. Penjualan panci bekas dengan harga koper memang selisih banyak. Ibu berjanji akan membayar sisanya bulan depan.<br \/>\nAir mataku tumpah tak henti menetes kala melihat Ibu menjual panci masaknya kepada Mbok Romlah. Langkahku semakin berat sembari mengelus dada yang kian sesak rasanya. Aku pun berlari kearahnya. Senyuman kecil yang terhias diwajahnya telah menyambut ragaku. Bibirku membisu, tatapanku terpaku padanya.<br \/>\nHari telah berganti, Bapak sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah aku bahagia. Kulihat sekitar rumah untuk terakhir kali. Akupun berpamitan kepada Bapak, Ibu, dan Adikku. Aku juga sudah tidak menghubungi teman ataupun kekasihku. Kulepaskan semuanya.<br \/>\nAku hanya punya ongkos yang pas-pasan untuk perjalanan banyuwangi-surabaya. Mas Aji mengantarkanku ke PT dengan modal gitar dan suaranya. Karena dengan mengamen, ongkos yang tandinya untuk 2 orang penumpang bisa gratis. Semua supir bus di terminal sudah mengenal kakakku. Mas Aji mencarikan kursi untukku. Akupun duduk disebelah jendela.<br \/>\n\u201cTunggu sini Ay\u201d<br \/>\n\u201cMas Aji mau kemana?\u201d<br \/>\n\u201cBiasalah, konser tunggal hehe\u201d<br \/>\nHatiku terenyuh melihatnya berdiri dihadapan para penumpang menyapa dengan kata pamungkasnya.<br \/>\n\u201cAssalamualaikum Pa&#8217;e, bu&#8217;e dan mbak&#8217;e. Ketemu lagi sama saya, artis yang tak pernah masuk TV. Sebuah lagu \u201cOplosan\u201d akan menghibur anda semua!\u201d seru Mas Aji.<br \/>\nAku melihatnya bernyanyi beberapa lagu sambil berdiri. Mas aji sudah terbiasa bermain gitar dengan mengangkat gitar diatas kepalanya. Untuk menghindari penumpang yang naik turun. Lalu, Ia menyodorkan kantong plastik kosong bekas bungkus permen kepada penumpang. Ada yang memasukkan uang koin, uang kertas bahkan tidak sama sekali. Ia tetap mengucapkan terimakasih.<br \/>\nMalam telah larut, kami menghabiskan waktu semalam di perjalanan. Setelah bergonta-ganti bus dan terminal. Akhirnya kami telah sampai di depan gerbang PT. Rasa takut yang muncul membuat langkah kakiku menjadi berat. Pagar besi itu telah terbuka lebar di hadapanku. Nampak ratusan calon TKI yang sedang mengantri makan siangnya.<br \/>\nRupanya, aku benar-benar keluar dari zona amanku dan melihat dunia yang berbeda.<\/p>\n<p>Siang itu juga Mas Aji harus pulang karena tidak diperbolehkan barada di PT.<br \/>\n\u201cJaga dirimu Ay, kalo ada waktu segera hubungi Ibu, Bapak dan Mas Aji\u201d<br \/>\n\u201c Pasti Mas, terimakasih sudah mengantar cahaya. Hati-hati dijalan mas\u201d<br \/>\nLangit yang tadinya cerah tiba-tiba mendung menitikkan hujan. Hujan meninggalkan genangan. Hidupku dilanda hujan berkepanjangan. Pagar besi telah tertutup rapat. Kupejamkan mata sejenak, menahan rasa dalam hati. Seorang wanita menyapaku,<br \/>\n\u201cMbak calon TKI baru ya, silahkan medical di ruang sana. Mari saya antar!\u201dsapanya.<br \/>\nAku hanya mengangguk mengiyakan mengikuti tahap medical dan persyaratan lainnya. Setelah semuanya selesai, wanita itu menunjukkan tempat tidur dan loker para TKI. Juga memberitahu jadwal apa saja yang harus di lakukan dari pagi-malam. Dari mulai piket membersihkan ruangan, kamar mandi, pelajaran bahasa mandarin, pelajaran suster, praktek memasak dan masih banyak hal lainnya.<br \/>\nSemua hal adalah pertama kalinya untukku. Aku mendapatkan pengalaman dan pelajaran berharga disini. Diajarkan untuk disiplin, saling berbagi dan kekuatan mental. Kenapa menjadi TKI? Ternyata dari sekian alasan yang aku tampung, masalah umum adalah ekonomi. Sulitnya lapangan pekerjaan di negara sendiri untuk orang yang terbatas pendidikan. Bahkan yang lulusan sarjana saja terkadang masih bingung mencari pekerjaan.<br \/>\nSemua orang datang dengan alasan berbeda namun, tujuan yang sama yaitu sukses. 4 bulan kemudian, masa pendidikan dan ujian telah usai. Jadwal penerbanganku sudah ditetapkan. Aku menghubungi kedua orang tuaku untuk datang menjengukku. Perasaanku sedikit campur aduk rasanya. Aku menunggu orang tuaku yang akan datang hari ini.<br \/>\n\u201cNi hau? ada yang namanya cahaya? Ditunggu keluarganya di pendopo sekarang.\u201d<br \/>\n\u201cHau, xie-xie.\u201d Jawabku dan bergegas lari menuju pendopo.<br \/>\nDari kejauhan terlihat kedua orang tuaku telah menunggu. Kucium dan kupeluk erat mereka. Kedua orang tuaku diperbolehkan menginap karena besok jadwal penerbanganku ke taiwan.<br \/>\n\u201cBagaimana disini Ay? kamu nggak apa-apa kan nak?\u201d tanya Ibuku.<br \/>\n\u201cAya sudah terbiasa, Ibu dan Bapak tidak usah mengkhawatirkan Aya\u201d<br \/>\n\u201cJika kamu berubah pikiran, ayo kita pulang saja nak\u201d sahud Bapak.<br \/>\n\u201cLangkah Aya sudah sampai sejauh ini, Aya Cuma minta doa saja. Ini demi mengubah nasip keluarga kita.\u201d<br \/>\nSenja sore itu sudah tak nampak. Langit mulai petang berganti malam. Ibu membawa bekal dari rumah semua makanan kesukaanku. Nasi yang di bungkus daun pisang, sambal teri, sambal goreng tempe dan kerupuk. Kami makan bersama dengan lahap. Entah rasa sambal yang terlalu pedas membuat mataku selalu berair. Sebuah tangisan bahagia menikmati detik terakhirku bersama mereka. Hingga waktu istirahat tiba, aku tertidur lelap dalam dekapan orang tuaku.<br \/>\nIni adalah jam-jam terakhirku meninggalkan mereka. Formosa? Kenapa harus aku? Seorang puteri di negara sendiri telah menjadi upik abu di negara lain. Ada kalanya, kehidupan seseorang yang awalnya terang benderang seketika gelap gulita. Sesak rasanya bila meratapi kenyataan di hadapanku. Mau dikata apa? Inilah hidup! Suka atau tidak suka semua berjalan sesuai garis-NYA. Aku juga sudah menitipkan surat untuk kekasihku kepada Ibuku.<br \/>\n\u201cAssalamualaikum Arga, terimakasih atas 6 tahun terakhir kita bersama. Ada kalanya orang dihadirkan untuk menjadi masalalu dan tidak untuk masa depan. Jika kita ditakdirkan berjodoh, sejauh apapun kita terpisah maka kita pasti akan bersama. Setidaknya aku sempat memiliki pangeran yang mencintai gadis biasa sepertiku. Salam manis cahaya.\u201d<br \/>\nKeesokan harinya, waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi. Aku bergegas mandi di temani Ibuku. Sambil mendengarkan nasehat-nasehatnya. Setelahnya, aku mengambil koper bersama teman-teman TKI. Selang beberapa menit sebuah mobil merah datang menjemput. Air mata kedua orang tuaku tak kuasa menahan isak tangis. Air matanya membasahi bajuku tepat pundak sebelah kiri saat kami berpelukan. Tanpa daya memasuki mobil yang akan membawaku ke bandara. Kulihat dibalik kaca mobil dari dalam mereka melambaikan tangan untuk perpisahan sementara ini.<br \/>\n\u201cSelamat tinggal Indonesia\u201d<br \/>\nTerbang dengan maskapai penerbangan asing dari bandara surabaya menuju taiwan. Aku melihat bentangan luas samudera di balik awan cerah. 7 jam kemudian aku telah sampai di bumi formosa. Aku duduk di bangku menunggu antrian sampai namaku dipanggil. Aku membuka tas kecil mencari makanan karena perutku mulai lapar. Kulihat isi dompet hanya terdapat uang Rp.2000 saja. Sungguh terlalu!.<br \/>\nSelang beberapa menit, Agency menjemputku dibandara dan melanjutkan perjalanan ke kantor agency. Karena sudah terlalu malam, besok pagi agency akan mengantarkanku ke tempat majikan. Aku mendapatkan job menjaga seorang nenek yang lumpuh total, ada selang sonde, sedot dahak, membantunya berbaring, tepuk punggung dan masih banyak pekerjaan pembantu pada umumya.<br \/>\nTerik surya telah menyapa hangat jiwaku di langit formosa. Kicauan burung pagi hari bersenandung merdu berterbangan riang di angkasa. Aku telah tiba di rumah majikan. Alhamdulillah semua menerima dengan baik. Kulakukan pekerjaan dengan sepenuh hati. Aku banyak mendapatkan kebaikan disini, mereka memperbolehkan sholat, mengaji dan menghubungi keluargaku. Sekarang aku berfikir, Taiwan seindah drama \u201cMeteor Garden\u201d pasalnya nenek memiliki 4 orang cucu laki-laki. Serasa aku seperti menjadi tokoh San Chai dalam drama F4. Hahaha.. kedatanganku adalah memburu NT untuk mewujudkan impianku di masa depan.<br \/>\nTerlahir dari keluarga sederhana itu tak masalah bagiku, asalkan kaya kebahagiaan bersama orang yang kita sayangi dan selalu ada orang yang menyemangati. Kemiskinan bukan kendala untuk bahagia. Bagiku keluargaku adalah malaikat yang terlihat. Ada Sebuah Cahaya di Langit Formosa yang menerangi hidup seorang Cahaya.\t\t<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Eny Trihariyanti \/\u00a0The Light at Formosa&#8217;s Sky (Ca &hellip; <a href=\"https:\/\/tlam.btbs.tw\/index.php\/2016\/04\/22\/the-light-at-formosas-sky-cahaya-di-langit-formosa\/\" class=\"more-link\">\u95b1\u8b80\u5168\u6587<span class=\"screen-reader-text\">\u3008The Light at Formosa&#8217;s Sky (Cahaya di Langit Formosa)\u3009<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[53,55],"tags":[143],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tlam.btbs.tw\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/813"}],"collection":[{"href":"https:\/\/tlam.btbs.tw\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tlam.btbs.tw\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tlam.btbs.tw\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tlam.btbs.tw\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=813"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/tlam.btbs.tw\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/813\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tlam.btbs.tw\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=813"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tlam.btbs.tw\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=813"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tlam.btbs.tw\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=813"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}